Cincin Bulan Persahabatan
Bisnya Gratis Ali
“Sudah sampai Mas,” Supir angkot mengingatkan, karena aku memang memintanya untuk memberitahuku. Aku baru kali pertama ke Depok.
Aku membayar angkot, dan melangkah menuju bahu jalan, menuju arah yang ditujukan supir, tampak seperti sebuah halte kecil. Aku mendapat informasi bahwa di UI ada sekitar 11-12 halte. Beberapa Mahasiswa UI sedang duduk disana. Sebuah bus kuning berhenti, dan mereka masuk lalu melaju. Beberapa saat kemudian datang beberapa mahasiswa lainnya, dan memasuki bus yang datang kemudian. Aku kelelahan setelah perjalanan, akhirnya kupaksakan naik bus yang berhenti di halte. Kalau kuliah naik bus terus, pasti biaya disini begitu mahal. Aku harus banyak berhemat.
Beberapa Mahasiswa yang sudah berada di bus menatapku sejenak, lalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, mungkin karena dirasa tidak kenal. Aku melangkah, kursi telah penuh, aku berdiri tepat di belakang supir yang kutaksir usianya telah mendekati 50an tahun. Kursi penuh, telah banyak yang berdiri. Ada yang berpegangan pada besi melingkar yang digantung, dan ada yang memegang palangan besi membujur dari depan ke belakang. Aku memegang besi melintang, mengambil posisi di tengah, dan tepat berada sangat dekat dengan supir, karena itu akan mempermudahkanku membayar ongkos, ketika turun nanti. Aku ingin turun pertama kali di Rektorat, untuk mendaftar ulang dan mencari informasi tambahan tentang seluk-beluk UI yang belum aku ketahui. Syarat masuk ke Asrama UI pun, aku belum tahu karena aku ingin tinggal disana.
Di samping kiri dan kanan, tampak kursi memanjang sampai ekor bus, tidak seperti bus biasanya. Secara tidak langsung, aku dan beberapa orang yang berdiri di tengah menjadi tontonan penumpang yang lain di sisi kanan dan kiri, yang duduk menghadap kami. Apalagi celanaku robek di bagian dengkulnya, sedari tadi aku hanya menunduk. Aku berjanji dalam hati, tidak akan memakai celana seperti ini lagi. Aku akan menyimpannya saja, atau kubakar dan kubuang. Hehhh, aku mendesah, mencoba menghilangkan perasaan malu.
“Pak, aku mau turun di Rektorat,” kudekatkan sedikit mukaku kearah supir. Suasana panas dan senyap, membuat suaraku terasa keras, dan mungkin terdengar oleh semua penumpang di bus itu. Beberapa kali kulihat pandangan mereka menajam kearahku, pandangan-pandangan yang susah diartikan. Ada yang menggeleng kecil, ada yang tersenyum kecil, ada yang cuek setelah melihat tampangku. Mungkin reaksi biasa, melihat diriku yang sedikit berbeda. Berbeda? Mungkin karena aku memang anak desa dan dari desa, tak kenal dengan mode maupun gaul. Ah, siapa yang peduli.
Sempat kulihat sejenak, sang supir tersenyum dari kerutan di wajahnya yang tertarik, lalu sibuk lagi memainkan gerak tangannya, menikungkan bus yang berada di tikungan. Bus melaju, suasana tenang, sinar matahari menembus kaca menembus menamparku. Beberapa mahasiswa menutupi mukanya dengan apa saja yang mereka pegang; tas, buku, tangan. Bagiku, matahari adalah teman kehidupan, aku telah terbiasa berteman dengannya, kubiarkan wajahku merasakan sinar, sungguh nikmat. Teringat akan kampung, yang selalu membuatku bercanda dengan matahari, terpanggang dengan merdu, menyanyi di bawahnya, sambil mencari sisa singkong maupun padi sisa panen.
Mataku menatap sisi, Fakultas Hukum terbaca oleh mataku. Bus berhenti tepat di depan halte yang berada di pinggir jalan. Beberapa mahasiswa turun, ada 7 orang. Dua orang penumpang baru yang berdiri di halte itu naik, kursi kosong telah penuh kembali. Biarlah, lebih enak berdiri, sambil menatap pemandangan yang sangat asing bagiku. Universitas Indonesia yang terkenal itu, ternyata sangat besar, mungkin sama dengan satu kecamatan di kampungku. Yang lebih mengherankan ialah, disini seperti masih alami, hutan karet sangat panjang menghampar dan masih asri, tidak seperti di kampung yang walaupun masih banyak pepohonan, namun telah gundul. Bus kembali melaju, mencericit layaknya tikus.
