Dia yang Tertinggal

BUKAN SEBUAH AKHIR 1

Pru dan Bagas sedang duduk di ruang tunggu menikmati kesibukan masing-masing. Pru dengan novel yang sedang dibacanya, sedang Bagas terlihat fokus kepada laptop yang ada di pangkuannya. Tidak ada yang menyadari jika Bagas sesekali mengedarkan pandangannya menatap sekeliling.

“Maaf, kamu bukannya Pruistin, ya?” Seorang laki-laki yang Pru taksir berusia pertengahan empat puluhan berdiri di depan Pru dan menyapa gadis itu.

“Kamu siapa?” Pru balik bertanya.

“Benar kan, kamu Pruistin Rasyid?” Laki-laki itu memastikan.

“Iya, tapi anda siapa?” Pru makin penasaran. Bagas juga kini menatap intens laki-laki yang menyapa Pru.

“Aku Ronald. Bisa dibilang aku adalah pamanmu. Aku Ronald Rasyid. Putra Saka Rasyid. Kamu pasti sudah lupa. Kita memang jarang bertemu.”

“Om Ronald?” Pru memandang omnya itu sambil mengumpulkan kenangan dari masa kecilnya. Seberapa jauh dia mengenal Ronald. Merasa ingatannya mulai mampu menciptakan sosok Ronald, Pru mengulurkan tangan untuk menyalami omnya.

“Iya. Aku om kamu. Kebetulan kita ketemu di sini. Kamu bukannya di Yogya?” Ronald bertanya sambil menerima uluran tangan Pru.

“Aku mau ke Lampung, Om. Besok, kan, pembacaan wasiat Datuk. Om juga pulang karena itu, ya?”

“Iya. Tadi pagi aku ditelepon disuruh pulang. Kamu sendirian?”

“Eh iya, kenalkan Om, ini Bagas, pacar aku.” Pru mencolek lengan Bagas.

Bagas menutup laptopnya lalu menoleh ke arah Ronald. Bagas tersenyum ramah sebagai penghormatan. Setelahnya, Bagas mengulurkan tangan untuk bersalaman sambil menyebutkan namanya.

***

Meeting room Novotel mulai ramai oleh keluarga Rasyid. Tampak Riska bersama ketiga anak, menantu dan cucu-cucunya. Di sudut lain ada Saka bersama istri dan seorang anaknya, agak jauh dari tempat Saka ada Aji yang datang bersama istri dan anaknya juga. Di sudut lain ada adik bungsu Zulkfili bersama anak-anaknya. Tak ketinggalan para sepupu Arkan pun hadir lengkap dengan anggota keluarga mereka.

Jika warisan berupa Rasyid Grup itu diibaratkan sebagai kue, maka tak salah kalau dikatakan kue yang akan dibagikan saat ini memang luar biasa besar dan teramat manis. Sangat wajar jika kue itu diperebutkan oleh banyak semut.

Hanafi tiba dengan menggunakan kursi roda dan pengawalan yang sangat ketat. Selain sektretarisnya, beberapa pengawal yang telah disewanya tampak berdiri di sekitar Hanafi. Badri dan Fauzan mengekor di belakang Hanafi. Sedang Satria dan Fajar memilih menepi agar bisa memberikan jarak yang cukup jauh dari keriuhan keluarga itu.

Setelah Hanafi masuk dan menyapa Riska, seluruh orang yang hadir disitu langsung duduk di tempat yang sudah mereka pilih masing-masing. Kasak kusuk mulai terdengar saat mereka tidak melihat sosok Linda maupun Pruistin. Sejauh ini, sebagian dari keluarga Rasyid memang belum tahu kalau Arkan sudah mengubah wasiatnya. Ketidakhadiran Pruistin tentunya menjadi sesuatu yang terasa janggal.

“Pak, apakah Pruistin tidak diundang? Kenapa dia tidak datang?” tanya Andi ditujukan kepada Hanafi.

“Mungkin dia sudah bertukar tempat dengan anak itu.” Aji menunjuk Badri. Sementara yang ditunjuk hanya tersenyum simpul tanpa ingin menanggapi ucapan Aji.

“Benarkah? Kamu datang untuk mewakili Pruistin?” Suara Saka terdengar sangat geram.

“Bang, Ronald di mana? Jangan bilang kalau anak itu juga nggak datang. Ada apa ini?” Aji menatap Saka.

“Aku sudah menyuruhnya pulang. Mungkin dia hanya terlambat. Kita bisa lanjut tanpa kehadiran Ronald. Bukan dia yang jadi pemeran utamanya.”

Hanafi masih diam menyimak semua perdebatan yang belum juga berakhir. Beberapa anggota keluarga yang lain juga mulai terpancing emosinya.

“Kalian,” mata Riska memandang semua kerabat suaminya yang hadir di situ, “Bisakah kalian menghormati acara ini? Aku tahu kalian datang ke sini hanya untuk mendapatkan kejelasan siapa yang akan menggantikan suamiku, tapi tolong kalian bisa menjaga sedikit sikap kalian. Rasanya aku tidak perlu lagi menjelaskan tentang sopan santun di sini. Masalah Pruistin dan Linda yang tidak datang, bukankah itu sebenarnya adalah harapan kalian juga?” Nada suara Riska yang terdengar lebih tinggi akhirnya membungkam mulut-mulut yang tadi ribut.

