Cincin Bulan Persahabatan

Kegiatan Sosial

Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa memikirkan apa yang telah manusia lakukan. Mawar hingga kini belum aku temukan. Rasanya harapanku mulai memudar, walau dalam hatiku terdalam masih menghunjam keyakinan yang tak akan pernah berubah. Semester satu telah berlalu, ujian semester satu bagiku biasa saja, aku juga malas menetapi janji persahabatan itu. Hasil IP ku 3,30. Sudah bagus menurutku, karena aku memang kurang belajar, karena mengutamakan jadi kuli dan belajar pun jarang. Kuliahku Alhamdulillah dapat terbayar. Aku juga dapat sedikit mengirimkan uang ke kampung dengan wesel, walaupun dua bulan sekali, dengan nilai tidak seberapa, namun aku berharap dapat meringankan beban ayah dan ibu untuk sekolah adik-adikku.

Pintu kamarku diketuk pelan, dan sebuah suara yang tidak asing mengucapkan salam dari luar, kak Nugroho. Hari ini masih dalam rangkaian liburan setelah semester satu. Aku membalas salam dan buru-buru membuka pintu. Senyuman akrab itu kembali tersungging di wajahnya.

”Hari ini kamu ada acara?”

”Insyaallah tidak ada. Memangnya ada apa Kak?” sebenarnya Nugroho tidak ingin dipanggil kak, namun aku sangat susah merubahnya. Dia menginginkan dipanggil Akh, sebagai simbol kekeluargaan. Dia begitu sabar, walau aku beberapa kali membolos tidak mengikuti mentoring, bahkan sebulan, kadang sekali atau dua kali dan banyak bolosnya.

”Hari ini, Sahabat mengadakan bakti sosial. Kamu bisa bantu kan?”

”Insyaallah,” aku hampir lupa, padahal brosur kegiatannya dua minggu yang lalu telah diberikan kepadaku oleh Nugroho. Namun dia tidak menyinggungku lupa. Lembaga Dakwah Sahabat merupakan salah satu lembaga dakwah di UI, diantara Lembaga Dakwah tiap Fakultas, dan Sahabat merupakan Lembaga Dakwahnya Asrama Mahasiswa. Pusat lembaga dakwah UI kesekretariatannya berada di masjid Ukhuwah Islamiyah, yaitu Nuansa Islam Mahasiswa atau biasa disingkat SALAM.

”Aku mau mandi dulu ya Kak.”

”Baiklah, kamu nyusul saja. Aku harus membantu menyiapkan tempat dan perlengkapannya. Kamu sudah tahu tempatnya kan?”

”Di Gazebo. Baiklah, saya insyaallah akan menyusul.”

Setelah Nugroho pamitan, aku segera mandi dan mengenakan baju koko biru tua, yang baru aku beli sebulan yang lalu di Pasar Minggu. Aku suka warnanya. Setelah shalat dhuha aku menenteng tasku, tak lupa aku membawa Al Quran dan air minum. Yup berangkat! Tidak enak kalau mengecewakan kak Nugroho terus.

Aku langsung ke Gazebo, tempatnya seperti pendopo. Gazebo merupakan tempat terbuka yang sering digunakan untuk tempat berkumpul, dan acara-acara semacam seminar maupun training. Lokasinya dekat dengan TU dan berada di sebelah taman.

Acara terlaksana dengan lancar, walaupun hanya membantu sedikit, hatiku terasa riang dapat membantu orang lain. Ketika donor darah, aku tidak bisa mendonorkan darahku, tensiku tinggi. Aku membantu di lain stand, khitanan massal. Aku membagikan sarung dan kopiah, serta amplop yang berisi uang untuk setiap peserta khitan. Anak-anak yang lucu dan menggemaskan, mereka melonjak ketika kuberikan bingkisan, namun ketika saatnya khitan mereka ketakutan, hingga ada yang menangis sebelum dikhitan. Aku tak bisa menahan tawaku.

Hari yang melelahkan, para akhwat melayani para ibu-ibu yang memeriksakan kesehatan, dan melayani pasar murah yang dijejali oleh ibu-ibu rumah tangga. Seorang anak mendekatiku dan tersenyum, dia baru saja dikhitan. Wajahnya membuatku tersenyum.

” ’Ami sedang apa disini?” setelah mengucapkan salam Muslim bertanya tenang.

”Hanya membantu saja. Kamu tidak takut dikhitan?”

”Kenapa takut ’Ami. Melakukan sunnah itu Insyaallah akan dicintai Allah,” wajah polosnya nampak bagai ketenangan laut yang mengalir lembut, matanya begitu mirip dengan ayahnya. Istilah takut khitan bagiku rawan, karena aku dulu di khitan saat kelas enam Sekolah Dasar, itupun karena dipaksa Bapak.

Aku hanya heran. Ustadz Wahid kata Nugroho adalah termasuk orang kaya, perusahaannya dikelola oleh orang lain. Bahkan dana bantuan, biasanya dari beliau terlalu besar kepada Lembaga Dakwah dan organisasi keagamaan lainnya. Tapi anaknya khitan massal disini.

”Apakah Muslim senang dikhitan disini?”

”Iya, disini ramai sekali. Banyak teman lagi,” anak yang penurut, tidak sepertiku.

”Ayo ikut ’Ami?”

Aku menggandeng tangannya, aku mengajaknya berkeliling. Kebetulan banyak pedagang yang mengelilingi acara. Aku menawarinya membelikan sesuatu sebagai hadiah untuk khitannya. Muslim memang anak yang cerdas, kuajak ke dagangan mainan, namun kelihatannya dia kurang tertarik. Dia memintaku dibelikan kaset murottal juz 11, aku hanya menggelengkan kepala. Harganya jauh lebih murah daripada membelikan mainan. Akhirnya aku membeli dua kaset. juz 11 dan 12, Muslim begitu senang. Aku ikut tersenyum. Aku tidak tahu, bahwa semua hal telah diatur oleh Allah Yang Maha Menentukan.

Dari kejauhan Ustadz Wahid datang, menuju kearah kami. Senyumnya nampak meneduhkan. Aku menjabat tangannya. Aku baru tahu sekarang, kenapa Muslim menginginkan kaset murottal, ternyata dia sedang menghafal Al-Quran dengan Uminya. Sekarang sudah 10 juz, aku sebenarnya malu, tapi segera kusembunyikan dengan senyuman. Alih-alih sama atau melebihi, juz ’Amma saja banyak bolongnya.

”Datanglah nanti sore ke pondok bersama Nugroho, Insyaallah syukuran untuk anakku. Datanglah, dan terima kasih atas hadiah untuk anakku. Insyaallah akan sangat bermanfaat untuknya,” aku hanya tersenyum.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!