Bidadari untuk Raka

Semata-mata untuk Kebahagiaan Buah Hati

“Kamu sebaiknya berhenti mencintai Iffah, sebelum semuanya terlambat. Aku mencoba memberi saran terbaik yang bisa kuberikan padamu pak Raka.”

Kata-kata dari lelaki tua di hadapan Raka itu seolah ribuan lebah yang tiba-tiba menyengatnya berbarengan.  Lelaki itu bernama Anshori, dia memiliki dua orang anak, anak pertama adalah Iffah Inshira dan anak keduanya, Rizki. Lelaki itu kini tiba-tiba memberi ultimatum pada Raka untuk menjauhi anaknya, dalam arti memupuskan cinta yang sudah bersemi.

Raka masih terdiam, dia memahami betul bahwa pasti orangtua siapapun itu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak berbeda dengan Anshori dan bu Helmi, pasti ingin yang terbaik untuk Iffah.

“Boleh saya bertanya Pak Anshori?” Raka setelah menghirup napasnya dalam-dalam soal penjelasan dari lelaki itu, dia memberanikan diri untuk memperjelas segalanya, karena baginya, jika sudah jelas masalahnya maka dia akan bisa pulang dengan lapang dada.

“Silakan bertanya pak Raka,” Anshori terlihat tenang dan santai, namun terlihat nada kesenjangan yang tinggi antara dirinya dan lelaki itu. Seperti berbicara diantara ujung bukit dengan ujung bukit lainnya, ada jarak pemisah yang curam.

Raka tidak mau dihina oleh seseorang meskipun dia berasal dari keluarga biasa saja bahkan mungkin keluarga kurang mapan. Apa bedanya manusia dalam hal kekayaan dan harta benda, bukankah semuanya sama dan hanya diuji di dunia ini? Raka penasaran kenapa pak Anshori langsung to the point tanpa permulaan dan tanpa perantara dan langsung memintanya untuk tak meneruskan kisah cintanya dengan puterinya itu.

“Kenapa anda punya saran agar Saya tak meneruskan hubungan dengan puteri Bapak?”

Anshori memegangi keningnya sejenak dengan tangan kanannya, lalu dia melihat tajam kearah Raka, “Kamu masih belum paham juga ya. Apa kamu tahu bagaimana aku bisa membiarkan anakku bersamamu, yang bahkan untuk makan saja kesusahan? Orangtua mana yang rela memberikan puterinya pada seorang lelaki yang menjadi guru honorer.”

Perkataan itu tenang tapi seperti ribuan tombak yang menghunjam di dada Raka.

“Jadi…, semua ini hanyalah masalah harta dunia? Saya akui memang saya tidak punya harta seperti dalam pikiran Bapak. Tapi, kami memiliki cinta yang tulus untuk mencintai. Jika Bapak menerima kami atau keluarga kami. Maka, kami akan berusaha keras untuk membahagiakan Iffah. Itupun jika…”

“Cukup pak Raka! Tidak perlu diteruskan, saya sudah banyak makan garam kehidupan dan tidak perlu kamu ceramahi. Memang, pada dasarnya uang itu bukan yang utama tapi jika tak ada uang maka akan timbul banyak masalah dan juga ketidakbahagiaan. Aku tak ingin berspekulasi untuk kebahagiaan puteriku.”

Raka meresapi kata-kata pak Anshori tersebut. Memang benar bahwa uang menunjang kebahagiaan seseorang, namun tentu saja uang harus dicari dan diupayakan. Namun, seperti ungkapan pak Anshori tadi, dia tak mau berspekulasi untuk kebahagiaan puterinya. Karena kebahagiaan puterinya sedang dipertaruhkan. Intinya, beliau tak bisa menerima Raka.

Raka menyatukan kedua bibirnya lebih erat, menelan ludahnya dan bernapas lebih dalam lalu menghembuskannya.

“Baiklah Pak Anshori, saya juga mulai memahami alurnya kenapa Iffah tak ada disini. Bapak menyuruhnya pergi terlebih dahulu agar Bapak bisa memberi saran kepada saya dengan empat mata. Meskipun saya beranggapan bahwa Bapak dan Iffah memiliki pandangan yang berbeda. Jika memang yang terbaik bagi keluarga tak bisa disatukan, maka saya akan ridha melepas Iffah dan melupakannya dari kehidupan saya.”

Pandangan mata pak Anshori tiba-tiba berubah lebih bersahabat dari sebelumnya, “Sekali lagi, maafkan saya pak Raka. Kamu perlu ketahui bahwa saya dan Ibunya Iffah sangat mencintai puteri kami, kami hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Tidak ada maksud untuk menolak anda, namun kami hanya ingin yang terbaik untuk kebahagiaannya. Kami tak mau berspekulasi untuk kebahagiaannya. Semoga, kamu dapat menerimanya dengan baik.”

Pandangan mata Anshori kini nampak lebih tenang dan seolah memohon kerelaan sepenuhnya pada Raka, tak seperti sebelumnya yang terkesan galak.

