Cincin Bulan Persahabatan
Pertemuan Tak Terduga dengan Aisyah
Hari ini sepulang kuliah, naik Bikun aku turun di stasiunl UI lalu masuk ke Pasar. Saatnya mengganti bajuku, setidaknya dengan kaos dalam dan memasukkan kemejaku ke dalam tas. Saatnya bekerja. Tentu saja jika nanti aku akan terlambat untuk masuk pelajaran di Pondok, tapi..., apa boleh buat. Aku butuh uang untuk membayar kuliah dan pondok, tapi Alhamdulillah di pondok biayanya cukup ringan, mungkin biaya pondok plus makannya sesuai dengan sewa kamar di Asrama UI. Ini karena banyak donatur pondok yang menghandle dana nyantri, dan akhirnya setiap Santri mendapatkan subsidi.
”Ali!” aku menengok ke belakang. Pak Sapto, pedagang ATK yang tokonya lumayan besar.
Aku mendekati lelaki yang telah dua kali naik haji itu, ”Enten nopo Pak?”
Lelaki asal Jawa Tengah itu tersenyum ramah. Tangannya sigap mengangkat kardus yang tertutup rapat, lalu menaruhnya di atas meja kayu. Kelihatannya agak berat, ”Ini tolong antarkan ke toko di seberang sana,” jari telunjuknya menunjuk arah seberang, ”Serahkan di Mahabbah Cell, disana ada counter, wartel dan interned. Dan ini upahmu karena mereka sudah membayar plus ongkos antarnya. Letaknya bersebelahan dengan toko bangunan Bumi Waras di Pasar Bagian Dalam,” Pak Sapto menyerahkan uang Rp. 3.000 dan aku menerimanya.
”Insyaallah saya tahu Pak,” aku mengangkat kardus itu, lumayan berat.
”Hati-hati Ali, isinya kertas untuk transkip pembayaran di mesin wartel jadi agak sedikit berat,” senyum lelaki itu tulus, walau dia punya beberapa karyawan namun dia sering membantu para karyawannya. Dia tidak malu mengangkat barang bersama karyawannya. Selain itu, dia menerapkan untuk menutup toko kala adzan menggema.
Aku tersenyum kepadanya, lalu berpamitan sambil memikul kardus itu, ”Matur suwon Pak. Assalamu’alaikum,” jawaban salamnya mengiringi langkah kakiku yang bernyanyi riang sambil hatiku bertahmid. Semua atas izin Allah ’Azza Wa Jalla.
Aku menyusuri Pasar Minggu, toko Bumi Waras mungkin berkisar sekitar 400 M. Letaknya di bagian dalam, membuatku harus berkelak-kelok memasuki gang pasar dan pasti semakin memberlambat jalanku, karena banyak orang yang lalu-lalang. Pasar memang identik dengan kemaksiatan, terutama mata. Astaghfirullah, berulang kali dzikir hatiku menggema, membuatku harus menundukkan pandangan atau mengalihkannya. Itulah setidaknya pelajaran pertama waktu Ustadz Wahid memberikan Tarbiyah perdana pada santri baru, ”Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kita. Jagalah amanahnya, jagalah penglihatan dari pandangan khianatnya, jagalah telinga dari pendengaran keburukan dan kesiaan, jagalah lisanmu dan berkatalah yang bermanfaat atau diam. Insyaallah kita akan mendapatkan petunjuk dengan menjaga amanah-amanah Allah.” Aku harus bisa menyesuaikan diriku untuk mendapatkan petunjuk Allah. Aku harus berusaha!
Keluar gang pasar, perasaanku terasa lega. Tahmid kembali kulantunkan dari bibirku. Toko Bumi Waras sudah terlihat, hanya tinggal 10 Meter. Di sebelahnya terpampang papan bertuliskan Mahabbah Cell. Itu dia. Ruko yang lumayan besar, ada 3 Plong. Satu untuk counter dan yang dua plong untuk wartel dan interned. Terlihat agak sepi. Maklum, sekarang pukul 12.45. pas panas-panasnya kota Depok, berdasarkan prakiraan cuaca di koran yang kubaca pagi tadi di Pondok.
