Cinta Tertinggal
Pedulinya Syaban
Kutegakkan badan menyandar di kepala brangkar, sambil mengucek mata dan menajamkan telinga.
"Bener, suara dia," gumamku mengulas senyum tipis.
Kututup mata kembali, diam menikmati lantunan Kalamullah yang syahdu.
Kepala ini menunduk, kembali teringat ayah. Selama hidupnya, beliau sangat getol mengajak kami mengaji di rumah. Terutama setelah salat subuh, agar kami tak tidur kembali.
Keluargaku memang tidak begitu religius. Tapi, Ayah yang mengajari kami mengaji dan selalu berpesan agar tak tinggal salat. Dan lagi-lagi, aku rindu semua itu.
Kangen suasana bermanja dan bermalas-malasan, saat ayah menarik kami dari tempat tidur agar segera wudhu.
"Ila arwahi, ayah, Al Fatihah," lirihku masih menunduk. "Kangen banget sama ayah," gumamku sembari mengusap dada, karena ikhlas itu berat.
Suara pak COO masih mendominasi ruangan. Aku lalu menepuk paha Diah agar bangun dan salat subuh sebelum beringsut turun dari brangkar.
Mungkin, decit ranjang terdengar olehnya. Suara yang sedang mengaji itu terjeda. Dari balik tirai, dia menegurku.
"Rin?"
Aku menghentikan langkah menuju kamar mandi, berdehem sejenak agar suaraku tak serak. "Ya?"
"Mau salat?"
"He em." Aku menjawab pelan sambil kembali berjalan.
"Bisa? ... Aku panggil suster, ya," katanya lagi.
"Bisa, Pak. Pelan-pelan kok ini, sudah jauh lebih baik," kataku mencegahnya pergi. "Silakan lanjutkan ngajinya," sambungku sembari terus melangkah ke kamar mandi.
"Hati-hati," balasnya.
Tirai kubiarkan tetap menutupi sebagian brangkar. Aku masih segan bertemu Syaban setelah peristiwa kemarin.
Setelah sarapan.
Saat dokter visit, aku mengutarakan keinginan untuk pulang siang nanti tapi dokter malah memberikan izin besok pagi.
Tak lama, kantukku kembali datang. Seiring Diah yang akan pamit karena harus kerja.
Awalnya aku panik sebab Syaban masih di sini. Tapi, gadis itu berkata bahwa mbak Lastri sedang dalam perjalanan kemari. Aku pun tenang, setidaknya kami tidak berduaan.
Kukira Syaban telah pergi saat mbak Lastri membangunkanku untuk salat duhur. Tapi, lelaki itu masih di sini.
Terdengar omelan Syaban pada staf, entah divisi apa. Juga beberapa kali terdengar kalimat penegasan yang sama.
"Aku nggak bisa pergi sampai besok, titik! Kalian kerjakan semuanya dengan baik."
Beberapa menit kemudian.
"Meeting streaming. Aku nggak bisa ke kantor sekarang."
Suara khas Syaban jika sedang dalam situasi serius terdengar berat dan tegas. Aku lantas berpikir, apa yang menahannya di sini?
Sepanjang hari aku mendengar nada kekesalan, emosi, juga omelan Syaban pada Arman dan Anggika, sekretarisnya di kantor, melalui sambungan udara.
Bahkan suara Anggika terdengar terbata saat mendapat amukan pak COO ini. Kasihan sekali gadis itu, menjadi pelampiasan Syaban.
Ingin bertanya apa ada yang mengganggunya, tapi sepanjang siang ini tak ada interaksi di antara kami, membuatku mengurungkan niat. Canggung dan takut salah paham.
Satu jam setelahnya, Arman menjemput mbak Lastri yang akan pulang sore hari.
"Lekas sehat, ya. Pekan ini kudu pulang ke Bandung, liat ibu, Rin." Dia menatapku tegas sembari menepuk punggung tangan kananku.
"In sya Allah." Aku hanya mengangguk cepat. Ingin menahannya lebih lama tapi teringat Lulu, putrinya dan ibu yang dia tinggalkan di Bandung.
"Kamu ditemani siapa malam ini?" tanyanya sebelum pamit, wajahnya sedikit cemas.
"Ada Eka, udah sampai parkiran katanya," jawabku sambil menunjuk ponsel. Tadi aku sempat membukanya sejenak.
Mbak Lastri lantas memelukku dan keluar dari bilik. Dia menyibak tirai yang seharian menutupi brangkar sehingga aku bisa melihat Syaban sedang berdiri di samping meja kerjanya, seraya bersedekap.
Deg!
Lelaki itu masih mengenakan sarung tenun hitam, dipadu baju koko lengan panjang warna hijau tua. Kontras sekali dengan kulitnya yang bersih.
Deg!
Deg!
Huft, tampan sekali sih sore ini, Pak. Aku membatin saat mbak Lastri pamit padanya.
