Cinta Tertinggal

Sumpah Ibu

"Dia. Ah, sudahlah. Kamu nggak akan kenal," sungut ibu. Wajahnya terlihat kesal saat melirikku.

 

Kuhela napas lalu meraih jemari ibu untuk digenggam. Mengusap pelan punggung tangannya dengan ibu jari dan mengecupnya.

 

Ibu masih memperhatikan semua sikapku, sekilas kupergoki sudut bibirnya terangkat membentuk segaris senyum.

 

Ingin sekali menanyakan perihal kapan keluarga Elvan mengunjungi ibu, dan apa yang mereka sampaikan. Tapi aku takut merusak suasana hati beliau.

 

Aku memilih bersabar, menenangkan ibu sampai betul-betul tubuhnya rileks dan mulai masuk ke alam alpha.

 

Ketika netra senja itu mulai meredup, kuberanikan diri menyinggung soal Elvan. Aku sungguh penasaran dibuatnya.

 

"Bu, ayah Elvan bilang apa saja ke ibu?" lirihku menjaga intonasi suara agar terdengar lembut di telinga beliau.

 

"Ibunya yang ke sini. Katanya kamu ngejar-ngejar Elvan. Karena sakit hati cintamu ditolak, kamu mengajukan gugatan tapi dicabut lagi sebab masih menyayangi putranya." Suara ibu datar tanpa emosi, kelopak mata yang mengeriput itu pun perlahan menutup.

 

"Hah?" Aku terperangah. Kugoyang pelan badan ibu, aku masih ingin mendengar semuanya. "Bu, terus?" rengekku berusaha membujuknya.

 

Mata ngantuk ibu terbuka lagi, aku pun tersenyum simpul. Siap memasang telinga sebab suara ibu pasti sangat pelan.

 

"Kamu cinta sama dia?" tanya ibu kemudian, sambil menatapku lekat.

 

Deg!

 

Aku diam, menunduk malu mengakui perasaan yang kupendam selama ini. Tak kusangka bila ibu bisa membaca gelagatku.

 

Tatapan ibu lalu beralih ke atas langit-langit kamar. Dadanya membusung kentara saat menarik napas panjang, seakan siap meluapkan beban beratnya.

 

Detik berikutnya, beliau menoleh lagi padaku.

"Lupakan dia!"

 

"Tapi kak Elvan nggak salah apa-apa, Bu. Dia tak terlibat sama sekali," belaku untuk pria pujaan dengan nada mengiba. 

 

Hening.

 

Kurasakan pandangan menusuk dari hadapan. Dengan perasaan takut, kulirik wajah ibu. Benar saja, beliau melihatku dengan sorot mata sinis, menyiratkan rasa ketidaksukaannya.

 

"Jangan jadi gadis murahan, Arin! Ngejar laki-laki yang membunuh adikmu?"

 

Aku menggeleng pelan, tidak terima dengan tuduhan itu sekaligus ingin meluruskan kesalahpahaman.

 

Namun, sepertinya ibu terlanjur benci sehingga kalimat yang keluar hanya berisi tuduhan dan penghakiman untukku.

 

"Ibu tahu bagaimana rasanya jatuh cinta dan tidak dapat bersama. Tapi, jangan sekalipun mengemis cinta, Rin!" Kali ini intonasi suara ibu terdengar menegas. Lirikan matanya pun masih tajam seperti tadi.

 

Huft.

 

Kutarik napas panjang sebelum bicara. Aku harus tetap tenang. Kondisi ibu mulai stabil, jangan sampai segala upaya selama nyaris dua tahun ini sia-sia.

 

"Arin nggak pernah melakukan semua itu, Bu." Aku menggeser posisi duduk lebih maju agar bisa meyakinkan beliau. "Aku menarik gugatan karena memang tidak ada yang bisa kita lakukan. Hanya membuang uang dan waktu!" tegasku sambil menggenggam tangan ibu.

