Cinta Tertinggal

New day

Diah mengirim pesan bahwa dia gagal berangkat karena perusahaan tempat tujuannya menolak buruh migran yang memiliki riwayat penyakit Gerd. Uang pangkal hangus dan kini dirinya bingung ketika diminta bibinya pulang ke Bandung. 

 

["Aku malu, Rin. Itu adalah uang hasil utang. Aku kudu gimana? Terbayang-bayang wajah sedih orang tuaku."] Tulisnya.

 

Dia juga mengirim banyak pesan suara bernada sumbang yang diselingi isakan. Aku tak tega, tapi diriku juga baru saja mendapatkan pekerjaan.

 

Kutawarkan padanya apakah akan mencari pekerjaan di sekitar wilayahku. Satu kost bareng? 

 

Namun, Diah menolak. Bibinya meminjamkan uang dan merekomendasikan dia pada majikan lamanya. 

 

["Kalaupun jadi asisten rumah tangga, seenggaknya bisa gaya-gayaan kalau di LN 'kan, Rin. Tapi ini disuruh jagain manula."] 

 

"Yang penting dapat kerjaan. Kamu bisa nyambi lanjutin kuliah kalau libur ... gaji 3 juta 'kan bersih. Disyukuri saja, lumayan buat nyicil bayar utang," gumamku saat mengetik pesan balasan.

 

Akhirnya aku terlelap setelah berkirim pesan pada Diah selama beberapa menit.

 

***

 

Aku mulai bekerja esok pagi sampai sore dan langsung mencari kost di sekitar berdasarkan petunjuk staf. Karena rata-rata kost mahal dan belum dapat gaji, aku terpaksa mencari tempat agak jauh agar biayanya murah.

 

Ketika memasuki sebuah gang, kulihat wanita paruh baya sedang menyirami bunga di halaman. Senyumnya semringah saat melihatku berjalan mendekat.

 

Ternyata hanya ada satu hunian di gang ini, sebuah bangunan tua mirip rumah Belanda. Meski dari luar didominasi ornamen kuno tapi terlihat sangat terawat dan kokoh berdiri. Sekelilingnya pun tampak asri, ditumbuhi pepohonan juga aneka bunga yang rimbun.

 

Namun, ada yang aneh saat aku mulai masuk ke dalamnya. Mengapa rumah ini tampak sepi padahal sangat bersih dan tertata rapi. Hanya dihuni oleh wanita sepuh, si pemiliknya.

 

Karena sudah menjelang Maghrib, kuputuskan memilih rumah ini sebagai tempat tinggal. Meski hatiku merasakan kejanggalan. 

 

"Anak kos pada pindah ke yang punya fasilitas modern," ujarnya saat menemaniku berkeliling di dalam. "Sisa satu tapi dia sedang kerja," imbuh ibu kos meyakinkanku saat kami berdiri di depan pintu kamar lainnya.

 

Aku hanya mengangguk, tersenyum sambil meraba tengkukku karena seakan ada yang membelainya.

 

"Tapi saya DP dulu, Bu. Belum gajian," kataku sambil menyodorkan uang 150 ribu.

 

"Iya, ndak apa-apa. Silakan istirahat," katanya seraya membuka pintu kamar. "Hati-hati ... mau Maghrib." Beliau tersenyum lantas berlalu pergi.

 

Dahiku mengernyit, tapi segera kutepis sembari menutup pintu kamar dan bersandar pada panelnya. Kupendar sekeliling, tampak ranjang kuno dengan kelambu dan seprei batik, meja rias jadul juga lemari kayu berjajar rapi memenuhi salah satu sudut.

 

Kulangkahkan kaki membuka pintu kamar mandi yang sudah lumayan modern, membuatku sedikit tenang. Tapi, mengapa terasa lembab? Padahal jendela kamar sangat besar, memungkinkan banyak cahaya matahari masuk, pikirku. 

 

"Ah, mungkin karena lama nggak di huni," gumamku mengendikkan bahu dan bersiap membersihkan diri.

 

Kebiasaanku yang tidak pernah meninggalkan sajadah sampai waktu isya, sedikit membuat suasana kamar ini terasa hangat. 

 

Tapi, atmosfer seketika tampak mencekam kala aku membuka pintu kamar dan berjalan ke ruang tamu. Bermaksud keluar untuk mencari makan malam ke depan gang.

 

Tiba-tiba, suara dari arah belakang mengagetkanku.

