Bisikan Pembalasan

HASAN Al BASHRI

Bendungan Siantar nampak megah ditimpali sinar mentari, memantul di permukaan airnya. Tampak pernik-pernik warna yang menyegarkan pandangan mata. Sepercik air menyembur ke atas, di permukaan itu, seekor ikan sedang bercipak. Biasanya, ikan sepat  yang suka melakukan gerakan demikian, mengambil oksigen, ikan ini memang terlalu sering muncul ke permukaan.

Seorang pemancing nampak semburat bahagian wajahnya, umpannya dimakan, kambangan-nya timbul tenggelam, pertanda ikan sedang mencicipi umpannya. Ada senyum kecil, mirip tertawa, kepuasan terpancar, kala ditariknya pancing dan ikan tampak naik ke atas. Ternyata ikan gabus.

Pemancing di sebelahnya, berjarak sekitar lima meter. Terlihat cemberut wajahnya, lalu bertopang dagu. Melihat benangnya sedikitpun belum tergerak-gerak. Jika sudah begitu, tampangnya akan terlihat patience, wajah yang terlihat disabarkan, atau memang sabar benaran. Hati manusia siapa yang tahu? Kecuali Tuhan dan dirinya sendiri.

”Bersabarlah, kamu nanti juga pasti dapat,” kata si pemancing yang telah mendapatkan ikan gabus tadi. Lelaki itu memasang kembali umpan baru, dan melemparkan kembali, mencoba menemukan takdirnya.

”Biasanya, aku yang bilang begitu padamu. Sekarang, bisa juga kau membalasku.”

”Bukankah itu yang namanya kehidupan, makanya jangan sesumbar kalau kau selalu mendapatkan keberhasilan. Karena bisa jadi, keberhasilan itu akan dipergilirkan, buktinya aku dapat duluan kan?”

”Iya-iya, kita lihat saja nanti.”

”Boleh.”

Obrolan antara pemancing, memang selalu berputar pada kesabaran, keberhasilan. Karena memancing bagi mereka adalah hobi, menghilangkan kepenatan dan masalah-masalah yang tiap hari dihadapi. Itulah pelampiasannya, belajar arti kesabaran, tapi juga kadang pemancing ada yang karena lari dari setiap masalah. Dan bukan untuk menghadapinya.

Di pinggir bendungan yang luas itu, dua orang tampak sedang duduk di kursi yang telah tersedia. Mereka tampak menatap kilau mentari, terpantul air, membiaskan sejuta warna. Alangkah indah ketenangan dan alam yang menyatu di dalamnya.

”Indah ya?”

”Iya.”

”Kau sering menyendiri disini?”

”Iya Pak.”

Lalu, mereka kembali dalam lumanan dan angan masing-masing.

Dedi menoleh kearah Mahfudz, ”Pak, makasih sudah mau menemani saya disini.”

Mahfudz menoleh pula, ”Tidak apa-apa Ded, aku senang kini kau mulai tak lagi murung. Mulai sekarang, cobalah kau tatap masa depanmu,” Mahfudz kembali menatap air di depannya, ”Tak peduli apapun yang terjadi, tak peduli masa lalu yang buruk, tak peduli pandangan orang tentang kita. Tapi, kita harus melangkah ke depan, dan berjuang untuk masa depan kita sendiri.”

Dedi mengikuti pendangan Mahfudz, ”Mungkin Bapak benar,” nampak indah gelombang air yang tercipta, saat ratusan bahkan jutaan capung menyentuhkan ekornya, gelombang saling bertabrakan, menciptakan harmoni yang menenangkan.

”Maukah pak Mahfudz bercerita kepadaku, tentang siapa saja  yang menurut Bapak bisa kujadikan contoh.”

”Benar kau ingin mendengarkannya?”

Dedi mengangguk.

”Baiklah,” Mahfudz menghirup udara sejuk, dalam, ”Kisah ini terjadi pasca wafatnya Rasulullah saw. Sebelum wafat beliau bersabda, bahwa bukan kefakiran  yang dikhawatirkan, melainkan Rasulullah saw takut jika dunia telah dibuka, dan umat Islam saling berkompetisi memperebutkannya, saling menghancurkan, seperti orang-orang sebelumnya.