Seorang wanita memakai kaos dan berambut sebatas pundak sedang menghadap ke dalam toko. Astaghfirullah, mataku kembali berkhianat. Ternyata susah juga menyesuaikan diri untuk mendapatkan petunjukMu ya Allah. Tapi, aku akan selalu berusaha.
”Assalamu’alaikum,” suaraku pelan.
”Wa’alaikumsalam,” wanita itu menoleh. Dan...
”Lho!” aku agak kaget, ”Kamu..., Rika kan?”
”Iya. Bukankah kamu Ali?”
Aku menganggukkan kepalaku pelan. Aku sedikit malu, tapi kupikir sejenak tak apalah. Toh pekerjaanku ini halal dan aku harus percaya diri. Rika pernah menjengukku bersama Hanif saat aku di Rumah Sakit. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia anak orang kaya.
”Kamu sedang apa disini?” tanyanya pelan, tanpa ada tersirat kesombongan.
Aku sedikit kaget, ”Aku mengantarkan barang ini. Kata Pak Sapto disini membutuhkan barang ini.”
”Ooo..., kamu juga pasti terkejut jika tahu siapa yang menjaga Mahabbah Cell ini.”
Belum sempat aku bertanya, sesosok keluar dari pintu di dalam toko itu. Seorang yang masih memakai telekung untuk shalat. Mataku benar-benar terpana, wanita yang seumpama bidadari. Wajahnya yang putih bagai pualam, awan putih menyisakan kenanganku siang tadi saat aku bersama Hanif, dan wanita itulah yang membuat Hanif dalam candanya masih uring-uringan.
”Ali!” kulihat keterkejutan pula dari raut wajahnya. Wanita itu melepas telekungnya dan melipatnya. Rambutnya terurai, panjang dan hitam, ”Kamu...”
”Iya. Aku mengantarkan kertas ini dari Pak Sapto dari toko ATK di seberang sana,” aku segera memotong kata-katanya cepat.
”Apakah kamu bekerja disana?” tanyanya singkat.
”Tidak. Aku bekerja sebagai kuli di Pasar, dan kebetulan sekali pak Sapto memintaku mengantarkan kertas ini, dan kebetulan juga ternyata kamu bekerja disini. Ya sudah, aku kembali kerja dulu.”
”Tunggu! Ini sangat kebetulan. Kita bertiga satu kelompok, sebaiknya kapan kita membahas tugas kita,” Rika kembali bersuara. Nadanya pelan tak ada peremehan.
”Mungkin besok di kelas. Insyaallah aku bisa.”
”Ali,” suara pelan dari wanita cantik versi Hanif. Tangannya terulur, ”Mungkin kamu belum mengenalku.”
Tanganku gemetar, agak ragu kugerakkan. Aku menangkupkan telapak tanganku di dada, ”Iya. Sejujurnya aku belum mengetahui namamu. Namaku Ihsan Nur Ali, panggilanku Ali,” aku memotongnya cepat, aku takut dia tersinggung. Aku kini harus ketat menyesuaikan diri dengan tata-tertib pondok.
”Oo..., maaf ternyata kamu...,” dia menarik tangannya kembali, ”Namaku Siti Nur Aisyah, panggil saja Aisyah.”
”Aisyah! Sepertinya aku sering mendengarnya. Ah! Mungkin nama itu ada dalam serpihan dalam ingatanku mengenai teman atau anggota keluargaku,” aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Kebiasaanku waktu kecil terulang tanpa sengaja.
”Mungkin saja! Nama Aisyah juga kurasa sangat banyak bukan?” kulihat senyum sekilasnya terukir indah, menciptakan wajah itu semakin sempurna. Matanya bulat ceria menggambarkan betapa agungnya Allah sebagai Sang Pencipta.
