Dibalik Secangkir Teh
Pamit 1
Kami yang mendengar penjelasan Mas Aji seketika menoleh ke arah yang Mas Aji tunjuk. Seorang perempuan yang aku taksir berusia pertengahan dua puluhan tersenyum ramah kepada kami yang menatapnya.
“Maaf yo Mas, kalau saya nyebutnya teh ndeso. Jangan minder yo Mas. Tapi ini enak sekali Mas.”
Orang tersebut sepertinya merasa tak enak hati dengan sebutan teh ndeso.
“Hahahaha. Saya sama sekali tidak minder atau berkecil hati, Mas. Saya malah senang. Tanpa perlu mem-branding lebih tentang seni meracik teh oplos yang saya buat, nyatanya Brand Teh Ndeso ini sudah cukup familiar di lidah orang lain. Ini namanya
Nawasgitel, Panas Wangi Sepet Legit Kentel. Saya mencampurkan empat teh lokal dari beberapa pabrik di Jawa Tengah.”
“Memang mantap sampeyan iki, Mas.”
Aku masih duduk di tempat semula. Menunggu kesempatan bisa kembali bicara dengan Mas Aji. Setelah orang tersebut pergi, datang seorang bapak paruh baya membawa nomor antrean ke jendela tersebut. Mungkin karena dia melihat Mas Aji belum beranjak dari sana.
Sembari Mas Aji membuatkan minuman yang dia pesan, terjadi interaksi yang tampak seru sekali. Bapak tersebut sangat antusias bercerita mengapa beliau datang ke Kota Solo.
Obrolan pun semakin meriah hingga akhirnya hot cappucino pesanan si bapak sudah siap di take away. Dia segera melakukan transaksi pembayaran karena ingin melanjutkan jajan di gedung Pasar Gede sebelah Timur.
"Sehat dan sukses selalu ya, Mas," ucapnya pada Mas Aji.
"Nggih pak matur suwun, Bapak nggih sehat dan sukses selalu," jawab Mas Aji sambil menangkupkan kedua tangan di dada.
"Wah kalau saya, sehat sudah cukup Mas. Saya sudah sukses dan tinggal menikmati masa pensiun. Mari Mas, sampai jumpa lain waktu," sahut si bapak dengan tergesa membawa gelas cappucino-nya.
Dari percakapan tersebut, aku sejenak berpikir dan teringat dulu saat kuliah pernah ditanya oleh beberapa kawan, “Sukses menurutmu gimana?”
Saat itu aku menjawab, “Sukses menurutku adalah saat membeli sesuatu, makan atau minum udah nggak pernah lihat label harganya.”
Nyatanya itu saja tidak cukup. Selepas lulus kuliah, aku menetapkan target demi target agak bisa meraih kesuksekan versiku.
Memang, jika melihat pencapaian apa itu sukses, setiap orang punya perspektif masing-masing. Sukses itu ternyata memiliki tingkatan berbeda. Jika sudah mencapai titik yang diinginkan, pasti semua orang akan sibuk untuk membuat titik pencapaian selanjutnya. Seiring bertambahnya usia, mereka akhirnya bisa menjawab perihal sukses itu berdasarkan berapa banyak kegagalan yang telah mereka atasi.
Aku masih harus sabar menunggu karena Mas Aji disibukkan dengan rencang nglaras dengan nomor antrean berikutnya.
“Mas, menurut Mas Aji, lebih enak minum kopi yang digiling atau digunting?” tanya seorang rencang nglaras yang masih menunggu pesanannya diracik.
"Kopi digiling ada penikmatnya sendiri dan kopi digunting juga ada penikmatnya sendiri," jawab Mas Aji tegas, "maaf nih Mas, kita enggak bisa membandingkan hal tersebut karena semua sudah ada penikmatnya dan porsinya. Contoh paling nyata kita tidak mungkin memaksa bapak pengayuh becak yang ingin minum kopi saja harus masuk ke coffee shop dan membeli kopi dengan harga sekian puluh ribu rupiah. Di sisi lain, ada orang yang mampu untuk menikmati kopi digiling ya itu sah-sah saja. Lah apa kabar bapak pengayuh becak yang sehari saja belum tentu bisa mengayuh sepuluh penumpang. Tidak ada yang salah dari menyeduh kopi maupun teh, tidak ada yang salah juga dari menikmati kopi maupun teh. Semua kembali ke penikmat masing-masing."
