Bisikan Pembalasan

Pertama Kalinya CINTA

Udara pagi, selalu saja, menciptakan debur kesejukan. Bagai di atas dek tertinggi kapal, saat layar terkembang, angin mengipasi, laut berombak melempar buih. Angin segar lagi keras menampar sejuk. Nuansa pagi, selalu bermakna teduh dan segar, membuat pikiran segar pula. Maka tidak salah, momentum ini digunakan untuk aktivitas apa saja, akan terasa merupakan saat-saat terbaik. Bisa bekerja, belajar, menghafal, bahkan tidur sekalipun.

Dedi berdiri di depan kelasnya. Dia ingat sesuatu, sebuah mula untuk hidup barunya. Ya, dia berjanji untuk dapat mengatasi kelemahan dan ketidakberdayaannya. Pada seorang guru, yang dikaguminya. Dedi menguatkan dirinya, menguatkan pijakan kakinya yang hendak melangkah.

”Assalamu’alaikum,” a tone of doubt, agak ragu terlihat dari kedua sorot matanya yang mengedar tak wajar. Selain suaranya yang terlihat gamang, langkah pertama memasuki kelasnya juga ragu. Sedikit bergetar tubuhnya, namun, tiba-tiba wajah pak Mahfudz seolah tersenyum di hadapannya. Maka, dia tersenyum pula walau senyumnya demikian kecil.

Dan. Para siswa  yang berada di dalam kelas, demikian terbengong mendengar dan melihat Dedi. Seolah, ini baru saja terjadi dalam perjalanan pertemanan mereka. Hingga, yang sedang bergossip ria, berhenti. Dedi mau bicara? Bahkan, ada senyum kecil yang membersamainya. Si lelaki yang selalu berdiam diri, pendiam, asing itu kini mengucapkan salam?

Teman-teman di kelas Dedi, semuanya gagap menjawab salam. Ada yang tidak menjawab, karena masih terbengong-bengong.

Tanpa peduli selanjutnya, Dedi melangkahkan kakinya. Menuju tempat duduknya, dan tenang duduk sambil menaruh tasnya di dalam laci meja. Ada sedikit kecewa di raut wajah Dedi, saat dia melihat ke kursi Rahma, teman yang selalu membantunya dan mengajaknya bicara dari awal pertemanan mereka. Setidaknya, dia ingin menunjukkan bahwa dia, sudah mulai berubah.

”Kau terlihat sedikit tampan jika tersenyum seperti tadi,” Mega menggoda Dedi, sambil menulis sesuatu dalam kertasnya, tanpa menoleh kearah Dedi.

Dedi hanya tersenyum dan mengangguk.

”Aku senang melihatmu bisa tersenyum seperti tadi, cobalah untuk tersenyum setiap saat.”

Lagi-lagi Dedi mengangguk. Namun, sedikit ragu kepalanya menoleh kearah Mega. Melihat rambut lurus itu tergerai menutupi telinga, dari sampingnya, wajah pualam putih itu. Tiba-tiba membuat hatinya tergetar. Tidak, perasaan apa ini? Apa..., apa ini...

Mega menoleh kearah Dedi, ”Hei, kenapa kau? Wajahmu tampak pucat, kau sakit?”

”Ti.., tidak, tidak.” Dedi gelagapan.

Terlambat, Mega telah memajukan tangan kanannya. Punggung telapak tangannya telah menyentuh kening Dedi, hendak menghindar tapi benar-benar sudah terlambat.

”Eh, eh, aku tak apa-apa Mega.”

”Iya, aneh. Tapi, wajahmu itu terlihat pucat,” Mega menarik tangannya, dan kembali menulis dalam bukunya.

Dedi menghembuskan napasnya pelan, ada kelegaan super yang tiba-tiba mengisi hatinya. Perasaan apa itu? Hanya dia yang tahu, bahwa ketika keningnya disentuh tadi. Jiwanya benar-benar bergetar. Jantungnya tak stabil, denyut nadinya seolah acak-acakan, dan napasnya susah untuk menghela. Seolah waktu terhenti sejenak, dan seluruh syarafnya seolah tak berfungsi, seperti hening yang tiba-tiba menyergap.

