Cinta Menyatukan Iman

Ketakutan Dinda

Najma diam-diam terus mengawasi gerak-gerik Dinda yang aneh dipandangnya.

 

"Eh gays aku ke belakang dulu ya tiba-tiba kebelet pipis," ujar Mira sambil meringis menahan air urinnya.

 

"Ya hati-hati Mira!" teriak Dinda takut terjadi sesuatu di jalan nantinya.

 

Ketika Mira pergi Najma pun menghampiri Dinda.

 

"Dinda, kenapa sih?" tanya Najma mengernyit bingung.

 

Padahal Dinda sengaja menghindar dari pertanyaan ini namun tetap saja ada yang bertanya kepadanya.

 

Sepertinya Dinda tidak mahir menyembunyikan masalahnya sehingga seseorang sangat mudah untuk mengetahuinya.

 

"Menyebalkan saja," gumam Dinda dalam hati. Sejak kemarin dia jadi tidak fokus untuk belajar atau mengobrol dengan sahabatnya yang ada dipikirannya saat ini adalah David.

 

"Din, pasti kamu lagi ada masalah ya? apa soal David?" ujar Najma lagi penasaran dia ingin tahu apa yang sedang sahabatnya pikirkan.

 

"Stop Naj!!" teriak Dinda sambil menutup telinganya, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis sejak tadi.

 

Nama seseorang yang telah membuatnya seperti ini telah disebutkan oleh Najma padahal dia tidak ingin mendengar nama cowok itu lagi.

 

Mendengar teriakan Dinda tentu saja membuat Najma kaget dia terkejut melihat respon sahabatnya ini saat dia menyebut nama David.

 

"Astagfirullah Din, ada apa denganmu? Apa aku salah ngomong kok kamu sampai seperti ini?" seru Najma dengan bingung sambil membawa Dinda dalam pelukannya.

 

Najma meletakan bukunya dengan asal di rak untuk bisa menenangkan Dinda, dia yakin sedang ada masalah yang berat yang sedang dipikirkannya sampai membuat sahabatnya ini lemah tak berdaya.

 

"Hiks, hiks Naj-ma apa yang harus aku la-kukan?" ujar Dinda dengan terbata-bata, air matanya terus menetes membasahi baju Najma karena posisi Dinda sedang bersandar di bahu sahabatnya itu.

 

"Memangnya ada apa Din apa yang telah terjadi sama kamu? Coba ceritain dulu biar jelas agar kalau aku tahu kan bisa bantu," sahut Najma dia bingung apa masalah yang sedang terjadi dengan Dinda yang pasti ini menyangkut David. "Apa David telah menyakitimu? Katakan Din, biar aku kasih teguran kalau dia macam-macam sama kamu."

 

"Bukan Naj," sergah Dinda saat mendengar emosi Najma yang siap membelanya jika ada yang berani menyakitinya.

 

Dinda terdiam hatinya terus beristighfar meminta ampunan dan kedamaian, sesekali dia mengerjapkan air matanya berusaha untuk menyudahi tangisannya namun dadanya terasa sesak.

 

Perlahan Najma membawa Dinda untuk duduk di bangku perpustakaan yang berada di paling belakang agar suara mereka tidak mengganggu pembaca yang lain.

 

Perlahan juga Dinda melepaskan pelukannya dia mengusap air matanya dan menarik napasnya perlahan lalu mengembuskannya.

 

"Apa kalian sedang berantem?" tanya Najma sambil memegang tangan Dinda yang terasa dingin.

 

Akhirnya Dinda menatap Najma dengan tatapan yang teduh, "Aku dilanda kebingungan Naj kemarin saat David ke rumah aku memberikan dia pertanyaan di mana aku ingin tahu tujuan dia untuk mendekatiku namun ternyata David diam dan malah menyuruhku untuk menjaga komitmen yang akhirnya aku bilang sama dia 'kalau memang seperti ini lebih baik kamu menjauh dariku atau aku yang akan menjauhi'." Dinda pun buka suara tentang hubungannya dengan David dan masalah yang sedang dihadapinya.

 

Mendengar cerita Dinda berhasil membuat Najma terkejut, "Kok kamu bisa ngomong gitu Din, apa kamu takut akan dosa karena bermaksiat dengan David?" pekiknya dengan ke dua alis yang saling bertautan.

