Cincin Bulan Persahabatan

Lautan Manusia Mendengarkanku

Syahid sedari tadi mengajakku berangkat, padahal acaranya masih satu jam lagi. Akhirnya karena terlalu lama, dia berangkat duluan. Benar juga kata Ustadz Umair, untuk kejahatan saja banyak orang nekat, kenapa untuk kebaikan aku tak berani nekat? Kumantapkan langkahku, kusimpan sorban dalam tasku. Kumulai dengan Bismillah, kuniatkan untukMu ya Allah, tidak untuk Ustadz Umair, tidak untuk popularitas, hanyalah untukMu ya Allah.

Setelah shalat dhuha, kuambil topi pemberian Bapak untuk menghalangi panas matahari. Minggu yang teduh, seteduh hatiku. Masih kuingat, surat dari Aisyah. Ternyata Fadli membuka lemari kakaknya dan menemukan amplop itu, di depan amplop itu memang tertulis Untuk Ali Sahabatku, maka tanpa pikir panjang Fadli langsung memberikannya kepadaku, tanpa sepengetahuan Kakaknya. Kuminta mengembalikan surat itu ke tempatnya, dan jangan menceritakannya pada Aisyah, aku takut dia menjadi serba salah. Biarlah, toh setelah beberapa bulan tidak ada masalah lagi, kurasa semuanya telah membaik. Semoga.

Aku naik bikun langsung menuju Masjid Ukhuwah Islamiyah. Saat kulangkahkan kakiku mendekati Masjid, kakiku agak gemetar berjalan. Begitu banyak orang. Kembali kutata niatku. Saat langkahku mendekati undakan masjid, mataku sejenak melihat Aisyah dengan jilbab hitamnya. Kami sama-sama menundukkan pandangan. Kulihat dia langsung memutar arah ke tempat samping, tempat para akhwat yang disekat dengan papan pembatas. Kuteruskan langkahku. Allah, tetapkan hatiku..., tetapkan hatiku..., kuingin memurnikan ketaatan hanya kepadaMu. Syahid langsung menghampiriku, dan mengajakku lewat samping, katanya dia diminta Ustadz Umair menungguku di luar.

Aku lewat samping bersama Syahid. Saat melewati beberapa orang kudengar bergumam kasak-kusuk membicarakan ulama besar Mesir, Dr M. Ramadhan Al Buthy. Aku masuk ke bilik di samping Masjid, kupakai surban dan kulilitkan mengelilingi peci putihku. Syahid menungguku di luar bilik.

Aku dan Syahid duduk di deretan depan, karena masuk dari bilik di samping depan Masjid. Ustadz Umair tersenyum kearahku, aku membalas senyumnya. Kulihat Ustadz membisikkan kepada salah satu kakak tingkatku di pondok, lalu Santri itu berdiri dan memulai acara. Saat inti, MC menginformasikan kalau DR M Ramadhan Al-Buthy tidak bisa hadir, karena suatu halangan. Beberapa jama’ah sedikit terdengar gaduh, namun segera tenang kembali. Saat namaku disebutkan menggantikan materi, hatiku berdetak cepat. Aku mantap melangkah, Allah..., kemulyaan apa yang kau berikan kepadaku, sehingga aku dapat berbicara di hadapan ribuan manusia yang ingin mendekatkan dirinya kepadaMu?

Beberapa orang masih risuh terdengar. Kutatap sejenak banyaknya manusia yang ingin mendengarkan ujaranku. Aku mengucapkan salam dan tak terasa aku terisak lirih. Semuanya hening mendengarkan isak lirihku, menunggu kata-kata dariku.

”Alhamdulillah. Ya Allah, milikMulah segala puji, Engkaulah pemilik langit, bumi dan segala isinya. Dan milikMu segala puji, Engkaulah cahaya di langit, di bumi dan diantara keduanya. Dan milikMu segala puji, Engkau adalah benar, janjiMu benar, pertemuan denganMu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, Muhammad saw itu benar, dan kiamat itu benar.

Ya Allah, kepadaMulah kami berserah diri, denganMu kami bergantung, kepadaMulah kami beriman, karenaMu kami berdebat, denganMu kami berhukum, ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang, yang tampak atau yang rahasia, Engkaulah yang awal dan yang akhir, tiada Tuhan selain Engkau. ” Aku merasa bahagia sekaligus bersedih. Bahagiaku karena saya diperkenankan Allah berbicara di depan manusia yang dimulyakan oleh Allah, dan sedihku karena belum tentu saya di akhirat nanti dikumpulkan bersama orang-orang yang beriman, ataukah akan digabungkan dengan golongan yang zalim, ”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. ”

Suatu hari, mungkin setiap pagi kita mengatakan, ”Aku adalah orang baik dan selalu berbuat baik, tiada yang menyamai banyaknya amalku. Aku telah beramal ini dan itu. Di saat kawan-kawanku tertipu dunia, aku telah menjadi orang mulia.” berhati-hatilah saudaraku, waspadalah akan diri sendiri. Cucu Rasulullah saw, Zainal Abidin rahimallah, bisa mempelajari ilmu ikhlas selama empat puluh tahun belajar mendalaminya. Lalu, apa yang kita sombongkan dengan amal kita? Apakah kita yakin, setiap amal kita ikhlas dan diridhai Allah ’Azza wa Jalla? Bukankah Allah hanya menerima ibadah hambaNya yang bertakwa?

