Cincin Bulan Persahabatan

Tangisan Aisyah

Mimpi yang aneh. Segera kukirim surat kilat ke Kampung, kutulis seusai kajian ba’da subuh. Saat akan berangkat kuliah, kusempatkan ke kantor post. Segera ke Kampus karena takut telat. Kutulis dalam surat itu keadaanku disini, dua lamaran dan aku minta balasan surat secepatnya. Entah, bagaimana reaksi mereka ketika membacanya. Menikah segera bagiku, adalah jalan terbaik untuk menghindari fitnah-fitnah yang teramat besar. Manusia bisa menjadi ’alim di tengah goa itu mudah, tapi menjadi orang yang wara’ di tengah metropolitan itu yang sulit, karena setiap saat, seluruh potensi maksiat melambainya. Hanya jiwa-jiwa yang dekat dengan Allah, yang akan menang dan beruntung.

Saat mendekati pintu kelasku, wanita itu keluar kearahku. Wanda Hamidah. Pandangannya tertunduk, tak menoleh sedikitpun saat melewatiku. Sangat berbeda ketika kami pertama kali bertemu, bahkan sms bercandanya pun telah lama hilang. Itukah kekuatan cinta? Yang dapat menjadikan seorang pecundang menjadi pemberani, yang dapat membuat orang bertahan, walau dalam tengah kobaran api, yang menjadikan orang bodoh menjadi pintar. Semua hal bisa berubah karena cinta. Dia mengharapkan aku menjadi suaminya? Allah..., jangan buat hamba menjadi sombong. Hamba hanyalah seorang miskin.

Aku masuk kelas. Aisyah sudah kembali kuliah, Alhamdulillah. Sorot matanya selalu sering sembab. Kejadian itu pasti membawa dampak psikologi baginya, para penjahat itu telah dihukum sesuai ganjarannya. Lebih berhak kusebut mereka lebih hina dari binatang, bagaimana mungkin seorang ayah tiri tega menjualnya anaknya? Atau manusia yang membeli manusia lain, hanya untuk kepuasan? Benar-benar biadab.

Mata kuliah pertama selesai. Hanif mendahuluiku, katanya mau ke perpustakaan. Saat kakiku hendak keluar, Aisyah mengucapkan salam padaku.

”Jazakallah khoiron jaza’ akh. Jika saat itu engkau tak ada, aku...”

”Sudahlah Ais, tidak usah dibahas lagi. Itu sudah kewajiban sesama muslim untuk saling menolong. Allah telah mengatur segalanya dengan baik, aku hanya perantara dari Allah, karena saat itu aku dibimbingnya untuk segera datang ke rumahmu.”

”Hatimu begitu tulus. Fadli sangat mencintaimu, semua orang menyukaimu. Jika saja kau halal untukku, aku akan mencium telapak kakimu dan menjadikan diriku selimutmu setiap saat. Tapi..., itu tidak mungkin. Engkau berhati jernih, sejernih susu murni. Engkau hanya pantas untuk orang yang berhati salju. Pantas, Wanda sangat mencintaimu,” ada isakan lirih dari suaranya.

”Wanda?” aku kaget sejenak, ”Wanda mencintaiku? Darimana kau tahu Ais?”

Aisyah gemetaran menyerahkan sepucuk surat, ”Tadi dia menitipkan surat ini. Dia pantas untukmu Ali...,” Aisyah berlalu setengah berlari, jilbabnya berkibar bagaikan kapas yang tertiup angin kencang. Hadirku telah banyak membuat hati-hati yang murni terluka. Allah..., janganlah Engkau jadikan diriku menjadi fitnah. Jadikan diriku rahmat bagi setiap orang, telah banyak orang yang terluka karenaku. Aku terduduk lemas di kursi. Kubuka pelan penutup amplop surat, yang tertulis namaku di depannya.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Aku terpaksa menulis surat ini, karena aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Meneleponmu aku tak kuasa, berkirim sms-pun tanganku bergetar. Jiwaku benar-benar dalam ambang kehancuran, kecuali jika engkau menolongku dari kebinasaan.

Ali..., mohon dengan sangat..., mohon dengan sangat..., mohon dengan sangat..., terimalah diriku menjadi pendampingmu. Jika kau tak memenuhinya, aku akan dinikahkan oleh ayahku. Kau tahu, hatiku sepenuhnya adalah milikmu, selamanya. Mohon dengan sangat..., selamatkanlah aku dari kehancuran.

Dalam sajadahku, hanya terdapat namamu yang kusebut, kala kubersujud padaNya.

Wanda Hamidah

Tak kuasa lagi airmataku bergenang. Apa salahku Allah? Jika Kau mau kau dapat mencabut nyawaku sekarang juga. Tapi..., cobaan apa ini? Aku tak kuasa melihat airmata wanita yang sengsara karena hatinya terluka. Tetes airmataku menetes, membentuk titik-titik di antara tulisan tangan Wanda. Menangis tak akan menyelesaikan masalah, segera kutulis surat balasan.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Untuk Wanda yang dicintai Allah

Segala puji, cinta, harapan kita hanya layak untukNya. Yang telah menuliskan garis kehidupan setiap manusia. Shalawat untuk Rasulullah saw yang telah memberi rambu-rambu kepada kita, untuk menetapi jalan lurus yaitu Islam.

Cinta hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berharaplah kepada Allah semata, jika kita tidak dijodohkan bersama, sesungguhnya itu mungkin yang terbaik dalam pandanganNya, yang Maha Mengetahui sedang kita hambaNya yang tidak mengetahui. Ketahuilah rasa cinta bukanlah segalanya? Dunia ini membutuhkan kita, untuk dapat merubah kemunkaran menjadi kebaikan. Kita diciptakan untuk membawa manfaat sebanyak-banyaknya untuk manusia. Semoga Allah, memberi kita petunjuk untuk menentukan setiap langkah dalam hidup kita. Semoga Allah memberikan yang terbaik dalam setiap pilihan kita. Amiin.

Laa tahzan, innallaaha ma’ana

Akhukum fillah

Ali

Aku akan menitipkan esok sore pada Fadli agar Aisyah menyerahkan pada Wanda. Mereka sering bersama. Mata kuliah kedua dimulai. Benar dugaanku, Aisyah tidak masuk kelas. Aku seolah menjadi bencana dan fitnah. Allah, ampuni hambaMu yang dhaif. Selepas Dzuhur, aku bekerja kembali di Pasar. Hatiku gelisah, ini benar-benar ujian berat dalam hidupku. Lebih berat daripada aku kekurangan uang atau ketika beberapa hari aku tidak makan. Hati itu jika sakit, lebih menyiksa walau sakitnya tak terlihat hanya hati yang merasainya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!