Dan kekhawatiran Rasulullah saw itu benar-benar terjadi, dimana-mana ketamakan merajalela. Saling berebut harta dan kedudukan, nilai keimanan dan ketakwaan turun demikian drastis. Saat itulah, seorang pelopor pembaharu untuk kembali pada ketakwaan, lahir di kalangan tabi’in, dialah Hasan Al-Bashri rahimallah. Kau mau mendengar kelanjutannya?”

Dedi mengangguk.

”Di pagi yang cerah, tepatnya tanggal 21 H setelah Rasulullah hijrah. Ketika dia lahir banyak manusia mulia mendoakan kebaikan untuknya, diantaranya Umar bin Khattab yang menjabat khalifah saat itu, dan Ummul Mukminin Ummu Salamah. Al Hasan bin Yasar kecil sempat disusu oleh Ummu Salamah.

Hasan Bashri ra. ilmunya sangat luas, baik dalam tafsir maupun hadits. Bacaannya luas, analisanya sangat mendalam terutama tentang kehidupan. Dia juga sangat fasih, logikanya indah, pendengarannya tajam. Bahwa, dia selalu menyimpan hikmah di dalam dirinya sehingga ia ungkapkan.

Beliau tak pernah menyerah ketika belajar, beliau mengorbankan apa saja, pengorbanan, hartanya, kesungguhannya, waktunya, semuanya dikorbankan untuk mendapatkan ilmu dan kearifan.

Suatu hari, ketika Amirul Mukminin sudah berganti. Yaitu masanya khalifah Ali bin Abi Thalib. Suatu hari Ali ra. masuk ke masjid Bashrah, beliau mendapati seorang sedang menyampaikan ceramah di hadapan jamaah, namun kisah-kisah itu keluar dari kewajaran, dibesar-besarkan, dan diada-adakan. Maka imam Ali mengusirnya dari majlis sambil berkata, ”Cerita-cerita bohong itu bid’ah (sesat).”

Hingga, akhirnya beliau sampai di perkumpulan Al Hasan Al Bashri yang sedang berceramah, di hadapan banyak orang. Imam Ali ketika ikut mendengar, beliau jadi tertarik. Maka beliau berkata, ”Hai anak muda! Aku akan bertanya kepadamu dua perkara, jika engkau mampu menjawabnya, aku akan membiarkanmu, jika tidak aku akan mengusirmu seperti aku mengusir yang lainnya.”

”Silakan anda bertanya, wahai Amirul Mukminin,” jawab Hasan Al-Bashri.

”Tunjukkan kepadaku, apa yang menyebabkan baik dan rusaknya agama?”

Hasan Al-Bashri menjawab, ”Kebaikan agama disebabkan oleh wara’ , sementara kehancurannya disebabkan oleh ketamakan.”

Imam Ali berkata, ”Engkau benar, silakan teruskan ceramahmu, karena orang sepertimu layak untuk terus berceramah di hadapan orang banyak.”

Saat usinya masih terbilang muda, Hasan Al Bashri sudah menjadi rujukan orang banyak, untuk tempat bertanya dari masalah-masalah yang dihadapi kehidupan. Beliau mengajak orang kepada zuhud, ketakwaan, bisa dibilang dia adalah peletak prinsip-prinsip dasar zuhud, metode muhasabah diri atau evaluasi.

Beliau sering berkata di hadapan jamaahnya, ”Wahai anak manusia, sesungguhnya engkau adalah hari-hari, semakin hari itu pergi maka sebagian dari dirimu telah pergi pula.”

Mahfudz menghentikan ceritanya sejenak, menghirup udara segar. Dedi menoleh kearahnya, lalu kembali menghadap di depannya. Mereka sekali lagi, terhipnotis dalam erotisme alam, sebagai suatu bukti kekuasaan Rabb Semesta Alam.

”Teruskanlah guru, alangkah hebatnya Hasan al Bashri itu.”

Mahfudz mulai bercerita kembali, ”Hasan al Bashri juga gigih berjuang, dia memerangi penyelewengan para pejabat, ketamakan, serta mengajak semua orang untuk meninggalkan ambisi untuk mendekati orang-orang kaya, menjual harga dirinya demi uang dan dunia.

Hasan al Bashri berkata, ”Jangan engkau melihat kepada kemuliaan kehidupan mereka, dan kemewahan furniture (perabot) mereka, tapi hendaknya engkau melihat cepatnya, dan jeleknya akibat perbuatan mereka.”