Saat itulah, dua orang masuk ke dalam kelas itu. Jaka dan Deri, mereka tampak tersenyum-senyum aneh, tapi pandangan mereka kepada Dedi. Dan Dedi, menangkap sesuatu yang ganjil, ada apa lagi ini? Apa yang mereka rencanakan padaku? Tapi, aku telah berjanji untuk kuat menghadapi masalah-masalah. Aku harus berani.

Belum lagi duduk di kursinya masing-masing, Jaka mendekati Dedi dan Mega. Jaka berkata pada Mega, untuk meminta sedikit waktu berbicara pada Dedi. Dedi menguatkan dirinya, dan, Dedi keluar kelas bersama Jaka.

”Kenapa memanggilku?”

”Hei! Sudah mulai berani sekarang kau! Roni berpesan padaku, jangan sekali-kali, kamu berani mendekati Mega lagi. Awas.”

”Aku tak ingin ribut-ribut.”

”Kurang ajar!” tanpa dikira, Jaka menempeleng pelan kepala Dedi, di atas telinganya, hingga rambut Dedi sedikit teracak.

”Hei!” Dedi menuding telunjuknya kearah Jaka, mata itu menyala. Jaka sempat terhenyak ke belakang sejenak, ada kekagetan dari raut wajahnya. Ternyata si penakut itu telah mulai berani.

”Kenapa? Mau melawan?” Jaka mencibir.

”Sekali lagi kau melakukannya, aku tak akan memaafkanmu.”

”Apa kau bilang?” dan dengan cepat, Jaka kembali menekan kepala Dedi ke samping, ”Mau apa pengecut?”

Seluruh jiwa dan raga Dedi terbakar, keberanian, menghadapi kelemahan, menghadapi ketidakberdayaan. Jangan biarkan harga diri kita diinjak-injak, adalah perjuangan. Dan aku telah berjanji padamu pak Guru.

Dedi menatap tajam kearah Jaka, seolah hendak melumat.

Jaka tertawa sinis, dia melakukannya sekali lagi dengan menempeleng kepala Dedi lagi, tiga kali. Cukup sudah.

”Bukk!” dan satu pukulan kuat mendarat di pipi Jaka, membuat Jaka terjengkang ambruk ke kanannya, terjatuh di lantai. Jaka bangkit dan siap memukul, Dedi ancang-ancang, saling menerjang. Gerakan perkelahian yang kacau, saling bergulingan. Gaduh, noisy, boisterous, serba kacau.

Dari ujung koridor-koridor itu, semua siswa yang masih di luar kelas berhamburan ingin melihat, gerangan apa yang terjadi. Semua berkerumun, pak Mahfudz yang lewat disitu menyibak kerumunan padat itu. Menghentikan perkelahian dua orang yang tengah bergulingan.

”Berhenti!”

Keadaan yang semrawut, membuat pak Mahfudz sedikit kewalahan memisahkan Dedi dan Jaka yang saling menjatuhkan. Terpaksa, dengan kekuatannya, pak Mahfudz mendorong kedua siswa itu, untuk mundur ke belakang. Saat itulah, Dedi yang telah kacau, rambutnya yang acak-acakan menutupi sedikit ketajamannya. Hendak memukul orang yang melerai, hampir saja. Kepalannya terhenti begitu mengetahui wajah yang hendak dipukulnya.

Tatapan mereka bertemu, ada kerinduan dan ketidakpercayaan. Jiwa Dedi tiba-tiba menguap kemarahannya. Napasnya yang masih senggal, perlahan tenang. Suasana hening.

”Kenapa berkelahi?” Mahfudz menanyainya pelan.

Dedi hanya menunduk akhirnya, kepalan tangannya melebar dan lurus kembali ke bawah. Tak berani mengangkat wajahnya. Hanya gelengan kepalanya yang tergerak seperti daun tertiup angin sepoi.

”Dia memukul saya duluan Pak?” suara marah dari arah belakang Mahfudz, suara Jaka.

Mahfudz menengok kearah suara di belakangnya, lalu wajahnya kembali perlahan kearah Dedi, ”Apakah itu benar Ded?” Mahfudz memegang kedua pundak Dedi.

”Aaaa,” Dedi mendesah, melepas cengkraman tangan Mahfudz, sekuat tenaga, dengan kedua tangannya. Dan berlari meninggalkan Mahfudz, berlari menyelusup barisan siswa yang tengah mengerumuni mereka. Hingga hilang dari balik koridor.

