Cinta Tertinggal
Kembalinya Elvan
Aku memberanikan mendekat dan menyilakan dia untuk duduk kembali, berseberangan denganku.
Satu menit berlalu, kami hanya saling diam. Akhirnya Elvan membuka suara, dia menanyakan kabarku. Sungguh basa-basi, bukankah dia tahu aku dalam kondisi bugar saat ini? Batinku.
"Ibu gimana kabar, Rin? Aku ke panti yang dulu tapi kata petugas, beliau sudah pindah ... Kukira beliau tinggal denganmu," ucap Elvan beruntun, kedua netranya menatap lembut padaku.
Aku tak langsung menjawab, sempat meliriknya sekilas sambil menghela napas. "Ada keperluan apa, Kak? Darimana kamu tahu kalau aku di sini?" tanyaku dengan nada datar diikuti pandangan jengah.
Elvan terlihat menyunggingkan senyum tipis yang menurutku makin membuat ketampanannya naik 20%. Jangan banyak-banyak memujinya, aku masih dongkol. Rutukku dalam hati.
"Cantiknya nambah, tapi judesnya gak hilang," seloroh Elvan masih mempertahankan senyum andalan. "Aku cuma mau mengganti masa yang terbuang, Rin. Dan semua niatanku didukung Tuhan. Aku dipertemukan lagi denganmu di sini," jelasnya tak melepas tatapan lembutnya.
"Entah bagaimana rasa hatimu saat ini tapi aku ingin menyampaikan satu hal padamu," jeda Elvan, sejenak menunduk sebelum duduk menegak sambil menatapku lekat. "Sebelum menyesal lagi ... pengen banget kamu tahu bahwa sejak awal, aku sayang kamu, Rin."
Deg!
Blush!
Elvan tersenyum manis, iris matanya terlihat sangat teduh, memandangku nyaris tanpa berkedip.
Kuakui, sejak dulu pesona Elvan sulit untuk ditepis. Sayangnya, mengapa dia mengatakan semua ini di saat aku ingin menghindar darinya?
Kami terdiam lama sampai azan Maghrib selesai berkumandang. Aku lalu memutuskan bangkit dengan alasan belum mandi padahal enggan memberikan tanggapan atas pernyataan Elvan tadi.
"Rin!"
Aku menoleh padanya sebelum beranjak. "Apa?"
"Kamu juga, kan?" tanyanya ikut bangun berdiri, pandangannya kali ini berubah mengiba.
Entahlah, hati ini terasa datar. Padahal, kalimat itulah yang kutunggu sejak mengenalnya, tapi tak kunjung kudengar.
Namun, ketika kali ini aku begitu mudah mendapatkan pengakuan Elvan, mengapa rasanya sangat hambar. Walau tak kupungkiri masih tersisa rasa sayang untuknya.
Aku membalas tatapan Elvan dan berkata lirih, "Entahlah, Kak. Aku nggak tahu," jawabku lemah seraya menunduk dan bersiap balik badan.
Elvan mencegah dengan berujar, "Masih kecewa karena Ari?"
Rasanya sesak kembali datang ketika nama kembaranku disebutnya. Aku enggan menanggapi, memilih berjalan menjauh.
"Rin!" seru Elvan memanggilku yang berjalan tergesa masuk ke dalam.
Aku gegas menaiki tangga dan langsung menekan panel pintu kamar. Jangan sampai ada yang melihatku menangis.
Diri ini masih belum terlalu ikhlas menerima nasib Ari. Kata pak ustadz, kita akan meninggal sesuai kebiasaan sehari-hari. Kembaranku bukanlah pengedar tapi mengapa dia binasa karena fitnahan?
Hatiku berdenyut nyeri, apalagi harus menerima fakta bahwa kami tak bisa melakukan apapun. Disebabkan oleh salah sangka tapi akibatnya fatal, aku kehilangan keluargaku.
