Cinta Kuli dan Misteri

Naik Gaji?

Aku mendorong buah sawit dengan sekop. Buah sawit yang rontok itu aku naikkan ke tempat sawit yang rontok dan dipisahkan sebelum masuk ke mesin.

Masing – masing mengerjakan tugasnya sendiri – sendiri. Aku tidak perlu terlalu sibuk hanya sebagai mandor dan memperhatikan orang – orang dalam pengawasanku. Aku lebih suka bekerja bersama mereka, dengan begitu mereka akan semakin giat dan tidak enak padaku. Padahal bukan itu juga yang ingin aku tanamkan, melainkan kerja sama dan ikhlas dalam bekerja.

Seseorang tergopoh – gopoh mendekatiku, dia adalah Fahri.

”Assalamu’alaikum Adnan.”

”Wa’alaikumsalam mas Fahri, ada apa ya mencari saya?”

Fahri kemudian mengatakan kalau aku dicari bos Tama. Tumben tidak seperti biasanya bos Tama mencariku. Aku pun bergegas meninggalkan pekerjaanku dan meminta izin kepada rekan – rekanku untuk pergi dulu.

Sampai di ruangan bos Tama seperti biasanya, dia tengah duduk di kursi sofanya yang sangat empuk sambil makan cemilan wafer dan memintaku untuk duduk. Tak biasanya. Biasanya kami tetap berdiri sampai bos Tama mengatakan keperluannya hingga selesai dan kami terus berdiri.

Agak canggung, aku pun perlahan duduk di kursi berhadapan dengan bos Tama.

”Ada perlu apa Bos?” Aku merasa tak enak lama – lama duduk dan bos Tama masih saja diam.

Tangan bos Tama mengetuk meja dengan jari – jarinya yang besar itu, kletak kletak. Lalu dia menatapku.

”Apakah kamu siap dipromosikan?”

Aku kaget, tiba – tiba dan promosi? Apa-apaan itu?

”Maksud bos Tama promosi itu apa Bos?”

Bos Tama menghembuskan napasnya perlahan, ”Ada jabatan baru yang selama ini saya pikirkan dan sampai sekarang belum aku temukan orangnya. Jadi begini, semua mandor yang jumlahnya 22 orang selalu lapor padaku. Aku sudah mulai lelah bekerja, aku ingin santai dan istirahat.”

Aku manggut – manggut mendengar penjelasan Bos Tama selanjutnya. Dia ingin menggunakan banyak waktunya untuk keluarga. Dia selama ini mencari orang yang tepat untuk menggantikannya saat dia tak ada di pabrik.

Saat bos Tama mengatakan bahwa aku orang yang tepat, aku pun kaget. Kenapa aku, bukankah masih ada banyak yang lain.

Kata bos Tama sih, aku orangnya jujur dan dapat dipercaya. Selain itu juga tak ingin dipuji orang dan juga rela berkorban. Aku sempat ragu namun bos Tama meyakinkanku. Hingga, aku pun luluh dan memohon agar dibimbing dalam tugas tersebut.

Bos Tama pun memegang pundakku, tangannya yang besar sebenarnya sakit apalagi bos Tama mencengkeramku sebagai bentuk meyakinkan. Tapi kok sakit juga ya.

”Kamu pasti bisa Adnan!” sorot matanya tajam kepadaku.

”I.. Iya Bos, saya akan berusaha sebaik mungkin,” aku tersenyum sambil menahan sakit di pundakku.

Akhirnya dilepas juga oleh bos Tama dan aku pun bisa bernapas lega lagi. Huhhhh! Dan, aku pun pamitan pada bos Tama, katanya besok tugasku akan dimulai dan akan diumumkan langsung oleh bos Tama di hadapan semua pegawai.

Aku kembali ke pekerjaanku. Setelah aku mencerna sekali lagi apa yang diputuskan oleh bos Tama. Artinya, aku menjadi tangan kanan bos Tama dan menjadi bos atau wakil bos. Kalau bos Tama pergi, maka aku yang menggantikannya

Waduh! Jadi begitu ya. Ah baru sadar setelah beberapa lama berpikir sambil terus bekerja bersama teman – teman satu tim denganku.

