Dia yang Tertinggal
KARENA DIA CUCU LAKI-LAKI PERTAMA 2
“Selama lebih dari setahun ini saya terus menyelidiki kamu. Saya tahu bahwa Tamri ada di belakang BA Coffee Shop. Sepertinya tidak perlu melakukan tes DNA untuk mengatakan Badri adalah darah daging Tamri. Fakta ini harus segera diumumkan kepada seluruh keluarga Rasyid. Mereka harus tahu kalau Tamri meninggalkan anak laki-laki yang akan memegang kendali Rasyid Grup berikutnya.”
“Sebenarnya apa tujuan dari semua ini? Tidak bisakah Bapak menutup mata dan mengabaikan keberadaan Badri? Biarkan anak itu hidup sebagai Badri Abadi, anak saya, seperti yang dia rasakan selama ini.” Fauzan setengah memelas. Dia yakin, sekeras apa pun penolakan yang diberikannya, dia tidak bisa terus menyembunyikan Badri. Kekuatan dan kekuasaan Hanafi yang ditopang oleh Rasyid Grup tentu bukan lawan yang sepadan untuknya. Melawan Hanafi sama saja dengan mempersulit semuanya.
“Wasiat. Semua tentang wasiat Arkan Rasyid dan kelangsungan Rasyid Grup di masa depan. Sebelum meninggal, Arkan sudah menulis surat wasiat baru. Dengan jelas dia menuliskan nama Badri Abadi sebagai pewaris aset Rasyid Grup dan pengganti dirinya di dalam manajemen. Kamu bisa mendengarkan rekaman pembicaraan kami jika kamu tidak percaya dengan semua perkataan saya.” Hanafi beranjak ke meja kerjanya untuk mengambil recorder yang dia gunakan saat merekam pembicaraannya dengan Arkan.
Fauzan diam mendengarkan dengan seksama rekaman pembicaraan Arkan dan Hanafi. Apa yang tadi sudah Hanafi katakan semuanya benar. Tidak ada satu pun yang tidak sesuai dengan ucapan Arkan.
“Jika Badri menerima semua isi wasiat Pak Arkan, bisakah Bapak menjamin semuanya akan baik-baik saja?”
“Aku tidak bisa menjaminnya.” Hanafi mengembuskan nafasnya kasar. “Seperti yang tadi kamu dengar, aku sudah mengingatkan kalau keputusannya ini bisa menimbulkan prahara besar dalam keluarganya. Tapi, kamu dengar sendiri, kan? Arkan tidak peduli. Dia tetap menginginkan Badri sebagai pewarisnya. Tidak bisa diganti oleh siapa pun.”
“Apa harus Badri? Bukankah masih ada Pruistin yang diakui oleh keluarga Rasyid?”
“Harus Badri. Karena hanya dia anak laki-laki Tamri. Jika Badri punya adik laki-laki, mungkin kita masih punya pilihan. Sejak dulu, seluruh aset Rasyid Grup hanya bisa diwariskan kepada anak laki-laki pertama. Zulkifli Rasyid mewariskan semuanya kepada Arkan Rasyid. Begitu pula Arkan, dia sudah menyiapkan surat wasiat yang menyatakan semuanya diberikan kepada Tamri. Sayangnya Tamri meninggal. Selama bertahun-tahun, Arkan mencari cara bagaimana menyelamatkan Rasyid Grup tanpa adanya anak laki-laki dari Tamri. Arkan tidak bisa mempercayakan posisinya kepada Rahmat, Andi ataupun adik-adik lelakinya. Arkan sangat paham karakter adik-adiknya yang hanya memikirkan cara untuk memperkaya diri sendiri. Arkan juga menyayangkan karena Rahmat dan Andi tidak ada yang memiliki mental sebagai pengusaha. Satu-satunya harapan adalah Badri. Arkan sudah ‘melanggar’ aturan dengan menuliskan Pruistin sebagai pewarisnya. Dia sudah bisa meramalkan bakal ada keributan besar jika Pruistin yang memegang Rasyid Grup. Asal kamu tahu, skenario sebelumnya yang Arkan susun adalah menjodohkan Pruistin dengan Badri. Arkan berharap, Badri bisa menjadi tangan Pruistin dalam menjalankan kebijakan perusahaan. Siapa sangka, Badri memang terlahir untuk meneruskan Rasyid Grup. Pada akhirnya takdir ini berakhir kepada Badri juga.”
“Bagaimana Pak Arkan dan Bapak bisa begitu yakin kalau Badri sanggup meneruskan perusahaan ini?”
