Dia yang Tertinggal
KEPINGAN PUZZLE 2
Fajar melihat hal itu dalam sosok Badri kemarin. Melihat bagaimana Badri begitu tenang tetapi sorot matanya sangat tajam, membuat Fajar yakin kalau memang ada manusia yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Bagi Fajar, ketenangan yang diperlihatkan Arkan dan Badri lebih menakutkan dibanding emosi seseorang yang meledak-ledak. Jika sekarang Badri disebut sebagai ancaman, Fajar bisa memahaminya. Siapa pun pasti akan menganggap Badri hanya anak kemarin sore yang sama sekali tidak berpengalaman. Apalagi dia tumbuh di luar benteng keluarga Rasyid.
“Maaf, loh, Dek Fajar, tamu malah dicuekin sama tuan rumahnya.” Suara ramah Riska mengalihkan perhatian Fajar. Riska duduk di ujung sisi kiri Fajar.
“Nggak apa-apa, Bu. Saya yang minta maaf karena mengganggu acara Ibu. Loh, kok sudah sepi?” Fajar memandang ke arah ruang tamu yang jelas-jelas tidak bisa terlihat dari situ karena terhalang tembok.
“Mereka sudah pulang. Begitulah kalau nenek-nenek yang menolak tua ini sudah pada kumpul. Lupa sama umur. Padahal mereka sejak pagi sudah di sini.”
“Malah bagus, Bu. Bisa membuat awet tua.” Fajar berkelakar diriingi tawa Riska.
“Dek Fajar ini bisa saja. Tua, kok, awet. Kalau mau awet itu, ya awet muda, dong. Loh, ini kok belum dibikinin minum, ya?” Riska memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman dan mengambil makanan kecil.
“Nggak usah repot-repot, Bu.”
“Nggak repot. Cuma air, kok. Oh iya, bagaimana kabar keluarga? Sehat?”
“Alhamdulillah, sehat.”
“Ngomong-ngomong, Dek Fajar ke sini ini ada apa, ya?” tanya Riska terus terang.
“Ehhhmmm.” Fajar berdehem pelan. “Begini, Bu. Sebelumnya saya mohon maaf karena mengganggu Bu Riska. Saya ke sini karena memang ada yang ingin saya konfirmasi langsung ke Bu Riska. Ini mengenai Badri Abadi dan Pruistin Rasyid. Apa benar keduanya adalah cucu Ibu?”
“Benar sekali. Loh, Dek Fajar tahu dari mana kalau Badri adalah cucu kami? Saya sendiri baru tahu kabar itu dari Bapak sekitar empat atau lima bulan lalu. Saya pikir, sepertinya Badri juga sudah tahu kabar ini. Tapi saya belum punya kesempatan untuk bicara dengan cucu sulung saya itu. Memang waktu kemarin Bapak meninggal, saya melihat ada Badri ke sini sama Fauzan. Kalau Pru, setahu saya sekarang dia kuliah di Yogya. Saya malah tidak melihat Pru datang melayat ke sini. Mungkin dia masih sibuk jadi tidak bisa datang.”
Kabar ini agak mengejutkan bagi Fajar. Bu Riska malah tidak tahu Pru sudah ke rumah ini. Berarti orang yang memberikan air minum kepada Pru itu memang orang yang tahu kedatangan Pru.
“Kasihan Badri. Saya mendengar kalau Narti meninggal nyaris bersamaan dengan meninggalnya Bapak. Walaupun bukan ibu kandungnya, saya yakin Badri pasti sangat kehilangan. Rencananya saya memang mau hubungi Badri dan Pru. Kedua anak itu harus datang pas pembacaan wasiat nanti. Mereka itu bagian dari kami. Darah daging Tamri. Saya sendiri yang akan memastikan kalau mereka akan mendapatkan haknya,” ujar Riska yakin.
“Apa Ibu tahu kira-kira Badri dan Pru mendapatkan warisan apa? Maaf, jika pertanyaan saya tidak sopan.”