"Ada aku juga, Mbak. Tenang saja ... hati-hati, ya." Syaban menangkup kedua tangannya di depan dada lalu melangkah dan membuka pintu kamar.
Lambaian mbak Lastri menjadi penutup perjumpaan kami dan kini akan dimulai kecanggungan sebab hanya ada aku dan Syaban.
Aku meraih ponsel dari nakas dan berputa menyibukkan diri.
Awalnya Syaban hanya diam mematung di depan pintu. Tapi, dia perlahan mendekati brangkar dan menarik kursinya menjauh.
Huft. Hela napas panjangnya terdengar. Aku masih berkutat dengan ponsel di tangan.
"Akhirnya, bisa liat kamu juga," kata Syaban, sambil duduk menopang kaki dan bersandar di kursi.
"Maaf ya, berisik," ulangnya lagi. Aku melirik dari ekor mata, dia masih memperhatikanku.
Sepi.
Satu menit berlalu, aku masih diam. Tapi lama-lama sikapku ini malah membuat Syaban tersenyum.
Kuberanikan diri menoleh padanya sembari menjawab, "Aku tidur melulu, jadi nggak tahu, Pak," kataku asal lalu kembali beralih pandang pada gawai di tangan.
"Aku nggak berani buka tirai, padahal butuh booster," ujarnya masih dengan nada lembut, diikuti senyum tipis nan menawan.
Syaban lalu bangkit dan mengambil sesuatu dari atas meja. Kemudian dia pun kembali duduk di kursi yang sama sembari menyodorkan sesuatu.
Dahiku mengernyit. "Apa ini?"
"Paket spa. Buat kalian bertiga. Biar badanmu lebih rileks," sebutnya menunjuk pada lembaran kertas di tanganku.
Aku hanya mengulas senyum seraya berujar, "Makasih banyak, Pak."
Kuselipkan voucher tadi dibalik case handphone tepat ketika pintu kamar dibuka seseorang dan Syaban bangkit menjauh.
Kepala Eka menyembul dari balik pintu. Dia langsung cengengesan ketika melihat Syaban yang memintanya masuk.
Lelaki itu lantas memberi banyak tugas pada Eka. Di antaranya, mengganti baju tidurku yang baru selesai di laundry. Merapikan barang-barang sebab esok pagi akan pulang juga sederet hal lainnya.
"Selimutnya juga tolong di ganti dengan ini."
"Siap!" sahut Eka.
"Satu lagi, emmm...."
"Apa, Pak?" tanya Eka pada Syaban yang sedang melihatku.
Dia lalu menunjuk kepala, aku jadi ikutan menyentuhnya sambil mengerjap beberapa kali.
"Itu, kenapa?" kata Eka.
"Ehm, tolong usapkan vitamin untuk rambutnya lalu disisir rapi dan diikat agar Maisy tak gerah. Aku nggak bisa melakukannya saat ini," pinta Syaban. Dia menunjuk benda di atas mejanya sambil menghambur keluar ruangan.
Brak!
Eka langsung tertawa sementara aku menghela napas sambil geleng-geleng kepala.
"Salting dia," kekeh Eka sampai menepuk kakiku.
"Aya wae," balasku heran.
Tepat jam 10 malam, kamarku telah senyap. Aku tak ingat apapun lagi, saking nyenyaknya tidur.
***
Sudah dua hari sejak kepulangan dari rumah sakit. Aku kini sedang duduk di taman belakang kampus.
Kupaksakan diri ini masuk kuliah sebab harus mengejar ketinggalan. Saat akan berkemas pulang, tiba-tiba seseorang duduk di hadapanku dan menahan lenganku sehingga aku gagal bangkit.
"Kamu! Mau apalagi? ... masih berani muncul di depanku?" sentakku meski ada rasa tak tega. Dia terlihat kusut tak terurus.
"Rin, denger dulu!" pintanya dengan nada memelas.
"Nggak mau ....lepas!" sergahku menghempas cekalannya dan bangkit.
Elvan berusaha mengejarku yang berjalan tergesa melewati koridor samping gedung.
"Rin, tolong aku. Cuma kamu yang bisa!" rengeknya sambil mengekoriku.
Aku berhenti, lalu berbalik badan dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Banyak hal berseliweran di kepalaku saat ini.
"Tolong dari apa?" tanyaku dengan sorot mata menegas.
"Dari mereka!"
Dahiku mengerut heran. "Kasus?"
Elvan menghempas napas ke udara, berdiri nanar menatapku. Kedua tangannya lalu terangkat, meremas rambutnya yang kusut.
"Iya. Please ...."
Aku menggeleng pelan, tak paham maksudnya. Saat akan bertanya lagi, tiba-tiba sebuah suara terdengar.
"Jangan percaya padanya, Rin!"
Kami sontak menoleh ke arah sumber suara. Elvan terlihat kian putus asa, dia seakan bersiap kabur.
.
.