”Sudah kubilang Pak, dialah yang memulainya,” Jaka menambahkan.

Mahfudz menegakkan tubuhnya, tatapan matanya tak mengarah pada Jaka, tapi lurus kearah hilangnya Dedi. Matanya menerawang angin, matanya memejam sejenak dan berbalik kearah kantor guru. Seolah, tak pernah terjadi apa-apa, ”Semuanya bubar.”

Aku tahu kau tak akan melakukan sesuatu, jika kau tak punya keyakinan Dedi. Semoga pada akhirnya, kau akan menemukan keyakinan dirimu sendiri, dan berbuat berdasarkan hatimu sendiri. Aku yakin itu, karena, sebentar lagi kita akan berpisah. Mahfudz bersiap-siap mengajar materi pelajarannnya, di kelas XII.

@ @ @

Dedi berdiam diri di dalam toilet. Tak melakukan apapun. Ditatapnya cermin yang tergantung, wajahnya tampak sedikit lebam. Tiba-tiba ada semburat senyum yang tercipta. Senyum kebanggaan, karena telah berani melawan ketidakberdayaannya, mencoba melawan ketakutan-ketakutannya.

Kini. Dedi keluar dari toilet itu, dan berjalan tenang menuju kelasnya. Jika dia kabur, maka Jaka akan semakin semena-mena. Kelasnya sepi, tak ada orang di depannya, berarti kelas sedang masuk. Dedi sedikit ragu mendekati pintu itu, tapi keyakinannya telah mengalahkan segalanya.

Dedi mengucapkan salam, nampak pak Samsi sedang menjelaskan pelajaran. Pak Samsi memberikan isyarat pada Dedi untuk masuk, Dedi masuk, saat itulah tatapan matanya dan Jaka bertemu sekilas. Terhenti amat sejenak, lalu Dedi duduk di tempatnya kembali.

”Kau baru saja berkelahi dengan Jaka?”

Dedi hanya mengangguk.

”Kenapa kau berkelahi?” Mega menatap lekat Dedi yang masih lurus pandangannya kearah pak Samsi yang masih menulis di whiteboard.

Dedi ganti menatap Mega, mata mereka berada, ”Kau ingin tahu?”

”Tentu.”

”Aku berkelahi dengan Jaka, karena kamu,” Dedi kembali menatap ke depan. Dan Mega kebingungan mencerna jawaban Dedi. Namun, dia tak berani bertanya kembali, melihat wajah Dedi yang telah berkonsentrasi mendengarkan materi pelajaran.

Mega masih belum bisa berkonsentrasi, maka matanya segera mengarah pada wajah Jaka. Sesekali mata Jaka menyala saat melihat Dedi, seolah memendam dendam di mata itu. Mega merasa, pasti akan ada yang terjadi setelah ini. Setidaknya, untuk urusan laki-laki, biasanya akan menyelesaikan masalah mereka dengan jalan otot bukan?

Pelajaran hari ini selesai. Dedi masih membenahi bukunya, Mega telah berdiri dengan tas cangklong tweety-nya. Kelas telah sepi, hanya dua orang siswi yang masih mengerjakan tugas, belajar bersama, di pojok belakang.

”Boleh aku minta saranmu?”

”Katakanlah,” Dedi menjawab cuek.

”Bagaimana menurutmu Roni, kakak kelas XII?”

Tangan Dedi berhenti saat hendak menutup restleting tasnya. Wajahnya tampak tegang, urat-urat di wajahnya tersembul, matanya tiba-tiba menajam. Suasana lengang tiba-tiba. Dedi terdiam, sediam-diamnya seonggok kayu puluhan tahun.

”Kamu kenapa?”

Dedi masih diam terpaku.

”Ded!” Mega menyentuh pundak kanan Dedi pelan, barulah Dedi tersadar dan seolah jiwanya telah kembali. Dedi menggeleng, seolah bangun dari tidur.

”I iya, kenapa Mega?”

”Kau tidak mendengarkanku tadi?”

”Maaf, aku sedang memikirkan ibuku di rumah. Aku tidak konsentrasi. Kau tadi, tanya apa?”

”Tentang kak Roni, menurutmu orangnya bagaimana?”

Dedi sejenak terdiam, lalu wajahnya mendongak, menatap Mega yang berdiri, ”Kenapa kau tanyakan tentang dia?”