Brak! Kusandarkan tubuh lelah ini dibalik pintu.
Deru napas tak beraturan membuat dadaku naik turun dengan cepat. Perlahan, aku pun jatuh terduduk di sana.
"Maaf. Aku gak tahu harus bagaimana?" rutukku seraya melipat kedua lutut dan membenamkan wajah pada tumpuan kaki.
"Tugas beratku memberi penjelasan pada ibu. Jika beliau menerima pun, rasanya tak mungkin bila kita bersama, Kak," gumamku masih memeluk lutut.
Ternyata mengingkari perasaan yang selama ini dipendam lalu mengetahui bahwa rasa itu bersambut, sakitnya terasa sampai ke Malaysia, jauuuuhh.
Kutengadahkan kepala membentur panel pintu sebelum bangkit berdiri guna membersihkan diri untuk salat. "Mana yang akan kau pilih kali ini, Rin? Ibu atau dia?"
Notifikasi dari ponsel yang belum aku isi dayanya membuat diri ini perlahan bangun. Kusambar benda pipih itu sebelum mematikan data dan menyambungkan dengan charger di atas meja.
Ada beberapa pesan masuk yang masih tampak di pop-up. Dari Eka dan Diah, mereka gagal menginap malam ini karena sibuk dengan tugas kuliah.
"Semangat ya ladies, kita sama-sama gapai mimpi!" lirihku sembari berjalan ke kamar mandi, mulai membuka pakaian.
Satu jam terlewati begitu saja. Kini aku duduk di karpet bersiap mengerjakan tugas kuliah. Aku juga mulai menyantap makan malam, dibarengi dengan membuka laptop dan mengecek ulang email tadi sore.
Kuamati isi pesan surel di depan mata, semua lengkap dan tersusun rapi. Tanpa sadar, bibirku melengkungkan senyum tipis. Kuraih gawai dari samping kananku, bermaksud mengirim pesan pada Pak Arman.
Namun, belum juga mengetik pesan, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari sang asisten.
"Ni asisten merangkap pawang signal kali ya? Kek punya tiang BTS sendiri, peka amat," kekehku seraya menggulir tombol hijau ke atas.
"Ma-," sapaku riang tapi dijegal sang asisten.
"Malam, Nona. Jangan tanya saya, silakan hubungi nomer berikut ini," kata Arman langsung ke inti pembicaraan, membuatku melongo. Dia bahkan tahu apa yang ingin kutanyakan. Hebat!
Tut. Panggilan diputus sepihak oleh Arman.
Aku mengerutkan dahi kala sambungan mendadak terputus. Kubuka chat pria itu, ternyata dia mengirimkan satu kontak di sana.
"Ooohhhhhhhh...." Bibirku spontan membentuk bulatan sambil mengangguk.
Aku lalu menyimpan kontak dari pak Arman, kemudian mengirim pesan terima kasih pada keduanya. (Clue)
Tak lama setelah itu.
Baru saja kuletakkan handphone di sisi laptop, satu panggilan kembali masuk. Kali ini dari seseorang yang sedang tak ingin kurespon.
Aku abaikan ponsel yang bergetar di atas meja. Akan kubalas nanti pesan beliau sebab tugas kuliah ini harus kusadur dan rapikan sedikit sebelum mataku mengantuk.
Notifikasi pesan beruntun kemudian mulai terdengar. Aku mengintip dari pop up sembari tersenyum. Dia lagi-lagi mengingatkan banyak hal untukku.
"Iya, sudah. He em ... sedang dikerjakan dan langsung bobok, kok." Aku menjawab pertanyaan beliau sembari tersenyum melihat ke arah gawai yang tergeletak, seolah benda pipih itu adalah dirinya.
Keesokan pagi, kamarku sudah dikunjungi dua kurcaci. Mereka numpang makan dan mandi, bilangnya kangen tapi bagiku lebih ke pemanfaatan sumber daya. Maklum, tanggal tua.
