Cincin Bulan Persahabatan

Kajian Ustadz Wahid

Malam kembali datang, setelah siang berselang. Kesejukan kota Depok di kala malam tak jauh beda dengan keadaan di kampungku. Disini masih banyak pepohonan, kesan asri masih terasakan, memesona keheningan. Kebisingan di kala siang seolah tertelan ketenangan malam, sejuk dan dingin.

Ini malam kedua Ramadhan, bulan yang ketika membaca satu ayat Al-Quran pahalanya berlipat-lipat daripada bulan lainnya. Alangkah merugi seorang muslim yang melewatinya tanpa membawa manfaat, untuk hidup di dunia dan bekal di akhirat. Kota Depok seolah bergema ayat-ayat cinta dari Sang Pemilik Cinta. Di setiap pucuk menara masjid, seolah menggema menyemarakkan semesta yang berdzikir. Lantunan kerinduan, beriringan, membuat siapapun orang yang mempunyai iman di hatinya akan berdebam-debam hatinya, gemetaran raganya, merindukan bersujud dan bersimpuh sepenuh jiwa, memberikan segala rasa pada Allah ’Azza Wa Jalla. Mata setiap insan beriman, pastilah bersimbah airmata rindu yang mengaliri keringnya ruhiyah, jiwa dan raga.

Ba’da tarawih, seolah setiap lisan bercahaya. Tepat pukul 21.00, usai membaca Al-Quran dan mengkaji sedikit terjemahnya, aku meninggalkan masjid. Kulihat beberapa Santri, bahkan sebagian besar sudah menuju kajiannya masing-masing. Syahid kulihat menenteng kitab, memasuki kelas D.I, menunggu Ustadz Ali yang akan menelaah kitab Ruh. Aku meneruskan langkahku, menuju ruang Gazebo Pesantren, tempat Ustadz Wahid menelaah kitab Tauqul Hamaamah. Gazebo Pesantren letaknya di belakang, dekat dengan kolam ikan. Begitu indahnya mengkaji ilmu sambil melihat kecipak air yang digoyangkan ikan-ikan mujair dan emas. Kurasa, Ustadz Wahid memilih di Gazebo mempunyai pendapat tersendiri, atau mungkin menyesuaikan dengan kitab yang akan dibahas.

Kajian sudah dimulai, memang malam pertama Ramadhan diliburkan, dan kajian kitab, baru akan dimulai pada malam kedua. Ada sekitar 30-an orang yang sedang mendengarkan ujaran Ustadz Wahid. Mereka duduk melingkar tapi tiga shaff. Aku memang telat. Aku bergabung di barisan belakang. Ternyata benar, kebanyakan mereka sudah tua, bahkan ada yang telah sepuh. Ustadz Wahid sepintas menatapku, senyumnya terukir sejenak lalu melanjutkan ujarannya. Tauqul Hamaamah merupakan kitab tentang hakikat cinta, mereka ingin mempelajarinya karena merasa was-was dengan keadaan remaja sekarang. Para orangtua yang mengikuti kajian Ustadz Wahid ingin mencari solusi terbaik, dalam menyelesaikan persoalan remaja yang rentan dengan istilah cinta, yang kini banyak disalah artikan. Aku jadi tertarik, karena aku memang sedang banyak gejolak, terutama sebagai pemuda. Aku tidak ingin terjerumus.

Dengan mengetahui penyebab-penyebab seseorang mencintai, hingga mengetahui hakikat cinta itu, maka aku akan mengetahui bagaimana menangkal nafsu yang mencoba melumuri dan menutupi kemunkaran menjadi suatu kenikmatan. Kekuatan cinta memang dahsyat, begitu Beliau menerangkan. Tak ada tirani yang bisa mengekangnya. Jika salurannya tepat, karena Allah, maka cinta itu akan menghasilkan syahadah, kesungguhan untuk melakukan yang terbaik. Cinta yang lurus akan menghasilkan pahlawan-pahlawan cinta, yang hingga kini namanya begitu harum, dialah Hanzhalah ra. yang dimandikan malaikat yang memenuhi panggilan jihad di malam pengantinnya. Dialah Umar ra. yang tidak bisa tidur karena tangisan anak kecil yang kelaparan. Dialah Abu Bakar ra., yang ridha melakukan apapun yang Rasulullah saw pernah lakukan semasa hidupnya.

Masalahnya, kini cinta telah menjadi acuan dan pengertian semata urusan laki-laki dan wanita. Cinta yang ada hanya syahwat dan dunia. Naudzubillah. Seolah dunia ini hanya berisi cinta, hidup ini hanya berisi pemuasan nafsu. Dalam kitab itu dijelaskan tentang bagaimana seseorang dapat mencintai sesuatu, entah pada pandangan matanya, hingga karena mendengar suaranya semata. Permasalahan cinta bukanlah hal sepele, dia bukan penyakit tetapi jika telah terjangkit, lebih pedih daripada terluka oleh sayatan pedang. Sangat sakit, hingga penderitanya bisa mati. Permasalahan terbesar bagi penuntut ilmu adalah wanita, seandainya dia bisa mengalahkan nafsu itu, maka dia akan menjadi ulama, menjadi orang yang berilmu. Tapi jika tak bisa melewati rintangan syahwat itu, maka dia akan perbudaknya.

Setiap kegiatan manusia, jika dilandaskan pada cinta yang murni untuk Allah, maka sesungguhnya dia sedang menikmati hidupnya. Itulah masalahnya, di kala manusia terlelap dalam buaian mimpinya, cinta bangun untuk bermunajat, itulah repotnya. Di kala manusia membuat proteksi akan hartanya, cinta ingin memberi dan berbagi, itulah susahnya. Ketika orang lain berkeluh kesah, cinta bersabar dan bersyukur. Ketika orang lain melarikan diri dari masalah, cinta mempertanggungjawabkan perbuatannya, itulah beratnya. Cinta akan melahirkan akhlak yang mulia, Rasulullah saw bersabda, ”Cukuplah seseorang dinilai telah melakukan kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” itulah cinta, kata yang bisa dipahami oleh orang-orang yang menikmati ibadahnya, bukan sekedar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban apalagi agar dilihat manusia.

Malam merambat. Kajian diteruskan besok malam. Aku pamitan pada Ustadz. Di kamar, Syahid telah terlelap tidur. Aku tersenyum padanya, Allah terima kasih untuk semua cinta yang Kau anugerahkan. Aku memiliki segalanya, tak ada yang akan kukeluhkan lagi ya Allah. Kuhidupkan jam weker, berlomba-lomba dalam kebaikan karena aku harus lebih dulu membangunkan teman-teman untuk sahur. Aku melantunkan doa, melantunkan dzikir, dan tersenyum padaNya. Semoga tidurku bernilai ibadah di sisiNya. Amiin.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!