Cinta Tertinggal

Upgrade

"Kalian sedekah jiwa atau bagaimana?" kata si Bapak, yang tampak ramah meski bajunya lusuh. Dia lalu duduk disampingku.

 

"Saya lagi nyari kos dan tiba-tiba ketemu gang ini, Pak," jawabku sambil mengatur napas seraya melirik ke arah belakang.

 

Bapak itu lantas bangun dan menunjuk tulisan di tembok yang hampir rubuh. Ada papan bertuliskan kata-kata ngeri di sana. 

 

[Angker!!!!!!]

 

"Jalan buntu!" ejaku sambil melirik ke arah Eka yang sudah duduk bersiap di atas motor.

 

Rasanya, kemarin aku tak melihat semua tulisan dan papan penunjuk ini. Kami tercenung sesaat, saling pandang.

 

Bapak itu tersenyum ke arah kami, lalu berjalan pelan ke arah sana.

 

"Paaakk!" cegahku sambil berdiri, melarang saat pak tua itu hendak masuk gang tadi.

 

Beliau menengok sambil meminta kami pergi. "Lekas pergi, kalian beruntung. Maaf, Bapak telat pulang jadi istri Bapak kelaparan." Tunjuknya ke arah dalam gang dan tersenyum miring pada kami sebelum pergi.

 

Lagi-lagi kami saling pandang, sementara Eka menarik ranselku agar lekas naik ke motornya. Dia lalu menarik tuas gas dengan kecepatan tinggi.

 

Tidak ada percakapan di antara kami sampai tiba di tempat kerja.

 

"Demi apa ... barusan?" Setelah parkir, Eka langsung turun lalu meremat rambutnya sambil jalan bolak balik. "Tumbalkah?" suaranya terdengar bergetar.

 

Aku hanya bisa menelan ludah kasar dan mengangguk tapi juga menggeleng cepat. "Entah, tapi aku melihat tampah-tampah kecil mirip sajen di sisi luar kamarku." 

 

"Ha-aaaaahhh!" Pekiknya sampai membelakak.

 

Aku lemas, kakiku lunglai di atas motor, begitu juga dengan Eka. Dia duduk menggelosor di aspal parkiran.

 

Seharian ini kami sama-sama mencari tahu dari sesama teman pekerja. Rumah tua Belanda itu memang terawat sebab diurus oleh si pak tua gila, sebutan lelaki tadi pagi.

 

Eka bercerita padaku saat kami berjalan pulang menuju parkiran. Konon, sang Meneer sekeluarga dijadikan tumbal oleh si ibu yang silau terhadap harta dan ingin awet muda. Tapi, upaya menuju kesempurnaan itu gagal ketika pak tua mengacaukan ritual terakhir istrinya. 

 

Santet pun berbalik arah pada pemintanya dan sederet tebusan harus dibayar oleh pak tua. Mereka pun kekal dalam kehinaan. 

 

Sementara aku berhasil melengkapi kisah tadi. ~Pak tua gila yang kekal sudah menjadi rahasia umum. Kabarnya dia hanya menampakkan diri pada calon korban yang gagal dijamah istrinya, atau ketika sedang membersihkan rumah.

 

"Aku ngeri balik ke kos sendirian," kata Eka setelah kami selesai tukar cerita. "Ikut ke kos baru kamu aja, Rin," imbuhnya masih memegangi jaketku.

 

"Oke, kemon," kataku mengiyakan. Sejujurnya aku pun sama, masih terbayang-bayang.

 

Untunglah, sore itu aku menemukan kos yang cocok. Kami bergantian membersihkan diri. Kosan baru lumayan nyaman dan bersih dengan kamar mandi di dalam. Aku sengaja memilih di pemukiman padat penduduk agar tidak merasa sepi.

 

Sekitar kos juga banyak warung 24 jam dan laundry, sehingga memudahkanku beraktivitas. Kata ibu kos, ini memang daerah kontrakan petak yang selalu ramai. 

 

Eka menginap di kosku sampai dua pekan lamanya. Kami mulai akrab sampai-sampai dia berhasil meracuniku untuk kuliah dengannya di salah satu universitas.

 

"Buat karyawan kek kita, ada subsidi, Rin. Kamu kayaknya pinter," katanya melirikku sambil mengerjakan tugas.

 

"Liat sisa uang gajian, kebutuhanku masih banyak. Nebus ijazah dan biaya ibu," paparku lemah.

 

"Makanya, naikin value biar upgrade gaji," imbuh Eka sambil menyenggol lenganku dan tersenyum penuh arti.

 

"He em. Aku paham, nuhun," jawabku seraya tersenyum.

 

"Nggih, Mbak yu," balasnya seraya tertawa renyah. 

 

Jarak kosku yang baru sekitar 2 km dari Restoran. Sesekali aku jalan kaki karena harus irit, nabung untuk biaya hidupku dan ibu.

 

Hari ini aku memutuskan lembur. Pinggangku terasa pegal setelah mengepel tumpahan coke dan saos di lantai akibat kecerobohan para abege saat makan tadi. Aku lalu duduk sejenak di balik buffet kasir saat lonceng pintu Resto berdenting.

 

Suara beberapa pria bicara bahasa asing terdengar mendekati area order. Aku yang paham sedikit-sedikit ikut senyum-senyum saat mereka riuh berceloteh.

 

Kasir ternyata tidak begitu paham bahasa mereka, dia kesulitan memproses order. Aku pun memberanikan diri bangkit dan berdiri di sisinya.