Memulai segalanya dari diri sendiri, itulah yang beliau ajarkan paling utama. Pada suatu Jum’at, sebelum Hasan al Bashri naik ke mimbar untuk khutbah, di didatangi seorang laki-laki, membisikkan sesuatu di telinganya, ”Wahai Imam, berbicaralah tentang keutamaan membebaskan hamba sahaya (budak), dan anjurkanlah mereka untuk melakukannya.”

Lalu orang itu berlalu di antara para jamaah, menjauhi sang Imam. Khutbah diperdengarkan, sang penanya mendengarkannya pula seksama. Anehnya, Hasan al Bashri tidak bercerita sama sekali dalam khutbahnya, tentang masalah keutamaan membebaskan budak ini.

Pada Jum’at berikutnya, datang laki-laki penanya itu kembali untuk mendengarkan khutbah Hasan al Bashri, namun sama seperti Jum’at yang lalu, al Hasan tidak berbicara tentang pembebasan budak. 

Jum’at demi Jum’at berlalu..., pada Jum’at ke empatnya, barulah Hasan al Bashri berbicara tentang keutamaan pembebasan budak, dan menganjurkan kepada para jamaah untuk melakukan hal itu. Laki-laki yang meminta Hasan al Bashri menjelaskan pembebasan budak itu, keheranan dengan tindakan al Hasan dan bertanya padanya.

Hasan al Bashri menjawab, ”Saudaraku, tidak layak bagi saya untuk berbicara di hadapan para jamaah, hingga saya berusaha mencari uang terlebih dahulu, dan pergi ke pasar untuk membeli seorang budak untuk aku bebaskan. Apa anda ingin saya masuk dalam daftar yang diperingatkan oleh Allah ’Azza wa Jalla dalam firmanNya,

A ta’muruu nan naa sabilbirri watansawna anfusikum wa antum tatluunalkitaab, afalaa ta’qiluun. (Mengapa kamu menyuruh manusia mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab, maka apakah kamu tidak berpikir). ”

”Seperti hanya ada dalam cerita ya Pak?”

”Kenapa kau bicara demikian?”

”Ternyata ada manusia seperti itu.”

Mahfudz tersenyum pada muridnya itu, memandang langit yang teramat jernih, gurat awan tampak berkilau indah, ”Masih mau mendengar kelanjutannya?”

Dedi mengangguk.

”Hasan al Bashri sangat mencela perbuatan sia-sia, terutama ghibah . Suatu hari, seseorang berkata kepada al Hasan, ”Sesungguhnya fulan terlah berbicara jelek (ghibah) tentang anda.” ternyata al Hasan malah datang berkunjung ke rumah orang yang membicarakan kejelekannya. Hasan datang dengan membawa kue, seraya berkata, ”Aku dengar bahwa anda telah menghadiahkan kepadaku kebaikan anda, maka saya bermaksud membalasnya.”

Hasan al Bashri berkata, ”Sungguh ghibah itu lebih cepat di dalam agama seorang mukmin dari jamuan makan di dalam jasadnya.”

Hasan al Bashri jika mengirimkan sebuah surat balasan, kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz, surat berisi nasehat. Dan sebab itu, Khalifah sangat menghormatinya dan membawa dampak perubahan besar bagi kepemimpinan dunia  yang dikuasai peradaban Islam kala itu.

Hingga, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang adil itu, menangis membaca surat Hasan al Bashri. Orang di sampingnya merasa kasihan padanya, dan bertanya ada apa gerangan. Khalifah menjawab, ”Semoga Allah memberikan rahmat kepada Hasan al Bashri, sesungguhnya ia masih terus menjadi penggugah kita dari kelemahan, serta mengingatkan kita dari kelalaian. Demi Allah, apa yang dia nasehatkan sangat menyentuh, betapa benar dan fasihnya apa yang diutarakannya.”

Hasan al Bashri selalu dalam kondisi lebih baik dari sebelumnya, dan apa yang disampaikan dari hari ke hari, selalu dengan materi yang berbeda. Ini, merupakan indikasi bahwa beliau cerdas, inovatif dalam menyampaikan ilmu, berarti pula dia orang yang gemar belajar dan menuntut ilmu. Lebih-lebih ilmu baru, pasti beliau akan mencarinya dan mengamalkannya.

