Cinta Tertinggal

Badai milik Maisy

Aku hanya sebentar di sini. Sebelum pergi, aku menengadahkan wajah ke angkasa sambil memejam. Merasakan anak surai yang tergerai, ringan tersapu angin senja.

 

"Ya Robb, mari kita mulai lagi ... aku kini siap bertarung!" gumamku seraya tersenyum. 

 

Tidak, bukan menantang Tuhan tapi aku belajar pasrah. Bila memang harus remuk dan babak belur di dunia, aku masih menyimpan secuil keyakinan bahwa ganjaranku telah menunggu di alam lainnya.

 

Aku lalu berjalan keluar taman dan baru sadar jika tidak ada angkot yang melintas di sini. Taksi konvensional pun tak terlihat. 

 

Huft. Aku merasa makin lelah.

 

Kurogoh saku celana, meraih gawai berniat memesan ojol. Namun, tiba-tiba ponselku berbunyi. Panggilan dari seseorang membuatku merasa sedikit merasa tenang. Entah mengapa.

 

"Rin, Civic hitam di depanmu siap mengantar pulang."

 

Suara Pak Syaban. Aku celingukan tapi tidak melihat mobilnya. 

 

"Bapak nguntit?" cicitku spontan, tapi buru-buru kututup mulut ini dengan telapak tangan kanan.

 

Sepi, tidak terdengar jawaban.

 

"Masih punya kekuatan bulan, Rin? untuk pertarungan selanjutnya," kata Syaban lembut dari ujung panggilan, mengabaikan tuduhanku tadi.

 

Aku menelan ludah kasar, mengapa pertanyaan mudah begini tapi sulit menjawabnya.

 

Seorang pria lalu menghampiriku yang mematung di pedestarian taman. Dia merentang satu lengannya menunjuk ke arah mobil di seberang. 

 

"Mari, Nona," katanya padaku. 

 

Lelaki ini terus berdiri menunggu membuatku terpaksa mengikutinya dan masuk ke mobil. Panggilan kami masih berlangsung ketika kendaraan mulai meninggalkan taman.

 

"Jangan ditahan, keluarkan saja supaya perihnya sayatan itu sedikit berkurang." 

 

Aku sadar suara lembut ini milik pak Syaban, rasanya ingin terlihat tegar di hadapannya tapi tubuhku tidak sepakat. Satu tetes air mataku kembali jatuh.

 

Kutahan isakan dengan menjauhkan ponsel. Tapi rupanya, bukan kata-kata beliau yang membuatku kembali kalah. Aku bagai duduk di sebelah ayah, seolah mendengar nasihat dari almarhum.

 

"Entah kenapa, senyum orang yang memiliki luka mendalam itu sangat memesona."

 

"Tapi dibalik itu semua, Maisy memang sudah menawan ... emas tetaplah emas."

 

"Tuhan berhak mengambil apapun, Rin. Tapi, mintalah satu hal saja padanya," tutur Syaban beruntun masih dengan suara lembut, menyapa telingaku.

 

Perlahan, aku kembali mendekatkan gawai ke telinga. "A-apppa, Pak?" tanyaku dengan suara parau akibat menahan isak.

 

"Iman ... meski jatuh tanpa sandaran, menangis tanpa adanya pelukan, menyembuhkan luka tanpa bercerita ... jika punya iman, Tuhan takkan melepaskanmu." Nada bicara Syaban begitu pelan dan terdengar penuh kasih. 

 

Kucermati ucapannya seraya menyeka sisa air mata di pipi. 

 

Entah mengapa, rasanya nyaman mendengar suara orang lain meski tak banyak kalimat. Tanpa temu juga tatapan penghakiman. Itu lebih mudah masuk ke otakku yang dangkal.

 

"Setiap malam kita tidur, nggak tahu esok masih hidup apa enggak ... tapi kita tetap masang alarm, 'kan?" 

 

Suara Syaban kembali terdengar. Aku tanpa sadar mengangguk. "He em."

 

"Supaya apa, Rin?" 

 

"Bangun, Pak," jawabku singkat.

 

Hening.

 

Aku membayangkan dia sedang tersenyum di ujung sana, sebab deru napas halus yang menyapu speaker. 

