Dia yang Tertinggal

AKU SI PEWARIS 2

“Papa menyesal sudah keluar dari rumah dan menikah dengan Mama?”

“Keluar dari rumah, iya. Tapi menikah dengan Mamamu adalah keajaiban terindah yang hadir dalam hidup Papa. Jelas Papa tidak akan menyesalinya. Saat ini, Papa nggak mau memaksakan masalah jodoh ke Pruistin.” Apalagi kepada kamu, anak laki-laki Papa yang berhak memilih dengan siapa menghabiskan hidup. Tamri melanjutkan ucapannya dalam hati. Sakit. Itulah perasaan yang sering Tamri alami ketika tidak bisa mengakui Badri sebagai darah dagingnya.

“Iya Pa. Pruistin juga pasti nggak mau kalau dijodohkan. Kita masih jauh Pa. Masih tiga jam perjalanan. Lebih baik Papa tidur.”

Tamri memejamkan mata. Dia tidak bisa tidur. Kebersamaan dengan Badri adalah hal yang sulit dia dapatkan. Tentu saja Tamri tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Di sebelah Tamri, kini Badri asyik dengan pemandangan yang sudah sangat lama tidak dia lihat. Badri sudah sering ke Lampung Barat bersama Tamri atau Fauzan. Tapi itu saat dia anak-anak sampai remaja.

Sumber Jaya yang dingin membuat Badri kecil merasa betah di sana. Belum lagi penduduknya yang sangat ramah. Banyak pemetik kopi yang mengajaknya berbicang dengan Bahasa Sunda. Badri hanya bisa tersenyum dan mengangguk ramah. Kini, setelah kuliah dan tinggal di Bogor, Badri merasa siap meladeni keramahan mereka dengan Bahasa Sunda.

Badri menatap kanan kiri jalan saat masuk Lampung Utara. Kotabumi, ibukota Lampung Utara, menurut Badri menjadi salah satu kota yang tidak banyak mengalami perubahan. Cenderung lama dan sulit menerima hal-hal baru. Biasanya, Fauzan akan berhenti di Rumah Makan Taruko untuk makan siang. Berhubung masih jam sepuluh kurang, Badri memilih meneruskan perjalanan menuju Bukit Kemuning. Pertigaan yang bisa dibilang menjadi pembatas tiga kabupaten: Lampung Utara, Lampung Barat, dan Way Kanan. Tiba di Bukit Kemuning, sama saja sudah meninggalkan Lampung Utara. Ke kanan adalah Way Kanan, sedang ke kiri itu Lampung Barat.

Dibandingkan makan di Taruko, Badri memilih makan siang di Rumah Makan Sederhana yang berlokasi di Fajar Bulan. Naik sedikit dari Sumber Jaya. Sejak dulu, rumah makan tersebut selalu menyajikan ikan segar sebagai menu andalan. Goreng ikan kering, sepiring nasi panas, lalapan dan sambel terasi, menjadi kombinasi yang sangat sempurna untuk mengobati rasa lapar.

Tujuan Tamri hari ini adalah Pekon Sukajawa. Tamri membeli beberapa hektar lahan dari penduduk Sukajawa. Badri baru tahu, kalau Tamri ingin mendirikan sekolah kopi di sana. Jauh di dasar hatinya, Badri mendukung niat Tamri. Sekolah kopi bisa menjadi sebuah lompatan dalam transfer ilmu pengetahuan tentang kopi kepada generasi muda. Apalagi sejak dulu, Lampung Barat sudah dikenal sebagai penghasil robusta terbaik.

Jalan yang mulai berkelok, jurang di sisi kanan kiri jalan, hamparan bukit yang menghijau, dan cuaca yang mulai terasa dingin menjadi penanda mereka sudah masuk daerah Sumber Jaya.

Sepertinya Tamri menyadari kontur jalan yang mereka lewati. Mata Tamri terbuka. Menatap kejauhan. Menembus ruang yang menjadi penghalang.

“Belok ke arah kanan sana, Bad.” Tamri menunjuk sebuah bukit kecil di kanan jalan. Badri memasuki daerah itu dan memarkirkan mobilnya.

Mereka berada di ketinggian. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya gugusan bukit hijau dengan tanah yang subur.

Badri memicingkan mata untuk melihat lebih jelas hamparan kebun kopi yang dia tahu hampir semuanya milik Rasyid Grup. Badri menilai, Tamri lebih dari sekedar berani ketika memutuskan membeli areal ini dan hadir di tengah kepungan Rasyid Grup.

