Cinta Kuli dan Misteri
Malam Lembur
Seseorang seperti berjalan cepat kearahku, langkahnya tampak buru - buru. Semakin dekat, dia Arlan salah satu bos buruh sepertiku. Mengawasi 30 orang di bawahnya, dia mendekat kearahku.
”Mas Adnan,” suaranya pelan, orangnya memang lembut, ”Mas Adnan dipanggil Bos, sekarang ya.”
Aku mengangguk padanya, ”Iya, saya akan segera kesana. Ada apa ya Lan?” Aku memanggilnya Arlan, dia lebih muda dariku dua tahun. Dia lulusan SMA sehingga dia ditunjuk sebagai mandor juga karena bisa menulis dan berhitung lebih baik dari yang lain.
”Gak paham aku Mas, ya sudah ya aku melanjutkan kerjaanku dulu juga. Aku tadi juga habis ketemu Bos. Aku disuruh lembur karena ada pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan.”
Aku mengangguk lagi, ”Oke, terimakasih ya Lan.”
”Oke Mas, sama – sama.”
Seperginya Arlan, aku menaruh alat dodosku yang aku gunakan menusuk janjang buah sawit. Aku meninggalkan rekan – rekanku dan berpamitan untuk ke ruang bos sebentar. Mereka pun melanjutkan pekerjaannya.
Aku membersikan tangan dan wajahku dari beberapa kotoran yang menempel. Aku menelusuri beberapa tempat pekerja lainnya yang sedang bekerja. Aku melewati beberapa kelompok yang juga sama denga kelompok kami. Aku pun tak lupa menyapa mereka, kalau sesama mandor pasti saling kenal karena sering berkumpul untuk urusan bayaran dari bos dan bonusnya juga.
Di depan sana, ruangan Bos. Ruangan bos juga berada di ruang depan dekat dengan ruang tamu jika ada tamu dari berbagai kalangan yang datang. Ada juga tamu yang mengambil karnel dan juga dari tempat pabrik minyak yang mendapatkan bahan baku dari pabrik kami. Mobil lalu lalang masuk dan keluar di ruang tamu itu, membawa bahan baku dari pabrik kami.
Aku mencapai ruangan Bos, aku mengetuk pintu dan bos mempersilakan masuk.
Bos Tama, dia duduk dengan kursi yang bisa berputar –putar dan tentu saja empuk terlihat joknya. Bos memutar kursinya dan menghadapku dan memintaku untuk duduk juga, kursiku juga berbusa namun tidak bisa berputar dan joknya lebih tipis.
”Mas Adnan,” bos Tama menggerakkan jari kanannya bergantian mengetuk meja seperti bermain keyboard organ. Kletuk, kletuk, bergantian dari ibu jari ke jari kelingkingnya. Aku pun terpaksa mendengarkan nada kletuk – kletuk tersebut, menunggu apa lagi yang akan diucapkan bos besar.
”Malam ini kamu ikutan lembur!”
Tegas dan tanpa peringatan, langsung to the point. Aku tak bisa menolaknya, namun apakah rekan kerjaku setim yang berada di bawah pengawasanku juga ikutan lembur ya?
”Saya sendiri atau dengan tim saya Pak?”
Bos Tama menunjuk ke depan, dengan jari telunjuknya hanya satu, perutnya yang besar ikutan bergerak maju sehingga kursi embuknya juga terlihat bergerak pula ke depan, ”Kamu sendiri, nanti ada juga mandor dari tim yang lain. Malam ini kita hitungan target, besok kan pembagian jatah pekerja. Jadi kita hitung untuk persiapan besok.”
Tegas, lugas dan to the point. Aku pun tak berani bertanya lagi.
”Siap Bos, kalau begitu saya kembali ke rekan saya yang lain untuk menyelesaikan target hari ini,” aku berdiri dan hendak undur diri.
Tanpa jawaban, bos Tama mengangkat telapak tangan kanannya ketas dan menggerakkan ujung – ujung jarinya ke arah pintu. Artinya, silakan. Tanpa suara, tegas, to the point dan tanpa ucapan sama sekali.
Itulah bosku, kalau baru pertama kali mungkin kita akan bingung orang ini marah atau tak senang pada kita. Namun faktanya, itulah bos Tama. Bicara seperlunya, dan banyak menggunakan isyarat. Bahkan, itu juga yang terjadi pada semua mandor yang ada di pabrik ini, dan semua menceritakan hal yang sama.
”Adnan!”
Aku menghentikan langkahku ketika sampai di pintu keluar ruangan bos Tama. Aku kaget karena biasanya bos Tama tak lagi bicara jika aku sudah pamitan keluar.
”Ada apa Bos?” aku menyamping, sambil tangan kananku masih memegang handel pintu.
