Dia yang Tertinggal
AKU SI PEWARIS 1
Arkan memutuskan untuk menyelamatkan Aji. Berbagai cara dilakukan agar para penyidik tidak bisa menemukan keterlibatan Aji. Lebih dari sepuluh miliar digelontorkan oleh Arkan sebagai harga yang harus dia bayar untuk membeli ‘sekoci’ dan menarik Aji dari badai yang sedang berlangsung. Arkan juga harus bernegosiasi alot dengan Satria yang dengan keras kepalanya membawa bukti-bukti keterlibatan Aji ke hadapan Arkan.
Harapan Arkan, setelah kejadian itu, Aji akan menyadari kesalahannya. Sayang, Arkan tidak tahu kalau kasus suap itu hanya semacam gunung es yang tampak di permukaan. Di belakang kasus itu, Aji juga sudah banyak bermain kotor. Hanya saja nilai dan risikonya tidak sebesar kasus suap itu.
“Jika si pelaku itu adalahan Aji, saya masih mencari tahu bagaimana Aji bisa bermain aman di dalam rumah Arkan selama bertahun-tahun. Sangat tidak mudah untuk menyingkirkan Arkan apalagi menggunakan obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhnya. Harus orang yang benar-benar dekat dan memiliki banyak kesempatan,” gumam Satria.
“Bagaimana dengan Riska? Dia punya peluang yang besar,” ujar Fajar.
“Riska bisa juga. Tapi agak berat. Posisi Riska akan jauh lebih kuat kalau Arkan tetap hidup dan ada di sampingnya. Saya juga masih ragu dengan Saka karena Saka tinggal jauh dari kediaman Arkan. Dalam beberapa kejadian, Saka malah punya alibi yang sangat sempurna.” Satria memijit pelipisnya pelan.
“Tidak ada cara lain. Kita harus memancing si pelaku agar keluar dengan sendirinya. Ah ya, aku hampir lupa. Hanafi hanya mengatakan perubahan isi wasiat itu kepada anak-anak Arkan saja. Saka dan Aji sepertinya belum tahu kalau pewaris utama yang disebutkan Arkan adalah Badri.”
“Mas, ini beneran? Kenapa kita melupakan fakta ini? Jadi di mata Saka dan Aji, posisi Badri hanya seorang pemuda yang akan dinikahkan dengan Pruistin?”
“Benar. Aku yakin begitu. Hanafi tidak pernah mengatakan kalau keluarga Arkan lainnya tahu tentang hal ini.”
“Oke. Saya pikir kita bisa mulai dengan mengumpankan Badri. Biar dia menjadi ikan segar yang akan memanggil hiu itu muncul ke permukaan. Kita bisa membuat skenario kalau Badri berhasil mendapatkan wasiat dan rekaman Arkan yang ada di Arif. Faktanya, Badri memang datang ke Kuningan.”
Setelah mendiskusikan langkah yang akan mereka tempuh dengan Fajar, Satria langsung menghubungi Badri dan Safuan agar segera datang menemuinya. Badri yang akan mengumpankan dirinya, tentu saja harus didampingi oleh seseorang yang mumpuni. Safuan menjadi pilihan utama guna mencegah kebocoran misi ini. Sudah diputuskan, Badri dan Safuan akan menemui Saka terlebih dahulu. Sedangkan Satria dan Fajar akan bergerak dari belakang.
Selanjutnya, Satria meminta Fauzan untuk menyampaikan pesan kepada Hanafi. Pembacaan surat wasiat itu akan dilakukan lusa.
***
Sesuai instruksi Satria, kini Badri dan Safuan bergerak menuju kantor Saka Rasyid. Kepada Saka, Badri akan mengatakan kalau dia sudah mendengar cerita tentang perjodohannya dengan Pruistin. Badri ingin memastikan kebenaran kabar itu. Tugas penting Badri, dia harus bisa meyakinkan Saka kalau dirinya sangat tertarik dengan apa yang akan Pru dapat dari Arkan. Karena posisi Pru bisa menentukan masa depan Badri. Dialah yang nantinya punya kesempatan jadi bos besar.
“Kamu tidak akan pernah bisa menikah dengan Pruistin. Kalian tidak ditakdirkan untuk bersama. Tidak pernah ada perjodohan di antara kalian.” Saka langsung memberikan komentar pedas ketika Badri sudah ada dihadapannya dan menceritakan perjodohan itu.
“Tapi saya mendengarnya langsung dari Pak Hanafi. Malah Pak Arkan sudah menuliskan dalam surat wasiatnya. Saya datang ke Pak Saka hanya untuk memastikan kebenaran kabar itu. Kalau Pak Saka tidak mengetahuinya, bagi saya tidak masalah. Toh, sebentar lagi saya akan menjadi suami Pruistin.” Badri mencoba berkata setenang mungkin.