“Kamu masih meragukan naluri bisnis Arkan? Tamri keluar dari rumah dan kamu menjadi saksi bagaimana Tamri muda berjuang membangun bisnisnya sendiri tanpa campur tangan dan nama besar orang tuanya. Arkan tidak pernah salah mendidik Tamri. Melihat Tamri yang seperti itu, Arkan punya keyakinan Tamri bisa mendidik Badri sama baiknya dengan Arkan mendidik Tamri. Kali ini aku harus kembali mengakui kalau Arkan benar. Badri diadopsi oleh orang yang sangat dekat dengan Tamri. Bahkan kalian pernah tinggal bertetangga selama puluhan tahun. Aku yakin, ada begitu banyak andil dan campur tangan Tamri dalam mendidik serta membesarkan Badri.”
Lagi-lagi Fauzan tersentak mendengar keterangan Hanafi. Dia geleng-geleng kepala membayangkan betapa hebatnya Arkan bergerak hingga bisa menemukan Badri. Bahkan Fauzan sama sekali tidak menyadari kalau selama ini Hanafi sudah menyusup dalam kehidupannya.
“Apa yang harus saya lakukan?” Fauzan menyerah. Tidak ada gunanya melawan semesta. Sejak awal dia tahu takdir Badri adalah seorang Rasyid.
“Bawa Badri kepadaku. Biar aku yang mengatakan semuanya pada anak itu. Aku memanggilmu hanya ingin memastikan apakah benar darah Rasyid mengalir dalam tubuh Badri. Kamu sudah menjawab semuanya.”
“Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan anak itu?”
“Dia lahir sebagai anak singa dari seekor singa yang sangat tangguh. Percayalah, Arkan Rasyid tidak akan salah menunjuk Badri sebagai penggantinya.”
“Beri sedikit lagi waktu. Anak itu baru saja kehilangan dua orang yang sangat dicintainya dalam waktu yang bersamaan.”
“Tidak bisa. Rasyid Grup tidak bisa menunggu terlalu lama. Wasiat ini harus segera dibacakan maksimal sepuluh hari setelah kematian Arkan. Apakah Badri tahu kalau dia seorang Rasyid?” tanya Hanafi sambil membelalakkan matanya.
“Dua tahun lalu, tepatnya saat Pak Arkan sedang kritis di rumah sakit, saya dan Linda mengungkapkan siapa dia yang sebenarnya. Dia harus tahu asal-usulnya. Apalagi ada Pruistin yang harus dia jaga.”
“Ternyata kalian sudah melangkah sejauh itu. Aku sungguh berterima kasih karena sebagian tugasku sudah selesai. Apa dia bisa menerimanya?”
“Apa dia punya pilihan untuk menolak?” Fauzan malah balik bertanya.
Setelah tidak ada jawaban dari Hanafi, Fauzan pamit dari ruangan Hanafi dengan bahu yang melorot seolah sedang menahan beban berkarung-karung. Bulir keringat tampak jelas di pelipisnya. Padahal AC di ruangan Hanafi sudah bekerja maksimal.
Sampai di rumahnya, Fauzan langsung masuk ke dalam kamar. Dia butuh waktu untuk sendiri. Fauzan bolak balik menimbang apakah dia perlu bicara dengan Linda atau tidak. Sejak Linda datang, Fauzan dan Badri tidak pernah mengizinkan Linda maupun Pru keluar dari kamar ketika banyak tamu yang datang untuk melayat.
Fauzan mewanti-wanti Badri kalau mereka harus menjaga Pru dengan baik. Meski Fauzan tidak tahu penyebab kematian Narti, tetapi Fauzan merasa kalau ada bahaya yang sedang mengintai Pru.
Sejak dahulu, Tamri sudah mengatakan bahwa Rasyid Grup bisa saja berubah menjadi bom waktu yang akan memecah belah hubungan antar keluarga. Tamri tidak menampik kalau harta dan kekuasaan seringkali menyebabkan seseorang lupa bahwa dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama.
Alasan itulah yang membuat Tamri lebih me milih untuk menanggalkan nama Rasyid di belakang namanya dan memulai semuanya dari nol.
Bahkan Tamri rela menyerahkan Badri kepada Fauzan dan Narti. Badri adalah separuh hidup Tamri. Nyawa yang harus diselamatkan. Lebih penting dari nyawa Tamri sendiri. Bagi Tamri, keberadaan Badri tidak boleh diketahui oleh Arkan atau Rasyid yang lainnya.
***