Dia yang Tertinggal

SEBUAH TAKDIR

Waktu isya sudah berlalu beberapa puluh menit lalu. Acara tahlilan atas meninggalnya Narti baru saja selesai. Setelah semuanya pulang dan rumah kembali sepi, Fauzan meminta Badri mengajak Linda dan Pru ke ruang kerja Fauzan. Saat ini keempatnya sudah duduk mengelilingi meja kerja Fauzan.

“Sepertinya ada yang penting, Mas?” Linda membuka suara. Sejak dahulu Linda selalu memanggil Fauzan dengan tambahan “mas meski usia mereka sebaya.

“Aku tadi habis dari kantornya Pak Hanafi.” Fauzan menjawab pertanyaan Linda.

“Bapak ke kantor Pak Hanafi yang pengacara itu?” Badri mengernyitkan dahi.

“Bapak tadi ngobrol banyak sama Pak Hanafi. Pada dasarnya ternyata Pak Arkan sudah tahu kalau Abang adalah cucunya. Informasi dari Pak Hanafi, empat bulan lalu Pak Arkan sudah mengubah surat wasiatnya. Pak Arkan jelas-jelas menyebut kalau aset Rasyid Grup diberikan ke Abang.”

“Kok, jadi bawa-bawa Abang?” Badri tidak terima.

“Kamu cucu laki-laki pertama dari anak laki-laki pertama, Bang.” Linda menyela. “Papa menghapus nama Rasyid di belakang nama Abang dan memilih menyerahkan Abang ke Bapak Fauzan bukan tanpa alasan. Itu keputusan terberat dalam hidup Papa. Bahkan pilihan Papa untuk pergi dari keluarga dan hidup di atas kaki sendiri tidak ada apa-apanya dibandingkan perasaan Papa tidak bisa mengakui Abang sebagai anaknya. Tapi Papa meyakinkan Mama kalau itu adalah keputusan terbaik agar Abang bisa hidup normal seperti anak yang lainnya. Pernikahan Papa dan Mama yang tidak mendapatkan restu dari keluarga besar Papa akan berimbas kepada sikap mereka sama Abang. Apalagi kalau mereka tahu anak sulung Papa itu laki-laki, yang secara otomatis akan menjadi pewaris utama Rasyid Grup.”

“Terus kenapa sekarang Abang jadi terlibat? Kenapa tidak bersikap seperti biasanya saja. Anggap Abang bukan bagian dari keluarga Rasyid.” Badri bersikukuh.

“Kayaknya nggak segampang itu, deh, Bang. Apalagi kalau Datuk sudah jelas-jelas menuliskan nama Abang. Menurut aku, Datuk memang mau Abang yang menjadi penerusnya. Bukan orang lain.” Pru bersuara mengemukakan pendapatnya.

“Pru benar, Bang. Tadi juga Bapak dengar sendiri rekaman Pak Hanafi dengan Pak Arkan. Pak Hanafi sudah mengatakan kalau keputusan Pak Arkan ini akan menimbulkan prahara atau keributan di dalam keluarga Rasyid, tapi Pak Arkan tidak menggubrisnya. Beliau tetap saja ngotot mau nama Abang ditulis sebagai penerusnya. Bapak dipanggil hanya untuk konfirmasi kebenaran Abang sebagai anak Tamri Rasyid.”

“Aku masih bisa menolaknya, kan?” Badri menatap Fauzan penuh harap.

“Tidak semudah itu, Bang. Sekitar satu setengah tahun lalu Datuk mendatangi Mama di Lombok. Kita sudah berusaha, tapi sepertinya takdir Abang memang menjadi penerus keluarga Rasyid. Mama pikir, kita sudah nggak bisa menghindar lagi, Bang. Kalau surat wasiat sudah dibacakan, suka tidak suka keributan itu pasti akan muncul. Namanya harta itu nggak kenal saudara, Bang. Warisan itu panas. Kalau kita nggak bisa menerimanya, malah bisa jadi petaka. Mama sudah bilang ke Datuk supaya nggak mengusik Abang sama Pru. Tapi Mama nggak bisa apa-apa, Bang. Mau apa pun ceritanya, Abang memang lahir sebagai anak Papa. Abang menolak juga bukan solusi terbaik, karena mereka nggak akan ngerti, ujar Linda.

“Iya, Bang. Bapak setuju dengan pendapat Mama kamu. Bapak yakin, Pak Arkan memilih Abang dengan berbagai pertimbangan yang sangat matang.”

