Cinta Tertinggal
Bye Masa lalu
Pesan dari Elvan membuat pikiranku campur aduk.
"Rin?"
Suara lembut ibu dari balik pintu menyadarkanku. Beliau berdiri di sana dengan ekspresi cemas, membawa secangkir teh hangat.
“Kenapa, Rin? Kamu kelihatan tegang,” tanyanya sambil menyerahkan teh itu.
Aku menggeleng pelan, mencoba tersenyum. “Nggak apa-apa, Bu. Cuma ... kepikiran sedikit.”
Matanya menyipit, penuh perhatian. “Kalau ada yang mengganggu, bilang. Jangan simpan sendiri,” kata ibu sambil mengusap bahuku. "Istirahat, pekan depan kamu pasti sibuk banget," imbuhnya sebelum keluar dari kamarku.
Aku mengangguk kecil, meskipun hati masih diliputi keraguan. Tapi saat itu, aku memutuskan untuk menghadapi ini sendiri.
***
Keesokan hari setelah pulang kerja, aku memutuskan untuk menemui Elvan. Bukan untuk memberi harapan, tetapi ingin menutup masa lalu selamanya. Aku memilih kafe kecil yang sepi agar percakapan kami tidak terganggu.
Elvan sudah duduk di salah satu sudut ruangan, menatapku dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Ada kehangatan, tapi juga penyesalan mendalam.
“Terima kasih sudah mau datang, Maisy,” katanya begitu aku duduk di depannya.
Aku hanya mengangguk, tidak ingin memulai pembicaraan lebih dulu.
Dia menarik napas panjang sebelum berbicara. “Aku tahu, nggak punya hak untuk mengganggu kamu lagi. Tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
“Kak,” potongku dengan suara tenang tapi tegas. “Aku menghargaimu. Tapi sebelum melanjutkan, aku harus bilang sesuatu.”
Dia menatapku, tampak terkejut dengan sikapku yang langsung ke inti masalah.
“Aku sudah memutuskan dan mulai menyayanginya. Ingin hubunganku berjalan tanpa bayang-bayang masa lalu,” kataku dengan suara bergetar.
Wajah Elvan berubah, antara kaget dan kecewa. Tapi dia tetap mendengarkanku dengan sabar.
“Dulu, Kakak adalah bagian penting dalam hidupku,” lanjutku. “Tapi sekarang, aku ingin fokus padanya yang selalu ada untukku, dan menerima kami.”
Hening. Elvan menunduk, tangannya mengepal di atas meja.
“Kamu yakin?” katanya dengan suara pelan. “Aku hanya minta waktu sebentar lagi ... ah, apakah memohon pun percuma? dan aku harus benar-benar kehilanganmu, Maisy?”
Aku mengangguk. “Iya, Kak. Aku doakan bahagia untukmu ... terima kasih.”
Setelah itu, aku berdiri dan pergi, meninggalkan masa lalu di tempatnya. Aku merasa beban besar baru saja terangkat dari pundak. Ini adalah langkah pertama menuju kehidupan baru bersama seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku dan ibu.
Aku pulang terlambat. Syaban sudah menungguku di ruang tamu. Dia berdiri dengan tangan menyilang, wajahnya penuh tanda tanya.
“Ketemu siapa dulu, By? Kok nggak langsung pulang?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aku tersenyum kecil, mendekatinya. “Elvan.”
Matanya langsung menyipit. “Kok nggak bilang?”
“Aku nggak mau Mas khawatir. Dan ingin menyelesaikan ini sendiri,” jawabku jujur, sembari mencoba mengubah panggilanku untuknya.
Syaban sekilas terkejut dipanggil dengan sebutan ~Mas. Dia masih diam, tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras.
Aku mendekat, nyaris menyentuh lengannya. “Aku bilang padanya. Kalau aku ... sayang Mas,” bisikku diiringi senyum malu-malu.
Tatapan kerasnya langsung melembut, meskipun dia berusaha tetap serius. “Ehheem ... benar bilang itu?”
Aku mengangguk, menatapnya dengan penuh keyakinan. “Iya.”
Dia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Kalau kamu butuh aku di sisimu, aku akan selalu ada. Tapi jika ini sesuatu yang harus kamu selesaikan sendiri, aku percaya padamu," katanya lembut.
“Jangan kuatir, Mas. Aku padamu,” balasku sembari menempelkan telunjuk dan jempol. Saranghe.
Melihat itu, senyum di wajahnya semakin lebar. Dia ingin menarikku dalam pelukannya, tapi ibu tiba-tiba datang dan langsung masuk ke pelukan Syaban.
"Nggak boleh peluk Maisy. Ibu saja," kekeh ibu diikuti Syaban yang memeluknya erat.
"Makasih Bu," ujarnya sembari menghujani pucuk kepala ibu dengan kecupan kecil membuat ibuku terharu.
Pemandangan manis petang ini ikut membuat hatiku kian luluh padanya. Syaban lalu melihatku, mengerlingkan matanya dan berucap tanpa suara.
“Terima kasih, By."
Hatiku menghangat. Masa lalu boleh saja meninggalkan bekas, tapi cinta yang aku rasakan sekarang membuatku menemukan jalan pulang.
***
Beberapa pekan sebelum pernikahan, ibu memanggilku ke ruang tamu. "Maisy, duduk sini sebentar. Ibu mau bicara," ujarnya sembari menepuk sisi sofa untukku.
