Dia yang Tertinggal

PERGERAKAN SATRIA

“Mas Fajar mengenal Aji Nugraha Rasyid?” tanya Satria setelah menyimak cerita dari Fajar.

“Ya, aku kenal Aji. Dia adik bungsu Arkan Rasyid. Memangnya kenapa dengan Aji?”

“Dia adalah orang yang berada di balik kasus suap Bupati Lampung Utara. Dia aktor yang sebenarnya. Para penyidik malah tidak bisa menemukan bukti keterlibatan Aji Rasyid sehingga dia dibebaskan. Namun, saya bisa memperoleh bukti itu walaupun tentu saja dengan cara ilegal. Rasyid Grup harus kehilangan lebih dari sepuluh miliar untuk menutupi kasus ini agar tidak terendus media dan nama Aji Rasyid tetap aman. Lalu, kalau Saka Utama Rasyid?”

“Dia adik Arkan nomor dua. Setahu aku, Saka lebih banyak menghabiskan waktunya mengurusi pabrik kopi. Boleh dibilang, dialah yang menggerakkan lini produksi di Rasyid Grup.”

“Ya, saya sudah mengamati sejak lama tentang Saka Rasyid. Tak banyak orang yang tahu kalau Saka sebenarnya adalah orang yang mengendalikan kebijakan dan perekonomian di Lampung. Saka Utama Rasyid ada di balik kesuksesan gubernur, bupati, dan beberapa pejabat tinggi lainnya di Lampung. Ada lima keluarga yang memegang peran dalam pembangunan Provinsi Lampung, salah satunya, ya, keluarga Rasyid. Hanya saja, pergerakan keluarga Rasyid ini sangat sulit terendus karena memang tidak ada satu orang pun dari mereka yang duduk sebagai politisi.”

“Lalu apa hubungannya dengan kematian Arkan Rasyid dan ditunjuknya Badri sebagai pewaris utama Rasyid Grup?”

“Arkan Rasyid itu seorang yang idealis. Di mata siapa pun, beliau adalah pengusaha yang nyaris tanpa cela. Arkan sebenarnya adalah lelaki bertangan besi. Dia tak segan melenyapkan anak buahnya yang tidak sejalan. Saka dan Aji tidak bisa bebas bergerak selama kendali Rasyid Grup ada di tangan Arkan. Baik Saka maupun Aji sangat mengincar posisi Arkan. Mereka tidak terlalu memusingkan Pruistin karena alasannya jelas, Pruistin adalah seorang perempuan yang bisa dibungkam dengan mudah.”

Satria berhenti sejenak, mengatur napas, sebelum melanjutkan kalimatnya. Tatapannya tajam, tapi tenang, seperti mata elang yang sedang menaksir arah angin. Di hadapan mereka, meja kayu di ruang tamu itu dipenuhi dokumen-dokumen yang berserakan: salinan laporan keuangan, foto-foto lama, dan potongan berita dari surat kabar. Lampu gantung di atas kepala mereka berayun perlahan, menciptakan bayangan yang bergerak di wajah Satria.

“Sedangkan Badri berbeda,” lanjutnya. “Dia laki-laki. Dibesarkan oleh Tamri yang sudah disiapkan untuk menggantikan Arkan. Meskipun orang mengenal Badri sebagai anaknya Fauzan, tapi kita tidak bisa menafikan kalau tangan Tamrilah yang memoles Badri saat tumbuh. Arkan jelas sangat tahu akan hal itu. Selama ini Arkan tidak pernah mengusik bisnis yang dijalankan Tamri, karena Arkan tahu sekali bahwa Tamri pasti mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Ini semacam pembuktian juga bagaimana seorang Tamri memiliki kualifikasi yang sesuai untuk menggantikan Arkan. Sayangnya, takdir berkata lain. Tamri meninggal sebelum Arkan menyerahkan Rasyid Grup. Mas Fajar pasti tidak pernah menduga kalau kematian Tamri ini sudah direncanakan.”

Satria menegakkan punggungnya dan menatap Fajar lurus-lurus. Ia menikmati momen saat Fajar tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Keringat tipis muncul di pelipis Fajar, meski ruangan itu ber-AC.

