Cinta Kuli dan Misteri

Lingsir Wengi

Udara malam begitu dingin menusuk, seperti jarum – jarum yang menerobos dan menghujam ke sela pori – pori kami. Kami pulang dari pabrik, kami naik motor beriringan kali ini. Rumor soal hantu itu semakin kuat merebak, jadi pak Ranu dan Jono amat takut dan mereka semua kompak untuk pulang bersama.

Karena aku sudah janji dengan pak Ranu untuk pulang bersama, akhirnya aku pun mengikuti rombongan semuanya. Kami pun berkonvoi dengan naik motor berbaris. Malam mencekam, namun aku yang berada di depan menghentikan motor dan memencet klakson. Semuanya berhenti di sampingku, berhenti sejenak.

”Kenapa berhenti Mas?” pak Ranu terlihat agak gelisah, masihkah dia takut dengan hantu padahal sudah bersama – sama begini?

”Minum kopi dulu! Capek  kan semuanya,” aku melepas helmku, kita berada tepat di depan Warung Krimo, di ujung desa Pucuk Lebah dan Mang Krimo sedang bersantai sambil melihat televisi kecil di warung makannya itu.

Semuanya pun turun mengikuti aku yang masuk ke warung makan Mang Krimo. Aku memesan kopi hitam, yang lain pun sepertinya gelisah dan bingung hendak pulang atau tidak. Sepertinya mereka benar – benar ingin pulang tapi apa benar mereka tidak berani pulang sendirian?

”Apa kalian benar – benar setakut itu untuk pulang? Kalau memang takut, ya tunggu saja kita bareng – bareng pulangnya nanti.”

Mereka pun seolah agak bingung, beberapa pesan minuman kopi dan ada juga yang teh, ada juga es jeruk. Akhirnya, semuanya pesan juga meskipun dengan berbagai macam pesanan minuman.

”Wah! Alhamdulillah, gara – gara mas Bos bawa pasukan. Warung Mang Krimo langsung ramai, wah mantep! Sering – seringlah mas Bos!”

Mang Krimo, mang Krimo, ada – ada saja. Biasanya memang aku selalu pulang terakhir, mengecek target hari itu, kalau beres baru aku pulang. Namun, gara – gara cerita semalam yang membuat para ronda melihat hantu. Kini, semuanya merasa sangat gelisah ketika melewati rumah hantu itu. Padahal, tak biasanya mereka ketakutan begini.

Mang Krimo datang membawakanku kopi hitam, aku duluan ternyata. Di nampan Mang Krimo ada beberapa minuman kopi, setelah menaruh di depanku, Mang Krimo menuju beberapa kawanku tadi yang memesan kopi. Kopi lebih dulu.

”Kalau pas ramai begini, berarti aku gratis dong Mang,” candaku kepada Mang Krimo.

Bibir mang Krimo langsung memble, ”Ya Allah Bos, Mas Bos kan udah jadi bos, masak mau minta gratis. Malu itu sama pasukan!”

Ha... ha... ha.., aku tertawa saja. Namun, sepertinya gurauanku itu hambar. Benar saja, hanya aku dan Mang Krimo yang bisa bercanda. Semuanya seolah wajahnya pucat dan ada yang gelisah. Kenapa sih ini semua?

Aku sendiri malah jadi takut pada mereka, mereka saja malah kini seperti hantu itu sendiri.

”Kalian gak perlu takut sama Hantu! Mereka itu yang takut kepada kita! Kalian kan juga sering ibadah, ya gak perlu takut dong!”

Aku berteriak kepada mereka. Mereka duduk tapi seperti orang ingin cepat pergi. Mereka semua di bawah pengawasanku, 30 orang tepat. Semuanya takut melewati rumah tua di ujung desa hingga harus pulang konvoi, seperti mahasiswa konvoi mau demonstrasi saja.

”Kalian ini! Pak Ranu, kenapa sih sebenarnya kalian ini?”

Pak Ranu nampak kaget, wajahnya langsung menatap wajahku, ”Begini Mas, akhir – akhir ini banyak setan berkeliaran. Ini berhubungan dengan mendekati syuro, iya bulan syuro Mas. Semua orang takut menjadi tumbal dedemit.”

