Cinta Tertinggal
Undangan
"Heh! Arina!" seru gadis itu. Nada tingginya mampu membuat penghuni kos lantai satu menyembulkan kepala mereka dari balik pintu kamar.
Aku terus menapaki anak tangga menuju kamar. Rasanya ingin segera mandi lalu meluruskan pinggang agar esok pagi siap tempur lagi.
Biip.
Kulempar tas ke sofa lalu menuju dapur untuk mengambil minum.
Glek! Glek!
Mataku memejam menikmati dinginnya air yang melewati kerongkongan. Anganku pun menerawang ketika melihat gelas telah kosong, teringat ibu di sana. Hampa.
Tok. Tok. Netraku beralih pandang ke pintu. Siapa lagi yang mengusik istirahatku.
Tok. Tok. Tok. Kali ini suara ketukannya lebih kencang.
Dengan langkah gontai, aku menghampiri pintu, mengintip sosok tamu dari lubang kecil di bagian atas. Sontak saja, lidahku berdecak sebal. Mau apalagi sih?
Kusarungkan pengunci rantai ke lubang di tembok, agar pintu kamarku tak terlalu terbuka lebar.
"Ya?" Aku mengintip dari celah pintu. "Eh, Ibu. Ada apa, ya?" tanyaku berpura tak paham. Meskipun sudah tahu beliau akan menegurku karena kejadian tadi.
"Buka dulu, Rin!" pintanya sambil mendorong panel pintu dengan wajah kesal.
"Aku mau mandi, sudah melepas sebagian pakaian, Bu. Ada apa?" elakku sembari menarik kepalaku kian masuk.
Ibu kos menarik napas dalam. Matanya tiba-tiba menyipit saat berkata, "Jaga sikapmu jika tak ingin pindah kosan." Ancamnya padaku.
Aku mengerutkan dahi, heran dengan sikapnya. "Loh, apa hubungannya?"
Wanita paruh baya itu berdecak sebal. "Ck, dia itu putri orang penting! Yang jaga kawasan ini!" ujarnya dengan nada kesal. "Kamu bikin saya nggak enak hati dengan orang tuanya. Baiknya minta maaf kalau dia ke sini lagi! Jangan sampai kosan saya ini nggak dibantu jaga!" omel ibu kos sembari menggebrak panel pintu kamarku.
Brak!
"Astaghfirullah!" Mataku sampai mengerjap akibat terkejut.
Aku melihat ibu kos pergi sambil membulatkan bibir. "Ooo, anaknya aparat ternyata. Pantesan mereka dijodohkan," gumamku sembari menutup pintu.
Jelang jam 9 malam, saat aku baru saja merebahkan tubuh di ranjang, ponselku berdering. Aku melihat satu nama di sana.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumussalaam. Rin, kemasi barang-barang pribadimu malam ini, ya. Besok pagi, berikan kunci kamar pada Sila. Biarkan dia yang menyelesaikan sisanya," tutur Syaban di ujung panggilan. Suaranya terdengar menahan kesal.
Aku langsung duduk kembali, terkejut karena ucapan Syaban.
"Loh, kenapa?"
"Maaf, aku terlambat tahu."
"Tahu, apa?" sambungku kian heran.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Aku benar-benar tak menduga ini, maaf."
Aku makin tak paham, sebenarnya Syaban tahu tentang apa?
"Pak, aku baik saja. Kalau kejadian sore tadi yang Bapak maksud, biarkan saja." Aku mencoba menebak alasan Syaban memintaku pindah kosan. Entah siapa lagi yang memata-mataiku.
"Bener?"
"Iya," jawabku cepat. "Makasih banyak, Pak. Ini berlebihan," lirihku agar beliau tidak tersinggung.
"Aku punya kewajiban menjagamu, Rin. Jangan bilang berlebihan," katanya dengan nada lembut.
"Hah?"
"Hah melulu, pokoknya gitu. Seseorang memberiku mandat, menitipkanmu pada kami," bebernya lagi dengan nada riang, terdengar bak smiling voice.
Aku menggaruk kepala, padahal tak gatal. Ketombe pun tidak ada, sebab rajin keramas.
"Maksudnya siapa, sih? Nyonya Atin?" cebikku kesal. "Ibu juga main rahasia sama aku," keluhku sambil memanyunkan bibir.
Syaban malah terkekeh, suaranya membuatku langsung merasa nyaman dan tenang. Tanpa sadar, bibirku ikut melengkungkan senyum.
"Bukan ... Rin, mau ya pindah. Please, biar aku tenang," bujuknya lagi.
"Liat besok deh, Pak. Selamat malam," balasku sembari menguap, berniat mengakhiri panggilan.
"Hmmm ... ya sudah, selamat malam Maisy Fiansyah," ujarnya cepat sambil memutus sambungan kami.
Aku mengerjap, menarik gawai dari telinga dan menatap layarnya. Otakku berpikir, dia tadi bilang apa?
Keesokan pagi.
Aku janjian naik ojol car dengan Eka dan Diah. Sependek perjalanan kami, aku menceritakan kejadian kemarin saat baru tiba di kosan.
"Aih, serius, Ren?" ucap Eka ikutan geram. "Oknum kali ah, yang berseragam biasanya nggak gitu sebab bisa kena sanksi," lanjutnya sambil menatapku.
"Kang parkir juga pake seragam sekarang mah," sambar Diah yang sedang berkutat dengan ponselnya.
Kami pun tertawa mendengar celetukan Diah. Sebelum mereka turun, aku lantas menyerahkan voucher spa pada keduanya.
"Sudah kubilang bahwa Afni keras kepala," lanjut Diah sembari melirikku, saat menerima lembaran voucher.
"Iya, Di, iyaaaa," jawabku memanyunkan bibir. "Cuma ...."
