Cincin Bulan Persahabatan
Zahra
Sabtu sore. Di salah satu rumah di kota Bogor, nampak bu Ratih sedang duduk bersama anak perempuannya yang ke-tiga. Mereka baru saja pulang dari tempat pamannya, Yusuf. Sebuah mobil terdengar memasuki garasi rumah. “Wardah, sepertinya adikmu sudah pulang.”
“Iya Mi. Aku akan menyambutnya, pasti dia bawa oleh-oleh dari desa,” senyum gadis kecil itu tulus, membuat siapapun terbius untuk menyayanginya.
“Assalamu’alaikum,” Mawar nampak lesu, mungkin perjalanan lampung ke Pulau Jawa membuatnya sedikit capek. Dijinjingnya plastik hitam, oleh-oleh dari pak Bayan dan ayah Ihsan.
Terdengar jawaban salam dan pintu terbuka, Wardah tersenyum menatapnya, “Kelihatannya kamu kecapekan Zahra? Bagaimana liburanmu bersama Mbak Fatimah?”
“Menyenangkan Kak, tapi Zahra capek banget, mau istirahat dahulu. Nanti Zahra akan cerita bagaimana keindahan desa yang sering kita baca,” senyum itu juga tulus.
Wardah sempat terpaku sejenak, seperti dalam mimpi. Adiknya Zahra tidak seperti biasanya, dan yang semakin membuatnya penasaran adalah, adiknya tiba-tiba merangkulnya dan berbisik pelan, “Maafkan kenakalan Zahra selama ini, zahra akan berusaha menjadi anak yang baik.”
Zahra masuk ke dalam rumah, meninggalkan Wardah yang masih mencerna kebingunngannya sendiri, apa yang terjadi? Tapi ini adalah mukjizat, pikirannya melayang.
Zahra Mutaqwiati
Umurnya 6 tahun tepat, atau lebih sedikit. Anaknya nakal, bandel dan suka berkelahi. Seluruh keluarganya kewalahan mendidiknya, itu terjadi sebelum bertemu dengan sahabat dari sebuah desa saat dia berlibur. Dia terlahir kembar. Kakak kembarnya bernama Wardah Mutaqwiati, jarak lahir satu jam. Ibunya bernama Ratih Sanggarwati, seorang Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya di rumah, mendidik anak-anaknya. Ayahnya seorang pengusaha muslim sukses, sangat sayang kepada anak-anaknya, namun karena alasan tertentu, dia hanya pulang di hari ahad saja, dan keluarga begitu menunggunya penuh harapan ketika ahad menyapa.
Dia anak ke-4. Kakaknya yang pertama kini telah bekerja di perusahaan setelah lulus S-1 di perusahaan ayahnya, sambil meneruskan kuliahnya. Kakaknya yang ke-dua kini sedang KKN di Lampung, karena sebentar lagi penyusunan Skripsi untuk kelulusannya di Fakultas Kedokteran.
Zahra. Pendidikan Umminya mengajarkannya selalu untuk memahami arti kehidupan. Setelah liburan II selesai, keluarganya merasakan perubahan yang nampak nyata pada perilakunya, mereka bahagia karena kenakalan itu telah hilang. Pendidikan selama ini dari ummi ternyata berhasil. Di balik itu, ada kontribusi yang disembunyikan Zahra melalui sahabat, yang entah nanti masih bisa bertemu atau tidak
Merambat waktu, Wardah masih kebingungan dengan perubahan adiknya yang hanya terbilang beberapa hari. Biasanya, ketika dia mencoba berbuat baik padanya selalu dibantah, ketika sebuah boneka ia beli pasti dirusak, ketika dia menonton TV pasti dimatikan, ketika belajar Iqra’ dengan Ummi pasti selalu dikelitiki. Ah! Benar-benar aneh.
Pikiran kecilnya sedikit menyelidik, terbang, “Pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah, dari liburannya di desa tempat kak Fatimah praktek,” dipacunya langkah menuju kamar, mencari sesuatu yang bisa memantapkan argumennya. Sebuah tas kecil. Tangannya cekatan membuka tas itu cepat ketika Zahra sedang mandi, sebuah kotak mini terbungkus kertas putih diambilnya, lalu berlari ke taman belakang. Mungkin kotak ini bisa menjadi petunjuk, idenya mengelitik.