Bus kembali berhenti di halte Masjid Ukhuwah Islamiah (MUI). Beberapa turun dan ada yang naik kembali, yang aku heran tidak ada yang membayar ongkos transportasi sama sekali, atau mungkin mereka telah membayar sebelumnya, dan masuk ke dalam biaya kuliah? Aku masih bingung. Bus terus melaju, hingga berhenti lagi di salah satu halte,.
“Mas, sudah sampai di Rektorat UI. Itu dia gedung yang tinggi yang membentuk lancip ke atas,” supir setengahan abad itu menoleh kearahku. Seolah dia tahu kalau aku Mahasiswa baru. Aku sempat kaget sejenak, lamunanku buyar, lalu menganggukkan kepalaku, “Berapa ongkosnya Pak?” aku sengaja memelankan suaraku, aku malu jika terdengar semua penumpang, karena aku kan masih baru, dan belum membayar sama sekali biaya kuliahnya. Supir itu malah menggelengkan kepalanya pelan.
Seorang wanita berjilbab melintas di depanku, dari tadi dia duduk di belakang supir tepat. Dia berhenti sejenak, satu setengah meter setelah melewatiku, “Ali, cepetan turun. Kamu ini benar-benar kampungan,” sepertinya suara pelan itu aku kenal, kutatap sejenak, ya! Dia Wanda. Langkahnya melaju kembali, dan turun dari bus sambil menatapku yang masih berdiri di dalam. Matanya tajam menatapku sambil menahan sesuatu sambil melambaikan tangannya, “Ali, cepetan turun!” nadanya sedikit meninggi, namun aku masih bertahan. Aku kan belum membayar ongkos.
Aku menatap Wanda, “Maaf! Tunggu sebentar, aku kan belum bayar ongkosnya,” aku sedikit mengeraskan suaraku agar terdengar olehnya. Kualihkan pandanganku, sambil merogoh uang dari saku depanku, “Berapa ongkosnya Pak?” aku bertanya lagi pada supir, namun supir itu kembali menggelengkan kepalanya kecil.
Belum sempat kudengar penjelasan sang supir, saat kepalanya menoleh kearahku, sebuah tangan lembut menarik tas Boggieku, hingga membuatku tertarik ke pintu keluar bus, tangan Wanda kuat menarikku. Terpaksa aku turun dari Bus, dan menjadi tontonan aneh para Mahasiswa yang berada di dalam Bus.
“Bus ini gratis untuk mahasiswa, jadi tidak usah bayar,” tangan Wanda sedikit bertolak pinggang, lalu tangannya menurun kembali, wajahnya sangat lucu jika sedang marah. Wajahnya yang putih sedikit berhias keringat, mungkin karena panas yang telah melewati waktu dhuha.
Aku mengalihkan pandanganku pada Wanda, lalu menoleh kearah bus. Bus mulai menderum, kembali mencericit, “Terima kasih ya Pak!” setidaknya, aku tadi belum mengucapkan terima kasih. Bukankah sedari di dalam bus, kuperhatikan setiap orang membayar jasa dengan ucapan terima kasih, dan kini sekilas senyum kecil dan gelengan kepala dari spion bus sebelah kiri. Senyum yang mengingatkanku pada senyuman terakhir sahabat kecilku. Aku tersenyum menatap bus, yang melaju semakin jauh.
“Maafkan aku, membuatmu kesal,” aku membalikkan tubuhku kembali kearah Wanda, kulihat dia sedang membenahi tas punggungnya, telah hilang wajah kesuhnya.
“Kamu sungguh lucu, baru pertama kali ini, aku bertemu dengan orang yang benar-benar lugu. O ya, kenapa kamu tidak bilang kalau kita akan se-almamater?
“Maaf…, sebenarnya aku ingin langsung menuju UI, jadi aku naik angkot nomor 112 yang menuju Terminal Depok, lalu menuju langsung ke Kampus. Sebenarnya aku merasa tidak pantas kuliah disini, karena aku hanyalah orang kampung yang miskin…,” belum sempat aku meneruskan kata-kataku, gadis itu telah cekikikan dan memegang perutnya. Kulihat tangannya keras mencoba menutup mulutnya.
“Kenapa? Ada yang lucu?” aku menatap dari atas hingga ujung kakiku, sepertinya normal, “Kenapa kamu cekikikan?”
“Dasar orang desa! Kalau mau ke UI, langsung saja dari Kampung Rambutan naik angkot nomor 19. Kenapa muter-muter sampai Terminal Depok?” aku tahu sekarang kenapa tawanya tak tertahan. Aku menatap langit biru sejenak, mencoba menghilangkan pendengaran. Panas menyengat, aku bersyukur pada-Mu ya Allah. Kau beri kesempatan padaku untuk belajar disini, Universitas Indonesia.