 

Dinda menganggukan kepala dengan lemah, dia memang tidak mau berpacaran dengan David dia memang tidak punya status bahkan jarang sekali ketemu tapi Dinda hanya merasa capek karena perasaan cintanya tidak dianggap serius oleh cowok itu padahal dia sudah berharap jika David akan menemuinya untuk membicarakan soal lamaran dan pernikahan ternyata David masih terlihat ragu untuk melamarnya.

 

"Ya ampun Din." Najma kembali memeluk sahabat terbaiknya ini.

 

Dia tahu betul bagaimana Dinda menjaga dirinya dan hawa nafsunya selama ini untuk tidak berbuat maksiat dan mendekati zina.

 

Bagaimana pun Dinda sudah menjaga dirinya dengan baik sehingga banyak laki-laki yang ditolaknya mentah-mentah karena Dinda tidak menginginkan untuk berpacaran namun kedatangan David yang berhasil membuat Dinda jatuh hati kepada cowok itu yang juga sama memperjuangkan Dinda hingga cowok itu memutuskan masuk islam untuk mempelajari ilmu agama dan bisa menjadikan Dinda miliknya tapi karena Dinda tidak mau berpacaran akhirnya David mengerti akan hal itu hingga hubungan mereka pun berjalan begitu saja.

 

"Aku bingung Naj harus bagaimana lagi?" ujar Dinda lirih.

 

Air mata Dinda sudah mengering tapi matanya masih terlihat sembab hal yang tidak disukai Dinda adalah ketika meneteskan air matanya karena jika sudah menangis matanya akan langsung bengkak dan itu butuh waktu lama untuk mengembalikannya.

 

"Tenangin diri kamu dulu ya Din, minta petunjuk sama Allah siapa tahu kamu diberikan jalan keluarnya karena benar kata David menikah itu tidaklah mudah ya aku percaya jika David menginginkan akan hal itu juga," terang Najma dia memang tidak tahu yang mana kebenarannya tapi dia yakin jika David adalah sosok yang sungguh-sungguh saat mendekati Dinda.

 

"Iya Naj, aku tidak pernah berhenti untuk terus berdoa sama Allah semoga aku diberikan petujuk dan bisa keluar dari masalah ini sungguh Naj, aku takut Allah akan kecewa," jelas Dinda hatinya sudah berusaha untuk kuat dan sabar.

 

"Sabar ya Din, percayalah sama David jika cowok itu sungguhan dan tidak main-main sama kamu," seru Najma berusaha menenangkan hati Dinda.

 

"Bismillah aku yakin dengan David Naj, dia adalah sosok laki-laki yang baik dan amanah namun aku takut jika David akan berhenti berjuang meski pun dia tidak akan meninggalkanku tapi jika Allah tidak menakdirkan kita untuk bersama apa yang perlu diperjuangkan lagi?" Dinda hanya bisa pasrah pada kehendak Allah.

 

"Aku akan terus bersamamu Din dan membantu kamu untuk berdoa tapi kita kan tidak bisa memaksakan kehendak Allah jadi ya kamu harus kuat jika suatu saat David bukanlah jodohmu," tukas Najma dengan menatap wajah Dinda yang teduh.

 

Dinda terdiam, "Bismillah aku kuat Naj," katanya dengan tersenyum.

 

"Nah gitu dong ini baru Dinda yang aku kenal." Najma tersenyum membalas senyuman Dinda.

 

Tidak lama kemudian Mira pun datang dengan wajahnya yang cemberut.

 

"Ya ampun aku cariin kalian dari tadi ternyata ada di sini," omel Mira dengan menekuk wajahnya dan duduk di samping Dinda.

 

Dengan lembut Dinda membelai wajah sahabatnya ini, "Sorry ya Mira tadi kamu kelamaan jadi kita berjalan dan duduk di sini," balas Dinda.

 

"Udah dong jangan cemberut gitu jelek tahu, kan Dinda udah minta maaf tadi," timpal Najma membujuk agar Mira mau memaafkannya.

 

"Aku juga tadi bertemu dengan mantan pacar aku di jalan masalahnya dia bawa cewek jadi aku ikut emosi deh," ungkap Mira dengan nelangsa.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!