“Ekhemmmm.” Hanafi sengaja berdehem keras untuk menarik perhatian seluruh anggota keluarga Rasyid. Berhasil. Ruangan itu mendadak hening.

“Terima kasih sudah memenuhi undangan saya untuk datang ke sini. Saya mohon maaf karena sudah membuat acara ini tertunda beberapa hari. Seperti kita tahu, setelah Pak Arkan meninggal, Rasyid Group mengalami kekosongan pimpinan. Dan itu tentu saja bukan hal yang bagus untuk sebuah perusahaan besar. Pak Arkan sendiri sudah menyiapkan dan menunjuk seorang dari kalian untuk menggantikan kedudukannya. Terakhir kali Pak Arkan datang kepada saya untuk membicarakan masalah warisan sekitar lima bulan lalu. Pak Arkan mengubah nama pewaris Rasyid Group yang sebelumnya tertulis Pruistin Akmal Rasyid.

Saya tahu, ada beberapa dari kalian yang tidak menginginkan Pruistin sebagai pengganti Arkan. Sampai surat wasiat dari Pak Arkan yang ada di kantor saya hilang saat terjadi kebakaran. Hal itu sungguh sangat mengejutkan bagi saya sampai-sampai tensi darah saya langsung melonjak. Beruntung, Pak Arkan sudah mengantisipasi semua kemungkinan terburuk. Tanpa sepengetahuan saya, beliau menyimpan dua salinan surat wasiat di dua tempat berbeda. Lengkap dengan rekaman suara beliau.

Baiklah, saya tidak perlu menjelaskan secara detail bagaimana Pak Arkan menuliskan wasiat tersebut di depan saya. Di depan kalian, saya akan langsung membuka kedua amplop yang masih tersegel rapi. Saya juga tidak perlu berbasa-basi menceritakan perjalanan dua amplop ini hingga bisa sampai di tangan saya.”

***

Hanafi membuka salah satu amplop yang tadi dipegang oleh sekretarisnya. Beberapa detik dia diam memperhatikan huruf demi huruf di depannya. Hanafi menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membacakan surat wasiat Arkan. Isinya tidak banyak. Arkan tidak membahas satu per satu warisan untuk setiap anggota keluarga karena memang sejak awal harta dan aset mereka sudah dipisahkan. Begitu pula pembagian harta pribadi Arkan untuk istri dan anak-anaknya akan mengikuti hukum Islam yang berlaku.

Warisan yang dibahas oleh Arkan adalah tentang Rasyid Grup. Siapa yang ditunjuk sebagai pengganti Arkan sekaligus pengelola seluruh aset di bawah naungan Rasyid Grup. Seluruh yang hadir kecuali anak-anak Arkan dan Badri, tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka saat Hanafi menyebutkan nama Badri Abadi Rasyid sebagai pengganti Arkan Rasyid. Hanafi bahkan sampai harus menghentikan pembacaan wasiat itu karena banyaknya interupsi yang membuat ruangan seketika menjadi gaduh.

“Bukankah dia anaknya Fauzan?”

“Mana buktinya kalau dia memang anaknya Tamri?”

“Pasti ada yang bermain-main di sini. Jangan-jangan surat wasiat ini berbeda dengan surat wasiat yang hilang dari kantor Pak Hanafi.”

“Kenapa harus Badri? Memangnya dia siapa?”

“Apa yang dia tahu tentang perusahaan sebesar Rasyid?”

“Pak Hanafi, bisakah anda membuktikan kalau anak ini benar anaknya Tamri?”

“Jangan-jangan dia yang telah membunuh Datuk. Tujuannya jelas, supaya dia bisa menikmati warisan ini.”

“Di mana Pruistin? Bukankah dia yang seharusnya menjadi pengganti Om Arkan?”

“Mbak Riska, kenapa diam aja? Mbak sudah tahu masalah ini, kan?”

“Iya, Mbak. Kenapa semuanya jadi begini?’

Suara-suara sumbang penuh kemarahan terus saja terdengar silih berganti. Butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk membuat suasana kembali bisa dikendalikan oleh Hanafi. Aji menatap nyalang ke arah Badri seakan ingin menerkamnya. Saka mengusap bulir keringat yang mulai tampak di keningnya.

“Pak Arkan sendiri sudah melakukan tes DNA terhadap Badri. Hasilnya memang benar Badri adalah anak sulung Tamri Akmal Rasyid yang diadopsi oleh Fauzan dan Narti. Saya sudah menyampaikan apa yang harus saya sampaikan sesuai dengan pesan Pak Arkan dan wasiat yang beliau tulis serta disahkan di hadapan para notaris. Untuk selanjutnya, saya mewakili Pak Arkan, menyerahkan Rasyid Grup kepada Badri Abadi Rasyid. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk kedatangan kalian semua. Silakan dilanjut. Mohon maaf karena saya tidak bisa lebih lama lagi di sini.”

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!