”Kerjamu bagus, timmu selalu mencapai target kerja. Pertahankan dan terus tingkatkan!” tegas dan tanpa ekspresi. Itu sebuah penghargaan bagiku.
”Siap bos Tama, akan saya lanjutkan.”
Aku membuka pintu dan keluar lalu menutupnya kembali. Fiuh! Lega rasanya, dapat apresiasi dari bos Tama, orang paling tak suka bicara dan hanya sering berlaku dengan isyaratnya. Syukurlah, yang penting bukan teguran dari dia.
Dulu, ada yang ditegur olehnya yaitu mandor juga, esoknya diberhentikan karena berani membantah bosnya itu. Mandor itu protes dan merasa bos Tama tak adil karena memotong gajinya, hal itu karena target mereka tak terpenuhi dan si mandor tidak terima karena bonus dibatalkan. Dia protes dan meminta bonus meskipun tidak semuanya, bos marah saat itu dan memecatnya.
Bos yang kejam? Mungkin saja, tapi selama ini aku belum pernah dimarahinya kecuali hanya tegas terhadapku dan berpesan untuk selalu sesuai target kerja.
Aku pun kembali ke timku, rekan kerjaku satu grup. Mereka bertanya ada apa tiba – tiba aku dipanggil bos besar. Aku menceritakan bahwa aku diminta untuk lembur, mereka pun aku sarankan pulang bersama tanpa aku tentunya. Jika ada yang takut, pulang bersama – sama tentu saja mereka tidak akan diganggu oleh Setan atu hantu apalah itu.
Mereka pun agak kecewa karena mereka pikir akulah satu – satunya orang diantara rekan kerjaku yang paling tidak takut hantu. Aku bisa memimpin jalan dengan baik jika melewati perbatasan di rumah tua itu. Jika satu berani maka semuanya akan mengikutinya di belakangnya. Kenapa mereka sampai takutnya begitu ya.
Aku memberikan mereka nasehat, bahwa Setan itu akan takut jika manusia bersama – sama, asalkan nanti mereka membaca ayat kursi sehingga setan akan lari. Aku meyakinkan mereka ketika sudah sampai di Warung Krimo milik Mang Krimo, mereka berdoa bersama membaca ayat kursi. Maka, Adam pastikan tidak akan ada hantu yang mengganggu mereka.
Mau bagaimana lagi, akhirnya mereka mengerti juga. Aku memang harus lembur. Mereka pun kembali bekerja lagi, biar mereka belajar berani. Masak orang 30 bersama saja masih takut juga? Kebangetan kan tentunya.
Target kami juga sebentar lagi selesai, saat itu adzan maghrib berkumandang di masjid di seberang pabrik. Aku istirahat dan membersihkan diri dulu lalu mengambil air wudhu dan bersiap ke masjid. Nanti pulang dari masjid shalat, dilanjutkan lagi hingga pukul 08 malam. Beberapa ada yang mengikutiku, namun ada juga yang shalat sendiri dan istirahat minum dan makan kue atau nasi yang mereka bawa dari rumah.
@ @ @
Malam semakin larut, waktu kerja selesai untuk shift kami. Mereka berpamitan pulang bersama, konvoi seperti malam kemarin. Jono dan pak Ranu pamitan padaku pulang duluan, aku pun memberikan mereka salam dan meminta mereka hati – hati. Mereka pun pergi bersama meninggalkan pabrik dan aku kembali masuk.
Aku langsung menuju ke ruang tamu di depan, dekat dengan ruangan bos Tama. Beberapa orang sudah berkumpul disana. Beberapa orang nampak selain aku untuk lembur malam ini. Sekitar 10 orang, dan mereka semua adalah mandor sepertiku. Mereka adalah orang – orang yang dipercaya bos Tama untuk memimpin grup kecil, pasti mereka setidaknya bisa menggunakan pena dan juga dapat menghitung dengan baik.
Hal ini karena mereka akan menjadi tangan kanan Bos Tama dalam membagikan bonus, menghitung target dua mingguan dan juga mendaftar para bawahan yang berangkat dan izin setiap dua minggu tersebut.
Hasilnya, itulah yang didapatkan masing – masing orang dari gajinya selama dua minggu dan juga berapa bonusnya. Mereka harus merekap, aku pun memiliki tugas yang demikian tersebut. Tak beda dengan mereka. Shift malam ini ada 11 grup, dan kini semua mandor ada 11 tepat, dan aku juga masuk dalam 11 orang itu.
Aku menyapa mereka semua, semuanya pun menanggapiku dan aku duduk di kursi panjang melingkar U dan ada meja di depan satu. Itu tempat yang biasa kami berkumpul saat pembagian gaji atau honor pegawai dan juga tempat rapat jika ada masalah diantara para pekerja.