Safuan yang duduk di samping Badri sesekali membetulkan posisi alat penyadap yang terpasang di bajunya.
“Aku jamin pernikahan itu hanya ada dalam mimpimu. Pruistin tidak akan pernah datang ke sini apalagi untuk menikah denganmu,” tegas Saka.
Badri dan Safuan pun tidak berlama-lama di kantor Saka. Mereka segera menuju tempat Aji. Kepada Aji, Badri harus membuka jati dirinya. Bahwa dialah sang pewaris utama. Bukan Pruistin.
Prok prok prok. Aji memberikan tepuk tangan keras ketika Badri selesai dengan ceritanya.
“Luar biasa sekali drama yang terjadi dalam keluarga Rasyid ini. Setelah keponakanku pergi dari rumah lalu meninggal dunia, sekarang tiba-tiba muncul orang yang mengaku sebagai pewaris Rasyid Grup. Kamu bisa jadi aktor terkenal, anak muda,” puji Aji dengan nada sarkas.
“Saya mempunyai bukti. Saya memegang surat wasiat Pak Arkan dan rekaman suaranya,” sanggah Badri.
“Lalu, menurutmu aku harus bagaimana? Mendekatimu lalu menjadi penjilat? Tidak masalah. Tapi aku memilih untuk membunuhmu setelah kau dinobatkan menjadi pewaris utama. Aku tahu, nama yang tertulis bukan kamu. Tapi Pruistin.” Aji bersikukuh tidak mau percaya kalau Badri adalah anak kandung Tamri.
***
Matahari baru bergulir menuju Barat. Badri terpekur diam menatap segelas kopi yang telah tandas setengahnya. Teras rumah Fauzan selalu menjadi pilihan untuk sekedar memulihkan jiwa.
Badri memutar ulang rekaman bagaimana ikatan hubungannya dengan keluarga Rasyid kini makin terpilin kokoh. Kenangan demi kenangan datang silih berganti memenuhi rongga kelabu di kepalanya. Kehadiran Tamri tak pernah pudar oleh Fauzan. Bahkan kini Badri meyakini hubungannya dengan Tamri jauh lebih dalam.
Terakhir kali mereka bersama terjadi sekitar enam tahun lalu. Beberapa bulan sebelum Tamri meninggal. Mereka melakukan perjalanan ke Sumber Jaya. Hanya berdua.
“Papa mau bikin sekolah kopi. Nanti kamu yang mengelolanya.” Tamri menurunkan sandaran kursi penumpang agar tubuhnya bisa setengah rebahan. Dia membiarkan Badri yang membawa mobilnya dalam perjalanan itu.
“Kenapa aku? Kuliahku aja belum selesai, Pa.”
“Kalau begitu, segera selesaikan kuliah kamu. Pulang ke Lampung. Bantu Papa dan Bapakmu di sini.” Tegas Tamri.
Badri tak membantah. Matanya kembali fokus ke jalanan yang ada di depannya. Mereka sudah masuk di daerah Terbanggi Besar.
“Apa rencana kamu setelah lulus nanti?” Tamri kembali bertanya.
“Aku mau kerja Pa. Sudah ada konsultan yang siapa menampungku. Kebetulan aku juga sudah beberapa kali membantu pekerjaan mereka.”
“Kamu beneran nggak mau pulang dan bantu Papa sama Bapak di sini?”
“Kayaknya nggak Pa. Di sini sudah cukup Papa sama Bapak aja.”
“Papa kamu ini sudah tua, Bad. Sudah waktunya istirahat. Bagi Papa, kamu adalah anak Papa. Kakaknya Pruistin. Apa yang Papa rintis sekarang, ya nantinya juga untuk kamu dan Pruistin.”
“Papa nggak tua. Menurutku, Papa masih bisa bertahan bahkan lima puluh tahun lagi. Aku maunya berjuang dengan kemampuanku sendiri, Pa. Bukan karena nama besar Papa atau Bapak. Aku nggak mau jadi bayangan kalian.”
“Bagus. Papa suka. Tapi, kamu harus ingat, setinggi apapun kamu terbang, kamu harus pulang. Ada sebuah ikatan yang nggak bisa kamu lepaskan. Keluarga. Kamu sudah sering mendengar bagaimana Papa pergi dari rumah. Sampai hari ini Papa masih menyesalinya. Andai ada keputusan lain yang bisa Papa ambil untuk menyelamatkan masa depan Papa dan Mama, pasti sudah Papa pilih jalan itu.”
***