 

"Yes ... itulah harapan. Dan kamu masih memiliki itu."

 

Deg!

 

'Benar, ikhtiar masang alarm untuk bangun padahal usia adalah rahasia. Sama sepertiku ... ke Jakarta cari kerja, nabung untuk sewa pengacara, dan mengobati ibu ... karena aku masih yakin memiliki harapan,' batinku merenungi kalimat Syaban barusan.

 

"Pak!" sebutku lirih.

 

"Ya?"

 

"Terima kasih banyak."

 

Syaban terdengar semringah. "Feel better?" 

 

"Very well." Aku lirih menjawab, wajahku pun terasa hangat sembari mengulas senyum tipis.

 

"Assalamualaikum." Panggilan pun langsung terputus. 

 

Aku melihat ke belakang kaca mobil. Tidak ada kendaraan pribadi milik pak Syaban, hanya terlihat beberapa taksi juga mobil lain yang membaur di jalanan. 

 

Bisa jadi aku yang tak tahu, bahwa Syaban mungkin berada di dalam salah satu taksi yang mengelilingi mobilnya ini.

 

"Wa alaikumussalaam."

 

Kupandangi layar gawai yang meredup. Hatiku terasa ringan berkatnya. Niatku pasrah makin bulat, ikut maunya Tuhan.

 

Tak lama, aku tiba di kosan. Setelah membersihkan diri, aku buru-buru menghampar sajadah. Namun, bisikan-bisikan itu mulai datang lagi.

 

'Mengapa orang-orang yang memegang ibadah, keluarganya tak neko-neko malah diuji sedemikian rupa.'

 

Kenapa Tuhan memilih bahuku, dan yakin jika bisa melalui ini. Hanya memiliki sedikit teman karena tak bergaul. Sangat tahu diri, takut dicaci bahwa aku cuma gadis kampung anak tukang cuci.

 

"Ya Robb, aku nggak tahu siapa yang berbisik di kalbu. Jangan cabut imanku ... jangan," rintihku pilu di sisa tenaga.

 

Rupanya badanku mulai meminta jatahnya. Aku merasa demam dan tertidur begitu saja di atas sajadah, masih mengenakan mukena.

 

Aku terbangun tepat azan subuh dan merasakan badanku kian tak keruan. Buru-buru kukirim pesan pada manager PR bahwa aku sakit, lalu ponselku mati dan kembali memejam.

 

Terdengar suara berisik tapi aku malas membuka mata. Bahkan gerayangan dan gigitan semut di lengan kiri tak mampu mengusik tidurku.

 

Mataku semakin berat. Namun, tubuhku rasanya ringan dan sangat nyaman.

 

"Ibu!" gumamku, seolah tidur di sebelah beliau karena merasakan kehangatan.

 

Entah berapa lama aku tertidur. Tepukan di pipi mulai terasa sakit. Namaku dipanggil sangat keras, hingga memaksa kelopak mataku terbuka. 

 

"Alhamdulillah." 

 

"Rin!" 

 

"Reeenn!!"

 

Suara Eka, ibu kos dan Diah. Ada apa ini? Mengapa mereka terlihat cemas dan mengerubungiku? 

 

"Ren, Ren. Bikin watir!" hardiknya sambil menepuk kakiku.

 

Aku masih mengerjapkan kelopak mata, seiring suara berat yang keluar. "Aku kenapa?" 

 

"Pingsan, dan demam tinggi Non. Dua hari ... makanya diinfus," balas ibu kos sambil menunjuk tangan kiriku.

 

Pantas saja sakit, ternyata mimpi digigit semut mungkin saat jarum infus menusuk kulitku.

 

Bada asar, badanku terasa sangat enak sehingga anak ibu kos yang berprofesi sebagai suster, melepas infusanku. 

 

Aku langsung mencari ponsel dan mengisi daya lalu mematut diri di depan cermin. Mata cekung, rambut acak-acakan membuat rupaku bagai zombie. Eka lantas membantuku bersih-bersih sebelum dia berangkat kuliah sore.

 

Setelah isya, ibu kos mengetuk pintu kamar. Membawa berita bahwa di ruang tamu beliau ada yang mencariku. 

 

"Siapa, Bu?" 