Astaghfirullah!

Aku menggelengkan kepalaku lagi. Ada – ada saja ini orang, jadi selama ini orang pada takut dengan syuro atau bulan muharram. Padahal bulan ini adalah bulan mulia bagi orang Islam, malah dijadikan lahan untuk menakut – nakutin orang lain.

Aku jengkel juga mendengar hal itu, apalagi tumbal. Tumbal apaan coba.

”Ayo Bos buruan pulang dong!” Suar pelan itu dari Jono, Tubuhnya yang besar tak sebandign dengan rasa takutnya, lihat saja keringat saja bisa muncul di wajahnya karena takut. Katanya pujangga, masak takut sama yang gak kelihatan. Bagaimana bisa menghadapi dan berani menghadapi yang kelihatan kalau yang gak kelihatan saja sudah takut.

”Bung Jono..., kamu juga takut dengan hantu, apa gak salah? Kalau hantu yang lihat kamu, dia pasti sudah lari duluan!”

”Jangan sembarangan Bos! Pasar malamnya sudah mulai buka ini, di depan sana itu ujung sana itu jalan masuk kita ke rumah satu – satunya. Buruan pulang yuk, sebelum pasar malamnya bertambah ramai!”

Jono berkata seperti itu tanpa punya perasan beban atau apapun, dia keluar saja itu bicara. Lha, gimana gak kocak coba. Pasar malam! Benar – benar ya, susah juga kalau semua orang sudah dirasuki klenik dan horor. Pas juga, orang sudah takut pada hantu dia malah sukanya nonton film horor, kan aneh!

”Sudah, dasar kalian ini semua! Sekarang yang ingin pulang duluan silakan pulang duluan! Saya akan menghabiskan kopi saya dulu!”

Semuanya terdiam, nah silakan saja yang mau pulang, pulang saja! Mereka pun lalu menyeruput minuman mereka masing – masing. Semuanya terdiam hanya saja wajah mereka nampak masih gelisah dan ingin segera pulang.

”Jono! Sebenarnya apa yang kamu takutkan dari hantu sih?” Aku bertanya agak pelan kepada Jono.

Jono pun menoleh kearahku, ”Bos! Hantu itu punya wajah yang menyeramkan. Bahkan, Ibuku yang galak dan sering memarahiku tak ada apapun dibandingkan dengan wajah hantu!”

Jawaban lugu Jono tentu membuatku penasaran, ”Memangnya Jono pernah melihat hantu dengan mata kepala sendiri? Kenapa bisa kamu mengakan wajahnya menyeramkan?”

”Benar Bos!” Jono agak berbisik agar yang lain tidak mendengarkannya, takutnya yang lain malah semakin ketakutan, ”Wajahnya sangat berantakan dan membuatku mau muntah. Wajahnya itu benar – benar bisa membuat kita tak bisa berbuat apapun dan tubuh menjadi gemetaran Bos!”

Aku semakin serius mendengarkannya, ”Kamu bertemu dimana hantu dengan wajah berantakan dan menyeramkan itu Jon?”

Aku memasang telingaku, karena kurasa Jono yang ada di dekatku itu tidak mau menakuti teman – teman. Dia berhati – hati hendak menceritakan kisah itu.

”Saya melihatnya...,” Telingaku semakin menajam dekat dengan bibir  Jono, dia pun semakin memelankan suaranya, ”Di televisi pak, film horor Indonesia.”

”Masyaallah!” aku tergaket, tak menyangka jawaban itu yang keluar dari mulut Jono.

Semua orang terkaget mendengarku berteriak, mereka ada yang langsung melompat dan ada yang berdiri dan semua melihat kearahku.

”Ada apa Pak?”

”Hantunya dimana Bos?”

”Apa ada hantu Mas?”

Aku semakin kesal, aku hendak marah karena sudah serius malah diprank, dasar si Jono! Tapi, begitu aku melihat wajahnya, sungguh disana dia seolah tak merasa bersalah sama sekali. Wajahnya bahkan sangat serius, ini orang beneran sadar gak sih dengan apa yang selalu diucapkannya? Aku melotot kearahnya.

