Cinta Tertinggal
Rencana Masa Depan
Setelah acara selesai, mama Syaban mendekat dan langsung menggenggam tanganku erat.
Meski disertai senyum menawan, tatapannya tak berkedip, membuatku panas dingin.
"Titip Fian, putra bungkuku," ujarnya singkat tapi sarat makna.
"In sya Allah." Aku hanya mampu memberikan jawaban itu sebab tiada yang tahu perihal masa depan.
Kedua kakak Syaban pun bergabung dengan kami, dari penampilan saja aku merasa kerdil. Kegundahan apakah aku pantas menjadi bagian dari mereka, masih berkutat di otakku.
Namun, perasaan itu perlahan musnah ketika Syaban duduk di sebelahku. Seketika aku merasa tenang meskipun calon imamku hanya tersenyum atau tertawa sesekali kala keluarganya menggodaku.
Keesokan paginya, aku banyak menerima pesan singkat berisi ucapan selamat, dari teman di Flanders Grup juga beberapa sahabat lama yang masih bekerja di restoran ayam.
["Jadi selama ini, Pak COO sedang mengawal jodohnya, ya?"]
["Selamat ya, Rin. Ketemu jackpot, Pak Syaban punya adik laki-laki nggak?"]
["Congrats ya, Rin. Cocokopel, pokoknya!"]
Bahkan ada pula yang berkirim pesan konyol, padahal kami hanya tegur sapa seperlunya.
["Arin, namaku sudah tercatat jadi Bridesmaids, kan?"]
Atau pesan manis dadakan persis seblak prasmanan yang dimasak sesuai keinginan.
["Arin, kita pernah berbagi cerita singkat, kala menunggu hujan di waktu itu. Aku beberapa kali tersenyum karena ucapanmu ... Kuharap kita bisa jadi teman baik seterusnya, ya. Selamat bertualang menjadi nyonya Syaban.]
Aku hanya merespon seperlunya. Dulu, semua mencaci, tapi sekarang mereka berlomba memuji. "Ck, manusia!" Batinku.
Pesan terakhir yang kubaca berasal dari mbak Lastri. Tak jauh berbeda dari mereka, tetangga kami di kampung pun, banyak yang mendadak baik membantu mbak Lastri kala mengurus dokumen kebutuhan nikah.
Suasana ruang tamu terasa hangat meski aroma teh melati sudah mulai menguap. Aku dan Syaban baru pulang kerja, duduk berdampingan di sofa sambil membuka laptop masing-masing, mencatat kebutuhan pernikahan yang tinggal beberapa pekan lagi.
"Tiga semester lagi lulus, ya?" tanya Syaban tiba-tiba sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
Aku menoleh, sedikit heran. "Iya, kenapa?"
Dia menutup laptopnya, menatapku penuh perhatian. "Kamu nggak keberatan kalau nanti kuliahnya harus ditunda? Kita bakalan sibuk banget."
Aku tersentak. "Tunda? Mas serius?"
Syaban mengangguk pelan. "Iya, aku cuma khawatir kamu terlalu capek nanti. Ada tanggung jawab tambahan yang harus kita bagi."
"Mas tahu nggak," balasku sambil menatap matanya tajam, "mimpi untuk lulus kuliah itu salah satu hal yang bikin aku tetap bertahan selama ini. Aku nggak mau menyerah hanya karena statusku berubah jadi istri"
Syaban menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Aku ngerti, By. Tapi gimana kalau jadwal kuliahmu bentrok dengan kehidupan rumah tangga kita? Apa sanggup? Aku cuma nggak mau kamu terlalu terbebani."
Aku mengangguk, memahami kekhawatirannya. "Kan ada Mas yang bantuin akuuuuuuuu. Jadi biarkan aku tetap berjalan di jalanku, ya?" kataku sambil mengerjapkan mata.
Dia terdiam sejenak, lalu melipat tangannya di depan dada. "Nunda hamil dong, By?" lirihnya pelan sembari melirikku, mungkin takut aku tersinggung.
Kugelengkan kepala sambil mengubah dudukku sehingga menghadap padanya. "Enggak."
Syaban terlihat cemas tapi senyum tipis tertahan di wajahnya. "Yakin, By?"
"Iya. Wanita itu berlomba dengan jam biologis. Pokoknya jalani aja, kalau ngos-ngosan ya cuti," beberku panjang dengan suara tenang.