 

Bule Jerman ini tidak begitu fasih bahasa Inggris. Aku yang masih belajar bahasa Jerman pun pelan-pelan mencerna keinginan mereka.

 

"Rin, ngerti nggak?" tanya kasir berbisik padaku. 

 

"Mbak ngerti?" Aku balik bertanya padanya.

 

Staf yang bertugas petang itu menggeleng, tatapan keduanya tiba-tiba tertuju padaku. 

 

Aku menarik napas panjang, lalu beralih menatap sederet pria tampan di hadapan. Ternyata, pandanganku beradu dengan mereka.

 

"Hallo, ich bin Arina, wie kann ich Ihnen helfen?" tanyaku pada salah satu pria, menawarkan bantuan.

 

Mereka saling pandang dan tersenyum padaku. Mungkin pikirnya, akhirnya ada juga yang paham. "Ja, wir haben zwei Hühnerbrüste mit der in Indonesien berühmten Geprek-Sauce bestellt," kata pria di depan, sambil menunjuk banner menu di atasku.

 

Aku terkekeh kecil, biasanya bule tidak suka pedas tapi mereka malah memesan dada ayam dengan sambal geprek. 

 

"Are you sure?" tanyaku lagi, sebelum mencatat pesanan mereka.

 

"Sicher, gibt es irgendetwas Seltsames an dieser Reihenfolge?" tanyanya padaku, seolah menegaskan bahwa pesanannya tidak salah.

 

"Weiße mögen normalerweise keine scharfen Speisen. Was ist, wenn Ihr Gesicht rot wird? Erröten nicht wegen der Liebe, sondern wegen der Schärfe," kekehku diikuti oleh mereka.

 

Para staf ikut tertawa meski belum tahu artinya, mereka lalu memintaku menjelaskan kalimat tadi.

 

"Aku bilang gimana kalau nanti muka mereka memerah? Bukan merona karena cinta tapi kepedesan," beberku diikuti kekehan staf di sana.

 

Akhirnya kujelaskan dengan bahasa campuran Inggris dan Jerman karena belum fasih betul. Kami lagi-lagi sama-sama tertawa.

 

Para bule itu mengapresiasiku dengan mengacungkan jempol-jempol mereka. Kupastikan orderan sekali lagi dan menyarankan milkshake guna menetralisir rasa panas di lambung.

 

"Thanks a lot, Arina. Have a good day!" pungkas mereka, seraya melambaikan tangan dan duduk di bangku Resto.

 

Aku menangkup tangan di depan dada. "Wishing you a delightful dining experience," sahutku semringah. (Semoga mendapat pengalaman bersantap yang menyenangkan) 

 

Beberapa rekan kasir menepuk bahuku dan mengacungkan jempol mereka. Bahkan anak-anak dapur ikut memujiku sebab berhasil membuat mereka order banyak menu. 

 

Aku lalu melanjutkan pekerjaan membersihkan area toilet meski pinggulku ngilu. Dalam benakku kini, yang dipikirkan hanyalah bagaimana cara mendapatkan uang. 

 

Cerita Eka tentang asiknya belajar di hari libur atau akhir pekan kuliah, bertemu teman-teman baru membuatku semangat ingin melanjutkan studi. 

 

Sepulang kerja, aku kadang menuju toko buku bekas diantar Eka. Membeli kamus bahasa asing hasil mengumpulkan uang tip atau menjual jatah makanku pada Eka.

 

"Rin, rencana mau ambil jurusan apa?" tanya Eka saat kami pulang berboncengan. 

 

Aku melihat keresek yang kudekap. Kali ini isinya buku ensiklopedia dan majalah asing serta beberapa buku tentang publik speaking.

 

"Bahasa atau komunikasi ... cita-citaku pengen ke Jepang," kataku dengan sorot mata berbinar.

 

"Lah, kenapa kemarin beli kamus Jerman bukan Jepang. Ada alasannya?" 

 

"Ada. Dia polyglot, fasih bahasa Jerman juga lainnya," tundukku tersenyum malu-malu, teringat satu nama. Tapi, semburat bahagia itu luntur akibat kesenjangan di antara kami. Juga, aku masih menyimpan kesal pada ayahnya.

 

Eka tertawa renyah. "Ternyata termotivasi yayang," celotehnya.

 

Aku membiarkan sejenak Eka bersenandung menyindirku. Percakapan ini ternyata membuatku teringat pesan darinya yang tak kubalas, membuat hati ini mulai goyah.

 

***

 

Aku menjalani hari-hari seperti biasanya. Kejadian serupa bule Jerman sempat terjadi beberapa kali saat aku bertugas. Membuatku jadi andalan staf bahkan jika sudah pulang, mereka kerap meneleponku untuk menerjemahkan bahasa mereka.

 

Hari ini waktunya gajian, aku dipanggil ke kantor pimpinan sebab belum memiliki rekening.

 

"Rin, jangan lupa bikin rekening. Dan ini," katanya sembari menyodorkan amplop berikut selembar kertas padaku.

 

"Oke, Pak ... ini apa?" tanyaku saat menarik dua benda dari atas meja beliau.

 

Aku membaca pelan barisan tulisan di sana. Seleksi staf probasi untuk divisi marketing dan PR. Mataku membola tapi kepala ini menggeleng.

 

"Coba ikutan ... saya dapat laporan kalau kamu bisa bahasa asing," ucap Pak Syaban, sambil melihatku.

 

"Tapi, Pak. Saya ...." Aku ragu, sebab uang ini sudah ada postnya. 

 

Tiba-tiba. Dia menunjukkan sesuatu, membuat netraku seketika berkabut.

 

"P-paak?" 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!