 

"Bohong!" 

 

Sabar, Rin, sabar. Aku pun mulai gelisah.

 

"Iya!" balasku tetap pelan. Masih bisa menguasai diri.

 

"Jangan-jangan kamu keberatan kalau uangmu itu dipakai untuk Ari," ujarnya makin menjadi. Binar mata ibu terlihat menelisik manik mataku. Ada kilatan kekesalan di sana.

 

Aku memejam guna menahan emosi. Inginnya langsung marah tapi entah mengapa malah senyuman yang terlukis di wajah. 

 

Kekesalanku berubah menjadi kekehan dan membuat ibu terheran, kedua alisnya mengerut saat melihatku.

 

"Ikhlas, ikhlas kok, Bu." Aku membawa tautan tangan kami ke bibir untuk kukecup. "Tapi, memang kak Elvan itu nggak tahu apa-apa. Jangan timpakan kesalahan pada yang bukan pelakunya, Bu. Nggak adil," tukasku berusaha menjelaskan lagi. 

 

Ibu melepas paksa genggaman tangan kami. Beliau bersungut-sungut lalu berbalik badan menghadap dinding, membelakangiku.

 

Huft! Kuhela napas panjang sambil mengusap dada. 

 

Kulirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Nyaris setengah hari aku di sini.

 

Kalau dilanjutkan, bakal terjadi perang dingin lagi antara aku dan ibu. Kupikir, sementara interaksi kami sudah cukup. 

 

Jemariku tersulur mengusap punggung ibu sebelum bangkit. Kukecup pelipisnya yang tertutup hijab panjang seraya membisikkan kata-kata sayang.

 

"Maisy sayang ibu. Bulan depan, pindah ke Jakarta, ya?" lirihku sambil memeluknya dari samping. "Aku pamit pulang dulu ya, Bu. Bahagia banget liat ibu seperti ini," imbuhku saat membubuhkan kecupan kecil di bahunya.

 

Ibu bergeming, membuat senyumku lagi-lagi terbit. Beliau sedang merajuk, pikirku. 

 

"Assalamualaikum." Kulangkahkan kaki keluar kamar ibu.

 

Namun, saat menekan tuas pintu, tiba-tiba terdengar sebuah kalimat yang membuat hatiku sakit.

 

"Sampai kapanpun, ibu takkan merestui dan ridho jika kamu menikah dengan orang itu!" 

 

Dhuar!

 

Deg!

 

Deg!

 

"B-uu!" Suaraku tercekat, terbata-bata. Padahal aku baru saja ingin membicarakan tentang sosok Elvan lebih jauh.

 

Bagaimanapun, aku masih sayang padanya. Ada andil Elvan pada diri Arina hingga bisa mencapai titik ini. Dialah motivasiku.

 

"Keluarga pembunuh. Dan kamu salah satunya."

 

Kutengadahkan kepala agar butir bening dimataku tak berproduksi. 

 

Sebenarnya aku ingin menahan fakta lebih lama, menunggu beliau betul-betul pulih. Tapi rasanya ibu memang harus segera tahu.

 

Hatiku sakit. Menjadi tertuduh itu menyakitkan. Karena menahan tangis, suaraku mulai parau. 

 

"Sidik jari Ari ada di kotak paket itu. Ari di jebak dan jejaknya tidak hanya satu, Bu."

 

Bibirku bergetar melanjutkan cerita yang sebenarnya. "Aku yakin Ari tidak paham tapi dia terlanjur menjadi target. Semua bukti menyudutkan saudaraku dan jika memaksa melanjutkan gugatan maka kita tetap akan kalah."

 

Air mataku menetes juga, dan buru-buru kuseka. Mumpung ada keberanian menjelaskan pada ibu, aku lanjutkan meski hatiku berdenyut nyeri. 