“Sebuah cincin bulan sabit yang indah, ukirannya benar-benar menggambarkan keindahan,” Wardah takjub, Terlalu kebesaran. Dipakainya cincin itu, “Maafkan aku Zahra, ini sesuatu yang indah. Aku akan menyimpannya.” Walau berat karena menyalahi didikan Ummi, tapi ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir, maafkan aku ya Allah, hati itu membenarkan dan meyakinkan.
* * *
Malam senin menyapa, besok dimulainya Sekolah mengawali cawu ke-tiga, ingin rasanya Ihsan memulai Sekolahnya, hingga libur yang ditunggunya datang lagi, siapa tahu Mawar akan mengunjungi lagi ke desanya. Ah! Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, Ihsan teringat kata-kata mbak Ningsih.
Ihsan menatap Fajar yang telah pulas di sebelahnya, jemarinya mengelus rambut adiknya itu sejenak. Pikirannya melayang, dia teringat sesuatu. Surat itu! Tangannya menjulur ke bawah bantal, mengambil amplop kecil itu, dibukanya perlahan. Sreek!
“A,” hanya itulah yang tertangkap dalam bacaan pertama tulisan itu, ah! Aku belum bisa membaca. Tapi suatu saat aku akan membacanya. Ihsan memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop, lalu berpikir hendak menyembunyikan dimana, ya! Di atap. Ihsan memaksakan dirinya bangkit, lukanya masih membasah. Dia meletakkan amplop itu di selipan usuk kayu atap. Memanjat meja. Beres deh!
* * *
Gedung dalam Baru masih seperti semula, tidak terjadi banyak perubahan. Petani masih absen di sawah, pembajak tanah masih membawa brujul dan luku-nya, pengupas singkong masih menenteng peretan -nya, pembuat batu bata masih setia mengadon tanah merahnya, Pak Kades masih menekuni tugasnya di balai desa, Bayan juga setia memberikan laporan kepada lurah.
Hari ini, hati seorang anak kecil menitikkan airmata membasahi pipi, membuat perasaannya tiba-tiba mengiris sepi. Dua orang yang telah beberapa bulan ini selalu bersamanya dikala belajar Iqra’, berpamitan padanya, tidak ada yang istimewa ketika tangan kedua wanita itu melambaikan tangannya kepada seluruh penghuni pedukuhan, tapi nampak sembab pula seluruh mata. Pertama kali ada penyuluhan kesehatan gratis masuk ke desa ini, apakah masih ada lagi yang mau meneruskannya?
Aktivitas desa memang masih sediakala, namun ada setitik kesedihan yang mereka rasakan. Fatimah dan Ningsih memang telah banyak membantu mereka, dari mulai penyuluhan kesehatan hingga pengobatan gratis, ditambah dengan ide-ide mereka yang digunakan untuk pembangunan desa, walau hanya sebatas wacana.
Sedikit hilang keceriaan di wajah Ihsan, siapa lagi yang akan mengajarinya Iqra’, walau sedikit terobati karena Ibu siap menggantikannya. Kesedihannya bertambah lagi setelah kepergian Mawar, kesepian mulai menjalari hari-hari cerianya yang terenggut, mungkin agak lama dia bisa mengobati kesedihannya ini. Kedua orangtuanya membiarkan sejenak Ihsan menyelami sejenak kesepiaannya, karena mereka yakin, ini adalah pelajaran berharga bagi anaknya, perjumpaan dan kebersamaan itu memang indah, namun perpisahan adalah kepastian dan itu juga merupakan keindahan.
Kesedihan yang bersandar dalam diri manusia, biasanya akan sirna seiring berjalannya waktu, tapi Ihsan merasa waktu itu begitu lama, hingga hari-harinya seolah merupakan penantian yang tak kunjung berakhir, untuk perasaan seorang anak kecil berusia kurang dari tujuh tahun, apakah itu perasaan normal atau berlebihan?