Bidadari untuk Raka
Ibu Menggigil
Sekolah seperti biasanya, di SMA Kencana. Raka mengajar seperti biasanya, hanya sikapnya terasa aneh oleh bu Iffah. Bukankah seharusnya bu Iffah yang marah karena sikap tak mau menunggu dari Raka?
Merasa tak memiliki salah, bu Iffah pun membiarkan hal itu meskipun hatinya merasa bahwa kenapa tiba-tiba pak Raka yang kemarin seperti semangat kini seolah bahkan tak mengenlnya.
Apa ada yang salah dengan dirinya?
Di sisi lain, Raka berusaha tegar dan meyakinkan hatinya. Jodoh sudah ada yang mengatur, sekuat apapun kita mengejar jika bukan jodoh maka tidak akan kesampaian. Sekali lagi, pak Anshori benar. Tidak perlu berjuang untuk mendapatkan Iffah jika orangtuanya sudah membuatnya harus sadar diri.
Ibu dari Iffah pun demikian, dia keluar bersama Iffah untuk menjauhkan pertemuan dirinya dengan segenap keluarga penuhnya. Raka tak ingin jika terus berjuang memperjuangkan cinta, namun kedua orangtua tidak setuju. Hal itu akan mempersulit keluarga mendapatkan keluarga yang sakinah.
Raka merasa pilihannya tepat dengan mundur. Bismillah, dia yakin ini yang terbaik. Namun sikapnya memang harus diubah, dia seharusnya bersikap seperti biasa saja dan tak perlu untuk seolah tak kenal.
Namun, Raka merasakan sulit. Hal itu karena memang hatinya sudah mulai condong kepada bu Iffah. Raka paham, status memang penting dalam kehidupan saat ini bagi seorang yang ingin anaknya bahagia. Sekeras apapun, jika Raka tetap memaksa maka jarak ekonomi memang berat.
Perjuangan Raka untuk memaksa orang lain percaya pada keyakinannya bahwa bahagia bukan karena uang pun sulit dipaksakan. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda, dan kita tidak bisa memaksanya.
Raka pun memilih untuk menyerah, dia mengikhlaskan bahwa Iffah bukan untuknya. Dia memohon doa kepada Allah agar memudahkan jalannya dalam menjemput bidadarinya. Jika bukan Iffah, maka tampakkan untukku, begitu doa Raka dalam hatinya.
Dan hari-hari pun berlalu seperti biasa. Raka mulai membiasakan diri menyapa bu Iffah saat bertemu. Iffah pun akhirnya mengerti bahwa mungkin saja, Raka tidak serius padanya. Dia tidak menyadari bahwa Raka telah ditolak oleh orangtua sendiri. Raka juga tidak ingin menjelaskan apapun, hal itu hanya akan menambah masalah.
Biarlah, Raka pulang dan tanpa dendam tanpa penyesalan. Meskipun, dia merasa selalu saja gagal dalam mencari seorang isteri.
Seorang isteri yang akan menemani hari-harinya di rumah bersama ibunya.
@ @ @
Di acara pengajian seperti biasanya, Raka bertemu dengan Sarah. Keduanya membahas kelanjutan dari proyek mereka.
Ibu Rahmiza dan bu Fatma masih di dalam masjid untuk mendengarkan kajian. Raka bersemangat menjelaskan bahwa projeknya sudah mencapai angka 90 persen. Tinggal bagaimana memasukkan semua karya Sarah.
Sarah pun memberikan semua salinan novel yang sudah dibuatnya, ternyata lumayan banyak. Raka mengcopy dan menyimpannya, nanti malam dia akan memasukkan ke web utama dan setelah selesai akan langsung publish ke Play Store. Raka juga meminta agar nantinya Sarah aktif untuk mempromosikan aplikasinya.
“Kak, bagaimana kalau selain membaca novel di dalam aplikasi kita ada buku islami dan juga Quran. Bukankah nanti akan banyak orang yang bisa membaca al-Quran dimana saja mereka berada ketika tidak membawa mushaf?”
Ide yang bagus, Raka akan mempersiapkannya sekaligus.
Rapat mereka yang asyik pun harus terganggu karena Ibu mereka berdua sudah keluar. Mereka pun pamitan, mereka akan menyambung nanti lewat telepon atau pesan singkat.
Raka juga berharap kalau aplikasi yang mereka rencanakan akan sukses besar. Dia akan memasangnya dengan iklan dan juga menata iklan agar iklan yang berbau buruk tidak ikut masuk dalam aplikasi tersebut.
