Bidadari untuk Raka
Bidadari untuk Raka Akhir Kisah
Raka sudah memutuskan, dia melakukan shalat dan memohon petunjuk dari Allah. Rahmiza ibunya, juga menyetujui jika hal itu adalah kebaikan. Raka pun datang bersama Ibunya ke rumah Nisa. Dan mereka pun kaget dengan rumah megah yang ternyata, Nisa adalah anak orang kaya.
Raka sempat minder dan ragu melangkah, tapi Ibunya meyakinkan bahwa manusia itu harus berusaha lebih dulu.
Sambutan orangtua Nisa ternyata sangat baik, mereka tak memandang seseorang dari hartanya. Ayah Nisa sudah diceritakan tentang Raka, dan dia kagum setelah berjumpa dengan Raka meskipun Raka juga menceritakan bahwa dia seorang guru honor.
“Itu tak penting bagi saya, saya butuh pembimbing yang mampu membimbing Nisa ke jalan Allah.”
Raka bersyukur, dia diterima dengan baik. Bahkan, itu merupakan lamaran yang sudah disepakati. Raka dan Nisa sangat bahagia, pernikahan mereka sudah direncanakan bulan depan. Hari ini, hati Raka dan Nisa dipenuhi dengan bunga keindahan.
Raka sudah melupakan semua kesedihan tentang gagalnya mendapatkan bidadari. Kini, dia merasa bahagia karena akan menikah dengan wanita yang sangat baik dan juga begitu tulus seperti Nisa.
Hari-hari selanjutnya, Raka sangat bahagia. Dia sudah mendapatkan beberapa karyawan dan menyewa sebuah tempat rumah yang bagus. Rumah itu digunakan sebagai basecamp untuk semua urusan bisnisnya bersama Sarah.
Namun, Sarah tidak hadir saat doa bersama untuk rumah baru. Katanya, dia ada keperluan penting harus ke luar kota karena ada undangan untuk mengisi kajian kepenulisan.
Tentu saja, dia menjadi artis sekarang.
***
Lima hari menjelang pernikahan.
Raka sedang di sekolah, dia sedang mengurus untuk surat liburnya saat hari pernikahan dan minta izin untuk libur beberapa hari.
Saat hendak pergi, dia bertemu dengan bu Iffah. Iffah juga sudah mendapatkan undangan dari Raka tentang pernikahannya tersebut.
“Selamat pak Raka,” kata Iffah mengucapkan selamat, “Semoga pak Raka mendapatkan jodoh terbaik.”
Raka tersenyum, “Terima kasih atas doanya, bu Iffah.”
Raka pun pamitan.
“Tunggu pak Raka.”
Raka berhenti setelah berjalan beberapa langkah.
“Maafkan, ayahku. Aku sudah mendapatkan cerita dari Ibuku tentang malam itu. Aku telah salah paham dan mengira bahwa pak Raka …”
Raka berbalik dan menghentikan kata-kata Iffah.
“Cukup bu Iffah, tidak perlu dibicarakan lagi. Allah sudah berkehendak, memang inilah yang terbaik.”
Iffah pun mengucapkan permintaan maaf sekali lagi, semuanya sudah jelas dan Iffah sudah salah paham selama ini. Takdir memang harus dijalani oleh setiap orang, dan pasti ada kebaikan di antara itu semua.
Raka menuju motornya, teleponnya bordering. Hatinya sedang bahagia, dia tidak ingin diganggu oleh apapun bahkan perasaannya pada Iffah yang sudah terkubur.
Nomor asing?
“Apakah ini, saudara Raka,” suara dari seberang.
“Iya benar, ada apa ya Pak?” tanya Raka karena suaranya seorang lelaki.
Beberapa detik kemudian, dunia seperti berputar sangat kencang. Seperti ada halilintar di siang hari tanpa pengantar mendung sedikitpun. Handphone di tangan Raka pun jatuh begitu saja.
Pak!
Pak!
“Apa anda baik-baik saja!”
***
Hidup itu penuh dengan kejutan, terkadang siap atau tidak siap, setiap orang harus menerima takdir tentang segala hal tentang hidupnya.
Raka meneteskan airmatanya …, di sebuah nisan dengan bertuliskan nama Nisa Febriansyah. Calon isterinya meninggal dunia dalam kecelakaan maut, kecelakaan beruntun membuat Nisa meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Dan, Rahmiza. Ibu dari Raka sedang dirawat di Rumah Sakit. Dia ikut bersama dengan Nisa saat itu. Nisa ingin membelikan baju untuk ibu Raka dan mereka hendak pergi ke toko baju. Kecelakaan beruntun terjadi karena ada salah satu mobil yang memuat barang yang sangat berat meledak ban, dan menabrak beberapa mobil dengan kecepatan penuh.
