Cincin Bulan Persahabatan

Ceramah Pernikahan yang Meluluhkan

”Duuoor!” ban motor yang kunaiki bersama Syahid tiba-tiba meletus, padahal acara Walimatul Ursy-nya tinggal tujuh menit lagi. Kami menuntun motor dan mampir di bengkel tambal ban. Teryata lubang yang tertancap besar, jadi ban motor dalam harus di ganti. Kami memakai motor inventaris Pesantren, Ustadz Umair membolehkan memakainya, tapi sempat kutangkap ada kemurungan di balik wajahnya yang biasanya ceria dan keras. Saat menunggu tambal ban selesai, Hp-ku berdering. Dari mas Ilham.

”Afwan Mas, mungkin agak lambat. Sebaiknya Mas mulai saja akadnya, nanti taujihnya sesudah akad saja. Tidak masalah,” aku mengakhiri hubungan.

Lima menit kemudian tambal ban selesai. Aku menyerahkan uang. Syahid memboncengku agak ngebut, kuminta agak pelan saja. Dia hanya tersenyum dan memelankan laju motor. Dia dulu memang mantan pembalap liar, lalu bertobat, Alhamdulillah. Kalau bukan karena cintaMu, entah terperosoklah kami ke dalam jurang kehinaan. Lakalhamdu walakas syukru.

Rumah yang megah. Syahid sudah hafal betul jalanan di Depok dan sekitarnya. Acara walimah di Jakarta Timur. Resepsi yang indah, megah namun yang luar biasa adalah, para tamu dipisahkan hijab anyaman bambu yang indah. Berbeda jauh dengan resepsi di kampungku, betapa campur-baur wanita dan pria, kadang tanggapan organ tunggal atau tayub menggelegar, memekakkan telinga. Seorang lelaki berjenggot mengantarkan kami duduk di depan, katanya acara akad telah selesai. Sekarang sedang acara pertemuan dua keluarga untuk disatukan. Saat itulah, jantungku seolah berhenti demi melihat dua mempelai yang sedang bergantian menyalami orangtua masing-masing. Aku mengucek mataku, benar, dia adalah Mawar.

Hatiku ribut di dalam, hanya aku dan Allah yang tahu. Syetan berbisik gencar, hati nurani mencoba mempertahankan kemulyaan, di antara kehinaan yang siap melumatku. Bibirku mendesah dzikir. Kutata hatiku, Allah..., bantulah hambaMu..., hambaMu..., kuakui dalam bayanganku saat pejam. Mawar memang cantik, tapi ingat pertemuan dengan wajah terindah Allah, mampu meredakan gejolak dalam hatiku. Persahabatan? Tiada yang abadi di dunia, hanya surgalah keabadian. Tak akan lagi kubiarkan dunia merenggut hatiku, biarlah dunia di tanganku semata, tak akan kubiarkan lagi merebut sedikitpun bagian di hatiku. Allah, betapa Kau tahu pergulatan hebat dalam diriku, hanya Kaulah yang tahu. Betapa berat hati ini kutata, benar kata NabiMu jika hati ini baik maka baiklah semuanya. Aku akan berusaha sampai mati, sampai mati ya Allah...

”Akh, sebentar lagi Anta dipanggil,” Syahid menyentuh pundakku pelan. Aku langsung membuka mataku. Kutahan semua gejolak dan benturan-benturan antara taqwa dan fujur, ternyata begitu lama aku berjuang dalam diriku, pergolakan yang dahsyat. Syahid keheranan menatapku, ”Kau sakit? Matamu menangis,” aku menganggukkan kepalaku. Dia mengambil sapu tangan, dan mengelap airmataku cepat agar tak diketahui orang. Pandangan para tamu berpusat pada mempelai pengantin.

Saat namaku, ”Ustadz Ali,” disebut untuk mengisi khutbah, kuluruskan sorbanku sambil berjalan santai. Aku harus bisa, cukuplah Allah bagiku..., cukuplah Allah bagiku. Aku yakin dengan namaMu, Kau pasti menggantikan duka dan kepayahanku menjadi keteduhan yang lebih baik, jika tidak di dunia maka di akhirat. Aku menatap mempelai sejenak lalu para tamu pria. Suaraku kubuat setenang air samudera, sejernih mata air zam-zam, selembut kapas yang beterbangan di bawah awan.

”Kedua mempelai, para tamu undangan yang saya cintai karena Allah.

Saat serpihan telah menyatu. Tali yang terpisah telah disatukan. Disitulah letak kuasa Allah yang menyatukan perbedaan, menyemai persamaan menjadi cinta kasih yang dilandasi iman. Menjadi subur karena kecintaan kepada Allah semakin menguat.