”Malam ini, dia mengajakku jalan Ded. Dia ingin mendengar jawabanku tentang tawaran yang dulu itu. Dia nembak aku. Bagaimana menurutmu?”

”Kenapa kau tanya aku?” ada nada kesal dalam jawaban singkat itu.

”Kau kan temanku Ded. Aku minta saranmu,” Mega menatap serius wajah Dedi, sesungguhnya ada detak yang tercipta dalam dadanya. Entah perasaan apa itu, apakah kasihan? Atau cinta? Atau...

”Tentukanlah hidupmu sendiri Mega, kau sudah besar bukan?”

”Tapi..., kenapa kau tak mau mengerti Ded.”

”Apa yang perlu dimengerti?”

”Aku...,”

”Mega! Ayo pulang puteriku,” sebuah suara menghentikan percakapan serius mereka. Kepala Sekolah telah berdiri dengan kacamata khasnya di depan pintu.

”Iya Pap,” Mega tersenyum melihat Ayahnya, lalu menoleh kembali kearah Dedi, ”Aku pulang dulu Ded, sampai bertemu besok.”

Dedi tak menjawab, tak melihat wajah terakhir yang melihatnya itu. Padahal, Mega berharap Dedi dapat melihat wajahnya. Mega tak berharap banyak, dia berlalu meninggalkan Dedi yang masih duduk, tertunduk melihat meja.

Saat langkah-langkah Mega berderak, tujuh langkah tepatnya. Dedi tak bisa menahan wajahnya, untuk melihat arah suara derak langkah itu. Rambut Mega tergerai ke belakang, amat hitam berkilau. Perasaan apa ini? Aku tak pernah memiliki perasaan seperti ini dalam penggalan hidupku.

Langkah kaki Mega seolah bagai diperlambat dalam pandangan Dedi, pelan dan gemulai. Waktu seolah berjalan lambat, angin berhembuspun terasa pelan bertiup.

 

Gemulai langkah tak terperikan

Menyentuh hati pilu, hati yang telah kehilangan kepekaan

Tak mudah temukan mekarnya sepi

Sempurna seperti bunga 

Kala mahkotanya terbuka

Mengundang tamu-tamu kehormatan

Di taman cinta

Baru kebahagiaan yang muncul, janganlah pergi

Kan kukorbankan apapun agar kau tak pergi.

 

Mega hampir mencapai posisi di mana Ayahnya tersenyum. Langkahnya terhenti sejenak. Wajahnya yang putih itu, menoleh, rambutnya tersibak bagai gelombang ombak yang menggulung buih, menggulung keraguan. Kedua mata lentik itu, menatap Dedi yang juga tengah menatapnya. Ada debur di hati mereka, ruangan itu terasa hanya ada mereka.

Dedi tersenyum begitu hangat. Matanya begitu terpesona dengan Mega. Mega pun tersenyum dan mengangguk, lalu melangkah kembali. Ayahnya berjalan di depannya, Mega mengikutinya. Dan anggukan tadi, adalah sebagai isyarat pamitannya.

Dedi masih sempat melihat Mega berjalan keluar kelas.

Astaghfirullah. Dedi meraupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Allah, ampuni hambaMu ini. Aku telah mengotori amanah mata yang telah Kau berikan. Ampuni aku. Aku baru saja belajar agama, maafkan hamba, ya Tuhanku. Dedi kembali teringat kajiannya dengan pak Mahfudz. Dia mengulangi istighfar-nya berulang-ulang.

Dedi mendirikan tubuhnya, bersiap pulang. Saat hampir mencapai pintu, pandangannya terpaku pada empat orang yang tengah duduk-duduk, terlihat di ujung koridor. Dedi mengintip dari celah pintu engsel.

Mereka ingin menuntutku.

Tak banyak kata lagi. Dedi bergegas masuk kembali, membuka jendela dan melompat keluar. Tak peduli dua wanita yang kaget melihat ulahnya. Dedi mengendap-endap lewat belakang kelas-kelas. Dia tak mau berhadapan dengan mereka. Tergambar ketakutan yang sangat dari wajahnya yang berkeringat. Dia aman ketika sampai di gerbang, ada kelegaan. Ada sebuah mobil angkot, Dedi naik dengan wajah penuh kemenangan. Setidaknya, untuk hari ini.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!