“Aku harus bagaimana?” Badri meremas rambutnya gusar.

Pru yang duduk di samping Badri, mengusap punggung abangnya dengan lembut. Pru bisa membayangkan, andai identitas Badri tidak terkuak, maka dialah yang akan menjadi sasaran siapa pun yang ingin menguasai harta keluarga Rasyid. Pru masih bergidik ngeri mengingat Narti yang meninggal tepat di depan matanya.

“Bapak juga nggak tahu, Bang. Semuanya masih seperti mimpi. Padahal Bapak tahu cepat atau lambat kejadian ini pasti akan datang.” Fauzan berkata lesu.

“Hadapi, Bang. Mama yakin, kita sudah tidak bisa mundur atau menghindar. Papa juga pasti sudah memprediksi hal ini, makanya Papa mendidik dan melindungi Abang dengan begitu keras. Walaupun Datuk tidak menemukan Abang, pasti ada orang lain yang akan membuka rahasia ini. Abang harus segera mempersiapkan diri. Kita nggak tahu siapa yang sekarang kita lawan. Tetap kuat ya, Bang.” Linda beringsut mendekat lalu mengusap kepala Badri.

“Rencana Pak Hanafi membacakan surat wasiat Datuk kapan, Pak?” tanya Pru.

“Bapak belum mengonfirmasinya. Mungkin dalam beberapa hari ke depan. Dugaan Bapak, sih, setelah tujuh hari meninggalnya Pak Arkan. Mereka nggak sama kayak kita. Mereka nggak boleh terlalu lama bersedih. Rasyid Grup sudah menunggu pengganti Pak Arkan,jawab Fauzan.

Apa yang dikatakan Fauzan sangat masuk akal. Rasyid Grup membutuhkan pengganti Arkan dalam waktu dekat ini. Perusahaan sebesar itu tidak bisa dibiarkan mengalami kekosongan pimpinan.

***

Malam itu, Badri tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Pembicaraan di ruang kerja Fauzan tadi begitu mengganggu pikirannya. Sejak mengetahui fakta kalau dia adalah salah satu keturunan Rasyid, sepertinya hidup Badri menjadi tidak baik-baik saja. Ancaman yang diterima Pru dan kematian Narti membuat Badri yakin bahwa dia tidak punya pilihan lain. Menolak atau menerima sama saja. Sama-sama memiliki risiko.

Bayangan masa lalu tentang Tamri berkelebatan di pelupuk matanya. Sejak dahulu, Badri selalu merasa tidak asing akan sosok Tamri. Hampir setiap hari Tamri dan Linda datang ke rumah Fauzan sambil membawa Pru untuk menghabiskan waktu bersama Badri. Sejujurnya, Badri malah merasa lebih dekat kepada Tamri dan Linda dibandingkan Fauzan dan Narti. Bahkan Pru kecil sudah diklaim sebagai adiknya.

Tamri dan Fauzan kerap membawa Badri kecil saat mereka bekerja. Bahkan, keduanya tak segan melibatkan Badri dalam beberapa rapat. Jika Arkan berpikir bahwa Tamri sudah mempersiapkan Badri sedemikan rupa, maka Arkan sepenuhnya benar. Sikap Tamri kepada Badri memang layaknya seorang bapak ke anak.  

Walaupun secara hukum dia sudah resmi diadopsi sebagai anak Fauzan dan Narti, Badri tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang baik dari Tamri maupun Linda. Ketertarikannya ke dunia bisnis diyakini Badri adalah hasil doktrin yang dilakukan oleh Tamri. Badri tidak pernah percaya kalau dia memiliki bakat bisnis. Berkat Tamri dan Fauzan yang selalu melibatkannya dalam bisnis merekalah, akhirnya membawa Badri kuliah jurusan ekonomi bisnis.

Badri meraba semua ruang di hatinya, mencari perasaan apa sebenarnya yang kini melanda dirinya. Kecewakah? Sedih? Takut? Atau malah senang? Sayangnya, jawaban itu tidak bisa dia temukan. Badri malah cenderung bingung bagaimana menghadapi situasi ini.

Benarkah ini sebuah takdir yang tidak bisa dia hindari lagi? Badri mulai berpikir kalau semua ini terjadi karena campur tangan semesta. Buktinya, sejauh dan serapi apa pun identitastnya disembunyikan, ternyata bisa diungkap juga.  

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!