Dia yang Tertinggal

ARIF FAJRI

Pruistin tiba di rumah Fauzan dengan membawa beberapa buah-buahan yang tadi sempat dia beli di jalan. Hal ini dia lakukan untuk menghindari pertanyaan Fauzan atau Badri. Pruistin tak mungkin menceritakan kalau dia menemui Samudera. Teka teki ini semakin rumit. Meski Pruistin percaya bahwa Fauzan dan Badri ada di pihaknya, tetapi Pruistin memiliki firasat kalau dia dan Badri saat ini sedang terancam. Mereka tidak bisa saling melibatkan satu sama lain.

“Kamu dari mana?” Badri menghadang di depan pintu saat Pru mau masuk ke dalam rumah.

“Habis beli buah, Bang,jawab Pru sedikit takut. Selama ini Pru tidak pernah melihat raut muka Badri semarah ini.

“Pru, Abang sudah berkali-kali bilang, kamu jangan keluar sembarangan. Pokoknya Abang nggak mau tahu, ini terakhir kalinya kamu pergi sendiri tanpa pamit. Abang sama Bapak khawatir, Pru. Kamu harus tahu itu.”

“Iya, Bang.”

Langkah Pru yang hendak masuk ke dalam rumah terhenti saat melihat sebuah koper kecil milik Badri.

“Abang mau pergi?” Pru bertanya penasaran.

“Iya. Abang harus ke Kuningan. Ada masalah yang harus Abang selesaikan secepatnya.”

“Apa ada hubungannya dengan Rasyid Grup?” cecar Pru.

“Iya. Tapi kamu nggak usah khawatir. Abang bisa mengatasinya.”

“Aku ikut, Bang,rengek Pru. Dia tak tega melihat Badri yang akan pergi sendirian. Bagaimanapun, Pru juga mewarisi darah Rasyid. Sudah seharusnya dia menemani kakaknya.

“Kamu tunggu di sini sama Bapak. Biarkan Abang kamu menyelesaikan semuanya. Bapak nggak bisa membiarkan dua pewaris utama Rasyid pergi bersamaan dalam situasi seperti ini.” Suara Fauzan mampu membuat Pru diam. Ucapan Fauzan memang sangat masuk akal. Semuanya masih remang-remang. Badri dan Pru belum tahu siapa yang mereka hadapi.

“Abang berangkat sama siapa?”

“Sendiri. Abang naik Damri ke Jakarta malam ini. Besok subuh dijemput Vano di Jakarta. Dia yang menemani Abang ke Kuningan.”

Fauzan tentu tidak mengizinkan Badri berangkat sendiri. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya mereka sepakat untuk meminta Vano menemani Badri. Namun, Fauzan tidak mengetahui kalau Badri dan Vano sudah menyusun rencana lain.

Badri harus benar-benar memperhitungkan segala kemungkinan. Usai bicara dengan Adi, Badri menghubungi Fajar. Fajar menyuruh Badri untuk naik kendaraan umum dengan alasan khawatir Badri kelelahan kalau bawa mobil sendiri. Sebelum pulang ke rumah, Badri membeli tiket Damri untuk malam ini terlebih dahulu.

Saat membeli tiket itulah anak buah Fajar menghampiri Badri dan menyerahkan sepucuk surat dari Fajar. Di dalam surat itu Fajar memberikan perintah agar Badri berangkat ke Kuningan diantar oleh anak buah Fajar. Nanti ada anak buah Fajar yang lain menggantikan Badri di dalam bus Damri. Badri juga diminta menghubungi Vano agar datang ke Stasiun Gambir menjemput anak buah Fajar. Sehingga orang akan menduga Vano tengah menjemput Badri.

***

Satu sore, di sebuah rumah yang menjadi tempat rahasia besar terkubur. Hujan masih mengguyur. Butiran tanah dan serasah tergusur. Entah di mana mereka kelak melebur.

Arif duduk di kursi malas yang sejak tadi terus saja berayun seirama dengan tubuhnya yang sedikit gemetar. Matanya yang masih setajam elang menatap halaman dengan nanar. Nalurinya mengatakan, hujan yang tak henti sejak pagi pasti membawa sebuah kabar. Entah mengapa sejak semalam hatinya terus saja berdebar.

Hampir lima bulan ini Arif melewati hari-harinya dengan perasaan cemas dan was-was. Bukan tanpa alasan jika Arif lebih memilih tinggal di Cipari. Sebuah desa di Kabupaten Kuningan yang dia pikir tidak cukup terkenal untuk didatangi.

