Cinta Kuli dan Misteri

Nadia Mencariku?

Shift pagi berakhir, aku pulang pada sore hari sampai di rumah.

”Assalamu’alaikum Mak!”

Jawaban dalam terdengar dari rumah, aku menaruh motorku di depan rumah dan menguncinya.

Aku masuk rumah, dan seperti biasa, aku makan dulu setelah cuci tangan. Lapar sekali rasanya perutku.

Saat makan itu, Mamak tersenyum padaku. Tak biasanya.

”Kamu jadi Bos sekarang Le?”

Jreenggg! Tahu aja Mamakku ini, pasti yang sudah pulang duluan pak Ranu atau Jono yang kasih tahu Mamak nih. Hmm... kayaknya ini ada maunya nih Mamak.

”Memang kenapa Mak?”

”Kau tahu kan, doa Mamak selalu mendoakan kamu jadi sukses. Nah, doa Mamak terjawab nih kamu sekarang udah bisa jadi orang sukses,” Mamak menepuk pundakku.

”Amin ya Allah, makasih ya Mbak,” aku tersenyum pada Mamakku.

”Jadi kamu paham kan sekarang?” Mamak kembali tersenyum.

”Apaan Mak?” aku keheranan.

”Ingat, jatah buat dapur Mamak naik 5 kali lipat juga!”

Waduh! Benar juga. Aduh Mak, Emak. Kalau tahu gini Mak, seluruh gajiku saja buat Mak, aku rela. He.. he.. he...

”Siap Mak, Siap Komandan!” aku pun tersenyum.

Mamak pun berlalu ke depan, tapi sebelum sempat mencapai pintu dia menatapku kembali.

”Oya Nan, tadi Nadia mencarimu katanya ada urusan penting. Karena kamu tak ada, ibu kasih nomor teleponmu,” Mamak pun berlalu melewati pintu.

Nadia? Mencariku? Seperti gunung meletus siang hari nih. Bisa – bisanya wanita secantik Nadia dan jadi rebutan pemuda desa dan dia mencariku? Ada urusan penting lagi.

”Cieeeeee, gebetanmu anak pak Kusrin. Hati – hati kamu Le! Bisa – bisa kamu dimarahin tiap hari. Ha.. ha... ha...,” Mamak keluar begitu saja dan kepalanya tiba – tiba nongol di sisi pintu. Bikin kaget saja, kayak hantu.

”Hadeh Mak, Mak. Mana pula si Nadia mau sama aku.”

”Hehhh, gak boleh begitu mikirnya Nan, kalau jodoh gak akan kemana, dikejar pergi dibiarkan datang sendiri. Ha.. ha.. ha..”

Sepertinya memang begitu, Mamak mengejekku atau lagi mendoakanku sih, ”Amin Mak, amin.”

Mamak pun pergi lagi dan aku meneruskan makanku. Tapi... kenapa ya si Nadia mencariku? Tak berapa lama, paling tiga detik hp-ku berdering. Chat masuk. Nomor baru tentunya.

”Assalamu’alaikum mas Adnan, nanti malam ba’da Isya ke rumahku ya. Ada urusan penting, Nadia.”

Pucuk dicinta ulampun tiba, benar kata Mamak nih, dibiarkan datang sendiri..., doa Mamak memang manjur nih. Wah, bisa ke ge’eran aku nih. Ada apa ya si Nadia memanggilku ke rumahnya?

Ah sudahlah, nanti malam kesana saja. Sekarang sudah sore mau ashar juga nih.

@ @ @

Malam itu karena hari ini semua pulang siang dan pabrik setengah hari kerja. Aku pun ke rumah pak Kusrin yang merupakan pak Kaum desa dan ayah dari Nadia.

Aku mengetuk pintu itu dan mengucapkan salam. Terdengar sahutan salam dari dalam rumah, suara seorang wanita.

Nadia keluar membuka pintu, ”Masuk mas Adnan.”

Aku pun masuk dan di ruang tamu itu Nadia juga duduk. Ibu Nadia di ruang tamu sedang menonton televisi, sepertinya menonton sinetron deh. Suaranya seperti marah – marah, biasanya kan adegan sinetron memang begitu.

”Sebentar mas Adnan,” Nadia minta izin ke belakang sebentar, beberapa menit dia keluar membawa teh dan cemilan. Hmm... berarti akan bicara lama nih, wah jadi tambah ke pede-an akunya.

