Cincin Bulan Persahabatan

Siapa Paling Cantik di Jurusan?

Aku mendekati Hanif yang masih menyalin catatan dariku, karena kemarin dia tidak berangkat.

”Nif! Boleh tanya gak?” aku sedikit menggodanya dengan menyenggol lengan kanannya yang masih menulis. Tulisannya tercoret sedikit.

Matanya langsung tajam menyoroti seluruh wajahku. Lalu tersenyum pelan sambil cemberut lagi, ”Mau tanya apa Ali dari kampung?” kebiasaan kami memang selalu bercanda. Walau aku sudah di pondok, namun aku tak bisa menghentikan bercandaku dengannya, karena begitu melihat wajahnya aku sudah pingin ketawa.

”Siapa yang katamu paling cantik satu jurusan kita?” aku melihat wajahnya berubah. Agak kaget, ”Aku hanya bermaksud ingin tahu saja, jangan heran. Selama ini yang aku kenal baik baru kamu sama Hamid, dan aku sendiri tidak mempunyai banyak teman,” aku kembali menatap keheranannya, ”Kenapa kamu memandang aneh begitu? Ya udah aku tidak jadi tanya.”

”Bukan! Bukan itu yang kumaksud Li,” matanya berkedip-kedip, ”Ada sesuatu yang rasanya aneh dengan pertanyaanmu.”

”Memangnya kenapa?”

”Ternyata..., kamu normal juga,” kepalanya menggeleng beberapa kali.

”Dasar Hanif! Aku kira ada yang tidak wajar,” aku memukul bahunya pelan, ”Sudahlah! Lupakan pertanyaan itu.”

Baru beberapa menit pembicaraan kami. Hanif tiba-tiba menepuk pundakku pelan dan membisikkan sesuatu. Sangat pelan, ”Itu dia baru masuk.”

”Siapa?” tanyaku penasaran.

”Siapa lagi kalau bukan wanita tercantik satu jurusan kita,” nadanya sedikit sewot.

Aku menatap sosok lembut yang baru memasuki kelas. Splash! Mataku seolah terpaku untuk beberapa detik. Seorang wanita berambut terurai lembut, masuk dengan menjinjing jas cangklong menjuntai di sebelah kiri dan tangan kanannya memegang dua buku tebal, buku Pengantar Manajemen dan satunya lagi aku belum pernah melihatnya. Bajunya nampak rapi, berupa kemeja lengan panjang. Wajahnya yang putih nampak halus bagai pualam yang jernih, tingginya ideal mungkin. Bola matanya lentik, namun tidak jelalatan dan terlihat sedikit layu. Mungkin kekurangan tidur.

Aku segera mengalihkan pandanganku. Memang wanita itu cantik, sangat bahkan. Pantas saja Hanif sering membicarakannya dulu waktu di Asrama. Aku pun mungkin hanya bermimpi, jika seandainya mendapatkan pendamping hidup yang wajahnya secantik wanita itu. Aku menghadap Hanif kini, namun kulihat mata Hanif tak lepas dari sorotannya kepada wanita itu. Aku kembali menyentaknya di pundak, dia tergagap. Aku tersenyum melihat wajah sewotnya.

Wanita itu berhenti di sebuah kursi, namun tidak duduk. Kepalanya seolah berpikir sejenak, lalu menaruh bukunya di meja kursi yang didesain kecil menempel di pegangan tangan kanan. Wanita itu melangkah menyamping kearah kami, dia melihat kami. Hanif salah tingkah. Aku mengalihkan pandanganku, aku teringat pesan Kak Nugroho. Pandangan Mata adalah anak panah Iblis! Ah! Mungkin wanita itu ingin berbincang dengan Hanif, dia kan tajir. Sedangkan aku? Mungkin mimpi kali!

”Assalamu’alaikum,” sapanya lembut sambil tetap berdiri.

”Wa’alaikumsalam Warohmatullah,” Hanif menyerobot keras, tingkahnya langsung sumringah, matanya pun berbinar. Aku hanya menjawab pelan.

”Apakah kamu yang namanya Ali?”

Aku sontak kaget. Aku yang dicarinya? Aku menoleh kearahnya dan muka putih itu tertangkap di mataku. Rambutnya kemilau ditimpa sinar remang dari balik jendela kelas. Benar-benar seolah bidadari, orang-orang di desaku pun tidak akan menyangka ternyata ada manusia yang cantik seperti ini.

”Iya, saya Ali. Ada yang bisa saya bantu?” kulihat Hanif masih sedikit keheranan.

”Kita menjadi satu kelompok dengan Rika. Kita bertiga satu kelompok untuk mencari laporan keuangan suatu perusahaan atau perbankkan, kemudian kita menghitung tingkat likuiditas perusahaan itu. Ini tugas dari mata kuliah Manajemen Keuangan. Kukira engkau belum tahu karena minggu kemarin kamu tidak masuk.”

Aku menganggukkan kepalaku, ”Iya, terima kasih. Aku memang belum tahu. Insyaallah kita bisa mengerjakannya bersama.”

”Baiklah. O ya, katanya kamu sakit kena darah tinggi ya? Maafkan aku tidak bisa ikut menjengukmu karena di rumah banyak tugas,” senyumnya sungguh tulus, lesungnya begitu tarasa teduh.

”Tidak apa-apa, doa kalian semua sudah cukup bagiku.”

”Ya sudah, aku mau ke kursiku lagi,” gadis itu berlalu meninggalkan kami. Setelah itu bisa dipastikan Hanif geger sendiri, dia bilang bagaimana mungkin wanita yang dulu selalu pendiam. Diajak pacaran tidak pernah mau, kenapa denganku begitu loyal, kukatakan pada Hanif bahwa mungkin untuk mencairkan keadaan sesama kelompok pembuatan tugas. Yah! Apa di dunia ini yang tidak bisa berubah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!