“Nggak apa-apa, Dek Fajar. Saya nggak keberatan. Secara garis besarnya, saya yakin sebagai anak sulung dari Tamri dan kebetulan dia laki-laki, Badri akan mewarisi Rasyid Grup sekaligus menggantikan Bapak. Hanya itu saja yang paling penting. Untuk Pru, bagiannya sudah diatur langsung sama pengacara Bapak, karena Tamri sudah meninggal.”
“Apakah semua keluarga Rasyid setuju dengan keputusan Pak Arkan ini?”
“Sejujurnya, saya tidak bisa menjamin semuanya akan setuju. Ini sangat di luar prediksi semua orang. Saya juga baru tahu tiga bulan terakhir, setelah kesehatan Bapak semakin menurun. Bapak hanya mengatakan kalau nantinya bukan Pru yang jadi penerus Bapak. Hanya itu saja.”
“Pendapat Ibu sendiri bagaimana? Bukankah ada dua lagi anak laki-laki Pak Arkan?”
“Saya ini hanya ibu rumah tangga, Dek Fajar. Saya tidak paham sama sekali tentang bisnis apalagi urusan Rasyid Grup. Saya hanya percaya kalau apa pun keputusan yang diambil Bapak, pasti sudah dipikirkan dengan sangat matang dan mempertimbangkan banyak hal. Dek Fajar sendiri kenapa tertarik dengan masalah ini?”
“Kemarin Badri datang kepada saya. Kebetulan Badri adalah teman baik anak saya. Badri yakin ada yang sedang mengawasinya. Dia khawatir ini ada hubungannya dengan status Badri sebagai anak Tamri Rasyid. Jadi, dia meminta bantuan saya untuk menyelidikinya. Saya bersedia membantu Badri karena saya berpikir kami sudah ditakdirkan untuk saling bertemu sejak dua puluh lima tahun lalu saat saya diminta Pak Arkan untuk menyelidiki anak dalam kandungan Linda.”
Fajar sengaja menutupi fakta bahwa Badri datang bersama Pru. Kalau Riska saja belum tahu keberadaan Pru, bisa jadi anggota keluarga yang lain juga belum mengetahuinya. Biarlah Fajar menutupinya. Demi kebaikan Pru.
“Iya, Dek. Takdir tidak pernah bisa kita prediksi. Saya dan Bapak sudah nyaris patah arang mencari Badri. Berulangkali saya katakan ke Bapak kalau Linda dan Tamri mungkin benar. Anak mereka sudah tidak ada. Tapi Bapak keras kepala. Tetap yakin anak itu masih ada. Saya kaget banget waktu Bapak membawa kabar tentang Badri. Tamri benar-benar meninggalkan anak laki-laki sebagai penerusnya. Saya sempat kaget. Berkali-kali saya meminta Bapak untuk memeriksa kebenaran kabar ini dan ternyata memang benar. Badri itu cucu sulung kami.”
“Apa Bapak sudah mengumumkan tentang status Badri?”
“Kalau secara resmi dari mulut Bapak, belum ada omongan apa-apa. Bapak belum sempat mengumumkan tentang Badri, keburu sakit dan meninggal. Tapi tadi pagi anak-anak dipanggil ke kantor Hanafi. Pengacara Bapak. Mungkin membicarakan tentang Badri ini. Memangnya kenapa Badri dalam bahaya?”
“Saya belum bisa menduga secara pasti apa alasannya. Tapi sejauh ini saya dan Badri menebak mungkin ada kaitannya dengan Rasyid Grup yang tadi Ibu bilang akan diserahkan kepada Badri. Apakah keputusan itu sudah final?”
“Saya nggak tahu, Dek. Saya belum menanyakan Bapak sudah mengganti surat wasiatnya atau belum. Saya hanya menduga saja. Dalam keluarga ini, Rasyid Grup akan diteruskan oleh anak laki-laki pertama. Pewaris setelah Bapak, ya, Tamri. Sayang sekali Tamri meninggal. Otomatis pewaris berikutnya, ya, anak Tamri. Sebelum Badri ditemukan, kami sempat membahas masalah ini karena Pruistin itu perempuan. Bapak malah akan mendobrak aturan yang sudah ada dengan tetap memilih Pruistin sebagai penggantinya. Saya bersyukur ternyata ada Badri. Jadi tidak perlu ada keributan lagi gara-gara dia perempuan atau laki-laki.”