Ah sudahlah! Aku mengeleng – gelengkan kepalaku. Sambil dipikir sambil dikerjain saja, nanti juga kalau bisa ya pasti bisa. Begitu mantapku. Ojo loro pikir, yang penting jalanin hidup saja.

”Kenapa bos Adnan?” Jono pun bertanya karena aku dari tadi mungkin dilihatnya seperti melamun.

Aku tersenyum pada Jono, ”Aku pingin manggang ikan bareng – bareng kalian, ha.. ha.. ha..”

Jono langsung sumringah dan matanya membulat, ”Oke Bos, aku ikut!”

Dasar Jono, kemudian disusul yang lain. Hmm... ada – ada saja.

@ @ @

Jumat pagi, aku juga shift pagi. Benar saja, semua karyawan kali ini tidak ada shift dan semua berangkat pagi. Artinya nanti sore pabrik tutup dan hanya satpam yang bekerja. Kata bos Tama sih sekali – kali.

Semua pegawai yang jumlahnya sekitar  hampir seribuan berkumpul di depan atau halaman pabrik.

Bos Tama mengumumkan kalau mulai hari ini dia akan menunjuk tangan kanan atau wakil dirinya. Semua orang kaget mendengar hal itu, tak biasanya bos Tama mempercayai seseorang. Aku dari barisan kelompokku diam saja, jadi beneran bos Tama akan mengangkat aku jadi wakilnya?

Bos Tama mengatakan, mulai sekarang dia akan sering bolos dari pabrik karena ingin lebih banyak waktu untuk keluarganya. Jadi, saat dia tak ada maka wakilnya itu yang akan menggantikannya untuk melihat dan mendengar laporan semua mandor, selain itu mengecek tagihan setiap hari dari mobil – mobil yang datang menjual bahan baku pertanian.

Saat itulah, semua jadi bertanya penasaran siapa sebenarnya orang yang akan ditunjuk menjadi wakil dari Bos Tama. Tentu saja semua jadi penasaran dan ingin menjadi wakil Bos Tama, tapi sepertinya itu memang mimpi di siang hari. He.. he.. he..

Bos Tama kemudian memanggil namanya untuk maju. Semua mata tertuju ke arahku. Aku maju dan mendekati bos Tama.

Saat itulah bos Tama kembali memegang pundak kiriku. Sakit lagi, ini tangan apa besi sih! Dia mencengkeram keras pundakku, cukup lama.

”Mulai sekarang, Adnan akan menjadi wakilku dan dia akan melakukan tugasku ketika aku tak ada di pabrik. Jadi, kalian semua harus memanggilnya Wakil Bos!”

Semuanya terdiam sejenak, mungkin karena kaget. Lalu mereka pun dibentak lagi oleh bos Tama.

”Kalian semua mengerti!”

”Iya Bos!” semuanya kompak menjawab. Mungkin, mereka masih kaget, apalagi orang – orang yang berada satu tim denganku. Mereka pasti kaget karena aku kini harus mengawasi semua orang di pabrik tersebut.

”Mas Bos memang hebat!” teriak Jono dari arah para pegawai.

Saat itu, bos Tama mengakhiri pengumumannya. Para pegawai pun bubar dan mereka sempat melirik kearahku sebelum semuanya pergi, termasuk para mandor, mereka tersenyum padaku. Itu artinya mereka mengucapkan selamat padaku.

Saat aku dan bos Tama akan pergi, bos Tama tersenyum padaku dan akan meninggalkanku. Aku jadi ingat sesuatu.

”Bos!”

Bos Tama menoleh kearahku tanpa ekspresi, ”Ada apa lagi Adnan?”

”Gajiku naik gak Bos?”

Bos Tama menggelengkan kepalanya, ”Kamu ini Nan, Gajimu naik 5 kali lipat tahu!”

He.. he.. he.. mantap.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!