Pada dasarnya, kita bisa mengatur iklan apa saja yang tidak boleh ditampilkan di aplikasi atau web kita. Itu terserah kepada kita yang memiliki hak atas web atau aplikasi tersebut.
Raka pun mengantarkan ibunya pulang, hari sudah sore. Saat di jalan hujan tiba-tiba turun. Mereka sedikit kehujanan dan berteduh. Raka berpikir, Sarah pasti sudah sampai di rumah bersama ibunya karena rumah mereka cukup dekat dari masjid jami’. Rumah Raka cukup jauh sekitar 10 km.
Di motor hanya ada satu mantel. Raka membiarkan Ibunya memakai mantel terusan karena hujan tak reda-reda. Raka yang nekat basah kuyup kehujanan hingga mereka sampai rumah.
Bu Rahmiza langsung memanaskan air untuk mandi hangat puteranya itu. Demi dirinya, dia tidak memakai mantelnya dan malah memberikannya pada dirinya.
Raka pun mandi dengan air hangat dia menyegarkan diri dan mengganti bajunya. Saat hendak menemui ibunya. Ibunya memakai selimut dan tidur di kamar.
“Ibu kenapa?” Raka menyentuh kaki ibunya, dingin sekali. Ibunya menggigil. Raka bingun hendak melakukan apa.
“Ibu… Ibu…”
Ibunya hanya menjawab sambil menggigil kedinginan. Raka bingung hendak melakukan apa. Dia tak mengenal adanya dokter atau bidan, kecuali. Benar! Dokter Nisa yang baru menyelesaikan kuliahnya yang merupakan kakak dari Farel.
Raka mengambil handphone-nye. Dia mencari nomor telepon Nisa Febriansyah, dia lalu memencet tombol telepon.
Suara dari seberang, suara yang manis mengucapkan salam.
Raka pun menjawab salam.
“Ada apa pak Raka? Apakah ada yang penting?”
“Maaf mbak Nisa, Ibu saya menggigil tubuhnya dingin. Apa yang harus saya lakukan ya Mbak?”
Nisa cepat tanggap dia menjelaskan untuk memberikan pertolongan pertama pada pasien yang kedinginan dengan memberikan kompres pada keningnya. Gunakan pakaian yang nyaman dan tidak sesak lalu minum air hangat. Itu adalah beberapa hal yang harus dilakukan pada orang menggigil kedinginan apalagi baru saja kehujanan.
Raka mengucapkan terima kasih dan segera menutup telepon. Raka melakukan apa yang disarankan oleh dokter Nisa. Raka sigap merebus air sejenak dan memasangkan kompres pada kening ibunya dan meminta ibunya meminum air minum hangat.
Raka juga memijiti kaki Ibunya tersebut agar peredaran darahnya normal kembali. Beberapa menit kemudian, ibunya sudah mulai tidak menggigil dan Ibunya tidur dengan pulas. Raka pun mencium kening Ibunya dan menyelimutinya dengan selimut double.
Raka menghembuskan napasnya dalam. Ibu, kau adalah segalanya. Raka hanya menyalahkan dirinya karena di waktu hujan masih saja nekat untuk pulang meskipun memakai mantel namun ibunya tetaplah seorang tua. Tubuhnya berbeda dengan pemuda seperti dirinya.
Tapi, Raka ternyata juga merasakan hal yang sama, dia kedinginan sekarang.
Handphone-nye berbunyi, dari dokter Nisa.
“Apakah Ibu sudah baikan sekarang?” dokter Nisa bahkan berniat pergi ke rumah Raka jika kondisi ibunya belum sehat juga.
“Alhamdulillah, Ibuku sudah baik sekarang. Sudah dapat tidur pulas, terima kasih sarannya bu dokter,” jawab Raka.
“Pak Raka, jangan menggoda saya. Saya baru saja lulus dan belum magang untuk mendapatkan profesi resmi sebagai dokter.”
“Tapi…, itu tidak penting. Saran anda tadi sudah sangat manjur.”
Keduanya tertawa. Hujan sudah berhenti dan hanya menyisa rintik. Sepertinya, ada perasaan halus yang menyapa keduanya di hati mereka.
Sambungan terputus, Raka menutupi tubuhnya dengan selimut. Malam itu begitu dingin, dan mata Raka sulit terpejam. Setelah semua hal yang dia alami, dan dia membayangkan jika sudah memiliki seorang pendamping. Tentu, dia akan bisa bersama sang kekasih untuk menghilangkan semua rasa jenuhnya.
Dan tiba-tiba, wajah Nisa terbayang begitu saja ketika dia tengah melamun.
Astaghfirullah …