Bahkan, kini pak Anshori menundukkan kepalanya kearah Raka, “Maafkan saya sebagai kepala keluarga dan wali dari Iffah, saya tahu Iffah mencintai anda. Tapi, tak ada yang lebih utama bagi kami selain kebahagiaannya. Kami mohon pada anda, agar melupakan Iffah dan membiarkannya bahagia dengan lelaki yang lain.”

Raka tak bisa berucap apapun lagi, semua yang baru saja terjadi benar-benar di luar apa yang menjadi perkiraannya.

“Baiklah Pak, saya akan mundur dan saya akan menutupi soal kejadian hari ini. Lebih baik, Bapak sekeluarga bisa bahagia tanpa pernah ada saya dalam memori keluarga ini. Saya harap, Iffah dapat bahagia nantinya.”

Mata mereka beradu dan saling mengangguk, Raka pun pamitan pulang. Meskipun dia paham bahwa kepulangannya adalah kehampaan, namun Allah pasti menyiapkan keindahan di puncak rasa hampanya itu.

Inna ma’al ‘usri yusro, karena setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Itulah janji Allah, dan Raka pulang dengan membawa keteguhan bahwa janji Tuhannya adalah kebenaran yang pasti.

Dalam perjalanan pulangnya, Raka masih melamun pada kejadian yang terjadi baru saja. Kehidupan memang tempatnya ujian, Raka menghembuskan napasnya perlahan setidaknya meringankan perasaan aneh dan kegundahan yang seolah mengurungnya.

Sekilas, jika melihat ego yang ada di diri Raka, tentu akan merasa terhina. Pada intinya jika menurut ego, kita sedang direndahkan. Bagaimana tidak, uang adalah segalanya, kebahagiaan hanya bisa diukur dengan uang. Namun, di sisi lain memang benar sebagai orangtua yang merawat anak-anaknya sejak kecil maka menjadi hal yang mengkhawatirkan apabila menyerahkan anak mereka pada orang yang tak jelas secara ekonominya.

Semua ada sisi-sisi tersembunyi, semua bisa mengatakan apapun dengan dalil bahwa itu subyektifitas dari siapa yang mengatakan dan membuatnya menjadi pendapatnya. Tak beda tukang kelapa, dia akan mahir menceritakan bagaimana kelapa dimanfaatkan. Begitu pula tukang tambal ban, dia akan ahli mengatakan tentang ilmu menambal ban seperti yang setiap hari digelutinya.

Untuk itulah, pendapat dari pak Anshori didasarkan pada apa yang dipahami olehnya, ilmu pengetahuan yang didapatkan dari kehidupannya bahwa uang adalah sumber kebahagiaan. Dan, setiap orang memang membela apa yang diyakininya, dan apa ilmu yang didapatkannya itulah yang membentuk prilakunya.

Kini, Raka tak bisa menyalahkan siapapun. Mungkin juga, inilah jawaban dari Allah untuknya, sebelum terlambat Allah menunjukinya sejak awal sehingga dia harus menerima takdirnya.

Di sisi egoism Raka sendiri, dia masih ingin terus berjuang dan bagaimanapun caranya harus bisa mengejar Iffah, apalagi Iffah terlihat mencintainya. Namun, menikahi seorang wanita adalah menikahi keluarganya, apa jadinya jika keluarga membenci atau malah terjadi pernikahan lari.

Raka tak mau hal itu terjadi, pernikahan adalah ketenangan bukan ketergesaan atau karena nafsu. Raka beristighfar kembali.

Jalanan masih ramai, malam minggu yang kacau, Raka pun mengerem motornya dan berhenti di sebuah gerobak di pinggir jalan. Ada minuman dan juga ketoprak, mungkin pedas bisa membuatnya menghilangkan kepusingan berpikirnya. Dia pun menyandarkan motornya dan memesan ketoprak yang agak pedas dan minuman es teh.

Malam masih terlihat semburan, ditimpali kerlip bintang satu-satu yang terlihat menghiasi langit gelap. Itu cukup meredakan hati Raka yang gusar, dia pun lantas tersenyum perlahan dan mencoba menyemai syukur, bahwa hidup adalah kenikmatan dan setiap hal adalah keberkahan.

Raka mengambil handphone-nya, sengaja dia getarkan sehingga baru sadar kalau ada pesan masuk yang cukup banyak.

Dari Iffah berkali-kali mengirim pesan. Raka membukanya.

“Jika sudah di rumah tunggu sebentar ya Pak, ini Ibu tak biasanya mencari baju tapi belum cocok semua. Tunggu, kami akan segera pulang.”

Chat yang lainnya pun mirip, ada gusar pada chat Iffah yang seolah-olah meminta Raka bersabar menunggu. Hingga ada pesan juga bahwa dia sudah di rumah.

“Pak Raka ternyata tak sabar menunggu, padahal saya ingin mengenalkan pak Raka pada seluruh keluarga saya.”

Raka bimbang hendak menjawab pesan dari Iffah tersebut. Tapi, apakah kasih sayang seorang ayah dapat digantikan pada lelaki yang baru dikenal dalam kehidupannya? Kebahagiaan seorang anak adalah milik orangtuanya. Raka pun menaruh hanphone-nya kembali. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Dan Raka pun menghembuskan napasnya dengan berat.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!