Cincin Bulan Persahabatan
Nasehat Lelaki Tua
Ya Allah..., aku hina maka tinggikanlah derajatku dengan ilmu dariMu..., izinkanlah aku menghirup udara ketaqwaan, sebelum utusanMu menjemputku dan membawaku kepadaMu. Izinkahlah...
”Assalamu’alaikum,”
”Wa’alaikumsalam,” aku segera membersihkan airmataku dengan tangan kanan dan kiriku. Malu seandainya terlihat menangis. Kutatap si penyapa, seorang lelaki berumur setengah baya, mungkin lebih. Wajahnya tenang dan tersenyum, jenggotnya memanjang, bajunya longgar sampai bawah dan memakai kopiah rajut putih. Aku gelagapan, dan membersihkan sisa-sisa airmata yang masih tersisa di wajahku.
Aku menghadapnya sambil bersila setelah kurasa wajahku telah bersih, aku benar-benar tak menyadari jika selama shalat dan muhasabah tadi, ada seseorang di belakangku. Kini dia sedang duduk bersila pula, mungkin dia takmir masjid ini. Aku masih terdiam, menunggu apa yang ingin disampaikannya. Kurasa itu lebih baik daripada aku memulai duluan, sedangkan aku bingung apa yang ingin aku katakan.
”Kamu ada masalah anakku?” aku sempat kaget sejenak, tuturnya begitu lembut. Membuatku rindu akan Bapak di rumah. Dia memegang kedua pundakku dengan kedua tangannya, mungkin dia menunggu jawabanku.
”Aku...,” tiba-tiba ada perasaan membuncah yang ingin aku ceritakan, ”Aku telah dibohongi oleh persahabatan. Aku telah datang ke kota persahabatan..., karena aku telah berjanji padanya, aku akan datang untuk keabadian persahabatan. Bahkan aku telah mengorbankan segalanya dalam hidupku, harga diriku, keluargaku hanya untuk menepati janji persahabatan itu. Tapi kini, sahabat itu mengkhianatiku. Aku merasa hidupku tiada guna selama ini, karena dalam pikiranku hanya terpenuhi sesak oleh kata persahabatan.
Aku..., dari orang miskin datang ke kotanya. Kukorbankan semua waktu dan pikiranku untuk memenuhi janji itu. Dan setelah aku menepatinya, dia bahkan tidak mengenalku lagi, dia tidak mau mengenalku! Hidupku bagai hancur, aku kesini ingin merubah diriku..., ingin belajar menjadi diriku yang sesungguhnya, bukan menjadi bayang-bayang sahabat yang telah membuatku terlunta-lunta,” aku mengusap airmataku kembali, kutatap wajah tua di depanku. Tatapannya begitu teduh, seolah berenang di danau yang airnya begitu jernih nan biru.
”Anakku, Persahabatan itu adalah indah. Rasulullah saw bersabda bahwa seribu sahabat itu sedikit tapi satu orang musuh itu banyak, tentu kamu juga paham itu. Ingatlah, berikanlah yang terbaik untuk persahabatan itu. Janganlah pernah kamu menyakitinya walau dia menyakitimu, jika terlewati maka mintalah maafnya. Persahabatan menjadikan hati peka, dan tahu saat musim pasang surut dan musim berlabuhnya persahabatan, pertemuannya bukan hanya mengisi waktu senggang, melainkan menghidupkan sang waktu yang terus berjalan.
Sahabat itu mengisi kekosongan, mengganti keresahan menjadi ceria kegirangan. Membagi duka dan kesenangan, bagai dua pengemis yang membelah rotinya untuk dimakan bersama, atau bagai dua gambar pada mata uang logam yang tak terpisahkan, begitu nikmat walau di bawah terik matahari yang membakar, walau di tengah hujan deras yang mengguyur.
Lahan yang kering kerontang membutuhkan hujan, apalagi kerongkongan manusia yang kehausan, bumi membutuhkan matahari untuk meneranginya. Hati manusia yang pilu membutuhkan rintik lembut embun untuk menenangkannya, itulah persahabatan yang lahir dari jiwa, yang menjadikan kesegaran pada kehidupan.”
”Lalu kenapa..., kenapa sahabatku mengkhianatiku?” Nadaku kurasa melemah.
”Persahabatan yang sejati adalah seperti yang Rasulullah saw dan para sahabat, yang mereka bagaikan satu tubuh, jika satu mengalami kesakitan maka semuanya merasakan sakitnya. Persahabatan itu pada hakikatnya bermuara pada Allah, jika muaranya pada Allah tentu saja persahabatan itu akan terjaga, cobalah susupkan ke hatimu, carilah rahasia sebenarnya di balik peristiwa yang terjadi, karena hati tidak akan berbohong kepada siapapun. Apakah itu persahabatan atau hanya rekaan yang bukan untuk Allah.
Jika persahabatan itu untuk Allah, dia akan kekal. Persahabatan itu memperkaya jiwa dan menuntun pada kesejatian cinta. Dan kita akan memilih keduanya, yaitu cinta dan persahabatan karena keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi, namun jika engkau diharuskan memilih diantara keduanya, maka pilihlah cinta karena dengan cinta, engkau akan menemukan persahabatan-persahabatan di dalamnya.”
Aku masih menatap lelaki tua itu, dia tersenyum pelan.
”Pergilah untuk tes, semoga engkau diterima. Allah mencintai orang-orang yang berusaha sekuat tenaga mengejar ilmu dan hidayah,” senyumnya begitu tulus, mengantar langkahku yang kini kurasa mantap. Kusempatkan mencium punggung tangannya. Aku menemukan sosok Bapak dari setiap kata-katanya yang mengalir, dari kata itulah cerminan akhlaknya.