Bisikan Pembalasan
”Guru!”
Di dunia ini, yang paling mengerti akan Dedi mungkin hanyalah gurunya. Benar, pak Mahfudz yang selalu menceritakan keindahan dan hari-hari yang dilaluinya penuh dengan penderitaan seolah sirna jika bertemu dengan gurunya tersebut.
Hari-hari Dedi seperti ada obat ketika segala kesulitan dia hadapi. Tak peduli bagaimanapun beratnya hidup yang Dedi alami, ketika dia sudah ingin membalas dendam dan tatkala bertemu dengan Gurunya tersebut. Maka seolah niat buruknya itu terkubur dalam-dalam.
Gurunya itu, pak Mahfudz ternyata juga mengalami hal yang sama ketika dia bersekolah dan mengalami bullying. Namun, dia berani bertindak untuk melawan dan tak mau harga diri selalu diinjak-injak.
Oleh sebab itu, pak Mahfudz pun bangkit dari keterpurukan dan berusaha sekuat tenaga untuk membantu siapapun yang di masa sekolahnya mengalami hal yang seperti dia alami saat sekolah dulu.
Namun, pak Mahfudz juga seorang manusia yang memiliki kepentingan pribadinya sendiri. Tidak selamanya dan tidak selalu dia bisa menjaga para murid atau anak yang dilihatnya mengalami bullying.
Dia juga punya kehidupan dan dia memiliki keluarga. Saat lengah dan tidak bisa menjaga selalu urusan Dedi. Saat itulah, Dedi sudah tidak tahan lagi dengan perlakukan rekan-rekannya dan akhirnya nekat untuk membeli senjata dan menyandera rekan-rekannya untuk membuat mereka tak lagi berbuat buruk di masa depan.
Namun, itulah pikiran singkat yang bisa dipikirkan oleh Dedi, dia tak terlalu memikirkan bagaimana kelanjutan dan akibat perbuatannya tersebut.
Perbuatan itu tentu saja akan membuat masa depannya sendiri bisa jadi hancur dan berantakan. Namun, dia sudah tidak memiliki jalan lagi yang lain. Kemarahan dan juga rasa ketidakadilan memenuhi pikirannya dan bahkan hampir-hampir meledak.
Dedi sudah tidak lagi tahan, kesumatnya sudah mencapai ubun-ubunnya.
Dedi bahkan mungkin setengah sadar keberadaan dirinya di dunia ini, mungkin sebentar lagi dia akan pergi menuju tempat tertinggi.
Satu harapannya, agar tidak ada lagi orang yang mengalami nasib seperti dirinya, diinjak-injak martabatnya.
Dan biarlah dirinya yang menjadi korban dari perjuangan yang mungkin orang bilang konyol, tapi dia melihat ini adalah sesuatu yang bisa dilakukannya untuk mendapatkan perhatian dari orang banyak dan dapat memikirkan nasib mereka yang mengalami kekerasan.
Namun, segalanya berubah.
Sang guru tetap datang dan menolongnya hingga akhir, bahkan saat tembakan kuat itu terdengar memekakkan telinga siapapun di sekolah itu.
Suara yang mendesing bersama jatuhnya seorang lelaki yang tertembak tepat di depan Dedi untuk memberi harapan pada Dedi.
Di ujung usahanya, di akhir-akhir peluru hampir menembus tubuhnya.
Diantara teriakan begitu banyak orang kaget akan suara letusan itu. Dedi sempat tak percaya dan kaku melihat tubuh yang selalu membimbingnya itu melindungi dirinya.
Suasana yang riuh seperti tak ada apapun dalam ingatan Dedi, semua seolah terisi kesunyian dan dia sudah tak tahu harus berbuat apa. Semau yang dia lakukan apakah akan berakhir seperti yang diinginkannya ataukah hanya akan menghancurkan seluruhnya.
Kini, tubuh gurunya itu jatuh begitu saja dan dekapannya, melindunginya dari panasnya peluru. Semuanya, seperti hancur!
* * *
“Pak Mahfudz!”
Dedi menggoyangkan tubuh gurunya itu, tubuhnya tertindih tubuh Mahfudz. Diangkatnya keatas kedua pundak gurunya, dan percik darah menetes di dadanya satu-persatu. Diantara kabut asap yang masih kentara, wajah Mahfudz menyunggingkan senyumnya, matanya yang redup terlihat berair dan mengangguk syahdu sangat pelan.
”Guru! Guru!”
Dedi berdiri sekuat tenaga, mengangkat tubuh gurunya itu sekuat tenaga. Tenaganya telah kelelahan. Namun tiba-tiba beberapa orang datang dengan cepat, mereka memegang tubuh Mahfudz dan segera mengangkatnya dari tubuh Dedi. Tubuh Mahfudz diangkat bersama, dan Dedi dicekal oleh beberapa polisi berseragam.
”Guru!” Dedi berontak dan berusaha keras melepaskan diri dan mencoba menjangkau tubuh gurunya. Namun, cekalan demi cekalan semakin kuat dan bertambah orang yang memeganginya.
”Lepaskan aku! Aku ingin bersama guruku!”
Suaranya seolah menghilang, tangannya diborgol secara cepat kearah belakang. Namun, Dedi tetap memaksa hingga cekalan itu lepas. Dedi terjatuh tersungkur ke bawah, wajahnya membentur rumput di sekolah itu. Tubuhnya segera dicekal beberapa polisi dari atasnya.
”Guruuuu!!”
Mahfudz telah menjauh dari pandangannya, menghilang diantara kabut yang mulai menipis.