Diah melihat bekas kotak makan juga goodie bag yang masih berantakan di atas meja. Eka yang memang bekerja di Mall, tentu tahu jika tulisan di tas karton itu adalah sebuah merk kenamaan. Keduanya pun mulai berkicau, menikung tugas burung Kenari milik bapak kos.
"Wuih, aroma gratisan ... dari siapa, nih?" seloroh Eka, melirik ke arahku sambil mengangkat goodie bag dari atas meja. Dia bahkan mengendusnya seolah memang wangi.
Aku mengendikkan bahu dan melanjutkan make up, sebab pesan pertama yang masuk pagi ini, mengatakan aku harus bersiap lebih awal.
Eka tahu pasti sikon keuangan dan kebiasaanku. Tak mungkin aku menghamburkan uang untuk sesuatu yang memiliki fungsi sama seperti barang dengan harga terjangkau.
"Wangi gratisan kek mana? Kayak botol sampo yang habis lalu diisi air?" kekeh Diah. Dia pun mengangkat bekas makan yang lupa kubereskan. "Bukan masakan resto. Dikirim pak COO, ya?" tebaknya sambil menaik-turunkan alis melihat ke arahku yang masih diam.
Tatapan keduanya kini tertuju padaku, menuntut sebuah jawaban. Tapi, aku berpura acuh dan malah meninggalkan mereka guna mengambil tas di dalam kamar.
"Aku duluan. Beresin lagi, ya!" titahku pada keduanya sambil berjalan ke arah pintu.
"Eeh, tunggu. Kita nebeng," kata mereka gegas mengikutiku keluar kamar, lupa dengan pertanyaan tadi.
Bukan Diah jika tak gaduh dan ceroboh. Dia nyaris jatuh dari anak tangga turun jika Eka tak menahannya. Sementara aku sudah mulai melewati pagar.
Dan benar saja, pagi ini aku disodori kejutan lainnya.
"Loh, Pak Arman?"
"Heemm." Wajahnya sangat datar ketika membuka pintu mobil. "Silakan!" katanya masih berdiri di depanku.
"Makasih!" Eka dan Diah yang baru saja tiba langsung masuk dan duduk di dalam mobil. Mungkin mereka kira, ini adalah ojol pesananku.
Aku terkekeh geli ketika melihat ekspresi pria di hadapanku.
"Heh, kalian, keluar!" sentaknya pada kedua sahabatku.
"Pak, maaf. Aku izin bawa mereka pagi ini saja," ujarku sambil menangkup kedua tangan di depan dada.
Dia menoleh padaku dengan sorot mata menusuk. "Tapi ....!" tunjuknya pada mereka.
Diah yang melihat ini, langsung mendelik tajam dan berkata, "Duh, pak ojol, setelanmu sudah manis jadi jangan dingin begitu. Nanti ketuker sama es buah, brabe!" celotehnya mengundang tawa kami.
Aku sudah menahan senyum, saat menyadari ekspresi dingin pria ini.
"Liat kamu ingat asahan. Bawaannya pen nyelurit!" ucapnya sambil melotot pada Diah.
Bruk! Dia membanting pintu kedua lalu memutari mobil dan duduk dibalik kemudi.
Aku menarik tuas pintu depan sambil tertawa renyah, begitupun Eka. Sementara Diah memanyunkan bibirnya.
"Awal jumpa sudah kisruh, awas jodoh," sambungku seraya melirik keduanya tepat ketika mobil mulai melaju.
"What!"
"Hweeehhh! Jodoh sama Olaf?" seru Diah sambil memegangi pipi, menunjuk pria asing dihadapannya. Dia memanggil Arman dengan sebutan Olaf, si boneka salju di film animasi Frozen.
Aku lagi-lagi tertawa, tapi langsung terdiam ketika ponselku berbunyi, dan melihat satu nama di layar.
Deg!
Deg!
.
.