Cinta Tertinggal
Kejutan Manis
"I-iya, Pak Arman. Maaf," gagapku langsung menyambar tas dan berlari kecil menuju lift.
Di lobby, aku berpapasan dengan teman satu divisi dan mengatakan ada keperluan mendadak jadi harus keluar kantor.
Kucari Sila kala mencapai parkiran utama, tapi tak nampak batang hidungnya. Aku mulai cemas, meskipun tahu dimana Syaban berada tapi hanya dengan Sila, aku bisa mendapatkan titik akurat.
Setelah beberapa menit celingukan, kuputuskan untuk memesan ojol online seperti biasa.
Entah mengapa, aku antusias melakukan ini. Kusongsong driver yang menunggu di luar area gedung dengan semringah.
"Leggo, Pak. Ngebut, ya!" Kataku riang, sambil memakai helm.
"Lewat jalan pintas, ya, Non!" sahutnya ikut bersemangat.
Aku mengacungkan jempol dan naik ke motor. Sepanjang jalan, senyumku tak redup. Membayangkan betapa menyenangkannya di sana.
Setengah jam kemudian, aku tiba. Seseorang tiba-tiba menghampiri aku untuk mengaitkan gelang khusus agar bisa masuk arena wahana.
Kukirimkan pesan singkat ke Syaban, mengatakan bahwa aku sudah tiba dan sedang mencarinya.
Video tadi pun kuputar ulang. Aku sedikit bingung karena belum pernah ke sini, hanya tahu dari beberapa vlog di yutub.
Tuuut!
Kuputuskan untuk menelpon Syaban. Tersambung tapi lama tidak dijawab. Aku terus berjalan masuk, berdiri di Carousel besar sambil celingukan.
Masih pagi, jadi belum banyak pengunjung yang datang. Seharusnya bisa dengan mudah bertemu beliau.
Tuuut!
"Pak, dimana? Kok nggak dijawab?" keluhku sambil berjalan ke sana sini. "Mana nggak ada petugas on ground pula," sambungku lagi.
15 menit mencari tapi tiada tanda pria itu muncul, aku mulai kesal merasa dikerjai Syaban.
Kulihat bangku taman, dekat wahana Turangga itu dan duduk di sana sebentar. Meluruskan kaki yang lumayan pegal.
Tak berapa lama, tiba-tiba.
Dhuar! Prataaakkk!
Dhuar! Prataaakkk!
Aku terkejut, langsung melihat ke langit. Sungguh aneh menyalakan kembang api di siang bolong. Apa bagusnya, pikirku.
Namun, ternyata aku salah. Kembang api tadi ternyata membentuk satu kalimat.
Mataku berbinar mengeja baris kata di angkasa. "Hai, Maisy. Apa kabar?"
Dhuar! Prataaakkk!
"Ayoooo, taklukkan hari ini!"
Aku tersenyum lebar saat membaca kalimat akhir.
Lalu, dari arah kiriku muncul badut Ikon Dufan diikuti beberapa penari wahana itu. Persis menirukan yang di video.
"Pinguin dance," kekehku teringat Syaban tadi ikut menari bersama mereka. Tapi dimana dia? Aku langsung celingukan.
"Rin!" Suara seseorang memanggilku.
Sorot mataku berkilau, dua sudut bibir pun ikut tertarik ke atas. "Paaaakk!" sebutku semringah.
Syaban mendekat sambil membawa flat shoes dan sebuah topi. Dia lalu berjongkok berniat ingin mengganti sepatu yang kupakai.
"Jangan, aku saja," tolakku halus.
"Aku!" ujarnya memaksa masih membungkuk di depanku.
Kubiarkan dia melakukan apa yang dimau. Meski tanpa menyentuh kakiku, tetap saja ada rasa rikuh yang datang.
Dia lalu memakaikan topi. "Biar gak kepanasan," imbuhnya saat kembali berdiri.
Kami lalu dihampiri badut Dufan tadi. Dia menyodorkan mini buket buah potong pada Syaban.
"Semangka!" pekikku girang. Warna merahnya pekat, terlihat segar dan manis sampai aku tak sabar ketika Syaban menyerahkan buket tadi padaku.
"Untukku?" tanyaku menengadah pada Syaban.
"Iya." Syaban pun duduk di sebelahku sementara aku langsung membukanya. "Makan ini dulu, ya!"
Syaban mengangguk antusias. "Manis banget kayaknya," kataku saat menyuapkan satu potongan ke mulut.
Benar, manis sekali. Aku jadi lupa diri, lahap memakan potongan semangka tanpa menawari Syaban.
"Pelan-pelan, Byy!"
Lagi-lagi aku tak peduli apa yang Syaban ucapkan. Bukan tidak mendengar, tapi saat ini aku sedang sangat menikmati buah kesukaan.
Akan tetapi, ketika suapan terakhir, tanganku ditarik Syaban. Buah itu masuk ke mulutnya.
"Eh!" Aku melongo, baru saja menyuapi pak COO.