Raka memegang nisan yang merupakan pekuburan dari Nisa. Raka tak bisa memikirkan apa-apa lagi sekarang. Nisa yang masih muda dan belum menikah, dia sudah dipanggil oleh Allah. Mungkin, Allah sangat cinta kepadanya melebihi siapapun. Dia akan menjadi wanita mulia di sisi Allah.
Raka tak bisa menahan airmatanya.
“Ayo pulang, nak Raka,” suara ibu dari Nisa, “Ibu juga tak bisa menahan diri. Dia adalah anak yang paling Ibu cintai.”
Raka dengan langkah gontai pulang dari pemakaman, keluarga Nisa mencoba untuk ikhlas dan mereka meminta Raka untuk tetap berhubungan dengan baik para mereka.
Kenapa semua seperti berputar demikian kencang, detik sebelumnya Raka masih bahagia dan detik berikutnya, kiamat seperti terjadi.
***
Beberapa bulan kemudian
Raka mencoba untuk terus tegar dan hidup dengan baik. Dia tak pernah putus asa pada Tuhannya. Namun, dia lebih menjaga dirinya agar tidak terlalu jauh mengenal wanita.
Usahanya berkembang dengan baik, dia butuh uang lebih banyak karena Ibunya menjalani perawatan cukup banyak. Keluarga almarhumah Nisa ikut membantu membiayai perawatan Rahmiza. Meskipun, Raka menolaknya namun keluarga Nisa tetap memaksa.
Butuh waktu lama Raka harus terus menjaga Ibunya, hingga Ibunya sudah boleh pulang. Raka menjaga Ibunya di rumah, Ibunya menggunakan kursi roda karena ada beberapa bagian di kakinya yang belum berfungsi dengan baik.
Saat itu, Fatmi teman dari Rahmiza datang menjenguk bersama dengan Sarah.
Raka berusaha tegar, sudah setengah tahun sejak kecelakaan itu terjadi. Usaha Raka dan Sarah tetap berjalan dan semakin maju, bahkan Sarah cukup sibuk dengan panggilan untuk mengisi kajian kepenulisan di beberapa tempat.
“Kak Raka,” suara Sarah yang duduk dan sedang menggenggam tangan kanan bu Rahmiza.
“Iya, Sarah,” suara Raka yang sedang duduk bersama dengan bu Fatmi.
“Izinkan aku untuk menjaga, Ibu.”
Raka kaget, apa maksudnya Sarah mengatakan hal itu. Apakah, dia ingin membantu Raka menjaga Ibunya?
“Apa maksudmu, Sarah?” tanya Raka.
“Jika Kak Raka berkenan. Lamar aku, dan aku akan menjaga Ibu.”
Deg!
Raka menatap Sarah dengan lekat, dia beralih melihat kearah bu Fatmi, bu Fatmi pun mengangguk.
Terakhir, Raka melihat kearah Sarah, wajah cantik sarah pun mengangguk.
“Saya sudah mencintai kak Raka sejak kecil, dan tidak ada lelaki lain di hati Sarah.”
Lantunan debar jantung Raka berdetak, selama ini dia hanya menganggap Sarah sebagai adiknya. Dia tak pernah berharap apapun dan tak berani berharap. Wajah Sarah sangat cantik, dan kini apakah perjalanan takdir ini akan berjalan sesuai alunan nada takdir?
Raka duduk bersimpuh di depan Ibunya.
“Ibu …, Apa yang ibu putuskan?” tanya Raka pada Ibunya yang masih duduk dan meneteskan airmatanya.
“Semua keputusan …, ada di tanganmu sekarang, Raka. Kamu sudah mengalami begitu banyak hal, kamu bisa menentukan keputusanmu dan memohon kepada Allah untuk diberikan jalan terbaik.
***
Sehari selanjutnya, pernikahan Raka dan Sarah benar-benar terjadi. Raka tidak mau menunggu lama, cukup sehari dan mengurusi semua urusan dengan KUA.
Rumah mereka disulap menjadi kantor untuk usaha yang mereka jalani bersama. Mereka juga selalu bersama dan menjaga Rahmiza yang masih sakit.
Cinta telah membuat jalan hidup Raka penuh liku dan ujian dalam menemukan bidadarinya.
“Kak Raka bahagia menikah denganku?”
Tanya Sarah yang sedang mendorong kursi Rahmiza dan mereka sedang jalan-jalan di taman.
“Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mencintai, bidadari yang Allah persiapkan untukku, cinta!”
Keduanya tersenyum dan saling mentap. Hanya senyuman yang menunjukkan cinta mereka abadi, untuk selamanya.
Selesai juga, ... semoga anda semua suka cerita ini.