 

"Anak PR, katanya ... mau ditemui di ruang tamu kos apa di rumah ibu?" tanyanya padaku.

 

Aku mengangguk. "Bawah aja, di teras kos. Dah bisa turun pelan-pelan kok, Bu," kataku lagi.

 

Kutemui mereka sesaat dan lumayan membuatku segar karena candaan teman-teman kerja.

 

Selang beberapa menit setelah mereka pulang, seseorang kembali datang mencari. Karena aku masih duduk di teras, ibu kos langsung membawa sang tamu menemuiku.

 

"Loh, Pak!" Aku buru-buru bangun menyambutnya.

 

Sang COO ternyata menyambangiku, membawa banyak makanan juga suplemen. Dia menyerahkan bawaannya pada ibu kos yang masih berdiri disampingku.

 

"Sudah baikan?" tanya Syaban sembari duduk di hadapan. 

 

Aku hanya mengangguk dan meminta tolong mbak pengurus kost-an membereskan kekacauan di meja bekas teman-teman tadi.

 

Tak lupa mengatakan padanya agar menyuguhkan minuman hangat untuk pak Syaban.

 

"Jangan dipaksain kerja dulu, kata dokter kamu gejala thypus," kata Syaban lagi, sesekali melihat wajahku. 

 

"Iya, Den. Ibu bakalan larang Non Arin kerja dulu soalnya dokter wanti-wanti sama ibu," sambar ibu kos saat kembali ke hadapan kami dan ikut duduk.

 

"Nah, setuju," sambung Syaban sembari mengacungkan jempolnya. "Masih pucet pula ya, Bu," imbuhnya lagi, menunjuk padaku.

 

Ibu kos dan Syaban tampaknya cocok, mereka asik mengobrol, tertawa renyah sementara aku hanya tersenyum simpul. 

 

Tak lama, dugaanku terbukti. Syaban mendekati ibu kos bermaksud meminta beliau untuk ekstra ketat menjagaku. Pujian yang Syaban sematkan padanya membuat ibu kos merasa sangat dihargai. 

 

"Siapp, Den." Ibu kos bangkit berdiri memberi hormat pada Syaban layaknya satpol pp.

 

"Hmmm, dapat budak info, ya," kataku saat ibu kos masuk ke dalam.

 

Syaban tertawa lebar, lalu memandangku sekilas sebelum menundukkan kepalanya.

 

"Kamu datang ke Jakarta sendirian, Rin. Hampir jadi tumbal dan sekarang sakit." Dia melirikku sesaat dari ekor matanya. "Kalau kamu tumbang, bagaimana dengan ibu?" sambungnya sangat pelan.

 

Deg!

 

Benar, bagaimana dengan ibu? 

 

"Istirahat, ya. Biar bisa ajak aku secepatnya kenalan sama ibu," katanya sembari bangkit dan tersenyum ke arahku.

 

Deg!

 

Aku buru-buru bangun, membungkukkan badan padanya seraya berkata, "Jangan terlalu dekat dengan badai, Pak. Nanti ikut terbawa arus, basah dan terluka," kataku sambil menatap punggung Syaban.

 

Lelaki itu berhenti, dia menoleh ke samping kanan lalu berucap, "Aku tak keberatan bila bajuku basah karena hujan yang turun di hidupmu, Rin!" 

 

"Aku nggak takut petir, bahkan hawa dingin yang menyergap raga ... selama badai itu milik Maisy."

 

Syaban mungkin merasa mengenalku sejak awal hingga sekarang, tapi aku tak rela bila dia ikut terseret dalam segara kerumitanku. 

 

"Aku cengeng, 'kan?" cicitku saat dia hendak melangkah menjauh.

 

Syaban menggeleng.

 

"Bilang aja iya," sambungku merengek padanya meminta pengakuan. 

 

"Enggak ... sebab aku nggak tahu seberapa lama dan kuatnya kamu menahan agar air mata itu tak jatuh ... sampai lukanya mengering dan sembuh," tuturnya lembut sembari melangkah keluar teras samping.

 

"Pak!" 

 

"Istirahat, Maisy. Kasus Ari, biarkan orangku yang mengurusnya," seru Syaban dari luar.

 

Aku membola. "H-aahh, darimana dia tahu?"

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!