Bisikan Pembalasan

Senyuman Harapan

4,5 Tahun Kemudian

Seorang lelaki menjejakkan kakinya di depan Sekolah Karya Bakti, SMA itu kini terlihat maju dan banyak bangunan baru. Bahkan, disana tertulis bahwa sekolah tersebut telah terdaftar dalam sekolah taraf internasional di depannya. 

Mata lelaki itu masih saja betah menatap bangunan-bangunan itu, siang itu juga mulai menyengat pandangan siapapun yang mencoba melawan cahaya matahari. Dia betah berdiri di depan gerbang sekolah itu, tiba-tiba bunyi lonceng terdengar dua kali.

Laki-laki itu tersenyum, suara lonceng itu sudah berbeda dengan dulu. Sekarang lebih jelas dan keras. Para siswa berhamburan mulai keluar dari kelas-kelasnya, dan terlihat keriuhan semakin mengisi pandangannya karena ada yang bermain dan ada yang memegang bukunya, membaca di taman-teman yang indah setelah masuk ke gerbang utama.

Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket cokelatnya, di masing-masing saku samping. Menghirup udara itu, berteduh di bawah pohon yang lebat di depan sekolah itu. Telisik cahaya menyemburat di wajanya dari reranting yang menyorot dari atas.

Dia merasa lelah, dan duduk di sebuah kursi kayu yang disediakan di bawah pohon itu. Kini, pandangannya menuju kearah jalan raya. Siluet semua kisahnya terjalin satu-persatu, teringat kembali semua memori hidupnya.

”Dedi?”

”Iya,” lelaki itu berdiri karena kaget, dan seorang wanita telah berdiri di sampingnya membawa tas hitam serta berkacamata, jilbabnya masih saja lebar, ujungnya tertiup angin sepoi.

”Rahma?” Dedi seolah tak percaya dengan pandangannya. 

”Masyaallah, kenapa kamu tidak masuk saja ke dalam?”

”Aku baru bebas kemarin,” Dedi duduk dan Rahma mengikutinya duduk berjarak agak jauh, mereka menikmati angin yang semilir.

@ @ @

”Aku sekarang mengajar disini Ded, sekarang aku sedang menyelesaikan skripsi dan tinggal menunggu ujian saja.”

”Iya, kamu memang cerdas dari dulu Ma.”

”Tidak juga, tapi kita menjadi cerdas kalau kita tekun dalam belajar.”

”Kamu benar.”

Rahma menatap sejenak wajah kurus itu, wajah yang masih lurus menatap pandangan kosong di depannya. Wajah itu telah berubah, ada binar yang berbeda dari dahulu.

”Bagaimana keadaanmu saat ini Ded?”

Dedi menoleh kearah Rahma sejenak dan tersenyum, ”Aku merasa sangat baik, Allah memberikan banyak kebaikan padaku dan seluruh umat manusia.”

”Aku dengar, kau menjadi ustadz di dalam penjara?”

Dedi tersenyum kembali, sambil menatap pepohonan di depannya, ”Tidak juga, kami belajar bersama disana. Pihak sipir juga selalu mendatangkan para pembicara agar kami bisa menjadi orang-orang baik.”

Rahma hanya mengangguk-angguk.

”Aku punya sesuatu yang masih mengganjal di pikiranku Ma. Aku harap kamu mau jujur padaku.”

”Apa itu Ded?”

”Di Siantar, ada seorang anak kecil yang selalu memberikan roti dagangannya padaku. Sesungguhnya, aku curiga bahwa kamu...,” pandangan mereka bertemu sedetik kemudian. Mata yang berupaya untuk saling meyakinkan.

”Kamu adalah orangnya...”

”Assalamu’alaikum sayang,” seorang lelaki tiba-tiba datang mendekati mereka, tas hitam di tangan kirinya berayun-ayun karena gerakannya.

”Wa’alaikumsalam warahmatullah,” Dedi dan Rahma hampir berbarengan menjawab salam.

Lelaki itu menjulurkan tangan kanannya kearah Dedi, Dedi pun menjulurkan tangan kanannya.

”Hamid,” lelaki berjenggot tipis itu tersenyum.

”Dedi,” Dedipun tersenyum.

”Eh Ded, ini adalah suamiku. Kami menikah setahun yang lalu,” ada kegamangan dalam suara Rahma.

”Subhanallah,” Dedi tersenyum, ”Allahlah yang telah menautkan hati-hati hamba-Nya. Kalian terlihat sangat serasi.”

”Benarkah?”

”Ya,” Dedi menatap Hamid.

”Apakah kamu..., iya saya ingat sekarang. Kamu teman sekolah isteriku bukan? Anda...,”

”Ya, saya orang yang sempat membuat semua orang khawatir dengan menyandera teman-temanku. Tapi jangan takut, aku insyaallah tidak akan melakukannya lagi.”

”Iya, iya. Rahma banyak menceritakan tentangmu.”

Akhirnya, mereka terlibat perbincangan agak lama.

”Sudah waktunya pulang Mas,” Rahma mengingatkan.

”Baiklah Ded, senang bertemu denganmu. Kami pamit ya.”

”Baiklah.”

”Assalamu’alaikum.”

”Wa’alaikumsalam warahmatullah.”

Dua pasang sejoli itu meninggalkan Dedi yang masih terduduk di rerimbunan pohon itu, cahaya matahari mulai tegak dan panasnya mulai terasa menyengat ubun-ubun manusia.

Dedi berdiri, membetulkan jaket hitamnya. Mencoba menghirup udara siang itu, ternyata benar, kaulah yang memberikan roti itu setiap kali aku ke Siantar. Sorot matamu itu sudah menjadi jawaban atas pertanyaanku Rahma.

Dedi menatap kedua orang yang mulai menjauh dari pandangannya, menuju sebuah kendaraan mobil kijang di tepi jalan. Mereka terlihat bergandengan tangan dan memasuki mobil tersebut.

Dedi kembali mencoba melihat angin yang berhembus walau dia tahu tak akan pernah bisa melihat wujud angin itu. Setidaknya, dia memiliki sebuah usaha yang tetap harus diperjuangkannya, untuk meneruskan hidupnya yang masih panjang. Karena dia berjanji untuk mengisi hidupnya untuk kemanfaatan dan kebaikan bagi orang lain.

Kaki kanannya mulai melangkah yakin, dan senyumnya tersirat demikian indah mengumandangkan seluruh dzikir syarafnya. Senyum untuk menuju arti kehidupan yang akan diperjuangkannya

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!