Cinta Tertinggal
Kejutan
Sudah tiga minggu sejak hari pernikahan kami, di mana segalanya terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Rumah ini masih terasa baru bagiku, aroma wewangian yang belum sepenuhnya hilang, bunga-bunga di vas yang selalu berganti setiap pagi, dan suara langkah Syaban yang selalu bisa kutebak bahkan sebelum ia muncul di depan pintu.
“Mas, sarapannya mau bubur atau roti?” tanyaku dari dapur, sambil menuang susu ke gelas.
“Roti aja, yang kamu oles selai stroberi itu,” jawabnya dari ruang tengah. Suaranya terdengar pelan, tapi cukup untuk membuatku tersenyum.
Dulu, aku sering membayangkan kehidupan setelah menikah akan begitu berbeda. Tapi ternyata, yang berubah bukan dunia di luar sana, melainkan cara aku memandang segalanya.
Ada suasana hangat, lebih tenang. Mungkin karena kini setiap hal kecil terasa berarti, dari cara kami menata piring bersama sampai cara Syaban memandangku seolah aku adalah rumahnya.
Namun, pagi itu sedikit berbeda.
Syaban terlihat terburu-buru, kemejanya belum sempat disetrika, dan beberapa berkas kerja masih berserakan di meja makan.
“Mas, ini udah telat, ya?” tanyaku sambil menatap jam di dinding.
Dia menghela napas panjang. “Iya, tadi malam aku lupa siapin bahan presentasi. Sekarang malah belum nemu flashdisk-nya.”
Aku segera membantu, membongkar tasnya, membuka laci, bahkan memeriksa bawah sofa. Tapi benda kecil itu seperti sengaja bersembunyi.
Sampai akhirnya aku menemukan flashdisk itu, di tempat yang tak kuduga, di saku bajuku sendiri. Aku lupa, semalam aku yang meminjamnya.
“Mas…” aku menyodorkannya dengan wajah menyesal.
Syaban menatapku, lalu tersenyum tipis, “Kamu yang nyimpen?”
Aku mengangguk pelan. “Maaf, aku lupa…”
Dia mengacak rambutku lembut. “Nggak apa-apa, By. Kita kan lagi belajar jadi tim.”
Kalimat itu menenangkan sekaligus menohok.
Belajar jadi tim. Ternyata menikah bukan cuma tentang berbagi tempat tidur dan nama belakang. Tapi juga belajar menyesuaikan ritme, menurunkan ego, dan mengingat bahwa kami berdua sedang belajar memadukan dua kebiasaan jadi satu harmoni.
Sore harinya, aku duduk di teras sambil menyeruput teh yang mulai dingin. Syaban baru pulang, wajahnya lelah tapi matanya masih teduh. Ia duduk di sebelahku tanpa banyak bicara. Hanya diam, menikmati senja yang perlahan turun.
“Mas,” panggilku lirih.
“Hmm?”
“Gimana harinya?”
Dia menatap langit sebentar sebelum menjawab. “Capek, tapi waktu pulang dan liat kamu di sinib... rasa capeknya ilang.”
Aku tertawa pelan. “Kamu bisa aja.”
“Tapi bener,” katanya, menatapku serius. “Aku tahu nanti kita bakal berdebat, salah paham, atau saling diam karena lelah. Tapi aku mau kita selalu ingat, kenapa dulu kita saling memilih.”
Aku menatap wajahnya lama. Ada ketulusan yang membuat hatiku menghangat.
“Mas, aku juga takut kadang,” ucapku jujur. “Takut nggak bisa jadi istri yang kamu butuhin. Takut kamu kecewa.”
Dia menggeleng, lalu menggenggam tanganku erat. “Kita nggak butuh sempurna, Sayang. Cukup mau saling belajar.”
Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah yang basah setelah gerimis. Aku bersandar di bahunya, mendengarkan detak jantungnya yang tenang. Di antara kelelahan dan kekhawatiran, aku menemukan sesuatu yang lebih kokoh dari janji, keyakinan bahwa kami sedang menuju arah yang sama.
Dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari rumah. Bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat di mana dua jiwa terus belajar mencintai dengan cara yang sederhana, setiap hari.
Beberapa minggu berlalu.
Rutinitas kami mulai menemukan iramanya sendiri—kadang pagi-pagi penuh tawa, kadang diakhiri dengan diam dan saling menatap lelah.
Pagi itu aku merasa sedikit aneh. Kepalaku terasa melayang ringan, tapi perutku seperti bergejolak tanpa sebab. Kukira karena telat sarapan atau terlalu lama menatap layar laptop. Namun, rasa itu muncul lagi keesokan harinya … dan hari berikutnya.
“Byy, kamu kelihatan pucat. Udah makan belum?” tanya Syaban dengan nada cemas.
Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. “Udah kok, cuma mungkin kecapekan aja.”
Tapi diam-diam aku mulai curiga. Ada tanggal yang terlewat di kalender kecil yang tergantung di dapur. Aku menatapnya lama, jantungku berdegup pelan tapi pasti.
“Ah, masa sih…” gumamku pelan.
Hari itu, setelah Syaban berangkat kerja, aku memutuskan membeli alat tes kehamilan. Tanganku gemetar waktu membuka bungkusnya. Semua terasa lambat. Dua garis kecil muncul perlahan … dan dunia di sekitarku seolah berhenti bergerak.
Aku duduk lama di lantai kamar mandi, antara tak percaya dan haru.
Air mataku menetes tanpa kusadari.
“Ya Allah…” bisikku, “aku hamil?”
Malamnya, aku menyambut Syaban dengan senyum yang terlalu sulit kutahan. Tapi aku memilih diam dulu. Ingin melihat reaksinya secara langsung.
Setelah makan malam, aku menyalakan lilin kecil di meja, sesuatu yang jarang kulakukan di hari kerja.
“Spesial banget, By,” katanya heran. “Ada apa ini?”
Aku menggenggam tangannya. “Mas…” suaraku bergetar. “Aku punya kabar untukmu.”
Dia menatapku dalam. “Kabar apa?” tuturnya lembut, tersenyum manis.
Kutunjukkan alat tes itu yang kusimpan di saku bajuku.
Syaban menatapnya beberapa detik, lama sekali. Lalu matanya membesar, dan bibirnya perlahan tersenyum, seperti baru saja menemukan sesuatu yang tak ternilai.
“Serius, Sayang?” suaranya serak.
Aku hanya mengangguk sambil menahan tangis.
Detik berikutnya, ia menarikku ke dalam pelukannya. Erat sekali.
Hangat. Aman.
Di antara debar dan air mata, aku bisa merasakan bahunya bergetar.
“Alhamdulillah…” bisiknya di telingaku. “Kita bakal jadi orang tua.”
Aku tersenyum getir di antara isak. “Aku takut, Mas. Takut nggak siap.”
Dia melepas pelukannya, menatap mataku dengan lembut.
“Kita belajar bareng lagi, By. Kayak waktu pertama kali nikah. Aku juga takut, tapi kita punya satu sama lain.”
Aku hanya bisa mengangguk, menatap wajahnya yang dipenuhi haru.
Di malam yang tenang itu, di antara cahaya lilin dan doa yang melambung, kami berdua tahu, cinta kami baru saja menemukan bab baru.
Bukan hanya tentang dua hati yang saling mencinta, tapi tentang hidup kecil yang sedang tumbuh di antara doa kami.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, aku memejamkan mata dengan senyum yang tak bisa kuhapus.
Karena kini, cinta kami tak lagi berdua. Ada kehidupan yang ikut berdebar di dalamku, hadiah kecil dari perjalanan panjang yang kami tempuh bersama.
.
.