Cinta Tertinggal

Kondangan

Dari ekor mataku, Syaban melukis senyum tipis.

 

Arah pandangan kami masih sama ketika beliau mengatakan satu kalimat yang membuatku berpikir.

 

"Bagaimana perasaanmu saat menunggu Sila yang tak kunjung muncul?" 

 

"Jengkel," jawabku singkat dan pelan.

 

"Pasti. Ingatlah itu, Rin. Kadang kala apa yang kita harapkan nggak melulu terjadi. Jangan pula terlalu mengharapkan manusia," ujar syaban lagi. Nada bicaranya terdengar sangat tenang.

 

"Kecewa, right?" 

 

Syaban mengangguk. Sejenak dia menunduk, kakinya memainkan riak air yang menyapu lembut kami.

 

"Berhentilah menyeberangi lautan untuk orang yang bahkan tak mau melompati genangan air untukmu."

 

Deg!

Aku menunduk sementara dia menoleh padaku. Kalimat tadi luput dari Arina si pemakai logika.

 

Benar, padahal Elvan baru memberi kilasan cita-citanya. Belum melakukan apapun yang berarti untukku selain pemaksaan kemarin.

 

Pria itu juga mendadak membuka isi hatinya, dikarenakan suatu hal. Bukan atas dasar cinta sepertiku. 

 

Huft! 

 

Aku lalu berjongkok, meraih kerikil kecil lalu kulempar sekuat tenaga ke hamparan laut. Ada marah yang hadir, mengapa aku begitu bodoh?

 

Berdalih menuntut penjelasan padahal aku hanya takut kehilangannya. Pasir pantai pun menjadi sasaran kebodohanku, aku meremasnya kuat.

 

"What's like to get here?" Suara Syaban yang tenang mengaburkan kekesalanku. (Bagaimana perasaanmu saat menuju ke sini?)

 

Aku menengadah sebelum bangkit. "Eum?"

 

Dia tersenyum simpul melihatku. "How it's feels?" sambungnya sembari memintaku berdiri. "Mau pulang sekarang?" Syaban melihat jam tangannya. (Gimana rasanya?) 

 

Eh!

Mataku mengerjap seraya bangkit karena Syaban melangkah lebih dulu.

 

"Perasaanku?" 

 

"He em." 

 

Kami pun berjalan sejajar menyusuri bibir pantai menuju dermaga. 

 

"Antusias, semangat dan nggak sabar," kataku sambil berjalan cepat mendahului Syaban.

 

Lelaki itu malah berhenti, sementara aku berbalik badan dan berjalan mundur. Kami berhadapan. Rasanya damai, melihat wajah pak COO di ujung senja seperti ini.

 

"Nggak sabar ketemu aku?" tanyanya setengah berteriak karena aku semakin jauh.

 

Aku spontan mengangguk, tanpa memahami makna ucapan Syaban. "Iya," seruku sambil tersenyum.

 

Pria yang tetap berpenampilan rapi meski sepanjang hari ke sana sini itu tertawa lebar. Dia lalu mengejar, membuatku balik badan dan berlari menuju pedestrian pantai.

 

"Boong!" ujarnya saat telah berhasil menyusulku.

 

Aku menggeleng lalu menoleh padanya sekilas. "Kan bayangin keknya hepi main ke sini, first time buat aku." 

 

Syaban hanya manggut-manggut. Dia lalu mengeluarkan gawai dari saku celana dan menonaktifkan tombol flight mode.

 

Aku terkejut. Jadi, sepanjang hari ponselnya off? Sementara kita sama-sama tahu, urusan kantor sedang padat. 

 

"Pak?"

 

"Aku cuti hari ini, sepertimu," ucapnya santai sambil menekan tombol panggilan cepat. "Man!" sebutnya memanggil sang asisten saat panggilan telah terhubung. 

 

"Ya, Bos!" Suara Arman.

 

"Done." Pungkas Syaban menutup ponselnya lagi.

 

Aku masih bingung. "Aku cuti?"

 

"Iya, Arina mengajukan cuti hari ini," katanya lagi sambil terus berjalan menuju parking area.

 

"Loh, kapan aku...." Pasti kerjaan Olafudin, rutukku dalam hati.

 

Syaban melambaikan tangan pada seseorang di parkiran. Dan kami berpisah kendaraan saat pulang. 

 

"Langsung mandi dan bobok, ya," pesan Syaban saat memintaku masuk ke mobil yang dikemudikan Sila.

 

Kepalaku mengangguk cepat. "Iya." Entah mengapa, aku selalu ringan bila menuruti permintaannya. 

 

"Gitu dong ... anak baik, istri salihah." 

 

Bruk! Dia menutup pintu mobil lalu mengetuk kapnya dua kali, tanda agar Sila langsung jalan.

 

"Eh! Apa tadi?" 

 

Sila terkekeh. "Kalau nggak Hah ya pasti Eh!" ucapnya sambil menggeleng kepala. Aku jadi malu sendiri, memang itu kebiasaan burukku.

 

Satu jam kemudian. 

Eka dan Diah sudah menunggu di kosan baruku. Mereka terlihat cemas sebab aku tak membalas telepon dan pesan keduanya.

 

Aku berkilah bahwa sangat sibuk, padahal karena terlalu asik main dengan Syaban. Sampai lupa mengecek ponsel.

 

Setelah mandi dan makan, aku membaca semua pesan masuk. Termasuk dari pak COO yang membuatku senyam-senyum.

 

["Sudah makan? Jangan pernah diet, aku lebih suka yang gemoy."]

 

"Kita kuatir, dia malah cengengesan!" sindir Diah menepuk tungkaiku yang selonjoran di depan tv.

 

"Maaf, ponselku di silent di tas," kilahku seperti semula. 