”Beneran Bos! Aku tidak bohong! Aku benar – benar melihatnya di televisi, setan itu wajahnya benar – benar berantakan! Bahkan, aku sampai tiga hari tidak berani keluar malam – malam!”

Ya Allah, Jono memang Jono. Seriusnya dia itu kalau orang gak sabar dan gak mengenal dia pasti sudah aku jewer  paling telinganya. Orang sudah serius mendengarkan dia malah mengatakan di televisi. Lagian, dia tahu tidak sih kalau di televisi film itu semua bikinan manusia dan fiktif?

”Itu televisi Jono! Berarti bukan hantu beneran.”

”Tapi di televisi itu ditulis kisah nyata Bos, kisahnya diambil dari kisah nyata! Itu benar Bos!”

Masyaallah! Semakin aku geregetan juga ini. Sudahlah! Aku yang tadi berdiri dan terkaget kini reda sudah amarahku. Aku mengambil napas panjang dan menghembuskan napasku perlahan. Aku mengambil napas panjang lagi dan melepaskannya perlahan – lahan. Lega dan lega, sudah lega, dan akhirnya aku lega.

Aku menghempaskan tubuhku di bangku dan duduk lagi. Aku menyeruput kopi lagi, dan kembali kulihat mereka semua masih saja gelisah dan menunggu. Ada yang sudah habis air minumannya, pasti dia ingin selesai dan segera pulang. Aku masih menikmati kopiku.

Dari tadi aku sangat kesal dengan semua hal yang semuanya berujung pada hantu. Bahkan, si Mang Krimo saja kalau bicara soal hantu malah semangat dia. Katanya, orang takut hantu ada baiknya juga. Pertama; orang jarang bepergian malam – malam, kedua kalau orang mau lewat dan takut pasti mampir dulu ke warung makannya dan minimal beli minuman. Ketiga, kalau sudah akut takutnya, maka akan mampir di warung cukup lama dan pasti banyak pesan makanan.

Untung kan? Dasar mang Krimo ini juga.

Sedari tadi aku kesal, kini aku bernyanyi saja. Dulu, aku ingat sewaktu kecil. Mamak selalu mengajarkanku bernyanyi gending jawa, apa saja sepertinya aku ingat dan bisa menyanyikannya walaupun suaraku jelak, he... he... he...

Tiba – tiba aku ingin bernyanyi. Ya, pelajaran dari yang kudapat dari Mamak dulu, saat kau sedang sedih, sedang marah atau kesal. Nyanyi saja lagu jawa, maka kamu akan tenang karena lagu jawa itu adalah ketenangan. Tentunya, kecuali Gundul Gundul Pacul ya. Seperti lagu, Cah Angon, Lindri – Lindri, Kintamani dan lagu jawa lainnya yang dipopulerkan juga dengan lagu campur sari.

Tiba – tiba aku sangat ingin bernyanyi. Karena hari ini aku benar – benar kesal sekali. Aku menarik napasku agak panjang, bersiap bernyanyi untuk mencoba tenang meskipun sejenak. Kopiku juga hampir habis. Aku tak peduli dengan mereka semua, toh mereka semua diam seribu bahasa dan gelisah. Siapa tahu, lagu yang akan kunyanyikan ini cukup untuk mengobati gelisah mereka juga.

Ehm!

Aku berdehem sebentar, mengatur suara agar terdengar enak nantinya.

Hmmm.... Hmm......

Aku mengambil nada, sedikit terpejam dan mencoba merasakan angin malam.

”Pak Bos mau bernyanyi?” Jono tiba – tiba mengganggu konsentrasiku lagi.

”Iya Jonooo, kamu dengerin aja jangan banyak berkomentar,” Aku mendelik memberinya isyarat untuk diam dan tak menggangguku.

”Baik – baik pak Bos!”

Aku tenang kembali, berdehem dan mengambil napas agak panjang.

”Lingsiiirr Wengiiii...”

Hmmmm.... Hmm......

Tiba – tiba suaraku hilang, mataku masih terpejam tapi terasa mulutku disumpal oleh banyaknya kulit. Ada apa ini. Aku membuka mataku.

Dan... semua orang berada di sekelilingnya semua membungkam mulutku. Aku tak bisa bersuara sama sekali. Kenapa mereka ini, bahkan untuk menyanyi saja aku tak boleh, aku benar – benar kesal.

