Dibalik Secangkir Teh
Cukup 1
Sudah lebih dari satu jam. Aku masih betah duduk di Jendela Titilaras. Aji bilang, hari ini dia hanya menyeduh untuk dua puluh lima porsi. Dan, antrean sudah terpenuhi. Orang-orang yang duduk di depan jendela Titilaras sedang menunggu pesanan mereka diseduh Mas Aji. Ada beberapa orang yang datang. Namun, harus kembali pulang dengan raut kecewa karena tidak kebagian nomor antrean. Aku sendiri asyik menyimak obrolan hangat Mas Aji dengan para pembeli.
"Mas, kalau misalnya tahu hari ini ramai, kenapa tidak menambah stok dan menambah jam buka? Biar nanti yang datang ke sini enggak kecewa ketika Titilaras ternyata sudah kehabisan," tanya lelaki yang kini duduk di jendela nomor dua.
"Kalau ada pembeli datang dan kehabisan, berarti belum berjodoh, Mas. Kenapa saya tidak menambah stok dan jam buka, itu juga ada alasannya. Menambah stok pasti saya menambah volume kerja. Masalahnya, peralatan dan storage di sini terbatas juga. Mas bisa lihat sendiri tempat saya ini sempit. Kalau alasan kenapa tidak menambah jam buka, karena hanya saya sendiri yang menyeduh, jadi secara energi, saya terbatas juga," jawab Mas Aji.
Sombong sekali, pikirku. Triaji sampai berani mengatakan jika ada pembeli yang kehabisan, maka belum berjodoh. Jauh-jauh datang dan Titilaras tidak buka saja sudah membuatku kesal. Apalagi kalau sudah datang lalu kehabisan. Aku bisa membayangkan bagaimana kecewanya orang tersebut.
"Tapi kan bisa dibuat dua sesi, Mas. Biar Mas Aji juga bisa istirahat," lelaki itu memberikan solusi.
"Cukup, Mas. Mungkin rezeki yang saya dapat saat ini sudah cukup bagi saya. Dulu pernah Mas, saya buka minimal dua belas jam. Bahkan, rekor saya buka di pasar bisa enam belas jam sampai dini hari dan saya sendirian. Tapi efeknya sangat terasa Mas, mulai akumulasi capek, kurang pergaulan, sampai merasa menjadi monoton kegiatannya. Mungkin bagi saya, merasa cukup untuk rezeki yang didapat hari ini lebih bisa dinikmati dengan tersenyum dan syukur yang lebih. Cukup itu enggak kurang ya enggak berlebih," tutup Aji.
Aku tersentak. Dalam sepekan ini, entah sudah berapa kali aku mendengar kata “cukup” yang diucapkan orang-orang di sekitarku. Aku mulai meraba hati dan menggali ingatan, kapan terakhir kali aku merasa cukup. Ah, ternyata sudah sangat lama. Memori kelabuku tak mampu menemukan waktu yang pasti kapan aku memeluk erat kata cukup.
Selama tiga tahun terakhir ini saja, aku nyaris tak pernah berkata cukup. Selalu kurang dan kurang. Bayangan toko kue yang saat ini aku kelola tiba-tiba saja melintas tanpa aku sadari.
Meski sejak kecil aku sudah terbiasa bermain dan berkreasi di dapur, tetap saja setelah lulus kuliah aku lebih memilih kerja kantoran seperti orang kebanyakan. Sepeninggal abah, aku malah membiarkan emak mengelola toko kuenya sendiri. Kerja di salah satu perusahaan asing yang berlokasi di Kalimantan Timur dengan gaji menggiurkan membuatku harus berpisah dengan emak.
Secara materi, aku tidak kekurangan. Bahkan lebih dari cukup. Namun, entah mengapa aku selalu merasa hampa dan kesepian. Di tahun kelima, aku sadar kalau aku sudah berubah menjadi robot pekerja. Bukan makhluk sosial bernama manusia.
Covid-19 membuatku kehilangan pekerjaan. Kondisi perekonomian yang terjun bebas memaksa perusahaan untuk memberhentikan sebagian karyawannya.
Aku pulang ke Bandar Lampung karena tidak ada pilihan lain. Saat itu, bukan waktu yang tepat untuk mencari pekerjaan baru. Semua sektor terkena imbas dan para pelaku usaha harus berpikir keras bagaimana caranya agar mereka bisa bertahan.