Kita menyadari. Tak setetes pun susu yang diperah, bercampur dengan darah atau tahi, padahal letaknya antara tahi dan darah. Susu itu segar dan murni, seperti itulah amal yang diterima Allah, dia tulus dan ikhlas. Maka, mari berusaha dan berkata, ”amal ini tidak untuk siapapun kecuali Engkau, wahai Allah. Sejernih susu.” mari kita ingat firman Allah, ”katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku...” kita akui bahwa keikhlasan itu berat, seperti yang dikatakan Sahl bin Sa’d ketika ditanya, ’Apakah yang paling sulit bagi jiwa?’ jawabnya adalah, ’Ikhlas.’ Sufyan Ats-Tsauri rahimallah berkata, ”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku.”

Pertanyaan ringan untuk kita, apakah kita mampu untuk ikhlas? Apakah tingkatan ikhlas yang paling mendasar? Bagaimana kita dapat menggapainya?

Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya semua amal itu dengan niat, Inna mal a’malu binniy yat. Dan sesungguhnya bagi setiap orang (balasannya) apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan RasulNya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia atau wanita, maka hijrahnya itu untuk apa yang ia berhijrah karenanya. ” Maka Saudaraku, ketika kita memulai amal, perhatikanlah niat. Carilah niat yang baik karena berapa banyak amal kecil tapi ganjarannya dilipatgandakan karena niat. Ketika berinfak, hati kita merasakan rindu kepada Allah ’Azza wa Jalla. Saudaraku, marilah belajar dan membiasakan niat yang baik. Saat makan, minum, pergi ke toilet, mencuci pakaian dan piring, saat ke masjid, tidur kita, karena seluruh kehidupan kita untuk Allah semata. Janganlah kita melakukan sesuatu tanpa didasari niat untuk Allah.

Berhati-hatilah dengan ibadah kita, saat kita terbiasa dan tak memperbarui niat. Bisa jadi ibadah menjadi rutinitas yang kering akan keikhlasan, sekedar menyelesaikan kewajiban. Mungkin kita menemukan orang yang rajin beribadah, lalu dia pergi berjudi, atau seorang wanita muslimah yang memakai jilbab lalu melepasnya. Na’uudzubillaahi min dzaalik. Ini adalah kemaksiatan besar. Seandainya bukan dosa besar, tentu itulah musibah yang membuat Allah sangat marah. Maka mari pelajari niat.

Mari persiapkan niat ketika melakukan apapun, dan memperbaruinya terus. Lihatlah para pemuda yang terbiasa shalat berjama’ah di masjid. Hendaknya selalu memperbarui niat sebelum melakukan shalatnya, Insyaallah niat akan selalu terjaga dan ikhlas akan terpelihara. Siapa diantara kita, yang ketika sepuluh tahun lagi masih tetap komitmen dengan keimanan? Siapa yang akan berpaling? Siapa yang akan bertambah imannya? Semua bisa dimulai dengan niat yang ikhlas.

Niat dapat mengubah kebiasaan menjadi ibadah. Niatkan belajar kita untuk mengembalikan kejayaan Islam, belajar untuk mendapatkan kedudukan lalu menyeru kepada jalan Allah, atau sudah waktunya muslim memimpin dunia dengan ilmu pengetahuan. Maka, Insyaallah, setiap pandangan mata pada tiap huruf ilmu, setiap goresan tinta akan menerima pahala. Bukankah Islam adalah indah? Bagaimana kalau kita berniat menjadi orang kaya? Niatkan harta kita untuk diinfakkan di jalan Allah. Bukankah berinfak di jalan Allah, lebih baik dari seribu khutbah? Mari merenung saudaraku, apakah memulai berniat itu sulit? Demi Allah yang menggenggam jiwaku, ini mudah dilakukan. Untuk sempurna berikhlas memang berat, tapi berniat dalam kebaikan sangat mungkin dilakukan.

