Bisikan Pembalasan

Behind the Scene

Ini adalah detik – detik sebelum Dedi mengakhiri semua aksinya, dia terpekur sambil memegang pistolnya.

Ini harus diakhiri, aku juga sudah bosan dan ingin segera pergi menemui Tuhanku. Kata Dedi dalam hatinya. Semoga Allah memaafkanku, Dedi terus berdoa sambil memejamkan matanya. Bahkan, sebelum melakukan aksi terakhir kalinya. Dedi mengambil air wudhu, meskipun orang menganggap dirinya adalah penjahat.

Itu tidak masalah.

Mereka tidak pernah merasakan apa yang Dedi rasakan. Bagaimana disiksa setiap hari, bagaimaan tidak memiliki tempat untuk bercerita dan bagaimana dunia seperti selalu menghakiminya.

Dedi yakin, kisahnya mungkin akan terkubur dalam sejarah. Tapi setidaknya, akan ada orang yang mengabarkan kalau perjuangannya untuk membebaskan kaum tertindas yang selalu dibully. Orang-orang akan menyadari bahwa bullying adalah sebuah kotoran sampah yang harus dilawan bersama-sama.

Orang-orang yang mengalami bullying hanya akan meratapi nasibnya sendiri dan tidak punya keinginan lagi untuk bisa maju dan meraih masa depannya. Seperti dirinya, Dedi merasakan hal itu dan hanya ketakutan serta kesengsaraan yang selalu menghantui tidurnya.

”Bismillah!” Bahkan, Dedi mengucapkan basmallah sebagai bentuk dari usahanya itu. Sudah tidak bisa kembali lagi. Itulah yang dipikirkan Dedi saat ini, dia harus menata rencana terakhir dan biarlah dirinya yang menjadi korban untuk terakhir kalinya.

Saatnya bersiap. Dia menuju ruangan rekan-rekannya. Dan semuanya akan dimulai untuk yang terakhir kalinya. Semua ini adalah siasatnya, tidak akan ada yang menjadi korban lagi, kecuali dirinya sendiri.

Dedi sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi.

Toh! Sudah tidak ada jalan kembali baginya.

***

Dedi merunduk, menatap kedua sahabatnya yang tengah terikat tali. Ada ketakutan di wajah mereka berdua.

Dedi melihat kearah mereka Mega dan Roni. Wajah Roni yang selalu membuatnya muak dan ingin menghancurkannya sehancur-hancurnya, namun jika dia telah sadar maka Dedi juga tidak bisa membenci lagi.

Dedi merasa mungkin, inilah pertemuan terakhirnya dengan mereka berdua, juga Mega yang selalu membujuknya untuk berhenti. Dan kali ini, Dedi akan berhenti, dengan sadar dan dengan kesiapan untuk pergi selamanya.

”Kalian akan bebas sekarang, semuanya akan berakhir.”

”A..apa maksudmu Ded?” Roni memberanikan diri bertanya, ”Aku berjanji tidak akan berbuat jahat lagi pada siapapun. Aku telah sadar.”

Dedi memegang pundak kanan Roni, ”Kau harus buktikan janjimu itu!” pandangan mata itu tajam. Roni merunduk.

”Ded,” Mega menatap tajam pada Dedi, dan pandangan mereka bertemu beberapa detik, angin tampak tenang mengipasi.

”Ayo! Kita selesaikan semuanya!”

”Ded, kumohon dengarkanlah aku.”

Dedi terdiam menatap wajah itu.

”Semuanya belum terlambat untuk diubah. Kumohon, kita bisa memulainya lagi dari awal kan?” suara itu teramat lembut di telinga Dedi.

Dedi tersenyum, ”Iya Mega, kita bisa memulainya lagi, tentu saja. Dan kita akan memulainya sekarang juga.”

Dedi mendirikan mereka berdua. Mendorong punggung mereka dan berjalan di belakangnya. Saat berada di ruang upacara bendera, mereka berhenti. Dedi melepaskan tali yang mengikat Jaka yang tergantung di atas. Menurunkannya pelan-pelan.

Tubuh Jaka terlihat lemah, wajahnya tampak kusut terpanggang matahari siang itu. Tanpa banyak bicara, Dedi mendorong ketiga temannya itu hingga mendekati pintu gerbang dalam sekolah itu.

”Ingatlah janjimu itu Ron, kau harus menjadi orang yang baik setelah ini. Itu adalah janjimu sendiri.”

Roni menengok ke belakang, dia agak sedikit bingung dengan makna dan apa yang diinginkan Dedi tersebut. Namun, belum sempat dia berpikir lama Dedi telah membuka gerbang itu dan mendorongnya agak kuat dari belakang.

”Cepat larilah!”

Roni segera berlari menyelinap dari pintu gerbang dalam itu.

”Sekarang giliranmu Mega. Larilah!”

”Aku tidak mau!”

”Cepat lari!”

”Tidak Ded.”

”Cepat lari kataku!” Dedi mendorong tubuh itu kuat hingga dia hampir terjatuh ke depan setelah melewati gerbang itu.

”Maafkan aku Mega.”

Dedi segera memegang leher Jaka dengan tangan kirinya, dan pistolnya diarahkan ke kepala Jaka. Namun, sebelumnya dia telah menjatuhkan peluru satu-satunya yang tersisa di dalam pistol rakitan itu. Dan dia keluar dari gerbang itu dengan senyuman penuh ketenangan, dia telah siap menjemput mautnya sendiri.

Mengakhiri semuanya, dan berkata dalam hati, ”Allah, aku datang padaMu. Ambillah aku dari dunia ini, akhirilah semua permainanku ini.”

Namun Mahfudz berlari kearahnya, saat hitungannya telah sampai angka tiga. Mahfudz menerjang tubuhnya, tepat kala suara tembakan dua kali terdengar memekakkan telinga.

Dan, dari gerbang dalam itu, muncul seorang wanita yang berdiri sambil memegang sebuah peluru di tangan kanannya yang tergetar.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!