Pekan pertama di rumah emak, aku hanya menghabiskan waktu di kamar. Bermalas-malasan sambil menonton film. Aku merasa karierku telah berakhir. Bisa dibilang, aku mengalami depresi.
Di pekan kedua, emak mulai cerewet menyuruhku membantunya di dapur. Dengan setengah hati, aku membantu emak. Berada di dapur jauh lebih baik daripada terus-menerus mendengar suara emak yang menasehatiku agar tidak bermalas-malasan.
“Pernah terpuruk enggak, Mas?”
Suara seorang pembeli yang bertanya ke Mas Aji mengusik lamunanku.
Aku kembali menunggu jawaban apa yang akan Mas Aji berikan.
“Yo jelas pernah. Saya pernah berada di titik di mana apa yang saya usahakan ini dipandang sebelah mata. Bahkan saya sendiri yang memiliki sifat observasi pun pernah bertanya pada diri sendiri maupun melihat beberapa orang yang mempunyai sebuah karya yang menurut beberapa orang tak mungkin bisa hidup dari karya tersebut. Ya saya sadar itu adalah salah satu sifat alami manusia untuk sebuah validasi diri. Dulu pun saya pernah bertanya dan ditanya sebuah pertanyaan yang cukup membuat saya merenung, opo iso urip mung dodolan banyu koyo ngono (apa bisa hidup kalau cuma jualan minuman seperti itu).”
“Ada yang bertanya seperti itu, Mas?” Aku mulai penasaran.
“Keluarga saya, Mbak. Pertanyaan itu mengacu pada dunia usaha yang kami jalani selama kurang lebih enam tahun ini berjalan. Tapi, setelah saya cukup merasakan berbagai lika-liku di dalamnya, bahkan tahun 2020 kemarin saya hampir gulung tikar, saya sadar ternyata sebuah karya yang dilakoni dengan hati ikhlas dan berpasrah kepada Sang Pencipta memberikan berkah dan rezeki tersendiri, dan lucunya Yang Maha Kuasa itu selalu memberikan kejutan yang tak pernah saya sangka. Bisa dikatakan Yang Maha Kuasa selalu mengangkat saya sebelum saya benar-benar terjatuh dan tersungkur. Yang saya syukuri selama ini adalah sebuah rasa syukur saya tentang kata cukup, tak pernah merasa kekurangan, dan bilamana ada lebih saya selalu digerakkan secara alam bawah sadar saya tentang apa yang saya miliki bukan hanya untuk saya sendiri.”
“Begitu ya, Mas?”
Pembeli yang tadi bertanya manggut-manggut menyimak setiap ucapan Mas Aji.
“Namanya juga Titilaras, meniti dan selaras. Semakin berusia sepertinya hidup itu sejatinya berjalan untuk menyeimbangkan. Setiap orang yang hidup itu harus terus meniti dalam arti berjalan atau memperbaiki dan harus selaras atau seimbang. Sebab, pada dasarnya semakin manusia berumur, ternyata visi misinya hanya untuk meniti hidup yang sudah dijalani dan menyelaraskan rezeki yang sudah diberi Yang Maha Kuasa.”
Mas Aji beranjak memberikan secangkir teh yang sudah selesai diseduhnya kepada pembeli yang duduk di belakangku.
Hidup seperti apa yang saat ini sedang aku titi? Sudahkah selaras dengan rezeki yang Mas Aji maksud?
Lalu, ingatan kembali menyeretku pada sebuah keputusan yang aku pilih sekitar tiga tahun lalu. Aku mengambil alih toko kue emak.
Tubuh senja emak dan penyakit asma yang dideritanya sejak dulu tak mampu menahan gempuran Covid yang menderanya. Ya, setelah dua bulan aku kembali ke Bandar Lampung, emak terkena Covid hingga meninggal.
Kehilangan yang begitu dalam membuatku tidak mampu mengeluarkan air mata. Padahal, langit pun menangis untuk mengurangi bebannya dan menyuburkan bumi. Saat itu, pikiranku hanya fokus kepada Toko Kue Laras Rasa yang emak titipkan sebelum beliau meninggal.
***