Cincin Bulan Persahabatan
Persiapan Tes Pondok
Seusai semester genap berakhir, Nugroho tidak pulang kampung. Katanya masih banyak tugas. Nugroho agak melonggarkan waktunya untukku. Dia benar-benar meluangkan waktu-waktu senggangnya, untuk mengajariku membaca Al-Quran dengan tartil. Kadang tajwid yang baru kukenal namanya, dan juga bagaimana pembunyian kata-katanya sering membuat kepalaku pusing. Waktu pendaftaran hanya tinggal seminggu lagi, dan yang baru kuketahui paling cuma mad tobi’i dengan hukum nun mati dan tanwin. Makhrojul hurufnya masih acak kadut. Aku menyesal, kenapa aku dulu tidak serius sewaktu Mentoring dengannya.
Hari senin sore sepulang dari kuliah, dan melakoni lakonku di Pasar sebagai kuli, kusempatkan ke toko buku di dekat Terminal. Disana ada kaset-kaset murottal, lengkap dari juz satu sampai tiga puluh, itu yang kucari. Aku membeli satu, juz satu Al-Mathrud. Dari seminggu yang lalu aku belajar menghafal dengan Nugroho, belum se-ayat pun yang aku hafal karena makhroj huruf dan tajwidnya masih kurang tepat. Terpaksa aku harus menghafal dengan metodeku sendiri.
Kujadwalkan seminggu full sebelum tes di pondok Darussalam, menghafal satu juz dengan mendengarkan dari kaset, setiap ba’da subuh dan malam menjelang tidur. Dan seminggu berjalan seolah melambat atau cepat, aku sendiri sudah melupakannya. Aku kini seolah mengalir lagi bagaikan air, beberapa kali aku masih bertemu dengan pemilik cincin bulan. Bertemu di bikun atau di luar asrama, aku harus kuat membuang jauh-jauh ingatan tentangnya. Semuanya. Walau kadang perasaanku masih bergetar, ketika melewati Fakultas Ilmu Budaya, serasa angin hembusannya berbeda ketika melewati tempat manapun.
Bagiku yang terpenting kini adalah bagaimana bisa masuk ke pondok Darussalam, konsentrasiku kugunakan sepenuhnya kesana. Setiap mendengarkan kaset, aku selalu menyimaknya dan merekamnya sekuat tenaga di otakku. Pagi hari libur, setelah semesteran membuatku betah berlama-lama demi mendengarkan murottal. Selama bekerja di Pasar Minggu, selain mengangkat barang kugunakan waktu itu untuk membaca Al-Quran, kubaca sesuai dengan kaset di rumah. Pelan dan hampir berbisik, sehingga hanya aku dan Allah yang mendengarkannya.
Hari senin itu benar-benar telah datang, beberapa hari yang lalu telah kedengar kabar juga banyak calon Mahasiswa dari lulusan SMA se-Nusantara sudah ada yang mendaftar. Hari ini, Nugroho menemaniku mengikuti tes di pondok Mahasiswa Darussalam. Sampai disana, Nugroho menemaniku sebentar selama mendaftar dan menunggu, bersama antrian lain karena memang hari ini pendaftaran langsung, dan pengumumannya biasanya besoknya setelah hari tes. Aku mengambil formulir dan mengisinya di meja yang telah disediakan. Aku duduk di kursi tunggu setelah Nugroho pamitan padaku, seperti biasa ada tugas. Dia memang orang sibuk.
Beberapa orang di ruang tunggu masih terlibat perbincangan seru, dengan sebaya mereka atau orang tua mereka. Mungkin mereka juga mengikuti tes masuk pondok. Aku melangkahkan kakiku di Masjid kecil, yang terletak di sebelah selatan pondok, berlawanan dengan lapangan bola yang berada di depan, di sebelah utara pondok. Aku ingin melaksanakan shalat Dhuha, belum pernah sekalipun dengan kesungguhan aku menunaikan shalat sunnah itu. Setidaknya seperti pesan Nugroho, shalat dhuha dapat memperlancar urusan, dibangunkan istana di surga atau dengan dua rekaatnya saja, dapat menyedekahi 360 persendian yang berada dalam organ tubuh manusia.
Masjidnya begitu bersih, walau tidak sebesar masjid Ukhuwah Islamiyah, namun pesona sejuknya tidak kalah dibanding disana. Tempat wudhunya pun begitu bersih, di masjid tidak ada orang, tanpa rikuh aku langsung melaksanakan shalat dhuha. Begitu tenang dan seolah menghanyutkan. Tanpa terasa airmataku menetes pelan, hangat. Aku merasakan Allah begitu dekat, sangat dekat hingga terasakan betapa indahnya hidup, yang kadang tidak kita sadari dengan banyak mengeluh dan menyia-nyiakanNya. Terasa bagaikan hidup ini hanyalah ujian yang ringan, semua penuh dengan kedamaian. Tak terasa wajahku telah basah, begitu banyak dosa yang selama ini terabaikan, seolah hanya sebagai perbuatan yang biasa.
Padahal setiap perbuatan sebesar dzarrah pun, akan dimintai pertanggungjawaban, begitu banyak kedzoliman yang terlupa untuk memohon ampunan. Kadang jika ditanya siapa yang ingin ke surga, jawabanku pasti, ”Saya!” tapi kenapa aku begitu lambat untuk lari menjauhi neraka, malah melangkah banyak melakukan kemaksiatan? Mulai kini, aku akan memperbaiki diri ya Allah, maka izinkanlah aku dengan kuasaMu. Masukkanlah aku ke pondok Darussalam, dengan izinmu ya Allah, aku berjalan menuju kepada jalan yang Engkau kehendaki.