“Iya ya Mas, kita tidak memaksakan selera dan kemampuan masing-masing orang. Saya setuju banget sama pendapat Mas Aji. Kita bebas memilih mau minum kopi yang bagaimana sesuai selera kita.”
“Bukan hanya kopi atau teh, Mas. Tapi semua hal di dunia ini ya tidak bisa dipaksakan. Termasuk perasaan. Bisa saja kita cinta, dia enggak. Dia cinta, kita enggak. Sudah sama-sama cinta pun kadang ya enggak bisa bersama juga.”
Aku bisa melihat sudut mata Mas Aji melirik ke arahku. Tanpa harus dijelaskan, aku tahu kalau ucapan Mas Aji itu ditujukan kepadaku.
Sesi menyeduh untuk beberapa pelanggan telah selesai. Tidak ada pilihan bagi Mas Aji selain membuatkan racikan pesananku yang sejak tadi mendominasi jendela nomor satu. Para pembeli bergantian di jendela nomor dua dan tiga. Entahlah, tidak ada satu pun dari mereka yang ‘mengusirku’.
“Mbak Ratih mau pamit? Maksudnya mau pulang ke Lampung?”
“Iya, Mas.”
“Kemarin Mbak Ratih bilang belum tahu kapan pulangnya. Lalu, sekarang datang, tetapi malah pamit. Apa gara-gara malam tadi? Jangan-jangan ada omongan saya yang menyinggung Mbak Ratih?”
“Enggak, Mas. Mas Aji tidak pernah menyinggung saya. Saya pamit karena memang sudah seharusnya saya pulang. Saya di sini sudah satu minggu Mas. Kalau enggak pulang, gimana nasib toko kue saya?”
“Bukan karena Mas mantan yang semalam datang toh, Mbak?”
“Bukan, Mas. Saya pulang karena harus menyelesaikan urusan keluarga dan masa depan toko kue saya.”
“Jadi sekarang sudah mau fokus ke toko kuenya, Mbak? Enggak mau mengejar karier kantoran lagi?”
“Nanti di Laras Rasa saya mau bikin ruangan kayak di kantor-kantor lainnya Mas, biar keren dan kayak orang kantoran. Saya juga mau pakai seragam biar jadi orang kantoran beneran.”
Membayangkannya saja sudah membuatku ingin tertawa.
“Bagus itu, Mbak. Jadi nanti Mbak Ratih tetap bisa menyebut diri sendiri sebagai wanita karier.”
“Bisa jadi begitu. Sama-sama wanita karier ya, Mas.”
“Monggo Mbak, dicicipi racikan baru saya.”
Mas Aji menyodorkan secangkir teh kepadaku.
“Ini menu baru?”
“Iya, Mbak. Saya menyebutnya Pancamakna. Boleh dibilang saya membuat ini awalnya satu seri dengan Rekah. Karena pertemuan kita, Mbak.”
“Rasanya memang sedikit mirip dengan Rekah. Tapi ini sepertinya lebih kompleks ya, Mas?”
“Benar, Mbak. Pancamakna memang memiliki banyak sekali makna yang ingin saya masukkan ke dalamnya. Saya baru saja menemukan perpaduan kondimennya dinihari tadi. Saya memang ingin sekali Mbak Ratih menjadi orang pertama yang mencicipi Pancamakna. Rekah dan Pancamakna belum tentu ada kalau saya tidak bertemu dengan Mbak Ratih.”
“Kali ini Mas Aji salah. Justru saya yang harus berterima kasih sama Mas Aji. Sepekan di sini, saya mendapatkan banyak banget pelajaran. Cerita dari balik Jendela Titilaras mengubah beberapa pandangan saya tentang hidup. Saya merasa lepas dari cangkang lama yang memberatkan tubuh saya. Kalau nggak pernah ke Titilaras, saya nggak tahu bagaimana kondisi saya saat ini. Walaupun di sini juga ujung-ujungnya saya patah hati.”
Aku tersenyum miris. Patah hati hanya dalam waktu kurang dari sepekan. Dan, belum tahu apakah benar itu patah hati bukan. Sungguh konyol! Aku tidak bisa membayangkan reaksi Ajeng andai dia tahu kebodohan yang dilakukan sahabatnya kali ini.
***