 

"Makan malam sudah ibu siapkan di meja makan," katanya seraya tersenyum, berdiri tak jauh di belakangku.

 

'Allah, apakah hanya rasaku saja. Kok senyumnya terlihat menyeramkan,' batinku meski kepala ini mengangguk.

 

"Makasih, Bu. Saya sudah makan tadi," elakku dengan perasaan takut.

 

Pandangannya sedikit muram, mungkin dia kecewa sebab penolakanku barusan. Tak ingin terjebak di situasi sulit, gegas kulangkahkan kaki meski diiringi oleh tatapan tajam beliau.

 

Kuputuskan masuk kembali ke kamar dan mengunci pintunya dengan bacaan basmalah disertai ayat kursi dan tiga qul. Aku urung makan. 

 

"Merinding ... bismillah puasa, sekalian detoks," ucapku sambil berjalan menuju ranjang dan meraih botol minum. 

 

"Untung sudah kuisi ... nggak mindahin baju ah, lihat malam ini dulu," lirihku sambil naik ke atas kasur. 

 

Lampu kamar sengaja tetap menyala, setidaknya mengurangi rasa tidak nyaman yang tiba-tiba hadir.

 

Daripada overthinking, aku menelpon mbak Lastri untuk menepis rasa takut dengan menceritakan bahwa sudah dapat kerja dan kos di daerah Jakarta Timur.

 

Kantuk mulai datang saat aku mengatakan padanya, akan mentransfer uang untuk kebutuhan ibu akhir bulan nanti. 

 

"Gampang, Rin. Paling penting kamu kos di tempat yang aman dan punya uang buat hidup di sana," katanya padaku di ujung panggilan.

 

"Mbak, boleh nggak kalau aku nyari kos yang nyaman?" 

 

"Harus lah, jangan lupa istirahat yang cukup biar tetep sehat ... lingkungan juga mempengaruhi," katanya mendukung upacanku.

 

"Oke, nuhun Mbak. Kalau aku nggak balas, brati tidur, ya," ucapku lirih. 

 

Tak lagi kudengar sahutan mbak Lastri. Aku tidur pulas begitu saja karena terlampau lelah.

 

Keesokan pagi, ibu kos menyambutku di meja makan. Dia memaksaku sarapan dengannya. Lagi-lagi hati ini menolak tapi tidak mungkin menyatakan alasan sebenarnya.

 

"Boleh dibungkus saja, Bu? Aku sudah terlambat," elakku. 

 

"Oh, gitu. Tunggu, ya," balasnya seraya mengulas senyum padaku.

 

Untungnya wanita itu mengizinkan. Aku pun gegas pergi setelah menenteng bungkusan dari beliau.

 

Sengaja kubawa tasku tanpa meninggalkan apapun di sana. Bahkan aku belum mandi dan sempat memeriksa lantai apakah ada bagian dari tubuhku yang tercecer.

 

"Ya Allah, suudzon ... tapi hatiku nggak tenang," ucapku sambil berjalan. 

 

Kuputuskan mandi di toilet resto sebelum bekerja hari ini. Saat memandangi cermin, wajahku kusam dan sedikit lebih tirus padahal baru dua hari di Jakarta.

 

"Sabar, Rin. Kalau gajian, nanti beli sekinkeerrrr," kekehku dengan logat Sunda yang kental.

 

Ada kecurigaan besar yang kurasakan, kala melihat bungkusan dari ibu kos. Aku bertekad akan mencari tahu tentang rumah tua tersebut.

 

"Maaf Ya Robb. Engkau memberi isyarat pada hatiku sehingga tiada ketenangan saat melihat nasi ini ... daripada mencelakai orang lain, mending dibuang," lirihku saat membuangnya ke tempat sampah.

 

Ketika jam istirahat, aku bertanya ke para pekerja sekitar ruko dan Mall tentang lokasi kos lainnya. Dari mereka, aku mendapat info beberapa tempat yang sesuai budget dan nyaman.

 

Aku berkenalan dengan Eka, staff visual Mall. Dia lalu mengajak berkeliling mencari kos dengan sepeda motornya.

 

Sampai jelang maghrib kami belum menemukan kosan dan memutuskan kembali ke kos lama. Tapi, Eka mendadak menghentikan motornya di depan gang. 

 

"Kenapa?" tanyaku.

 

"Ini jalan buntu, wey."