“Apa? Siapa yang telah membunuh Tamri?” 

“Orang yang sama yang telah membunuh Arkan dan Narti.” Satria menjawab tenang.

“Maksud kamu, Arkan Rasyid juga dibunuh?”

“Saya sedang melakukan penyelidikan tentang itu. Beberapa bukti sudah mengarah kepada pembunuhan yang dilakukan secara perlahan-lahan. Sepertinya si pembunuh ini sangat hafal bagaimana kondisi tubuh Pak Arkan. Dia memasukkan sesuatu yang bisa menjadi racun jika diminum dalam jangka waktu lama. Kalau Tamri, seseorang menemukan bahwa kecelakaan yang menimpa Tamri ini memang disengaja.”

Fajar menelan ludah. Tangannya yang sedari tadi menggenggam cangkir kopi kini sedikit bergetar. Uap kopi yang mulai mendingin seolah menjadi kabut yang menutupi logika.

“Maksudmu, memang ada yang menginginkan kematian mereka?” 

“Benar. Arkan dan Tamri sudah diincar sejak lama. Saya tidak terkejut sama sekali waktu tadi Mas Fajar mengatakan ada yang mengancam Pruistin. Sampai hari kematian Arkan, si pembunuh ini hanya mengetahui kalau anak Tamri adalah Pruistin.”

Satria mencondongkan tubuhnya ke depan. Suaranya menurun satu oktaf, nyaris seperti bisikan. “Tapi sekarang, setelah pemakaman Arkan dan Narti, saya yakin mereka sudah tahu tentang Badri.”

“Benar-benar rumit. Menurutmu, siapa kira-kira si pembunuh ini?” 

“Saya masih belum bisa memastikan. Hampir semua orang punya motif. Termasuk anak-anak Arkan.”

“Bukankah ketiga anak Arkan ini sepertinya tidak peduli dengan urusan Rasyid Grup?” 

“Siapa bilang mereka seperti itu, Mas? Mereka hanya tidak peduli pada posisi sebagai pengganti Arkan. Tapi mereka tetap membutuhkan Rasyid Grup sebagai sumber uang mereka. Rahmat perlu uang untuk membangun galeri dan teaternya, Andi sudah jelas karena dia memang bekerja di Rasyid Grup, Intania sebagai dokter yang ingin mengembangkan karirnya juga butuh uang baik untuk sekolah lagi atau buka praktik. Arkan Rasyid sejauh ini bisa memberikan materi kepada mereka secara proporsional tanpa memicu keributan. Setelah Arkan meninggal, siapa yang bisa menggantikan perannya itu? Kalau melihat anak-anak dan adik-adik Arkan, nyaris tidak ada yang bisa.”

Fajar bersandar di kursinya. Ia memejamkan mata, mencoba mencerna semua kata yang keluar dari mulut Satria. Terlalu banyak nama, terlalu banyak intrik. Ia tidak pernah membayangkan bahwa keluarga Rasyid, yang selama ini dikenal sebagai lambang kesuksesan dan kehormatan, ternyata menyimpan begitu banyak kegelapan di balik tembok-tembok megahnya.

“Hebat.” Fajar akhirnya membuka mata dan memberikan aplaus kecil. “Luar biasa sekali, kamu sudah dapat informasi sejauh ini. Sejak kapan kamu tertarik sama keluarga Rasyid?”

“Sejak Mas Fajar meminta saya menyelidiki kehamilan Linda,” jawab Satria tanpa ragu. “Awalnya saya hanya heran kenapa ada orang tua yang begitu ingin tahu jenis kelamin calon cucunya, sedangkan di sisi lain, Tamri sendiri malah memutuskan hubungan apa pun dengan keluarga Arkan. Setelah itu, setiap ada berita tentang Arkan Rasyid dan keluarganya, saya menyempatkan untuk menyelidikinya. Termasuk kecelakaan Tamri.”