"Cuma apa?" desak Eka, mulai menatap curiga. "Jangan bilang kalau kamu tetep sayang Elvan setelah apa yang dia lakukan!" tandasnya seraya melotot.
"Nah!" Diah menunjukku. "Aku sering berpikir, apakah otakmu sedang cuti, Rin?" lanjutnya.
Aku tersenyum simpul mendengar omelan Diah.
"Dia pinter dan cantik, Kot." Diah menepuk paha Eka sembari menatap tegas, lalu dia beralih pandang padaku. "Apakah Arina jatuh dari surga? ... sampai hati dan otakmu kacau?" sarkas Diah.
"Di! Si Arena sedang pol-in-lop, pelan ngapa!" tegur Eka menyenggol lengan Diah yang menempelinya.
Entah mengapa aku tak marah. Malah tertawa lepas mendengar semua ocehan pedas Diah pagi ini.
Tak lama, keduanya turun. Sementara aku melanjutkan menuju kampus. Aku izin telat datang ke kantor sebab ingin mengajukan pindah kelas saat matkul bahasa asing.
Ucapan Ibu, kedua sahabatku tadi berputar di kepala. Orang bilang sikap Elvan bagai red flag, closure, tapi menurutku bukan.
Entahlah. Aku hanya menginginkan penjelasan gamblang. Setelah itu, mungkin hati ini bakal ikhlas melepasnya.
Ketika tiba di kampus, aku langsung menuju sekretariat. Jawaban staf sedikit mengecewakan sehingga aku memilih menyerah dan langsung keluar gedung lagi.
Baru beberapa langkah dari sana, nasib pagiku memang kurang beruntung. Aku bertemu lagi dengannya.
Kali ini, dia menggandeng lengan Elvan sembari memegang tumpukan kertas mirip ... undangan.
"Kebetulan ketemu di sini," ujar Afni sembari menghalangi langkahku.
Aku melirik ke arah Elvan, lelaki itu hanya diam menunduk lalu melempar pandangan ke arah taman di kananku.
"Permisi!" kataku berniat menabrak tubuh gadis di hadapan.
Namun, dia menyodorkan sesuatu padaku. Sebuah undangan berwarna pink dan ungu.
"Datang, ya!" sambung Afni lagi.
Aku menerima undangan itu, tanpa membacanya. "Selamat, kamu berhasil membuatku belajar mengenali manusia dengan kepalsuan dan ketidakjujuran," kataku sambil melangkah dan menyenggol bahu kiri Afni.
Dadaku bergemuruh. Sampai detik akhir pun, Elvan tak menjelaskan apapun padaku. Hati ini terasa sesak, apalagi ketika menyadari tanganku masih memegang sesuatu.
Kulempar benda itu ke tempat sampah kala melewati area parkiran. Niatku memesan ojol tapi Sila sudah menunggu di depan gerbang kampus.
Tanpa banyak basa-basi, aku mengikuti Sila menuju mobil dan meninggalkan pelataran gedung menuju kantor.
Hari ini aku tidak tugas keluar kantor sehingga sepanjang waktu aku hanya diam di kubikel. Benar-benar sangat irit bicara. Sampai jam makan siang pun, aku enggan meninggalkan ruangan. Berkutat dengan laporan, sebagai pelampiasan kekesalan.
Tiba-tiba.
"Mbak Arin!" Suara office girl menghampiri mejaku.
"Ya?"
"Es krim dan coklat ayam jagonya dah datang," katanya menyodorkan bingkisan padaku.
Aku melongo, tak serta merta menerima. "Dari?
"Loh? Mbak Arin pesen via kurir, kan?" balasnya terheran sambil menggoyangkan tas makanan tadi.
Aku lantas menyadari sesuatu dan buru-buru menerimanya. "Padahal nggak pesen. Pak Arman, kah?" gumamku sambil melihat isinya.
Senyumku terbit. Sepertinya tidak ada yang bisa kusembunyikan, bahkan coklat kesukaanku pun diketahui. Baru menikmati satu suapan es krim, ponselku berbunyi.
Aku semringah, dengan nada riang kugeser tombol hijau ke atas. "Ya, Pak?"
"Nah, gitu dong." Suara Syaban di ujung sana, terdengar sedikit berisik.
"Makasih!"
"Sama-sama ... sudah baca map biru langit?" tanya Syaban membuat dahiku mengerut. Map mana? Aku tidak melihatnya. "Belum, kenapa?"
"Selesaikan dulu ngemilnya, jangan merasa bersalah makan beginian ... lalu baca pelan-pelan, ya. Aku pergi dulu. Sampai jumpa pekan depan, take care Nyonya Fian," pungkas Syaban langsung menutup panggilan.
Aku kelabakan, apa katanya tadi? Nyonya Fian? ... Bukan, bukan itu saja, dimana map biru langit. Aku menyingkirkan cup es krim dan mencari benda yang Syaban maksud.
"Ketemu!" Gegas kubuka dan langsung membaca beberapa baris kalimat di kertas. "What!" Iris mataku melebar diikuti senyum merekah.
"Yeeeaaayyyy!" Aku sontak berdiri sambil bertepuk tangan, bahagia atas info yang Syaban beri.
Merasa harus berterima kasih langsung, aku berlari menuju lift guna menuju ruangan Syaban.
Namun, saat tiba di sana, aku kecewa. Anggika bilang, Syaban dinas keluar kota selama sepekan.
Aku lupa, padahal di telepon tadi, lelaki itu bilang padaku. Huft.
Kulangkahkan kaki gontai menuju lantai ruanganku. Saat di lift, satu pesan masuk ke ponsel dan ketika kulihat, lagi-lagi netraku membola.
"Shit! Maunya apa sih, Buu!"
.
.