 

Sedetik kemudian, aku menguap dan mematikan ponsel. Bangun menuju kamar.

 

"Kirain malam ini bakal ada drama nangis semalaman ... tapi kayaknya aman," sambung Eka.

 

Aku terkekeh lalu melihat keduanya. "Sana balik aja. Ngantuk bet." Kulambaikan tangan pada mereka sebelum menutup pintu kamar.

 

"Ren, ini kosan dapat dari Ban Ban, 'kan?" teriak Eka lagi.

 

"Iyalah, sape lagi. Kasta Arin kek gue ... bedanya dia ketemu Mas Mas Whoosh!" sambar Diah.

 

"Whoosh? Kereta cepat Jakarta Bandung kan itu? ... apa hubungannya?" 

 

"Yeee, Kot. Kagak paham? ... Whoosh, waktu hemat, operasi optimal, sistem hebat ... Baban semua itu! Ketemu Arin, di sayangi dalam waktu cepat." 

 

Eka tertawa. "Bener juga, ada lagi nggak modelan gitu? Titip satu." 

 

Diah melirik sambil berdecak. "Kamu cari yang sempurna kagak bakalan ada, Kot ... tapi kalau mau masak mie rebus pake baso, telor, di cabean, nitip," kekehnya.

 

Eka menepuk paha Diah sembari bangun. "Omonganmu kek Si Arena kemarin ... persis celana jeans habis dipake," balasnya cengengesan.

 

"Apa tuh?" 

 

"Digantung!" sambar Eka.

 

Diah terbahak sambil berkata, "Ya namanya orang idup wajar diselimuti masalah. Karena kalau diselimuti tepung panir itu risol!" 

 

Aku masih mendengar kedua sahabatku tertawa lepas di ruang tengah saat pandangan ini mulai mengabur dan lelap.

 

***

 

Keesokan pagi, aku bekerja seperti biasanya. Namun ada rasa yang berbeda ketika aku pulang dan duduk diam sendirian di depan tv.

 

"Resepsi malam ini, pasti meriah. Keduanya anak petinggi, apalagi Afni." 

 

Aku berdecak, seiring bel yang berbunyi.

 

Teeett!

 

Aku menoleh ke arah pintu. Malas beranjak tapi kuatir jika itu penting. 

 

Netraku membola ketika melihat dari celah kecil pada panel, ada dua wanita di depan pintu.

 

Kubuka panel pelan, melongokkan kepala. "Cari siapa?" 

 

"Halo, selamat malam ... Non Arina? Kami MuA," katanya ramah.

 

Aku menggeleng. "Maaf, aku nggak pesan," balasku singkat.

 

Mereka lantas menyodorkan ponsel dan menekan pesan suara. 

 

["Rin, ikut yuk. Aku tunggu di bawah."] Suara Syaban terdengar.

 

Huft!

Kulihat jam, kemana dia mengajakku pergi. Aku lalu menutup pintu dan menelpon Syaban, ingin menolak tapi malah suara nyonya Atin yang terdengar. Membuatku sungkan menolak.

 

Akhirnya setelah 30 menit didandani dengan banyak permintaan agar tidak menor. Aku pun turun. 

 

Di ujung anak tangga, Syaban sudah menunggu.

 

Gaun navy selutut berkerah sabrina menempel pas di badan. Rambut panjang pun ditata natural, hanya dihiasi hair piece burung Phoenix yang berkilauan terkena cahaya lampu.

 

Heel silver dan clutch senada menyempurnakan penampilan malam ini. Sungguh, aku pun tersanjung dan tak menduga bila bisa memakai pakaian mahal seperti ini.

 

"Maa sya Allah." Syaban tersenyum puas, membuatku malu. "Allahumma baarik, Byy!" bisiknya saat aku melintas. 

 

"Kemana, Pak?" 

 

"Kondangan ... Ayo," balasnya masih dengan tatapan memuja. 

 

Nyonya Atin tersenyum lebar saat menyapaku di mobil. Dalam perjalanan, aku hanya diam. Apalagi setelah tahu bahwa kami menuju venue tempat resepsi Elvan. Tanganku mulai berkeringat dingin.

 

Nyonya Atin menggandengku ketika ibunda Elvan menyapa beliau.

 

"Malam Nyonya Syahbana," sapanya ramah, belum menoleh padaku. 

 

"Malam, selamat mantu ya, Nyonya WaDan," balas nenek Syaban menyebut gelar ibu hajat.

 

Namun, sejurus itu, tatapan matanya tertuju padaku. Dia menunjuk dan berkata, "Arina, kan? Jalurmu bukan di sini." Sambil memanggil staf WO.

 

"Maaf, Nyonya WaDan. Maisy bersamaku," kata beliau sambil menggaet lenganku.

 

Tatapan ibu Elvan tak percaya, senyumannya pun mencibir. "Iyakah? Maaf, kenal dimana?" 

 

Nyonya Atin hanya terkekeh sambil lalu. "Dikenalin sama Gusti Allah langsung."

 

"E-eeh?" 

 

"Selamat sudah meminang menantu idaman, Nyonya Barka ... jangan berlebihan, Dia milikku." Syaban membungkuk di depan ibunda Elvan lalu menyusul kami.

 

Aku menoleh ke belakang ketika Syaban tersenyum dan mengangguk padaku. Mungkin maksudnya agar aku jangan kuatir. 

 

Sementara pandangan ibu Elvan dan seseorang, terlihat begitu sinis kala melihatku hadir. 

 

Terlebih ketika aku dan Syaban, memegangi lengan kanan dan kiri nyonya Atin saat menaiki tangga menuju pelaminan, untuk menyapa mempelai.

 

"A-rina?"

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!