Dia yang Tertinggal
JAGA DIA DENGAN NYAWAMU! 1
Didorong oleh rasa penasaran yang terasa menyesakkan dadanya, malam itu Arif pun pergi menuju alamat yang tadi siang diberikan kepadanya.
Sampai di tempat tujuan, Arif menganga tidak percaya. Berkali-kali matanya mengerjap memandang rumah di depannya. Mungkin lebih tepat jika rumah itu disebut sebagai istana. Seumur-umur, baru kali ini Arif melihat dari dekat rumah sebesar dan semewah itu. Sejenak Arif ragu apa yang harus dilakukannya. Kalau dia masuk, siapa yang akan dia temui?
Cukup lama Arif berhenti di pinggir jalan, bergulat dengan keraguan yang kini memenuhi hatinya. Sampai kemudian suara klakson mobil di sampingnya membuyarkan lamunan Arif.
“Kenapa malah bengong di sini? Ayo, masuk!” Sebuah kepala menyembul dari kursi bagian belakang dan menyuruh Arif untuk mengikuti mobilnya masuk ke dalam halaman rumah.
Arif pun mengekor di belakang mobil hitam yang sudah bisa Arif bayangkan kalau harganya pasti selangit. Dia melewati pos satpam dan menunduk sambil tersenyum ramah kepada satpam yang sedang berjaga. Setelah memarkirkan motor dan melepaskan helm yang dia pinjam dari temannya, Arif berjalan menuju teras depan di mana lelaki yang ingin ditemuinya itu sudah duduk di salah satu kursi menunggu Arif.
“Mohon maaf sebelumnya, Pak. Tadi siang saya lupa menanyakan nama Bapak.” Arif mengulurkan tangan menyalami lelaki itu.
“Bukan salah kamu. Nggak perlu minta maaf. Saya juga salah tadi tidak memperkenalkan diri. Pasti kamu kaget karena ketemu orang asing yang sudah lancang bertanya tentang urusan pribadi kamu. Kenalkan, saya Arkan Rasyid.”
Tangan Arif yang masih menggantung di udara tiba-tiba saja gemetar. Apa dia tidak salah dengar? Meski berstatus anak rantau, tinggal di Lampung hampir empat tahun sudah cukup bagi Arif untuk mengenal nama Arkan Rasyid. Perbincangan di kampusnya menyebut jika pengaruh Arkan Rasyid bahkan bisa membuat para petinggi di Lampung mengubah berbagai peraturan daerah.
Tubuhnya tiba-tiba saja lunglai seolah tidak bertenaga. Arif duduk di salah satu kursi dengan berbagai pikiran buruk yang mulai berseliweran di dalam benaknya. Segera dia menggali seluruh ingatannya, menelaah satu per satu kegiatan apa saja yang sudah dia lakukan yang mungkin menyinggung Arkan Rasyid. Nyatanya, Arif tidak bisa menemukan alasan atau kemungkinan kenapa dia diminta datang ke rumah Arkan. Sebagai mahasiswa yang bisa dikatakan tidak populer, Arif merasa hari-harinya sangat tidak mungkin menyentuh seorang Arkan Rasyid.
“Kenapa kamu diam begitu?”
“Maaf, Pak. Apa saya sudah melakukan kesalahan kepada Bapak?” Arif bertanya setengah takut.
“Oh, jadi kamu berpikir saya memanggil kamu ke sini karena kamu berbuat kesalahan? Begitu?” Tegas Arkan sambil tertawa.
Arif mengangguk sebagai jawaban. Kepalanya tetap menunduk tidak berani melihat wajah Arkan. Namun, hatinya sedikit lega saat mendengar Arkan tertawa dan mengatakan dia tidak punya kesalahan.
“Saya tadi tidak sengaja mampir di masjid kampus kamu untuk salat Zuhur. Entah mengapa hati saya tergerak ke sana. Begitu saya melihat kamu yang sedang menangis, saya tersadar bahwa Allah yang sudah menggerakkan hati saya masuk ke sana. Saya terharu membaca surat dari adikmu. Naluri saya mengatakan kalau kamu anak baik. Saya ingin membantu membiayaimu agar bisa segera menyelesaikan kuliah. Bagaimana? Kamu mau menerima tawaran saya?”
Bagai mendengar petir di siang bolong. Itulah yang saat ini Arif rasakan. Dia tidak menyangka Allah mengulurkan tangan-Nya dengan begitu cepat.
“Maaf kalau saya lancang, Pak. Bukan saya menolak, tapi saya tidak mau menerima bantuan Bapak secara cuma-cuma. Kalau Bapak izinkan, apa boleh saya anggap bantuan Bapak itu sebagai hutang yang nanti akan saya bayar setelah saya lulus dan mendapatkan pekerjaan?” Suara Arif terdengar bergetar. Ada perasaan takut yang menyusup di dalam hatinya.