Senyum lebar terulas di wajah tampannya petang ini. "Deal. Tapi janji jaga kesehatan."
Aku tertawa kecil dan mengangguk. "Deal. Semuanya bareng-bareng," balasku, meski di dalam hati ada sedikit cemas apakah aku bisa menjadi istri yang baik baginya kelak?
Setelah itu, Syaban memintaku untuk menyampaikan keinginannya yang lain pada ibu.
Dia ingin ibu ikut tinggal dengan nenek Atin juga kami. Agar aku tetap bisa bakti pada ibu tanpa mengabaikan kewajiban baruku.
Pun dengan Syaban, dengan adanya aku, fokusnya akan pecah. Dia kuatir, Nenek Atin bakal merasa diabaikan dan kesepian. Paling tidak, jika ada ibu, mereka mungkin bisa jadi kawan baik.
"Kamu keberatan?" tanyanya ketika menjelaskan bahwa aku akan tinggal bersama nenek Atin.
"Enggak," jawabku lugas. "Tapi, ibu belum tentu mau," sambungku melihat ke arah kamar ibu.
"Coba saja sampaikan dulu. Biar kita sama-sama tenang kalau mau vacation di akhir pekan. Para sepuh saling menjaga," kekehnya membuatku ikut tertawa.
***
Di kediaman lainnya, Ibu Elvan duduk di ruang tamu dengan wajah tegang. Teh hangat di depannya tak disentuh sama sekali.
"Jadi, begini, Nyonya," kata Ibu Elvan memulai. "Saya sudah dengar kabar tuan muda Syaban akan menikah. Tapi, bukankah Arina adalah anak seorang ... ya, maaf, tukang cuci. Lalu ibunya dulu juga pernah punya masalah mental. Apa tuan muda tahu soal ini?"
Atin Syahbana tersenyum tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam. "Nyonya Elvan, justru karena itulah saya bangga pada Maisy. Dia membuktikan kalau latar belakang keluarga tidak menentukan masa depan seseorang."
"Tapi—" potongnya.
Nenek Atin memotong dengan suara tegas. "Dan jangan lupa, keluarga Anda juga punya andil dalam kasus keluarga cucu mantuku ... kalau saja keluarga Anda langsung bereaksi dan berempati waktu itu, mungkin hidup besanku tidak akan seberantakan itu."
Wajah Ibu Elvan memerah. "Itu bukan urusan suami saya, loh!"
"Tapi harusnya bisa menolong, kan? sekarang, anak-anak kita punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jangan biarkan dendam lama mengaburkan kebahagiaan mereka," ujar Nenek Atin bijak.
"Saya hanya berusaha menyelamatkan tuan muda dari tipu daya mereka. Anda harusnya berterima kasih," sahutnya masih dengan nada sinis.
"Maaf, saya ingin istirahat. Baiknya Anda fokus pada kesembuhan Elvan dan mendampingi Afni agar sabar," pungkas nenek Atin, meninggalkan ibu Elvan yang kesal.
Aku mendapat kisah ini keesokan pagi dari Syaban, yang diceritakan langsung oleh beliau. Kebetulan, dia belum pulang saat itu. Ibu sampai kembali cemas, apakah nanti aku akan dihina lagi? Karena latar belakang juga sepenggal kisah kelamnya saat sakit?
Syaban menenangkan ibuku. Meyakinkan beliau bahwa semua akan baik saja. Entah mengapa, bila Syaban yang membujuk, sorot mata ibu lebih cepat lega. Dan aku bersyukur untuk itu.
***
Beberapa hari kemudian, di teras belakang rumahku.
Syaban meminta Arman menjadi groomsman berpasangan dengan Diah, lelaki itu protes keras. "Bos, jangan bercanda," kata Arman langsung melongo.
"Tolong, aku mending nonton drakor 24 jam nonstop daripada harus gandengan sama si Olafudin," Diah menyahut cepat sambil menatapku lekat, isyarat agar membatalkan rencana Syaban.
"Eh, situ pikir saiyah happy? Gandengan sama situ tuh ibarat masuk hutan belantara tanpa sinyal!" balas Arman sembari mencibir.
Aku menatap Syaban dengan tatapan geli. "Mas yakin mau daulat mereka?"
.
.