Namanya demikian harum, hingga generasi yang ditinggalkan dan jamaah islam selalu mendoakan kebaikan padanya, walau dia telah tiada, namun petuah dan nasehat-nasehatnya, selalu hidup membawa cahaya, bagi semua orang sesudahnya. Dan, aku belajar banyak darinya tentang kesantunan itu.”

”Dia seperti malaikat, seolah tak punya masalah dalam hidupnya.”

”Tidak begitu Ded, dia manusia biasa. Pasti pula pernah melakukan dosa, tapi, selalu instropeksi diri, lalu membenahi kesalahan-kesalahannya. Pastilah sang Imam, tidak mau tenggelam dalam ketidakberdayaannya sendiri.”

”Ketidakberdayaan?” Dedi menatap gurunya itu.

”Iya,” Mahfudz menoleh dan tersenyum.

”Termasuk kelemahan Pak?”

”Iya, apakah kau juga mau mendengarkan salah satu nasehat Imam Hasan?” dan Hasan kembali mengangguk, ”Para penghuni surga itu, mereka yang kebutuhannya di dunia ringan, jiwa mereka bersih dan suci, mereka bersabar dalam waktu yang singkat namun membuahkan kesenangan yang panjang. Adapun di malam hari telapak kaki mereka menjadi penonggak tubuh, sementara siang harinya mereka sosok penyayang, ulama, dan orang-orang baik serta bertakwa.

Bahwa mereka tidak merasa hidup itu susah, mereka menghadapi hidupnya dengan kesyukuran, apapun yang terjadi. Mereka hanya berusaha keras, berusaha terus menjadi lebih baik. Sesungguhnya, mereka selalu berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia bekerja secara profesional.”

”Tapi, bagaiman jika jiwa itu telah lemah, seolah mati. Bahkan, seolah telah putus segala harapan hidupnya?” mimik muka Dedi tampak protes.

Mahfudz menatap mata itu lekat-lekat, memegang pundak Dedi pelan, ”Kau tahu Ded, kau harus melawan setiap ketidakberdayaan dan kelemahan. Allah telah memulyakan manusia, maka jangan pernah merendahkan diri hingga harga diri kita terinjak-injak oleh ketidakberdayaan. Jika kau yakin bisa menjadi kuat, Insyaallah, kita akan kuat dengan izinNya. Dan tidak ada apapun di dunia ini, kecuali semua atas kehendakNya.

Tapi, jika kau terus menjadi lemah, pasrah tanpa mau berusaha. Maka, kita akan menjadi pecundang buat seumur hidup kita. Ingatlah, kapal itu dibuat untuk mengarungi samudera dengan gagah perkasa. Begitupun manusia, Allah telah memberikan kekuatan agar kita tegar dalam kehidupan, menghadapi masalah dan ujian, agar kita kuat dan dapat menjadi yang terbaik.”

Tatapan mereka beradu, bagai nyala sinar yang saling meneguhkan.

”Apa kau percaya pada Allah?”

Dedi mengangguk, masih ada kegamangan dalam anggukannya.

”Kau sungguh yakin pada kekuatanNya?”

”Iya Pak.”

Mahfudz tersenyum, ”Berjanjilah padaku, kau akan melawan kelemahan dan ketidakberdayaan itu. Jadilah kuat untuk dapat menjadi kebaikan bagi orang lain. Dulu, Bapak juga sepertimu. Bapak selalu dihina dan menyendiri, bahkan diasingkan. Tapi, Bapak harus berjuang agar kuat dan menggapai yang Bapak inginkan. Kau mau melakukannya sepertiku?”

Dedi mengangguk. Tiba-tiba, di hatinya, ada nyala baru yang berkobar. Baru sekali ini, rasanya, semangatnya naik. Setidaknya, ada setitik cerah untuk masa depannya, setelah sekian lama mati, dan kehilangan orientasi pada hidupnya.

”Ayo kita pulang?”

”Iya.”

Mereka berjalan meninggalkan bendungan itu, Mahfudz merangkul Dedi sambil berjalan. Dedi melirik sejenak pada Mahfudz yang cerah wajahnya itu, ada perasaan aneh yang menggumpal dalam dirinya. Siapa lelaki ini? Tapi, dia seperti seorang malaikat bagi dirinya. Tak pernah ada, yang demikian perhatian padanya. Ada rasa aneh tiba-tiba menyembul, seperti anak ayam yang baru menetas dan menemukan ibunya, bahwa kepercayaan akan hidupnya telah tertumpu pada lelaki itu.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!