 

"Bukan masalah uang, Bu. Bukan!" cicitku semakin serak. Aku pun bersandar di kusen pintu, sebagai penopang sebab raga ini lunglai seakan tak bertulang. "Lantas, ibu mau aku bagaimana? Melakukan apa?" tanyaku nyaris tanpa suara.

 

Hening. 

 

Senyap.

 

Satu menit berlalu, tak ada jawaban. Aku sibuk menyeka cairan bening yang mulai turun dari hidung.

 

Namun, aku melihat bahu ibu bergetar halus. Kulangkahkan kaki mendekat tapi suara beliau mencegahku. 

 

"Pulanglah." 

 

Aku mengangguk, tersenyum getir, seiring lolosnya satu tetes air mata yang jatuh ke lantai. 

 

Kupandangi sekali lagi punggung ringkih itu. Jemariku mengepal kuat di sisi tubuh. Menahan sesak, sesal, dan marah yang melebur jadi satu, lalu gegas berbalik badan keluar dari sana.

 

Aku berjalan tergesa menyusuri koridor sembari menunduk. Seruan Sila yang mengekori tak kupedulikan. Terlalu malu melihat wajah gadis itu karena ternyata aku masih cengeng. 

 

Selama dua jam, kabin HR-V yang membawaku ke Jakarta diselimuti keheningan. Hanya ketika lantunan lagu Dear God milik Avengers Sevenfold, aku mulai ikut lirih bernyanyi.

 

Lagu ini berisi sebuah permohonan mendalam dan tulus dari seseorang yang merasa sangat kesepian dan menyesali keputusannya untuk meninggalkan orang yang dicintainya. 

 

Tentang kebutuhan memiliki orang yang bisa dipercaya dan diandalkan, terutama saat mengalami kesulitan. Aku pun terhanyut oleh setiap bait liriknya.

 

Sila tidak bertanya apapun, membuatku makin nyaman ketika kendaraan mulai memasuki Jakarta.

 

Tepat azan Maghrib, kami tiba di kosan. Kularang Sila ikut masuk sebab gadis itu pasti lelah seharian menemani. Kuminta dia langsung pulang.

 

Bunyi klakson dua kali menjadi penanda bagi Bang Ben untuk membuka pagar kosan. Aku lantas masuk dan berjalan menuju tangga.

 

Namun, dari arah rumah ibu kos, sebuah suara terdengar memanggilku. "Rin!"

 

"Ya?" kataku menoleh ke sumber suara di kiriku.

 

Deg!

 

Mata sembab, tubuh lelah, dan kini otakku malah berpikir keras saat melihat sosok di hadapan. Siapa dia sebenarnya? Mengapa mengenal ibu kosku? 

 

"Sini!" Ajaknya memintaku mendekat.

 

Glek!

 

Kutarik paksa kaki yang pegal ke arah teras ibu kos. Wajahku datar ketika wanita paruh baya itu mengenalkan kami.

 

"Kenalin, dia ini masih kerabat ibu. Katanya kenal sama kamu, dimana?" tanya beliau heran, seakan mengisyaratkan bahwa aku tak pantas memiliki circle setara dirinya.

 

Gadis itu menatapku dari atas sampai bawah. Ini adalah kesempatan ketiga dia meremehkanku.

 

Kubalas tatapan sinisnya dengan smirk seraya berkata, "Maaf, Bu. Aku nggak kenal dia." Aku melengos pergi begitu saja.

 

"Ya pasti nggak kenal, wong kamu tiba-tiba datang dan merebut," serunya mengejekku.

 

Aku geram, tapi enggan balik badan. "Merebut? ... Ckck, Nona. Ingatlah ini, ada dua sisi dalam setiap cerita. Mirip seperti mukamu!" 

 

Entah bagaimana wajah mereka saat mendengar ucapan tadi, aku langsung melenggang pergi. Tak peduli pada teriakan yang memanggil-manggil namaku.

 

"Arinaaaaaa!" 

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!