Aku memberi kode untuk melepaskanku, aku tak bisa bersuara. Mereka tak memberiku kesempatan, bahkan Mang Krimo ikutan menutupi mulutku. Tangan mereka banyak sekali. Aku pun mengaku menyerah dan mengangkat kedua tanganku keatas. Artinya aku menyerah.

Hhhh... hh... aku dapat bernapas lega, sengal rasanya. Semua melepaskan pegangan mereka ke kepalaku itu. Aku masih mengatur napas, mau marah tapi belum bisa, napasku masih kembali satu persatu. Aku berdiri, keadaan kacau, bahkan air minum kopiku tumpah. Padahal masih, untung saja gelasnya tak pecah.

”Aaa... ada apa sebenarnya ini?” Aku gelagapan bertanya, suaranya masih sulit karena bekapan mereka semua.

”Jangan menyanyi lagu itu lagi pak Bos!”

Jono lagi... kenapa sih memangnya.

”Semuanya salah, aku bernyanyi juga salah!” aku benar – benar kesal. Aku lalu duduk kembali, mereka semua masih berdiri.

”Mas Adnan, kamu tidak tahu kenapa kami menghentikan lagumu. Itu lagu berbahaya,” suara pak Ranu sedikit berbisik.

”Berbahaya?” Aku jadi penasaran, padahal lagu Lingsir Wengi kan lagu yang bagus dan membuat tenang.

”Lagu Lings...”

Semua orang hampir menubruk lagi dan mau membekap mulutku. Aku pun terpaksa menghentikan kata – kataku dan mengangkat tangan keatas tanda menyerah lagi.

”Memangnya lagu itu berbahaya kenapa?”

”Itu lagu...” Mang Krimo sekarang yang berkata, dia menghadap pada dalam rumahnya dan membelakangiku. Kayak film – film saja, ”Lagu itu adalah lagu untuk mengundang hantu Mas Bos!”

Semuanya terdiam, seolah suasana mencekam. Semua terlihat gelisah dan merinding.

Pffffttt! Ini sungguh prank yang lucu, semuanya gak menarik lagi. Istilah hantu memang sudah mempengaruhi banyak orang di desaku. Kali ini, memang horor sudah mempengaruhi kehidupan banyak orang.

”Okelah! Ayo pulang semua!”

Aku memecah kesunyian dan mereka semua bergerak dan membayar minuman mereka masing – masing. Kami bersiap pulang dan konvoi kembali. Lagu pemanggil hantu, ada – ada saja.

Tapi kalau dipikir sih, lagu Lingsir Wengi memang seperti agak aneh sih. Memangnya Lingsir Wingi itu memanggil hantu? Hmmm... mereka semua nampak ketakutan dan benar menyusulku dan berkumpul saat pulang. Bersiap melintasi rumah tua milik Almarhum mbah Pati. Kami melewatinya biasa saja, meskipun kulihat mereka ragu dan ada yang berboncengan yang dibonceng pun ada yang memejamkan matanya.

Entah apa yang ditakutkan dari rumah tua itu, memang cerita bermunculan dan banyak tentang rumah angker itu. Aku pun percaya jika setan atau jin itu ada, namun kenapa kita harus takut?

Hmmm... benar – benar desaku dan pemahamannya yang unik. Setidaknya, waktu kuliah dulu aku suka mengaji di pesantren di dekat kampusku. Setidaknya, aku punya bekal. Meskipun mungkin kalau ada setan yang tiba – tiba datang dan menakutiku, mungkin aku juga lari.

Tapi, aku yakin dan percaya. Bahwa barang siapa yang takut dengan Setan, maka Setan pun akan senang menggodanya. Jadi, kita haru berani. Dan malam itu, kami selamat sampai di rumah masing – masing dan tak ada yang namanya pasar malam setan seperti yang dibicarakan Jono.

Namun, suasana mencekam tak bisa aku bohongi. Malam dan temaram serta kabut malam dari barisan bambu memang cukup menyeramkan.

Benarkah ada misteri disana? Mungkin suatu hari akan terbongkar juga. Dan, aku sudah sampai di rumah. Saatnya shalat Isya dan kembali istirahat.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!