Wajahnya yang lugu dan manis itu, ditambah jilbabnya hitam di malam hari, benar – benar membuat hatiku berdebar – debar rasanya.

”Mas Adnan!” suara Nadia mengagetkanku.

”Eh.. Iya, iya,” aku sedikit kaget karena melamun melihat wajahnya tadi, ”Ada apa ya Nadia, kenapa tiba – tiba mencariku?” sambil bicara aku pun mengambil teh dalam gelas itu dan memegangnya. Masih agak panas, aku pun menyeruput sedikit. Manis banget, semanis yang buat, he.. he.. he..

”Ini soal rumah tua peninggalkan mbah Pati dan misteri di desa kita mas Adnan.”

Tiba – tiba bicara hal itu, langsung saja hawanya langsung seperti merinding saja. Dari situ, Nadia semangat bercerita. Kali ini, aku mendengarkannya dengan seksama, bahwa dia memanggilku untuk membicarakan misteri desa kami.

Aku mendengarkan semua pembicaraannya, meskipun aku juga terpesona oleh wajah indahnya. Dia bercerita begitu bersemangat sedangkan aku mendengar sambil terpesona dengan wajahnya.

Tak ada kesempatan kedua, dia memang seorang bidadari yang turun dari becak, eh maaf salah turun dari langit. Masyaallah, cantik sekali wajah itu diciptakan oleh Allah. Aku benar – benar terpesona.

”Bagaimana menurut mas Adnan?”

Nah, kamu paham gak yang diceritakan Nadia barusan? Makanya, kamu jangan ikutan terpesona juga karena wajahnya yang cantik. Kamu jadi kelewatan ceritanya kan.

Jadi begini, Nadia selama ini juga menyelidiki soal rumah tua peninggalan mbah Pati dan juga misteri di desa kami.

Pertama, dia memeriksa sampai ke kecamatan dan kabupaten. Bahwa desaku sama dengan desa lain. Desa Bulan Indah sama juga misal dengan desanya mang Krimo di sebelah desa yaitu Pucuk Lebah. Bantuan kepada kami sama, satu kali panen satu kali. Lalu kenapa di tempat kami seolah ada  kali bantuan.

Kalau alasannya karena lurah kami memiliki channel dengan orang pusat, maka seharusnya itu juga memiliki data dan juga laporan. Sayangnya, tidak ada laporan dan bantuannya pun juga tercatat sekali.

Artinya, semua ini ada masalah.

Kedua, Nadia menyelidiki kalau ada aktivitas tak biasa di rumah tua milik almarhum mbah Pati. Semua hantu dan ketakutan seolah dibuat agar tidak ada orang yang berani mendekati rumah tua itu.

Katanya, Nadia sempat siang hari melewati rumah tua itu dan melihat ada orang di dalam rumah tua itu. Saat dia mendekat, rumah itu seolah menjadi sepi lagi dan tidak ada orang lain.

”Kita harus menyelidikinya mas Adnan. Nadia harap, mas Adnan mau menemaniku menyelidikinya bersama.”

Apa yang dirasakan Nadia sebenarnya tak beda jauh denganku. Cuma untuk data sampai dia mencari ke kecamatan dan kabupaten. Sepertinya, Nadia lebih duluan dari aku mencari data tersebut.

”Kenapa Nadia begitu ingin menyelidiki kasus ini?” aku jadi penasaran.

”Karena...” tiba – tiba pandangan Nadia kearah lain, dia menengok ke sisi lain dan matanya seperti mengingat sesuatu, ”Almarhum mbah Pati adalah orang yang menolong keluargaku saat kami terlilit hutang dan dia juga yang membiayai aku sewaktu awal kuliah. Dia tak mau dibayar hutangnya saat itu.”

”Jadi..., aku ingin membersihkan nama baiknya dan beliau adalah orang yang sangat baik. Dia mengajariku waktu kecil mengaji.”

Sama sepertiku berarti. Almarhum mbah Pati ini memang orang baik.

”Baiklah Nadia, jadi..., kapan kita akan mulai?”

”Besok pagi, dan aku mendapatkan kabar kalau setiap sabtu sore. Mbak Murni kadang terlihat berada di ujung desa. Aku curiga... dia ke rumah tua itu, entah ada urusan apa,”

Mbak Murni? Si janda kembang?

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!