Satria terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah dinding, seakan mengingat kembali satu demi satu potongan kasus yang pernah ia tangani. Di meja, ponselnya bergetar pelan. Ia melirik sekilas. Sebuah pesan terenkripsi masuk dari anak buahnya. “Target dua berpindah lokasi,” begitu bunyinya. Satria tidak bereaksi. Ia mematikan layar ponsel itu dan melanjutkan pembicaraan dengan nada yang lebih tenang.

“Syukurlah. Aku tidak salah memilihmu untuk membantuku dalam kasus ini,” ujar Fajar lega.

“Apa yang bisa saya bantu, Mas?”

“Tolong bantu menemukan siapa yang sedang mengincar keselamatan Badri dan Pruistin saat ini. Kita tidak punya banyak waktu. Aku sempat mendengar kalau pengganti Arkan Rasyid diumumkan saat pembacaan wasiat. Sayangnya, aku nggak tahu kapan wasiat itu dibacakan. Seharusnya dalam dua atau tiga hari ke depan. Perusahaan sebesar Rasyid Grup tidak bisa dibiarkan mengalami kekosongan pimpinan.”

Satria menatap jam di pergelangan tangannya. Jarum pendek menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Ia berdiri perlahan, lalu berjalan ke jendela. Dari balik kaca, langit sore tampak berwarna oranye tua, seolah menandakan sesuatu yang berat sedang menunggu di ujung hari.

“Tapi Mas Fajar tentunya tahu bagaimana cara saya bekerja?”

“Ya ya ya, aku masih ingat. Jadi bagaimana? Kamu bersedia, kan?” 

Satria tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah benar-benar hangat. Dalam kepalanya, roda strategi mulai berputar: jaringan komunikasi, pengintaian digital, hingga penyamaran yang mungkin harus dilakukan. Dunia Satria adalah dunia yang penuh dengan bayangan, tempat di mana kebenaran dan kebohongan sering kali menyamar menjadi hal yang sama.

Meminta Satria menyelidiki suatu kasus secara pribadi memang bukan hal yang mudah. Satria tidak akan membela siapa pun yang salah, terutama kasus korupsi dan penipuan. Ia selalu bekerja dalam keheningan dengan tim kecil berisi orang-orang yang ia percayai penuh. Tak satu pun dari mereka suka tampil di depan publik. Tidak ada nama yang ingin terkenal, tidak ada wajah yang ingin diingat. Di dunia Satria, hasil kerja lebih berharga daripada pujian.

Uang bukan tujuan utama Satria. Ia bekerja demi kepastian, demi kebenaran yang sering kali terkubur oleh kekuasaan. Jika sebuah kasus menantang dan memerlukan seluruh kemampuannya, ia akan menyelaminya meski harus melangkah di antara dua sisi hukum yang kabur.

“Sore ini saya akan mulai bergerak. Untuk sementara, kita berhubungan di jalur aman. Tolong ganti nomor ponsel Mas Fajar dan Badri.”

“Baik. Aku ikut semua aturan kamu.”

Fajar berdiri, menatap Satria satu kali lagi, mencoba membaca sesuatu di wajah pria itu. Namun, seperti biasa, Satria tidak meninggalkan jejak emosi sedikit pun. 

Setelahnya, Fajar pun berpamitan dan meninggalkan Satria.

Begitu pintu menutup di belakang Fajar, Satria tetap duduk diam. Ia menatap peta besar yang tergantung di dinding. Peta Lampung dengan tanda-tanda merah kecil di beberapa titik. Di sana, ada nama-nama yang hanya ia dan timnya yang tahu. Di bawah cahaya lampu redup, Satria menarik napas panjang.

“Permainan sudah dimulai,” gumamnya pelan.

Di luar, langit telah berubah menjadi ungu pekat. Suara azan magrib menggema dari kejauhan, mengiringi langkah Satria yang bersiap keluar. Di sakunya, ponsel satelitnya kembali bergetar. Pesan singkat dari anak buahnya berbunyi, “Target utama sudah bergerak dari Jakarta menuju Bandar Lampung.”

Satria tersenyum dingin. Ia tahu, malam ini bukan malam biasa. 

Malam ini, pergerakannya benar-benar dimulai.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!