Cinta Tertinggal

Syaban Caper

"Siapa kamu?" tanya Elvan dengan sorot mata tajam.

 

Aku menarik lengan Sila agar menjauh dari mereka. Rasanya tiada guna meladeni sesuatu yang bukan urusanku.

 

Tapi, Elvan merentang lengan menghalangi langkah kami. Karena hal ini, Sila pun balik menggenggam jemariku, lalu menepis kasar tangan Elvan dan mengangkat telunjuk ke wajahnya.

 

"Jangan ganggu dia," ujarnya sinis sambil menelengkan kepalanya padaku.

 

Elvan beralih pandang padaku, sorot matanya penuh tanya. "Rin?" lirihnya meminta penjelasanku.

 

Aku hanya diam, menatap manik matanya sesaat sebelum Sila menarikku menjauh.

 

Sekilas dari ekor mataku, gadis cantik yang berdiri di belakangnya langsung meraup wajah Elvan agar tak lagi melihat kepergianku.

 

Sila terus menarikku sehingga aku melangkah tergesa. Begitu tiba di parkiran, aku kembali dikejutkan manakala Sila membuka pintu mobil. Sudah hadir seseorang di sana.

 

Aku pun berdiri mematung di sisi pintu, segan untuk masuk. 

 

"Halo ...," sapanya semringah padaku.

 

Glek! 

 

Mati kutu kamu, Rin! Aku membatin meski wajah tersenyum canggung. 

 

Kulambaikan jemari, sembari menjawab, "Halo, Nyonya." 

 

Beliau pun membalas dengan senyuman manis nan meneduhkan.

 

"Mohon maaf ... lekaslah masuk, Nona." Sila menoleh dan berkata dingin padaku dari balik kemudi. 

 

Huft! 

 

Tak ada pilihan lain, aku duduk di sebelah beliau, sebab terlihat antusias saat menepuk sisi kirinya yang kosong. 

 

Perlahan HR-V silver ini pun meninggalkan pelataran kampus. Entah menuju kemana, aku tidak tahu. 

 

Beberapa menit berlalu, masih tiada obrolan di antara kami. Hanya suara Tata Janeeta dengan tembang penipu hatinya, yang mengisi kabin. 

 

Aku memilih memeriksa ponsel, siapa tahu ada pesan dari Elvan yang menjelaskan perkara tadi. Tapi, harapanku nihil. 

 

Justru pesan Syaban mendominasi ruang chat senja ini. Aku diam-diam melirik ke arah kananku, kuatir beliau memperhatikan kecanggungan yang sedang berusaha kualihkan.

 

["Rin ... minta tolong temani Nenek jajan, ya. Aku masih nge gym, nanti kususul kalian."]

 

["Sudah banyak yang menawarkan diri menemani. Mulai mbak sampai satpam dan bocil tetangga ... tapi, beliau malah minta ketemu Maisy. Ck, maafin ya, permintaan manula cute susah diduga."] 

 

["Aku yakin sih, kamu nggak ada acara setelah ngampus. Dan pasti mau, hehehe."]

 

Aku membaca pesan Syaban sembari mengulas senyum. Percaya diri sekali dia itu. 

 

"Maafin, ya. Ganggu waktunya Maisy?" tanyanya sembari mengusap lembut pundakku.

 

Deg! Tubuhku membeku.

 

Usapan ini ... belaian ini ... seperti ibu. Sentuhan yang sudah lama tak kudapatkan semenjak insiden Ari. Bahkan ketika kondisi ibu sudah dikatakan membaik, tak kunjung lagi kurasakan kehangatan seperti dulu.

 

Aku perlahan menunduk, teringat kekosongan hati. Rasanya sesak sekali sampai tanpa sadar kuusap dadaku pelan.

 

"Maisy sakit?" Lagi, suara lembut itu terdengar cemas. Beliau sampai memiringkan posisi duduknya dan meraih helai rambut yang menutupi pipi lalu menyelipkan ke belakang telinga.

 

Wajahku diraupnya, manik mata kami bertabrakan sesaat sebelum aku kembali menurunkan pandangan karena segan.

 

"Nanti cari makanan berkuah hangat ya, juga es krim. Biar hepi," sambungnya lembut sambil tersenyum saat meraih daguku agar melihatnya.

 

Aku hanya mengangguk pelan. Kupaksakan tersenyum agar beliau tak merasakan kesedihanku.

 

Setelah itu, tanganku digenggamnya. Terasa hangat sampai aku merasa tenang dan bersandar sembari memejamkan mata sejenak.

 

Kangen ibu. Kangen sekali.

 

Macet membuat perjalanan kami terlambat setengah jam. Syaban malah tiba di sana lebih dulu. Dia melambaikan tangannya ke arah kami saat melewati sebuah resto.

 

Sejujurnya aku minder, dia terlihat tampan sekali petang ini. Sedangkan aku dari pagi hanya ganti atasan saja. Entah bagaimana rupaku, pasti acak-acakan.

 

Deg!

 

Makanan Jepang. Ini ... Inikan ...

 

Aku ragu-ragu saat akan masuk, nggak mungkin Syaban tahu tentang keinginan lamaku. 

 

"Rin!" tegurnya ketika melihat aku hanya berdiri sementara nyonya Atin sudah memilih tempat duduk.