Aku berpamitan dengan kesepakatan, besok di kampus akan membahas tugas mata kuliah Manajemen Keuangan dari Pak Yanto. Aku beruntung mempunyai teman-teman yang baik, walau aku tidak menjabat tangan wanita yang bukan muhrim dan bisa dibilang bekerja sebagai buruh, mereka tetap tidak berubah dalam berkomunikasi. Alhamdulillah, syukurku kembali menggema di relung hatiku yang terdalam. Terima kasih ya Allah, aku bahagia bertuhankan Engkau dan aku ridha Muhammad sebagai teladanku, dan aku bangga beragamakan Islam.
* * *
Sepulang aku langsung mandi dan mengenakan baju koko biruku, lalu menyelinap masuk ke dalam barisan santri lain yang sedang belajar di ruang tengah, yang dikelilingi kamar-kamar. Aku duduk bersebelahan dengan Syahid, Samsul dan Zainal, beberapa orang juga baru masuk menyusul. Ada pula beberapa orang yang main sepak bola di lapangan depan pondok. Mereka juga barusan pulang dari kampus, mungkin sibuk karena padatnya jam kuliah, dan juga ada yang sudah berada di kepengurusan dakwah sehingga biasanya ada agenda rapat. Sering sindiran dari orang, membuat para aktivis dakwah terkekeh sendiri, ’Mahasiswa Kura-Kura’ kuliah rapat-kuliah rapat. Ada-ada saja bahkan ada sindiran balasan untuk Mahasiswa yang sok study oriented, yaitu Mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang.
Di Pondok, aku harus terbiasa makan seadanya, bagiku itu sangat biasa. Kadang makan sehari sekali pun aku sering. Tidur tanpa kasur empuk pun bagiku sudah biasa. Kalau kamar mandi yang agak antrl, itu baru menurutku yang agak sulit apalagi jika dapat jatah kuliah lebih pagi. Biasanya aku selalu mandi di pagi buta sebelum subuh, agar memudahkanku, mengejar aktivitasku yang telah terpampang dalam jadwal agenda dalam catatanku.
Kebiasaan buruk tidak boleh dibawa dan harus dirubah di pondok, semisal dari awalnya yang masih merokok, apalagi jika ada yang meminum miras. Pihak pondok akan tegas. Masih ada beberapa santri yang kulihat kemarin masih sembunyi-sembunyi merokok. Saat aku melihatnya, dia bilang belum bisa berhenti total, makanya terpaksa dia merokok di WC. Aku hanya menyarankannya untuk berhenti pelan-pelan.
Pagi hari sesudah tahsin, atau belajar kitab kadang kami bersama riyadhoh sampai pukul 07 pagi. Biasanya riyadhohnya berbeda-beda, ada yang main sepak bola, ada yang senam, ada yang lari-lari, dan ada yang hanya menggerak-gerekkan tangan dan kakinya. Sekedar pelemasan sendi-sendi.
Teman-teman yang baik dan supel, walau ada yang masih terlihat acuh. Biasanya yang acuh adalah jebolan pondok sewaktu SMA-nya, dan karena itu mereka merasa sedikit lebih tinggi level keilmuan keislamannya. Apalagi hafalannya tentu saja lebih banyak dari yang masih awal mondok. Ada satu orang yang seangkatan denganku telah hafal lima juz, namanya Farid Abdullah, dan yang lain ada yang tiga dan dua juz. Sebagian besar baru hafal satu juz, itupun juz 30. Tapi itu semua sudah merupakan karunia yang patut disyukuri, karena masih banyak orang yang sudah besar pun belum bisa mengeja Iqra’, apalagi membaca Al-Quran.
Hari-hari yang menyenangkan, walau kelelahan dan keletihan kadang sering menemaniku. Tapi aku sangat bersyukur, dapat memulai belajar dengan hati tentang Islam. Ajaran yang penuh keindahan, setiap ajarannya mempunyai makna keindahan, yang sebenarnya harus dikuak oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam, bukan sekedar terpampang islamnya di KTP. Banyak hal yang kudapatkan, jika teringat orangtua di kampung aku ingin segera menerapkan Birrul walidain kepada Bapak dan Ibu disana, mendidik kedua adikku. Tapi..., belum waktunya. Aku harus menimba ilmu lebih banyak lagi.