Kuyakin telah banyak hal yang dipelajari oleh kedua belah pihak. Sangat bahagia rasanya saya diperkenankan menyampaikan ujaran, walau sejatinya nasehat ini untuk diri pribadi saya sendiri. Bukankah Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran ” tak banyak yang ingin saya nasehatkan untuk mempelai, karena saya yakin Insyaallah kalian lebih banyak tahu dari saya,” mataku sekilas menatap kedua mempelai yang ceria dari senyum dan mata mereka yang berbinar. Pergulatan di hatiku terus terjadi, Hasbunallah. Cukuplah Allah bagiku. Hati..., jadilah raja yang baik untukku

”Rasulullah saw bersabda, ”Segala sesuatu selain Dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (panah) dan seseorang yang berlatih perang, kekuatan langgengnya keluarga Nabi saw adalah melengkapi bumbu-bumbu kehidupan layaknya masakan. Tidak kaku, dan tidak longgar. Hidup tidaklah melulu serius dan akhirnya rumah penuh dengan ketegangan. Ali bin Abi Thalib berpesan, ”Hiburlah hati suatu ketik, karena jika dipaksa terus-menerus terhadap sesuatu, ia bisa membuta,” setiap persoalan di dunia ini bisa diatasi dengan mudah, jika kita mengembalikan setiap persoalan kepada Dzat yang berhak memberi dan mencabutnya kembali.

Kala menikah. Semua hal menjadi berkah dan penuh kenikmatan. Bagaimana tidak, rezeki yang diberikan suami kepada istri adalah sedekah, sampai menyuapi istrinya adalah pahala. Adakah agama yang sehebat Islam? Saling memahami adalah kekuatan terbesar suatu ikatan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimallah berkata tentang pasangan suami istri, ”Setiap kenikmatan yang membantu terwujudnya kenikmatan di hari akhir adalah kenikmatan yang dicintai dan diridhai Allah swt. Penghadir kenikmatan itu akan merasakan kenikmatan dalam dua segi. Pertama, perbuatan tersebut menyampaikan dirinya kepada ridha Allah ’Azza wa Jalla. Selain itu, akan datang pula kepadanya nikmat-nikmat lain yang lebih sempurna.” Sesungguhnya rasa kasih dan cinta itu dari Allah, dan kebencian dari syeitan, maka apabila istrimu datang kepadamu, maka perintahkanlah ia shalat di belakangmu dua reka’at kala malam Zafaf,” aku mengambil napas pelan, kesejukan di hatiku mulai terasa. Allah benar-benar meniupkan kesejukan di hatiku. Aku merasakannya, indah. Sangat indah.

”Niat juga dibutuhkan dalam membina rumah tangga yang Sakinah, mawaddah warahmah. Niat dari awal adalah kepastian, seorang istri yang melahirkan. Apa yang diharapkan dari seorang istri ketika melahirkan anak, wahai saudariku? Apakah sekedar menjadi penyejuk mata? Menyaksikan mereka menjadi orang-orang sukses? Atau menjadikan mereka teman bersendau gurau? Dengan niat ini, pahala Allah tak akan mengalir. Niatkanlah agar, anak-anak kita mentauhidkan Allah, bertasbih dalam setiap desahan napas mereka, akhlak mereka adalah Al-Quran, mereka menjadi orang-orang yang mukhlis. Gembira apabila mereka bersujud di hadapanMu, wahai Tuhanku. Ia menjadi seperti Shalahuddin atau Khalid bin Walid.

Istri adalah pakaian bagi suami, begitupun sebaliknya saudara-saudaraku. Maka tutupilah setiap kekurangannya, ”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah – mudahan mereka selalu ingat. Ada sebuah petuah dari orang bijak, ”Di balik setiap laki-laki agung, selalu berdiri seorang wanita yang agung pula,” para pemuda yang sudah mencapai ba’ah maka segeralah menikah, melengkapi kelengkapan dalam beribadah kepada Allah. Tidaklah risaukan siapa yang mau memberi makan, bukankah Allah yang memberi makan semua makhlukNya, tanpa kesusahan sedikitpun. Allah yang memberi rizki, jika kita yakin maka jalanNya akan dibuka selebar-lebarnya.”

Kuakhiri khutbah. Aku bertemu dengan Ustadz Wahid disana, aku dan Syahid pamitan pulang. Motor kembali melaju kembali ke Depok, membawa hatiku yang mulai tenang. Bapak..., kini aku tahu. Persahabatan memang ada, tapi Allah lebih berharga dari apapun, bahkan nyawaku sekalipun. Persahabatan itu ada untuk mendukung mendekatkan diri padaNya. Aku memang kehilangan hal yang kukejar, tapi aku menemukan banyak persahabatan disini. Sepanjang jalan walau hambar, aku bercanda bersama Syahid, kulihat dia menikmati humor-humorku.

Ibu, semesta alam akan kulipat dan kupersembahkan sepenuhnya untukmu. Maafkanlah aku ibu..., karena aku belum bisa melakukan sesuatu untukmu. Maafkanlah tingkah lakuku selama bersamamu. Fajar, Yasmin..., maafkan kakak yang dulu menyia-nyiakan kebersamaan kita. Allah, izinkanlah kami menyemai kebersamaan lagi, memulai dari awal seperti matahari yang menyingsing menyambut hari yang baru, seperti seorang pendosa yang bertobat dengan sungguh-sungguh.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!