Niat untuk hal yang tidak bisa kita lakukan, juga tidak pernah sia-sia. Betapa banyak orang yang berniat haji, dan mengumpulkan uang dengan sungguh-sungguh, tetapi dia tidak jadi berangkat haji, namun Allah mencatatnya telah mendapatkan haji mabrur. Betapa banyak orang yang berniat syahid, lalu meninggal di ranjang tapi Allah mencatatnya syahid sempurna, ”Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah dengan benar, Allah akan menyampaikannya pada kedudukan para Syuhada, meskipun ia mati di atas ranjangnya , betapa banyak orang yang tidak Qiyamul layl tapi mendapatkan pahalanya. Karena niat, ”Siapa yang mendatangi ranjangnya sambil berniat melakukan shalat lail, tetapi ia terserang kantuk sampai pagi, ia akan mendapatkan pahala sesuai yang ia niatkan tapi semua dengan catatan bahwa kita tawakkal kepada Allah.

Para Sahabat Rasulullah saw, ketika melakukan suatu amal akan membuat banyak niat. Ketika berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah, maka dia berniat shalat berjamaah dengan banyak keutamaannya, bertemu dengan kawan-kawan yang shalih, mencari sahabat baru untuk sama-sama melakukan ketaatan, mengambil manfaat dari agama, aku ke masjid untuk menjauhi maksiat. Dengan kebiasaan niat ini, Insyaallah kita mendapatkan pahala yang berlipat-lipat.

Adakah agama yang lebih mulia dari Islam? Bukankah anugrah Allah terbesar adalah niat? Kita sepakat untuk melakukan amal dengan niat. Pada awalnya mungkin terasa begitu berat, tetapi setelah itu saudaraku..., kita akan termasuk hamba Allah yang terbaik, dan mampu meninggalkan semua kemaksiatan. Mengapa? Bukankah kita paham, betapa beratnya berlaku maksiat jika harus berniat karena Allah ’Azza wa Jalla?

Aku mengakhiri pengajian itu setelah muhasabah, beberapa hadirin menangis sesenggukan bersamaku. Beberapa stasiun televisi meliput pengajian tadi. Dikiranya yang datang DR Ramadhan Al Buthy, tapi mereka tetap merekam acara ini. Seseorang yang mengaku dari salah satu stasiun TV swasta, bahkan memintaku untuk mengisi kajian setiap pagi hari, karena materi yang saya sampaikan amat simpel dan menyentuh. Aku belum memberi keputusan kepadanya, tapi dia meminta nomor Hp-ku.

Sesudah Dzuhur di Masjid, aku langsung ke Pasar Minggu lalu mengganti bajuku dan mulai bekerja lagi. Aku teringat kata-kata Umar bin Khattab, ”Tiada hal yang aku senangi sesudah berjihad kecuali berbisnis,” bagiku jika pekerjaan itu halal, aku tak akan malu melakukannya. Bagiku menjadi kuli juga bagian dari bisnis. Kumulai dengan niat untuk biaya kuliah dan dakwah, Kujadikan pekerjaan sebagai hiburan agar setiap hal menjadi ringan. Sore hari, seperti biasa aku langsung pulang, setelah mengganti kaus untuk mengangkat barang di Pasar tadi. Ketika di gerbang, Syahid sedang masuk pula dari luar bersama Ustadz Wahid, mereka mendekatiku dan mengucapkan salam. Mereka menyampaikan kritik tentang materiku tadi pagi, katanya materinya bagus, tapi nada bicaranya masih kurang stabil, harus banyak belajar, aku menganggukan kepalaku.

”O iya,” Ustadz merogoh sesuatu dalam tasnya, ”Ini undangan untukmu. Tadi Ilham, Mahasiswa lulusan S2 Hadits dari Mesir, yang akan menikah besok karena Ustadznya tidak bisa datang, dan dia meminta tolong agar engkau yang mengisinya. Anta bisa kan? Ini atas rekomendasi Ustadz Umair. Insyaallah saya juga akan hadir di acara Walimatul Ursy itu.”

”Insyaallah Tadz,” aku tak berani berkomentar, aku masih ingat pesan Ustadz Umair, bahwa kebaikan harus segera dilakukan. Kejahatan saja berani nekat kenapa kebenaran tidak berani? Menjadi khotib Walimatul Ursy ? Aku sendiri belum menikah, tapi bukankah Da’i juga harus menyampaikan apa yang terjadi sesudah mati, tentang siksa kubur, surga dan neraka, walaupun Dai tersebut belum pernah mati. Intinya jika kebaikan, itu bisa dilakukan sekarang maka lakukan sekarang, dengan niat yang baik. Syahid pamitan untuk masuk lebih dulu di garasi kecil pondok, Ustadz berjalan masuk ke pondok, dan aku kembali ke kamar, menyiapkan materi yang akan disampaikan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!