Fajar tidak menanggapi. Otaknya sibuk mencerna cerita Riska. Ada dua kemungkinan yang saat ini sedang terjadi. Orang itu sudah tahu tentang Badri dan ingin melenyapkannya, atau orang tersebut hanya fokus kepada Pru yang kebetulan kemarin sedang bersama Badri sehingga Badri pun ikut terseret.
“Pasti lelah, ya, Bu. Setiap hari menemui para tamu?”
“Dibilang lelah, ya, lelah banget, Dek. Kolega Bapak itu, kan, dari mana-mana. Banyak juga yang saya tidak kenal. Terutama teman sejawatnya. Mau bagaimana lagi? Sebagai istri, saya yang harus menerima mereka. Bapak sudah menyiapkan mental saya untuk bisa tetap kuat kalau kehilangan Bapak. Saya dididik oleh Bapak agar bisa menjadi pelindung bagi siapa pun terutama orang-orang yang bekerja pada kami. Jadi saya nggak punya banyak waktu untuk meratapi kepergian Bapak. Tapi waktu hari kejadian Bapak meninggal, ya, saya oleng juga, Dek. Saya nggak bisa diajak bicara dengan tenang. Jadi yang menerima tamu-tamu dan menemani mereka sampai pemakaman Bapak selesai itu para kerabat kami.”
Akhirnya Fajar menemukan jawaban kenapa Riska tidak kalau Pru datang bersama Narti. Pastinya karena Riska memang tidak menemui beberapa tamu yang datang termasuk Pru dan Narti. Berarti ada seseorang yang mengenali Pru sampai bisa memberikan minuman beracun itu kepadanya. Padahal Pru sudah mengatakan saat itu dia memakai masker.
“Dari tadi, kok, sepi ya, Bu? Yang lain pada ke mana?” tanya Fajar karena sejak tadi tidak melihat anak-anak Riska atau kerabat yang lain.
“Anak-anak semuanya masih di luar. Maklum, banyak yang harus diurus, jadi ya begini. Saya yang jaga kandang.”
Selanjutnya Fajar mengajak Riska berbincang tentang kehidupan Arkan di masa muda. Riska dengan senang hati menceritakan bagaimana sosok Arkan bekerja sangat keras. Satu-satunya hal yang selalu membuat Riska cemburu adalah pekerjaan Arkan. Tak lupa Riska juga menuturkan kisah cinta mereka dengan mata berbinar. Seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Begitulah asmara Arkan dan Riska yang berawal dari perjodohan kedua orang tua mereka.
“Anak-anak Bu Riska sekarang masih tinggal di sini atau gimana bu?”
“Hanya Intania yang masih tinggal sama kami. Kalau Tamri, kan, Dek Fajar tahu sendiri. Dia memilih pergi. Rahmat sama Andi juga sudah punya keluarga dan kehidupan masing-masing. Untungnya ada keponakan yang mau menemani kami. Ronald, anak adiknya Bapak. Dia ikut kami sejak SMP. Jadi, sudah kami anggap anak sendiri. Apalagi dia juga senang kalau diajak sama Bapak ke kantor, akhirnya dia jadi asisten Bapak setelah asisten sebelumnya, si Arif, pensiun.”
Setelah dirasa cukup, Fajar pun pamitan. Riska tidak tahu kalau sejak awal mereka berbincang, ada seseorang yang menguping obrolan mereka. Seseorang yang bersembunyi di balik meja makan berukuran sangat besar. Fajar sekilas melihat bayangan orang itu di lantai. Orang itu tidak sadar kalau dari posisinya menimbulkan bayangan di lantai yang terbuat dari granit warna putih.
Fajar belum punya dugaan apa tujuan orang itu mendengarkan obrolannya dengan Riska, yang pasti sekarang dia tahu kalau memang ada yang tidak menginginkan kehadiran anak-anak Tamri, baik Badri maupun Pru.
***