”Mas Fahri, Bos Tama belum kesini?” Aku bertanya pada Fahri, dia adalah mandor paling senior diantara kami semua.
Fahri menatapku, ”Belum Nan, dia tadi keluar sebentar katanya beli sesuatu.”
Aku mengangguk tanda paham. Beberapa mandor yang lain ada yang sibuk dengan hanphonenya sendiri dan ada juga yang tengah menghitung sesuatu dari kertas – kertas yang dikumpulkannya. Itu pasti kertas harian yang dia rekap, namanya Andi. Andi paling rajin kalau masalah menulis di kertas dan merapikannya, aku sendiri paling malas melakukannya, aku menggunakan catatan di hanphoneku saja.
Tentu saja sudah kuatur dalam spredshet, sehingga bisa mengeditnya jika ada perubahan setiap hari ketika akan pulang kerja.
Arlan terlihat masih santai, mungkin pekerjaannya sudah selesai atau dia mungkin sedang lelah sehingga hanya bersandar dari penyangga kursi di belakangnya.
Tak lama kemudian, Bos Tama datang dari kejauhan. Di sebelahnya ada pak Midan, salah satu satpam. Pak Midan nampak membawa kardus yang dipanggulnya di pundak kanan sedangkan tangan kiri pak Midan membawa bungkusan plastik besar.
Ya, tentu saja bos Tama jalan tanpa membawa apapun, kecuali hape di tangan kanannya. Namanya juga Bos Tama, siapapun tahu siapa dia. Bicara sedikit, tegas, kalau ada masalah habis semuanya. Namun, sebenarnya dia juga baik kok, dia juga mempekerjakan orang dengan memilih dengan baik kapasitasnya sehingga dia tak mau menerima hal suap misalnya. Dulu ada yang datang meminta saudaranya dijadikan mandor, namun dia diusir malahan sama bos Tama. Hal itu jika terjadi malah akan menyusahkannya di masa depan.
Orang menyuap itu katanya, tahu kalau dirinya tidak mampu tapi ingin mendapatkan hal yang diinginkannya. Memaksa, akhirnya semua semrawut jadinya.
Bos Tama pun duduk di kursinya sendirian, yang lain mengitari dengan kursi formasi O sekarang. Namun, bos Tama di sisi satunya sendiri. Pak Midan menaruh kardus dan plastik besarnya di meja.
”Buka pak Midan!”
Bos Tama mengisyaratkan dengan meminta Midan satpam itu untuk membukanya. Pak Midan pun sigap membuka kardus, itu berisi minuman dan juga makanan ringan. Sedangkan yang diplastik adalah nasi bungkus.
”Kita makan dulu sebelum meneruskan lemburan. Ambil semua! Pak Midan juga ambil dan makan juga ya.”
Pak Midan mengangguk, ”Siap Bos!”
Nah kan, bos Tama perhatian juga. Kami pun membagi makanan itu dan memutar siapa tahu ada yang belum dapat. Semua dapat bagian dan makan bersama. Aku membuka nasi bungkusku, lauknya rendang daging rendang, ada juga sayurannya dan tempe serta tahu. Porsi lengkap, aku membaca doa dan mulai makan.
Selesai makan, segala wadah dibersihkan dan Bos Tama memulai rapatnya. Ini adalah hal soal laporan harian untuk dua minggu sehingga besok siap untuk pembagian gaji. Kami akan dipercaya untuk diamanahkan sejumlah uang gaji dan bonus untuk masing – masing pegawai dalam pengawasan kami. Masing – masing 30 orang yang dibawah kami.
Kami merekap, ada yang dengan kertas, dengan buku dan hanphone. Semuanya menghitung lagi dan menilai apakah laporan sudah benar atau belum. Kami sibuk dengan catatan kami sendiri – sendiri.
Tanpa kami sadari, malam semakin larut dan kami masih berkutat pada laporan kami selama dua minggu itu. Bos Tama pun sudah masuk ruangan, katanya mau melihat laporan yang lain. Kami pun sibuk dengan urusan masing – masing kembali.
Hingga....
Klap!
Mati lampu, semuanya gelap dan kami diam sejenak. Hanphone dinyalakan, mulai terlihat terang. Satpam dan penjaga segera bersiap untuk menghidupkan genset jika listerik tidak segera hidup.
Sunyi dan gelap, lampu menyala di wajah – wajah kami, mirip hantu saja. Bahkan, Andi sedikit jahil dan menghidupkan santer hape tiba – tiba di bawah janggutnya. Hasilnya, wajanya bercahaya seperti hantu. Beberapa dari kami berjingkat dan akhirnya marah pada Andi, Andi malah tertawa. Dan, kami pun menunggu genset hidup atau listriknya hidup duluan.
Malam pun terasa menusuk kali ini, di malam lembur kami.