Cincin Bulan Persahabatan
Dia Pemilik Segala Sesuatu
Hari minggu tiba, hari terakhir libur karena besok kuliah mulai aktif. Teman-teman santri sudah hadir, hanya beberapa orang yang belum datang, mereka izin karena datangnya senin pagi, jumlahnya mungkin hanya dua atau tiga orang. Nanti malam akan ada I’lan setelah ba’da isya’.
Malam harinya ba’da isya’, seluruh santri tingkat satu berkumpul di ruang Munaqosah. Ustadz Umair telah duduk di meja depan. Kami semua duduk menghadapnya, ada 29 orang. Dua orang belum datang.
Setelah mengucapkan salam dan penyambutan untuk semester baru, setelah beberapa minggu yang lalu pondok mengadakan Imtihan dan hasilnya juga telah dibagi, maka kami semua lulus untuk meneruskan ke semester dua. Selain itu ada pengumuman penting yang membuatku bersemangat, ”Pondok mengadakan semacam sayembara. Barangsiapa diantara kalian selama dua bulan ke depan, yang paling banyak hafalan Qurannya, maka akan ada hadiah dari pesantren...,” Ustadz Umair menghentikan kata-katanya sejenak, mungkin menunggu respon.
Ada dua orang yang mengangkat tangan ingin bertanya, Farid dan aku sendiri. Aku mengalah, biarkan Farid kupersilakan duluan.
”Apakah waktunya tidak bisa dipercepat satu bulan atau seminggu saja. Bukankah aku pasti menang?” nadanya sedikit mengejek.
Ustadz Umair tersenyum, ”Aku hanya memberi kesempatan kepada yang lain untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan, Fastabiqul khoirot. Walau kini kamu paling banyak, bisa jadi nanti ada yang mengunggulimu.”
”Mana mungkin! Sekarang aku sudah hafal 7,5 juz Ustadz!”
Ustadz kembali tersenyum, ”Wallahua’lam, hanya Allahlah yang tahu. Sekarang kamu silakan bertanya,” beliau menatapku.
”Maaf Ustadz, apakah kami boleh tahu hadiahnya Ustadz,” wajah Ustadz agak kaget, tapi hanya sejenak, lalu tersenyum kembali. Memang sekarang saja aku baru hafal 1 juz dan setengah juz di juz 30.
”Hadiahnya, biaya pondok dibebaskan dan berhak mendapatkan beasiswa dari salah seorang temanku di Mesir, namanya Syekh Utsman. Dia memberikan beasiswa senilai 400 dolar untuk program ini!” semuanya sempat kaget, namun beda dengan wajah Farid yang sudah cengengesan dan senyam-senyum. I’lan ini hanya berlaku bagi tingkat dua, berarti kesempatanku lumayan besar. Aku harus bekerja keras untuk mengalahkan keangkuhan Farid, aku pasti bisa. Izinkan aku ya Allah, hatiku mengazamkan perjuangan yang pasti berat, seperti perjuangan Fadli untuk memenuhi janjinya.
Seusai pengumuman, semua Santri terlihat buru-buru meninggalkan ruang Munaqosah. Aku masih duduk di kursi, kulihat Ustadz Umair masih memasukkan beberapa buku dan kertas ke dalam tasnya. Setelah beres dia melihatku sejenak, senyumnya teduh dan mendekatiku, lalu duduk di sebelahku. Aku salah tingkah.
”Mau ikut mencoba berpartisipasi dalam sayembara? Tapi butuh kerja ekstra untuk mengalahkan Farid yang kini telah hafal 7,5 juz, dan itu belum termasuk dua bulan ke depan. Butuh kesungguhan dan tekad yang kuat,” beliau menatapku sambil tersenyum.
”Insyaallah, saya akan berusaha sekuat mungkin Tadz. Walau aku tidak yakin bisa mengungguli yang lain,” kurasa jawabanku sesuai dengan realitas.
Lelaki itu menyentuh pundakku, ”Anakku,” matanya menatapku pelan. Menghunjam, ”Aku ingin bertanya, bagaimana jika engkau engkau dikejar oleh anjing. Apa yang akan kamu lakukan agar anjing itu tidak mengejarmu lagi?”
Pertanyaan yang aneh. Tapi sekarang aku sedang berhadapan dengan seorang pembesar Pondok, ”Aku akan terus berlari, ya! Kurasa seperti itu,” jawabku mantap.
”Kamu yakin anakku, dia tidak akan mengejarmu lagi?”
”Saya tidak yakin Tadz.”
”Lalu, mungkin Engkau punya cara yang lain anakku?”
”Aku akan berhenti dan melemparnya dengan batu,” jawabku mantap.
”Kamu yakin Anakku, dia tidak akan mengejarmu lagi?” aku hanya menggeleng.
”Lalu, apakah engkau mempunyai cara yang lain?”
Aku tersenyum, mencoba mencari jawaban yang lain, ”Aku akan ganti menggonggongi dia...,” lelaki tua itu tertawa terkekeh. Aku juga ikut tertawa, baru kulihat lelaki yang dianggap teman-temanku sebagai orang yang selalu serius, kini tertawa hingga gigi serinya terlihat.
”Ha...ha...ha..., apakah engkau masih mempunyai jurus yang lain?”
Aku mencoba menemani senyumnya. Aku bersemangat menjawab, ”Aku akan berteriak dengan keras, ”Siapapun pemilik anjing ini! Tolong! Dia mengejarku!” atau...,” kata-kataku terhenti. Kulihat wajah Ustadz Umair serius, tawanya tadi sirna tiba-tiba.
”Kamu benar anakku. Ada pemilik segala sesuatu, Dialah yang menciptakan segala hal dan Dialah yang memberikan kita akal, hati dan perasaan kita.”
”Maksud Ustadz? Allah! ” aku menatapnya.
”Iya anakku. Dialah segalanya, jangan berjuang untuk selainnya, apalagi untuk sebuah hadiah atau dunia. Berjuanglah untukNya, maka engkau akan menemukan ketenangan hati yang hanya dimiliki oleh orang-orang shalih. Potensi untuk maju akan engkau peroleh, jika engkau menggantungkan semuanya pada Allah, engkau akan menjadi orang yang terbaik jika engkau selalu bersamaNya.”
Air mataku tak kuasa kubendung, menetes pelan. Bibirku bergetar, ”Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah...”
”Iya anakku. Engkau pasti bisa melakukan apapun, jika Allah selalu bersamamu. Engkau akan bisa seperti Khalid bin Walid ra. saat mengalahkan tentara Romawi pada saat perang Yarmuk walau dengan pasukan 36.000 pasukan melawan 240.000 pasukan. Engkau pasti bisa seperti Hanzhalah ra. yang di saat kesyahidannya dimandikan oleh malaikat. Engkau pasti bisa seperti Abu Ayyub Al-Anshari ra. yang berperang seorang diri, menunggang kuda, menerjang gurun sahara, menempuh jalan panjang untuk membebaskan Konstantinopel, setelah mendengar Rasulullah bersabda bahwa Konstantinopel akan dibebaskan oleh sebaik-baik pasukan dan sebaik-baik komandan. Engkau harus yakin, bahwa dengan pertolongan Allah, engkau pasti bisa.”
”Ustadz, bolehkah aku memelukmu,” bagiku itu merupakan nasehat yang aku cari selama ini. Aku memeluknya erat, aku bagaikan anak kecil. Airmataku berguguran, ”Insyaallah aku akan berusaha sekuatku bukan karena hadiah melainkan karena Allah semata, Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maula wani’man nasiir.”