Cincin Bulan Persahabatan
Surat dari Sahabat
Gedung Dalam Baru, 17 juni 1994
Perubahan belum jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu, yang jelas pedukuhan ini hanya mengalami sedikit perubahan. Perubahan yang terlihat mencolok adalah makin banyaknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab, merusak lingkungan dengan seenak perutnya sendiri. Mencari ikan dengan menggunakan obat, telah banyak mengurangi kegemaran penduduk yang ingin menikmati hobinya memancing, semakin lama ikan mulai habis, bahkan aku sendiri jarang mencari ikan dengan menggunakan kelambu bersama Bapak, karena ikan sudah tidak terlihat lagi mencipak di permukaan air.
Hari ini tepat hari pembagian raport untuk cawu III, aku bergegas mengambil sepedaku, dan berpamitan pada Ibu yang masih menyuapi Yasmin, ah! Fajar masih bermain-main dengan ayam-ayam di belakang, umurnya kini sudah mendekati enam tahun, tahun ini juga dia akan sekolah menyusulku. Kukayuh sepedaku melesat menuju sekolahku, lima hari yang lalu aku malas berangkat, karena memang hanya jam kosong, menunggu hari sabtu ini untuk menerima hasil raport. Toh, aku menemani Ibu memasak kue, untuk dibawa keliling sesudah shalat Dzuhur.
Keadaan sekolah tidak banyak yang berbeda, Bowo masih memegang juara I, Ratna masih menduduki peringkat ke-II, dilanjutkan Maria dan lain-lain. Dan hari ini pun saat pembagian giliranku, aku tersenyum biasa dan tawar, tak ada yang istimewa. Sejak mbak Fatimah, mbak Ningsih pergi aku semakin mundur kini, aku ranking satu tepat dari belakang. Saat teman-teman saling memberi selamat, aku keluar menuju taman kecil sekolah. Memandangi bunga-bunga yang mengepakkan kelopaknya, memberikan wewangiannya ke segala penjuru alam. Aku tidak membawa kue untuk dijual untuk hari ini, aku benar-benar malas mendengar ocehan-ocehan setiap kali pembagian raport.
Aku menatap sekilas, bunga yang begitu harum tercium oleh hidungku, “Mawar!” aku teringat sesuatu, aku cepat mengambil sepedaku, dan kukayuh sekencang mungkin, mengepakkan setiap sayap yang tercipta dari imajinasiku. Surat itu! Kini aku telah resmi dapat membaca, tunggulah aku wahai surat. Surat dari sahabat lamaku.
Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh
Ihsan Sahabatku
Perpisahan memang akan menyakitkan kita, tahukah kamu aku pasti akan selalu merindukanmu, merindukan setiap detik kebersamaan denganmu. Saat senja menyapa kita, kala barisan tegak padi menorehkan keindahan di sayup-sayup penglihatan, saat berada pada cermin kehidupan, air menggoyangkan perasaan, menciptakan keteduhan disaat menekuri persahabatan, membelai heningnya kesepian.
Engkau adalah sahabatku yang telah menjadikan hatiku tentram, perpisahan ini mungkin akan menjembatani pertemuan yang akan tercipta kelak. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi, aku akan berusaha menjadi sahabatmu.
Bulan menyapa saat siang telah lelah
Menyapa insan dalam kesenyapan
Menciptakan keteduhan dalam jemari yang menyatu
Tataplah bulan dari jemariku
Biarkan secara mesra
Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya
Ihsan! Aku menunggumu di Universitas Indonesia. Aku akan menunggumu untuk persahabatan yang abadi, yakinlah pada keyakinanku, maka aku juga yakin akan keyakinanmu. Aku hanya akan bertemu denganmu jika engkau menjadi yang terbaik, berprestasi dan tidak kalah dengan siapa pun, aku akan menerimamu dan syaratnya Engkau harus menjadi nomor satu.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Aku mengulangi beberapa kali, walaupun masih belum lancar. Aku merenungkan sejenak dan melipatnya kembali. Ada perasaan aneh yang mencoba menjalariku, persahabatan. Nanti malam, mungkin Bapak bisa menjelaskannya padaku.
“Apakah kamu akan menepati persahabatanmu?” Bapak menatapku setelah lama membaca surat itu. Guratan di keningnya kini bertambah, matanya begitu teduh menatapku, seolah sirna sudah segala keletihannya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tangan itu menggenggam erat kedua pundakku, “Jadilah yang terbaik untuk persahabatanmu. Engkau harus menjadi nomor satu, di manapun kamu berada,” senyumnya meyakinkanku.
“Aku akan berusaha Pak, aku minta doanya,” dan anggukan itu terbawa mimpiku malam ini, bertabur bintang-bintang yang terang menghiasi malam, menyiapkan rencana yang telah tersusun di otakku.
Liburan berakhir, back to school. Hari ini aku resmi kelas empat, adikku juga mulai sekolah kini, dia akan selalu kubonceng dengan sepeda miniku. Hatiku ceria kembali, seperti menemukan setengah jiwaku yang telah lama hilang, “Wo, aku ingin memberikan pengumuman kepada teman-teman, tolong kamu umumkan setelah pelajaran ini, supaya tidak keluar dulu. Hanya sebentar,” pintaku pada Bowo selaku ketua kelas.
“Kamu kan tahu mereka paling susah untuk di kelas, San.”
“Ok deh, nanti aku kasih kamu dua pisang goreng,” aku tahu maksud lirikannya, dia memang menyukai pisang goreng buatan Ibu, aku sering memberinya bonus.
Pelajaran selesai, sebelum bubar, buru-buru Bowo berlari ke depan dan memberitahukan, ada seorang siswa yang ingin memberi pengumuman. Giliranku tampil ke depan, setelah Bowo mundur ke belakang sambil senyam-senyum.
“Teman-teman!” kukuatkan ragaku, aku harus siap, “Sebelumnya aku minta maaf, terutama pada Bowo, Ratna dan semuanya. Aku memang mengakui bahwa aku ini anak bodoh…,” kutajamkan arah edaran mata, meyakinkan diriku lagi.
“Mulai hari ini, dengarlah teman-teman, aku akan menjadi nomor satu! Aku akan meraih ranking satu! Untuk itu mohon pengertiannya,” kurasa cukup, tapi bukan tepuk tangan yang kudapatkan, melainkan tawa terbahak-bahak, terutama Bowo, dan itu semakin membuatku yakin, bahwa aku akan meraih apa yang kuinginkan. Mawar! Tunggulah aku.
Istirahat ini aku berjualan lagi, namun ada yang berbeda sekarang. Aku selalu memegang buku dan membacanya dimanapun aku berada. Setelah kue habis, aku menemui Kepala Sekolah, semua Guru dan wali kelas bahwa aku akan menjadi nomor satu, walau mereka sedikit heran, mereka siap membantu mewujudkan mimpiku.