Usianya baru lima puluh tujuh tahun. Masih cukup muda untuk meninggalkan hiruk pikuk pekerjaan yang dianggap sangat nyaman untuk sebagian orang. Ya, Arif adalah salah satu orang kepercayaan Arkan. Lebih dari separuh usianya dihabiskan untuk mengabdi kepada Arkan.

Arif terikat pada janji yang dia patri dalam dirinya sendiri untuk selalu mengabdikan hidup pada Arkan. Janji yang dibuatnya berpuluh tahun lalu setelah semua yang dilakukan Arkan untuknya.

Bayangan sosok Arkan hadir begitu saja memenuhi benak Arif.

Sebelum bertemu dengan Arkan, Arif Fajri hanyalah seorang mahasiswa yang nyaris tidak bisa menyelesaikan kuliahnya karena kekurangan biaya. Arif kuliah dan tinggal di Lampung sendirian. Kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh yang setiap hari menyadap karet di salah satu perkebunan karet terbesar di Jambi. Awalnya Arif ingin kuliah di Jakarta atau Bandung, tetapi kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan akhirnya menghentikan langkah Arif hanya sampai di Lampung.  

Seperti siang-siang sebelumnya yang entah sudah berapa ratus dia lalui, siang itu pun Arif tengah duduk terpekur di dalam masjid. Ada secarik kertas di tangannya yang sudah basah karena guyuran air mata. Arif menatap kembali surat yang makin lama makin kabur, tidak bisa terbaca jelas.

Surat yang ditulis oleh adiknya yang kini duduk di bangku SMA itu mengabarkan kalau bapaknya sudah mulai tidak bisa lagi menyadap karet. Sakit asma yang dideritanya sejak kecil telah memaksa laki-laki tangguh itu menyerah. Sudah hampir sebulan bapaknya tidak bisa menyadap sama sekali. Hanya bisa beraktivitas di dalam rumah dan tidak bisa melakukan pekerjaan berat. Jika memaksa, asmanya akan kambuh dan membuat keadaan tubuhnya makin parah. Adiknya juga menyampaikan permohonan maaf dari kedua orang tua mereka karena mungkin tidak bisa lagi mengirimkan uang kepada Arif.

Tentu saja bukan masalah dihentikannya kiriman uang yang membuat Arif tak dapat menahan air mata. Toh, selama ini juga dia sama sekali tidak pernah meminta dikirim uang. Walaupun jauh dari kata cukup, Arif masih sanggup menghidupi dirinya dengan mengajar ngaji dan les privat di beberapa tempat. Jika selama ini Arif lebih sering berpuasa, itu karena dia harus mencicil hutang kepada salah seorang temannya. Arif membeli motor bekas milik temannya, dengan tujuan agar lebih memudahkan mobilitasnya. Temannya yang baik ini mengizinkan Arif mencicil pembayaran motornya.

Kesedihan yang Arif rasakan karena dia tidak bisa melihat bapaknya. Sebagai anak sulung, Arif merasa sangat bersalah telah meninggalkan keluarganya.

Di saat itulah tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang yang baru saja menyelesaikan salatnya.

“Ada masalah apa, anak muda?” Lelaki paruh baya itu bertanya kepada Arif.

“Tidak, Pak. Tidak ada apa-apa,jawab Arif sambil menyeka air matanya.

“Ada kesulitan apa hingga kamu menangis seperti itu? Boleh saya membaca apa yang ada di tanganmu itu?”

Entah kenapa, dengan begitu mudahnya Arif menuruti permintaan lelaki yang tidak dikenalnya itu. Tanpa berpikir dua kali, Arif menyerahkan surat yang membuatnya tenggelam dalam kesedihan.

“Oh, nama kamu Arif? Kamu kuliah jurusan apa? Sekarang semester berapa?”

“Iya, Pak. Saya Arif. Saya ambil jurusan hukum, Pak. Sekarang semester delapan.”

“Berarti sebentar lagi kamu lulus ya?”

“Mudah-mudahan, Pak. Tapi sepertinya saya akan cuti kuliah dulu karena harus pulang ke Jambi mengurus Bapak saya yang sakit.”

“Kamu pikirkan lagi baik-baik. Kalau kamu tidak ada kesibukan, malam ini saya tunggu kamu di rumah saya. Maaf, siang ini saya sudah ada janji, jadi tidak bisa mengobrol banyak.” Laki-laki itu menuliskan sebuah alamat di balik surat yang tadi dibacanya lalu menyerahkan kembali surat itu kepada Arif.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!