“Kamu memang luar biasa. Kalau begitu, kamu tidak usah berhutang kepada saya. Mulai besok kamu bisa bekerja sebagai asisten pribadi saya. Kamu akan saya gaji sehingga kamu bisa membayar biaya kuliah dan biaya hidupmu. Bagaimana?”
Arif termangu. Menatap tembok di belakang punggung Arkan. Telinganya tak mampu mendengar dengan jelas saat Arkan berkata dia akan memberikan gaji pokok sebesar lima juta per bulan. Jumlah itu belum termasuk bonus dan lain-lain.
Sejak itu, Arif pun tinggal di rumah Arkan Rasyid. Menempati paviliun belakang yang kondisinya sangat jauh melampaui bayangan Arif. Paviliun itu lebih mirip dengan rumah modern minimalis. Ada ruang tamu merangkap ruang keluarga dan juga ruang makan. Di bagian belakang, ada dapur mini yang menurut Arif lebih dari layak untuk dipakai memasak. Kamar tidur yang dilengkapi AC membuat Arif berpikir kalau semua ini hanya mimpi. Setiap bangun tidur, Arif butuh waktu beberapa menit untuk menyadari di mana dia berada saat ini.
***
Arif menatap sehelai kelopak mawar yang baru saja terlepas. Satu pintu sudah terbuka lagi. Arif berbisik dalam benaknya.
Dia menengadah ke langit. Senja sebentar lagi sempurna.
Arif mengelap sisa air hujan di lantai teras rumahnya. Tugasnya kini hanya tinggal menunggu. Kematian Arkan membuat rencana hidupnya berubah. Tepat sehari setelah dia menerima kabar kalau Arkan meninggal, Arif meminta istrinya untuk pergi sementara waktu menyusul anak mereka yang sedang kuliah di Swiss.
Menjadi asisten sekaligus orang kepercayaan Arkan Rasyid membuat Arif paham bahwa dia telah menggadaikan setengah hidupnya. Rahasia-rahasia besar yang dia simpan rapat membuat Arif terbiasa untuk selalu waspada terhadap segala kemungkinan. Sudah puluhan kali Arif menerima ancaman dari pesaing bisnis atau orang yang ingin menghancurkan Arkan. Tidak hanya dari pihak luar, keluarga terdekat Arkan pun bisa berubah menjadi pemangsa utama.
Karena alasan itulah, Arif menyembunyikan istri dan anak-anaknya dengan begitu rapi. Sejak awal bekerja dengan Arkan pun, Arif menutup rapat identitas dirinya. Dia seolah menjelma menjadi bayangan yang tak pernah kasat mata. Entah bagaimana caranya, Arkan bisa menghapus nyaris semua data yang berhubungan dengan Arif.
Sejak Arkan sakit dua tahun lalu, hampir setiap hari Arif memberikan pengertian kepada istrinya untuk bersiap dengan segala kemungkinan. Bahkan yang paling buruk. Arif sengaja menyekolahkan kedua anaknya di luar negeri agar jauh dari jangkauan orang-orang yang mengenalnya.
Seringkali Arif merasa bersalah karena tidak bisa mengantar jemput anak-anaknya ke sekolah. Mereka tidak pernah terlihat tampil berempat di depan umum. Foto keluarga pun tidak terlihat pada semua akun sosial media anak-anak dan istri Arif.
Ketika dia belum menikah dan masih tinggal di paviliun belakang rumah Arkan, dalam beberapa kesempatan, Arif sering berbincang dengan Tamri. Usia mereka yang hampir sebaya membuat keduanya merasa nyambung dalam berbagai obrolan. Meski tidak bisa dibilang dekat seperti Tamri dan Fauzan, tetapi hubungan keduanya seperti terikat oleh sesuatu yang tidak bisa terlihat. Arif dan Tamri bisa saling memahami bahkan tanpa mengeluarkan suara. Bagi Arif, ada banyak masalah yang menurutnya lebih baik dibiarkan tanpa harus dipikirkan dengan serius.
Begitu pula masalah Tamri dengan keluarganya. Arif hanya menjadi penonton yang baik hati. Tanpa pernah ikut memberikan komentar. Saat Tamri butuh untuk didengarkan, Arif akan menyediakan telinganya. Semua kesah Tamri cukup masuk dari kedua telinganya dan dia simpan rapi di salah satu sel kelabu dalam kepalanya. Tak pernah sekali pun dia membagi cerita itu kepada hatinya.
***