 

"Apaan, ada rumah kos di sana. Bersih, kamu nginep deh ... temenin," cicitku mulai ragu saat Eka tak berkedip menatapku.

 

Dia mengangguk tapi wajahnya menegang, apalagi saat motor kami tiba di halaman. Ibu kos terlihat marah.

 

"Kenapa terlambat pulang?" tanyanya dengan nada ketus. 

 

"Lembur sebentar, Bu. Maaf, saya langsung masuk," kataku sambil menarik tangan Eka.

 

"Motorku dimasukkan kemana, Bu?" tanya Eka pelan saat ibu kos menatapnya.

 

"Di situ saja. Nggak akan ada yang berani ngambil," balasnya sambil melihatku.

 

Entah mengapa malam ini mataku tak bisa memejam. Seolah ada seseorang yang melihat bila aku menutup mata. Lain halnya dengan Eka, dia malah tidur mendengkur sebab kasurku sangat nyaman, katanya.

 

Aku gelisah sampai dini hari, hampir tidak dapat memejam sebab mulut sibuk merapal salawat. Kuputuskan lekas mandi dan menyapa senyap pukul tiga. Perasaan aneh itu pun seketika sirna.

 

Setelah subuh, aku berjalan mengendap keluar rumah. Udara di sini sangat sejuk, mengingatkanku pada suasana rumah. Aku menuruni anak tangga dan memijak rumput tanpa alas kaki.

 

"Adem," gumamku terus berjalan dan celingukan, siapa tahu ada manusia selainku di sini.

 

Semburat fajar mulai naik, menyapa pucuk pepohonan di sana. Kutengadahkan wajah sambil merentang lengan, menghirup dalam-dalam oksigen Jakarta yang masih bersih. 

 

Namun, ketika netra ini terbuka, aku melihat sesuatu. 

 

"Innalilahi."

 

Aku terburu-buru masuk. Kususuri lantai, kasur, bantal dan kamar mandi juga menyapu lantai dengan mukenaku. Kuatir ada rambut kami yang jatuh.

 

Setelah yakin aman, kubangunkan Eka dan kubisiki dia sesuatu. 

 

"What!" pekiknya sambil menutup mulut.

 

Aku lalu melunasi uang sewa yang kutinggalkan di atas meja, sisa honor sebagai buruh cuci. Biarlah, aku ngirit makan sampai gajian akhir bulan ini. Hitung-hitung buang sial.

 

Saat membuka pintu, kami terlonjak kaget sebab ibu kos sudah ada di depan kami.

 

"Astaghfirullah!" seruku sampai mengusap dada. 

 

"Makan dulu," katanya seraya tersenyum. 

 

Kami serempak menggeleng dengan menunjukkan jam tangan bahwa waktu kami mepet. 

 

Aku pamit pada beliau dan mengucapkan terima kasih. Sepertinya ibu kos tahu maksudku. Dia hendak menahan lenganku tapi Eka buru-buru menariknya, membuatku langsung tersadar.

 

"Assalamualaikum." Kami berlari kecil ke depan. Beliau pun mengikuti. 

 

Eka langsung menaiki motor tapi mesinnya seakan mati. Dari ekor mataku, ibu kos menyunggingkan senyum tipis melihat kami. 

 

"Dorong aja," bisikku. 

 

"Nggak bisa, berat." Eka menggeram melihatku seraya terus mendorong.

 

Kutarik napas panjang, teringat doa yang ayah ajarkan padaku. "Wama romaita idzroma wala kinnallaha roma," lirihku samar sambil memejam dan kuulang-ulang, lalu disambung dengan ayat kursi.

 

Perlahan motor ini bisa bergerak maju. Aku mendorong sekuat tenaga sembari terus membaca apapun yang kubisa, termasuk audzubilalihilladzi tammati min syarri ma kholaq.

 

Kami terengah-engah, kehabisan napas dan jatuh terduduk di sisi jalan setelah berhasil keluar dari gang itu.

 

Tiba-tiba. Seseorang mendekati kami. "Kenapa, Neng?"

 

Eka yang tampak trauma langsung berjingkat bangun. "Eh!" 

 

Sementara aku pasrah meski bibir masih merapal doa.

 

Bapak itu juga terkejut dengan reaksi Eka. "Ada apa ini?" 

 

Kami sontak menunjuk ke arah gang tadi. Dan jawaban si Bapak malah mengagetkanku.

 

"H-aaahhhh?"

 

 

.

 

 

 

.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!