Aku pun duduk dengan hati sedikit was-was sebab melihat raut wajah ibu yang serius.
Beliau menatapku dengan sorot mata yang sulit dilukiskan. "Ibu bangga sama Arin" ucapnya, tiba-tiba. "Kamu telah melewati banyak hal. Kehilangan Ari, mengurus ibu yang sempat ... ya, tidak sekuat dulu," imbuhnya sembari menggenggam erat jemariku.
"Bu..." Aku merasa kedua mataku memanas.
Suara ibu terjeda, tampak susah berucap. Pandangannya mungkin mulai buram sebab kulihat ada genangan yang muncul di sudut netra tuanya.
"Terima kasih sudah sabar, ya. Berkat kamu, ibu bisa ikhlas menerima semua ini. Maisy-nya ibu tumbuh menjadi gadis kuat. Jangan takut ... jangan takut mengejar bahagia dengan Mas-mu," ujarnya dengan suara bergetar, membuatku menunduk haru. Tak kuasa menatap ibu.
"Bahagia itu butuh usaha dari dua sisi. Jangan sampai ... kamu lupa menjaga hati satu sama lain," imbuhnya. Suara ibu mulai parau dan mengecil.
Kulihat tetes demi tetes air mata ibu jatuh di atas tautan tangan kami. Aku jadi ikut menitikkan air mata. "B-Buuuuu...."
Aku lantas menatap wajah senja Rosyidah, ibuku. Usapan lembut di lenganku membuat diri ini tak lagi kuasa menahan keinginan untuk tidak memeluknya.
Kudekap tubuh ringkih ibu, menumpahkan segala perasaan berat yang selama ini kutahan. Ternyata, bukan hanya aku yang menemukan rumah, tapi ibu juga.
Kata-kata lembut ibu yang kurindukan, terlebih beliau kini lebih ceria, bahkan sehat secara mental. Membuatku merasa, mungkin Tuhan baru mendengar doa kami yang terus diulang-ulang.
"Terima kasih sudah jadi ibuku, dan untuk segala hal yang ibu upayakan dulu," bisikku parau sembari mengusap punggung beliau yang bergetar karena tangis.
Semenjak pindah ke rumah ini, Syaban sering berkunjung selepas pulang kantor. Selain membicarakan konsep pernikahan, dia terlihat semakin dekat dengan ibu.
Karena ini malam Minggu, Syaban enggan pulang. Dia malah mengajakku video call dengan seseorang.
"Siapa?" tanyaku cemas.
"Papa!" jawabnya santai, tanpa memedulikan aku yang berusaha merapikan penampilan.
Ketika panggilan video tersambung, tampak sosok bersahaja tersenyum hangat padaku. Beliau menceritakan bahwa Syaban sudah menyampaikan niatannya untuk melamarku secara resmi pekan depan.
"Fian sejak kecil tinggal sama Oma-nya. Anaknya memang tertutup jadi papa baru bisa kenalan sama Maisy sekarang, maaf ya," ucapnya lembut, persis Syaban.
Aku tersenyum kaku sembari mengangguk, bingung mau bicara apa. Sementara Syaban hanya diam menopang dagu sembari terus memandangku, membuat degup jantung ini tak aman.
"I-iya, Pak. Bagaimana kabar, Anda?" kataku datar.
Tawa khas orang kaya terdengar di seberang. "Papa, Maisy. Papa! ... kami sehat Alhamdulillah, sampai jumpa pekan depan, ya," katanya sebelum suara lembut lainnya terdengar.
"Maisy ... kamu cantik sekali," komentar ibunya dengan logat Melayu yang kental.
Aku tersipu, menunduk malu. Mungkin wajahku memerah, apalagi Syaban ikut menahan senyum. Aku memang tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, kucubit lengan Syaban sebab membuatku tambah salting.
"Halo, Bunda," sapaku canggung.
"Mama, dong, Maisy!" ucap wanita cantik di sana sembari tersenyum menawan, persis Syaban.
Kuusap tengkuk yang tak gatal sebab rasa canggung. Suasana mulai menghangat lima menit kemudian tapi Syaban mengakhiri panggilan tersebut dengan alasan aku sudah mengantuk.
Aku mendengar omelan ibunya tapi Syaban janji akan menyiapkan waktu untuk kami ngobrol berdua ketika bertemu nanti.
Rupanya malam Minggu ini, Syaban mengundang kedua sahabatku yang sudah lama tak bertemu. Mereka datang bersama sang aspri, Olafudin alias Arman.
Kehadiran Diah dan Eka di rumah memunculkan suasana baru. Namun, seperti biasa, Arman dan Diah tidak pernah akur. Mereka berebut masuk.
"Minggir, Olaaaff!" sentak Diah yang menenteng banyak belanjaan, ketika Arman menghalangi jalannya.
"Apa sih botol Yakult!" balas Arman meliriknya sinis.
"Ya ampun, Mas. Kamu bikin huru hara?" kataku pada Syaban yang sepertinya menikmati pertikaian mereka.
"Seru, By," jawabnya santai, sementara aku geleng kepala.
"Pak, maaf bisa tolong bawakan?" suara seseorang terdengar, membuat Arman sigap membantunya.
Aku dan Syaban saling pandang, apakah Arman?
.
.