Kenangan bersama Tamri menguar. Masa kini kembali membawa Badri pada kenyataan: dialah penerus Tamri. Papanya mewariskan lebih dari areal yang kini dikenal sebagai sekolah kopi.

Setelah Tamri meninggal, Badri mewujudkan mimpi Tamri. Mendirikan sekolah kopi dan menjadi satu-satunya di Indonesia. Badri membangun pusat penelitian, pelatihan, dan edukasi komoditas kopi. Dia menggelontorkan hasil keuntungan BA Coffee Shop untuk mendirikan fasilitas laboratorium kopi berstandar internasional.

Di sekolah kopi juga terdapat kebun induk, kebun entres, dan kebun produksi. Tak heran, jika setiap musim berbunga tiba, aroma melati bercampur vanila akan memenuhi seluruh areal. Begitu magis membawa pikiran dalam ketenangan.

Saat musim panen, mata akan dimanjakan dengan pemandangan para pemetik yang sibuk memilah biji kopi dari pohonnya. Petik merah. Itulah istilah yang digunakan para pemetik untuk menyebut kopi yang masak di pohon.

Sumber Jaya, Fajar Bulan, Way Tenong hingga Air Itam menjadi tempat yang terpatri begitu dalam di ingatan Badri. Siapa sangka, kini Badrilah yang akan menuliskan sejarah di tempat itu dan tempat-tempat lain yang menjadi bukti betapa besarnya Rasyid Grup.

Lamunan panjang Badri berakhir saat teleponnya berdering. Nama Pruistin hadir di layar telepon.

***

Pru berjalan tergesa masuk melalui pintu keberangkatan. Tadi, tiba-tiba saja ada anak buah Satria yang datang menjemputnya dan menyuruh Pru untuk berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat. Tiket sudah disiapkan oleh mereka. Dalam keadaan sedikit cemas, Pru menghubungi Badri. Pru mengkonfirmasi tentang kedatangan anak buah Satria. Setelah Badri meyakinkannya, barulah Pru mau ikut dengan anak buah Satria tersebut.

“Kita harus terlihat sebagai pasangan kekasih,bisik lelaki yang memperkenalkan dirinya bernama Bagas itu. Anak buah Satria yang ditugaskan menemani Pruistin.

“Sebenarnya ini tentang apa? Kenapa kita harus ke Jakarta?” cecar Pru.

“Ikuti saja. Sudah ada seseorang yang menunggu kita di Jakarta. Kita akan pulang lagi ke Lampung dengan pesawat sore.”

Pru makin dilanda kebingungan. Tapi akhirnya dia memilih untuk diam. Besok jam delapan pagi dia diundang ke Hotel Novotel. Bersama seluruh keluarga besar Rasyid. Hanafi akan membacakan surat wasiat Arkan. Ada kelegaan dalam hati Pru karena dirinya dan Badri berhasil menemukan surat wasiat Arkan yang lain.

Pesawat sudah lepas landas. Menggulung Pru dalam berbagai pikiran di atas ketinggian. Dia tahu, jika dia bisa melihat matahari esok pagi, maka sudah dipastikan hidupnya dan Badri akan berubah total. Berbagai kejadian yang mereka alami dalam beberapa hari ini saja sudah membuat energi dan emosi Pru terkuras. Bisa Pru bayangkan, bagaimana luar biasanya hari-hari mereka ke depan saat status sebagai anak-anak Tamri Rasyid diketahui oleh khalayak umum. Jati diri Pru memang tidak pernah disembunyikan. Namun, sama seperti Badri, Pru tidak tumbuh dalam istana besar Rasyid.

Di tempat lain, dalam sebuah ruangan yang terasa sangat mencekam, seseorang sedang mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Dia naik pesawat sore. Ujarnya kepada orang lain yang menjadi lawan bicaranya di telepon.

***

Sampai di Jakarta, Pru memilih untuk keluar sebentar dari Bandara. Bagas mengikuti Pru dalam diam. Mereka jalan bersisian layaknya sepasang kekasih. Masih ada waktu sekitar enam jam sebelum mereka kembali check in untuk kembali ke Lampung. Pru memilih mal yang dekat Bandara untuk melepas penatnya.

Puas bermain di mal dan makan, Pru dan Bagas pun kembali ke Bandara Soekarno Hatta. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore. Sedangkan pesawat mereka dijadwalkan pukul lima sore.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!