"Last one ... milikku!" ujarnya diikuti tatapan lekat nan lembut.
Glek!
Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu disodorkan padaku.
"Hmm, aku punya tisu," kataku berpaling malu.
Dia lantas berdiri, lalu setengah membungkuk di depanku.
"Sedikit doang!" ujarnya saat menyeka salah satu ujung bibirku. Dia menahan sapu tangan itu di sana, sampai jariku ikut memegangi salah satu sisi lalu dia melepasnya.
Blush!
Aku menunduk, pipiku rasanya hangat. Apakah bersemu merah? Pikirku.
Terdengar suara Syaban tersenyum. Dia lalu menggulung kemeja lengan panjangnya hingga ke siku, lalu berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.
"Ayo, Rin!"
Aku gegas mendongak dan bangkit mengikutinya.
Melihat dia tanpa jas, berjalan di depan seperti ini sungguh pemandangan langka. Punggung lebar dan tegap itu, cara Syaban berjalan, sungguh sangat keren.
"Gimana rasanya dipeluk sama dia ya?" gumamku sambil mengekorinya. "Eh! Astaghfirullah!" imbuhku, membuat Syaban menoleh.
"Hayo! Bayangin apa?"
Aku menggeleng, tersenyum lebar dan gegas mensejajarkan langkah dengannya.
Wahana demi wahana kami naiki. Teriakan, tawa juga candaan Syaban membuatku tak henti menebar senyum.
Aku lega, lumayan lega!
Kami mengobrol banyak setelah salat duhur. Syaban mulai bicara sambil makan siang. Kemana dia pergi dan mengapa tak berkabar.
"Sengaja. Kamu lagi fokus patah hati," ejeknya padaku sambil tertawa kecil.
"Diiiihhhh!" balasku sambil menunduk malu.
"Lega belum?" lanjut Syaban, masih sesekali memandangku.
"He em, mayan."
"Kalau udah nggak panas, kita mantai. Cari kerang atau bintang laut."
"Buat apa?" cicitku seraya mengerjap beberapa kali.
Syaban tersenyum lagi. "Cari inspirasi souvenir," katanya.
"Untuk?" tanyaku lagi, sebelum meneguk minum.
Syaban hanya diam, sembari memandang tanpa berkedip. Membuat hatiku mulai tak karuan.
Gluk. Gluk! Menelan minum pun rasanya susah bila dipandang seperti ini.
Aku duduk menyamping tapi malah membuat Syaban terkekeh senang.
"Iiiihhhhh, Pak!" rajukku malu.
"Ayo, Byy. Beli es krim dan duduk di sana," ucapnya sambil bangun dan berlalu.
Langkahnya yang panjang membuatku kadang mudah tertinggal.
Kedua lengan kekar itu memegang dua cup es krim sampai kami duduk di depan kolam buatan yang luas.
Setelah asar, Syaban mengajakku naik Buggy Car, yang biasa digunakan di lapangan golf menuju Marina bay.
Kami lalu menyusuri pinggir pantai sambil sesekali bermain air.
"Besok mau datang?" kata Syaban menatapku serius.
Deg!
Bukan perkara sulit bagi Syaban mengetahui hal remeh seperti ini.
Sejenak aku termenung, apakah perlu, pikirku. "Entahlah."
"Kamu masih ingin memvalidasi perasaanmu tidak, Rin? meninggalkan segala rasa di sana atau tetap membawanya sampai kamu menemukan tempat sampah?" tanyanya panjang dengan suara lembut. Dia berdiri di tepi pantai membelakangi cahaya, membiarkan kakinya tersapu air laut. Satu tangannya masuk ke saku celana, tampan sekali.
Blush!
Aku terpesona. Hari ini aku merasa sangat dekat dengan atasanku. Rasanya begitu nyaman setelah berteriak lepas tadi saat menaiki roller coaster.
"Sini, yuk!" Ajaknya karena aku hanya diam.
Aku mengekori beliau menuju sisi pantai yang lebih sepi. Kami berjalan selama beberapa menit.
Dia lalu menyilakan aku ke bibir pantai, tepat ketika sunset.
"Tuntaskan di sini, taklukkan sesakmu!" kata Syaban tersenyum samar sebelum menjauh.
Air mataku mulai menggenang lagi. Benar, masih ada sesak. Kutarik napas dalam dan panjang lalu ...
"Aaaahhhhhhhhh!"
Ombak pantai seakan terkejut mendengar suara cempreng gadis kampung ini. Deburannya mendadak cepat menyapu kaki disertai riak sedang.
"Aaaahhhhhhhhh!" ulangku.
Setelah beberapa saat.
Huft! Kutarik napas panjang sambil menengadah dan mulai menenangkan diri.
"Rin, kamu tahu kenapa Sila nggak nganterin ke sini?" ujar Syaban,berdiri di sampingku, menatap sunset yang sama.
Aku tak menoleh padanya, tetap menatap lurus ke luasnya hamparan laut yang berkilau diterpa sinar lembayung. "Enggak, kenapa, Pak?"
.
.