 

"Eh ... I-iya." 

 

"Restoran ayam kan sudah biasa ... sejak lama, aku pengen makan di sini, tapi nunggu sama keluarga. Ayo!" ucapnya sembari melukis senyum dan memintaku segera masuk.

 

Hah, apa katanya tadi? 

 

"Aku juga, pengen makan di restoran Jepang tapi dengan keluarga. Itu keinginan Arina si gadis kampung," gumamku menunduk saat berjalan mengekori Syaban menuju meja. (Bab awal pernah disampaikan)

 

Sebelum duduk, kupandangi keduanya selintas. Ingin ada ibu, bergabung di sini saat ini..

 

Nyonya Atin memilihkan beberapa menu untuk kami. Namun, aku dan Syaban malah hanya menghabiskan dua menu saja. Dia bahkan berkali-kali meletakkan ini dan itu ke pingganku. 

 

Tapi, aku jadi tahu makanan kesukaannya. Kukira dia type pria rewel soal menu, tapi ternyata sama denganku, dominan sayur dan protein nabati.

 

Tak lama kemudian, Arman datang membawa sesuatu dan langsung pergi lagi. Ngapain si Olaf, pikirku.

 

"Ganti, Rin. Kakimu capek," kata Syaban sembari membungkuk, meletakkan sandal baru di dekat kakiku. 

 

Nyonya Atin hanya tersenyum melihat sikap cucunya. Sedangkan aku malu sendiri, lupa membawa sandal malah merepotkan orang lain.

 

Entah sedang melakoni peran apa diriku malam ini, beliau mengajakku ke salon, creambath juga belanja beberapa pakaian.

 

Kukira untuk cucunya yang lain sebab beliau selalu meminta pendapat Syaban. Namun, ketika aku akan mengambil alih tas belanjaan di kasir, Syaban malah menyerobot duluan.

 

"Wanitaku dilarang bawa ginian," katanya lirih, seraya melenggang pergi lebih dulu.

 

"Hah? A-apa, Pak?" 

 

"Biarin dia belajar," sambung nenek Atin, menggaet lenganku dan berjalan beriringan menuju parkiran.

 

Syaban nampak begitu manly ketika membuka pintu mobil untuk kami. Tatapannya padaku begitu syahdu, entah apa yang sedang dia pikirkan tentangku.

 

Saat mobil mulai melaju, ponsel Syaban berdering. Nada bicaranya terdengar dingin dan pendek. Mungkinkah ada hal penting yang mendesak? 

 

"Begitu, ya! ... jauhkan perlahan. Aku nggak mau tahu," ucapnya pelan. 

 

"Hem, milikku!" sambungnya lagi, masih terdengar ketus.

 

Aku memilih memejamkan mata, toh obrolan Syaban bukan urusanku. Ini akhir pekan yang melelahkan.

 

Otakku dipenuhi oleh Elvan, siapa gadis cantik tadi, terlihat sekali dari penampilannya bahwa dia orang berada. 

 

Apakah Elvan pernah menjalin hubungan spesial dengannya? Pikirku.

 

Tak lama kemudian, kendaraan silver ini berhenti di depan kosan. Aku pun pamit pada nyonya Atin seraya mengucapkan terima kasih atas makan malam yang penuh kehangatan. 

 

Pintu kiriku lantas dibuka Syaban. Aku pun turun dan terkejut ketika semua tas jinjingan tadi ada ditangannya.

 

"Pak?" Tunjukku pada tangan kanan Syaban.

 

"Hadiah dari nenek. Di terima, ya," pintanya sembari menyodorkan semua itu padaku.

 

Aku menggeleng, menolak pelan tapi suara dari dalam mobil membuatku terpaksa menerima.

 

"Makasih banyak, Nyonya," kataku mendekati mobil lagi dan dibalas usapan lembut di pipi.

 

"Rin, dia menyakitimu?" tanya Syaban saat aku menjauhi mobil dan memencet bel pagar. 

 

Teettt!

 

"Siapa?" balasku mengernyit heran.

 

"Masa lalu." 

 

Aku memandang Syaban sejenak sembari berpikir tentang seseorang. "Hmm, entahlah."

 

Bang Ben pun muncul mendorong pagar sedikit lebih lebar dari biasanya. Mungkin menduga bila Syaban akan mampir. 

 

"Dia menawarkan harapan semu, Rin. Hati-hati ... tadi, kamu baru saja bertemu masa depannya," beber Syaban masih melihatku penuh kelembutan.

 

Aku terkesiap, iris mataku sedikit melebar mendengar penuturan Syaban. Tapi, rasanya ragu sebab Elvan belum memberi kabar apapun.

 

"Aku balik, ya. Langsung bobok, nggak usah nungguin apapun." 

 

Syaban berbalik badan dan masuk ke dalam mobil. Sementara aku masih berdiri di depan pagar dengan Bang Ben.

 

"Non, sini ... jinjingan kau, Abang bawakan," kata Bang Ben menyadarkan aku. 

 

"Oh, iya. Makasih." 

 

Aku pun melangkah masuk dengan isi kepala yang carut marut. Dan tiba-tiba, sebuah suara kembali mengagetkanku.

 

"Riiiiiiiinnn!!"

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!